Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label emas. Show all posts
Showing posts with label emas. Show all posts

Monday, September 21, 2015

Gold in Indonesia

This video is filmed by Michael Phillips, my American English lecturer in Leoben. I took this summer course, tittled "Advanced English Courses for Academic Research" and he is one of the coolest and funniest lecture I´ve ever met. 

Now I know how I act in front of the audiences, the gestures, the tones, the pronounciation, etc. 

Never been shy to make a mistake. Once you know, you know how to improve it.

Thanks Mike.


Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain






Share:

Friday, May 29, 2015

Stone Balancing: Belajar Sabar dari Batu

Leoben, 17.30 - 22.16 CEST

Namaste..
Sore ini saya dapat seorang guru baru bernama, BATU. Secara tidak sengaja, guru itu datang dari seseorang bernama Michael Grab, yang lewat dari timeline fans page "Geomorphology". Dia adalah seseorang yang mempunyai hobi "stone balancing". Setelah lihat beberapa videonya, saya tertarik untuk mencobanya. Karena saya mempunyai banyak batu di laci ruang kerja saya, saya keluarkan saja. Saya lakukan setelah jam kerja, karena saya ingin kerjaan saya produktif, sehingga tidak akan menggangu disertasi. Peridotit, tuff, gamping, slate, kalsedon, gneiss, dan beberapa batu lain yang saya kurang paham itu apa, saya hamburkan di lantai
courtesy : Michael Grab

Mulai lah saya mencobanya. Saya letakkan batu terbesar di bawah, kemudian semakin kecil ke atas, dan.....jatuh.... 

Saya coba lagi menata ulang, berharap saya mendapatkan point of view yang bagus ketika kelak saya foto, kemudian, jatuh lagi....







Masih berpikir bagaimana cara menyeimbangkannya, saya coba kombinasi yang lain supaya tampak menarik, dan jatuh....

Pelan-pelan akhirnya  saya belajar, bagaimana cara nya supaya di kesempatan berikutnya bisa lebih stabil. Tiga puluh menit, satu jam. Setelah itu saya coba lagi, coba lagi, hingga tidak terasa sekarang sudah jam 9 malam, dan baru saja adzan maghrib berkumandang. Apa yang saya dapat selama 3,5 jam ini? Foto yang bagus seperti Michael Grab? Hmm, jauh sekali. Dia bisa meletakkan batu terbesar di atas dengan stabil, sedangkan saya masih berkutat dengan ketinggian kurang dari 50 cm. Tapi selama saya mencoba, banyak perenungan yang dapat. 

courtesy : Michael Grab

Apa hikmahnya buat saya?
Kadang orang hanya menilai hasil yang didapat dari hasil yang dicapai, tapi apakah dia tahu apa yang sudah dilakukan untuk memperolehnya? Silahkan ambil batu di sekitar anda, kemudian cobalah apa yang sudah saya dan Michael Grab lakukan. Anda tidak akan pernah tahu betapa susahnya untuk menyeimbangkan batu kalau anda belum mencobanya. 

Saya tidak tahu berapa puluh jam, berapa ratus jam, atau bahkan beribu jam waktu yang Michael luangkan untuk menjadi seorang yang ahli dalam stone balancing. Sedangkan saya, baru saja memulai 3,5 jam yang lalu dan berharap sesuatu yang besar, mustahil...... 

Kita mungkin sering menganggap remeh pekerjaan, namun sudahkah kita melakukannya sendiri? Misalkan kita sebagai seorang bos atau orang yang berkedudukan lebih tinggi, kita mungkin sering menyalahkan orang, menganggap pekerjaan bawahan kita kurang ini, kurang itu, dan sebagainya. 

Tapi coba kita berkaca, kalau kita sendiri yang mengerjakan pekerjaan tersebut, apakah hasilnya akan lebih bagus, atau malah lebih jelek? Saran saya, sebelum marah, reaktif, selalu renungkan dulu, apakah kita lebih baik dari orang lain? Apakah dia mungkin membutuhkan waktu untuk belajar lebih banyak, sehingga kali ini kita bisa memaklumi kekurangannya?
Karya lain

Berulang kali saya mengutip pernyataan Malcom Gladwel, walaupun saya sendiri belum baca buku "Outlier" sampai habis "untuk menjadi seorang yang ahli, diperlukan waktu 10.000 jam berlatih, dan terus berlatih." Tidak ada hal lain untuk meraih kesuksesan selain dengan kerja keras dan tekun

Kalau mustahil, kenapa ada orang yang bisa menguasai dalam waktu sebentar saja?
Tiap orang mempunyai bakat, ketertarikan dan potensi yang berbeda-beda. Mungkin ada orang yang bisa lebih sabar dalam menata batu dibanding saya, sehingga dia bisa mendapatkan lebih baik. Cemburu kah saya? Saya belajar untuk tidak cemburu, malah seharusnya saya belajar dari dia, bagaimana dia bisa melakukannya dalam waktu sebentar saja, sedangkan saya tidak. Andaikan saya merasa kalah dan tersaingi kemudian saya mundur, saya tidak akan mendapatkan pelajaran yang baru dari orang tersebut.


Merasa rendahkah kalau saya bertanya kepada orang yang lebih ahli? Tidak. Justru saya akan lebih cepat belajar sesuatu yang baru, daripada saya harus belajar sendiri. Dan justru disitu kadang menjadi refleksi untuk saya, sudahkah saya menurunkan ego untuk mengakui orang lain lebih baik dibanding kita, kemudian kita tidak malu untuk bertanya?

Kalau saya meluangkan waktu seperti Michael Grab, tentu lama-lama saya akan bisa menjadi ahli seperti dia. Namun, dunia saya dan dia berbeda. Kami sama-sama bermain dengan batu, namun tujuan akhir kami berbeda. Dia adalah seorang artis stone balancing, setelah dia mendapatkan susunan batu yang dia dapat, dia cukup mengambil foto, kemudian melemparkan batu lain sehingga tumpukan batunya jatuh. Sedihkah? Tidak, itulah kepuasan yang dia dapat dari permainannya. 

Stone balancing dalam kehidupan yang lain?
Maslow mengatakan melalui piramida kebutuhan, bahwa hal yang paling mendasar dari kebutuhan seseorang adalah kebutuhan primer untuk bertahan hidup, sedangkan yang paling tinggi adalah aktualisasi diri dan ketenangan. Banyak orang yang saat ini melakukan meditasi untuk mendapatkan ketenangan, ada juga yang meluangkan waktu untuk menikmati alam, atau juga ada juga yang beribadah supaya mendapatkan ketenangan. Apakah dengan itu semua kita merasakan ketenangan? Kita sendiri yang akan mendefinisikan ketenangan hidup kita. 

Belajar susunan batu dalam posisi miring

Saya sangat bersyukur batu itu jatuh lebih dari 100 kali dalam 3,5 jam. Hampir lebih dari 10 kombinasi susunan sudah saya buat, namun beberapa kali jatuh ketika saya baru mau mengambil hp. Beberapa susunan akhirnya saya dapat Kalau misalkan batu itu tidak jatuh sama sekali dalam percobaan pertama, mungkin saya akan menjadi sombong dan tidak mendapatkan apa-apa dari stone balancing. Tapi dari situ saya tahu, bahwa saya harus memutar-mutar batu dulu supaya ada ruang untuk meletakkan batu dalam tiga titik, atau bisa juga dengan meletakkan butiran-butiran batu yang sudah pecah sebagai landasan supaya tidak terlalu miring. Semua yang dilakukan terburu-buru hasilnya tidak akan memuaskan. Dan dengan berlatih, berlatih dan terus berlatih, seseorang akan menjadi lebih ahli, tidak hanya dalam menata batu, semua bidang kehidupan. 

Seorang pembuat sushi di Jepang konon menghabiskan 7 tahun menjadi pelayan sebelum akhirnya dia menjadi seseorang pembuat sushi. Seorang mahasiswa harus menempa kuliah, membuat tugas akhir kemudian mempertahankannya untuk menjadi seorang sarjana. Seorang Christiano Ronaldo dan David Beckham, punya waktu latihan lebih lama dibanding rekan-rekannya, sehingga mempunyai akurasi tendangan bebas yang sangat baik. Ingin menjadi hebat? Tidak ada yang instan... semua perlu langkah pertama, yang kadang-kadang sangat sulit dan berat. Tapi ingatlah tulisan di buku tulis terbitan Sinar Dunia, Practice makes perfect

Hari ini saya berutang budi dengan batu. Kamu? Kapan mau mulai menata batu :D

Dari Komiknya Si Juki tentang batu, dari link ini

Heiho! Apa kabarnya anda hari ini? Luar biasa?.
Nah kali ini gue bakal ngasih tips yang sangat bermnafaat. Bagi banyak orang sebuah batu gak
punya arti apa-apa. Tapi pada kenyataannya batu bisa diubah menjadi emas.
Proses mengubah batu menjadi emas ternyata gak susah dan gak memerlukan bahan-bahan kimia.
Tips ini gue dapetin dari temen-temen di twitter yang udah bantu ngejawab cara mengubah batu jadi emas.
langsung cek aja sob!
1. Batunya Buat Mecahin Etalase Toko Emas(@hanifah_jolanda)
Cara ini cukup masuk akal. Kalau kaca etalase toko emas pecah, emasnya bisa dikantongin terus batunya ditinggalin. Voila! Batu yang tadinya lo kantongin kini udah jadi emas.



Perhatian : Bila lo masuk penjara, jangan ajak-ajak gue

2. Kawinin Adeknya (@tjredds)
Dengan mengawini adeknya si batu lo bisa manggil batunya (e)mas. Ehm, masuk akal juga sih. Kalau lu masih betah ngejomblo saran gue sih gak perlu lu nikahin adeknya. Lu suruh aja tuh batu beli makanan di warteg. Entar kan ditanyain ama mbak-mbak warteg nya : Karo opo mase?. Fix! Jadi emas.



3. Di Diemin Aja (@SultanSynsysterG)

“Diam itu emas”, jadi batunya didiemin aja biar jadi emas.



Beuh! Gue bangga punya follower yang pada cerdas gini. Kalau semua pemuda-pemudi Indonesia kreatifnya kayak mereka, bukan mimpi kalau beberapa tahun ke depan Indonesia jadi negara yang kaya karena berhasil merubah batu di pelosok negara menjadi emas!

Selamat Mencoba!
Share:

Monday, March 2, 2015

Gold Out Of Celebes




(update 15-11-2017: link dropbox peta geologi regional sulawesi)

Gold Out Of Celebes.. Dingle, Aylward Edward, 1874- , Synopsis: A romance of thrills and adventures on the island of Celebes, in the Dutch East Indies.


Ketika saya mencari referensi tentang emas yang ada di Sulawesi, pencarian sampai juga di halaman ini. Saya sudah sangat bersemangat, saya pikir ini adalah publikasi yang saya cari, namun ternyata ini adalah novel, yang di publish tahun 1920. Wow... pada tahun itu, ternyata kita mempunyai sebuah provinsi, bernama Celebes atau Sulawesi, yang sudah diabadikan menjadi novel. Saya belum sempat membaca semua isinya, namun semoga kelak saya bisa membaca. Sekilas saya melihat isinya, menceritakan kisah petualangan di Hindia Belanda. Saya melihat sudah ada Solo, Semarang, Batavia, Meneer, dan sepenggal pembicaraan tentang Indonesia dari orang Belanda tentang Indonesia. Sayangnya novel ini tidak bisa di download, dan hanya bisa dibaca online.



Garis Wallacea Weber, dan garis Lydekker

Sebuah novel yang ditulis oleh Captain Dingle, seorang pelaut, di era tahun 1920. Istilah Celebes mungkin muncul dari Sula yang artinya pulau, dan besi. Ada juga cerita tentang pelaut Portugis berkunjung ke Raja Gowa untuk meminta izin berlayar, dan ketika pelaut menanyakan nama daerah ini, Raja Gowa sedang memegang sebuah besi. Karena sama-sama tidak mengerti, Raja Gowa yang sedang memegang besi mengatakan, "ini adalah besi", atau Selle Bassi. Dan Alfred Wallace pun di laporan nya juga mencantumkan nama tersebut, yang membatasi flora dan fauna menjadi zona Wallacea dan zona Weber.


Kalau urusan disertasi, saya ingin sekedar bercerita, tentang apa yang saya lakukan di bulan-bulan awal sejak kedatangan saya akhir Januari yang lalu. Setelah datang dan menghadap supervisor, saya diminta untuk menulis manuskrip, kira-kira 50 lembar, yang berisi tentang resume dari berbagai tipe deposit yang ada di Indonesia. Resume ini menceritakan berbagai macam tipe deposit di Indonesia, kemudian menyajikannya dalam sebuah tulisan ilmiah yang akan di presentasikan secara internal di Departemen saya, untuk matrikulasi program Doktor saya.  Saya juga terbantu dengan adanya tugas ini (tidak boleh mengeluh, harus mengambil sisi positifnya), karena rangkuman ini akan digunakan sebagai salah satu bab di disertasi saya. Bersyukur...engga boleh mengeluh, hehehe.... Orang Indonesia memang harus dipaksa dulu, sampai akhirnya "suhu" nya sama, baru deh "tune in." Hahaha...

Topik yang saya ambil berhubungan dengan mineralisasi yang ada di Indonesia, yang akan saya khususkan di Sulawesi Selatan. Namun, sebelum masuk ke Sulawesi Selatan, saya harus memberikan gambaran berbagai macam deposit di Indonesia, mulai dari karya van Bemmelen tentang Geologi Indonesia, John Ario Katili tentang tektonik di Indonesia, Carlile dan Mitchel tentang hubungan antara busur magmatik dengan potensi endapan yang ada di Indonesia, serta pola tektonik yang dituliskan oleh Robert Hall mengenai tektonik lempeng di SE Asia dan SW Asia. Dan masih banyak pekerjaan rumah menanti ke depan. Ternyata meng eloborasi data yang sangat banyak itu membutuhkan waktu, dan yang jelas, ga boleh mengeluh, karena tugas seorang mahasiswa itu adalah membaca-membaca, dan membaca, begitu kata Guru Spiritual saya, ABAH saya di Malang.

Untuk oleh-oleh, saya cantumkan hasil karya saya, resume persebaran deposit logam yang ada di Sulawesi Utara. Untuk teman-teman ketahui, pulau Sulawesi itu merupakan gabungan dari 2 circum, yaitu Circum Asia dan Circum Pacific. Pertemuan keduanya menghasilkan bentukan huruf "K" yang sangat unik. 



Jika kita melihat pulau Sulawesi, pada bagian Utara, terdapat transisi antara Circum Asia dan Circum Pacific, sehingga menghasilkan adanya lempeng-lempeng mikro, dan pertemuan antara busur magmatik tersebut menghasilkan gunung-gunung berapi yang aktif, seperti Gunung Lokon yang sempat meletus pada 2011 yang lalu. Di lain sisi, banyaknya gunung berapi ini membuat banyak dijumpai potensi mineral logam dengan berbagai tipe depositnya, seperti epithermal sulfidasi rendah, epithermal sulfidasi tinggi, porfiri Cu-Au, porfiri Mo, serta sedimentary hosted atau biasa disebut tipe Carlin. Kita akan menjumpai deposit seperti Tombulilato, Motomboto, Doup, Gunung Pani, Riska, Bakan, Bolaang Mongondow, Mesel, Tapabekin, Ratatotok, Lanut, Toka Tindung, Sumalata, dan sebagainya. 
Dari semua tipe endapan yang baru saya sebutkan dan nama depositnya, ada satu tipe endapan yang jarang dijumpai di Indonesia, karena endapan ini sangat dipengaruhi oleh kontrol litologi dan struktur, yaitu tipe Carlin. Carlin sendiri, merupakan sebuah komplek tambang emas di Canada. Karena tipe nya yang khas, maka nama lokasi ini umum dijumpai, untuk menyebutkan tipe endapan emas yang sangat halus, umumnya berukuran sangat mikron dan terinklusi pada mineral yang mengandung arsen, serta sangat dipengaruhi oleh kontrool struktur dan litologi. Beberapa referensi menyebutkan tipe carlin sebagai sedimentary hosted gold deposit.

Di Sulawesi Utara, tipe ini dijumpai di tambang yang bernama Mesel. Tambang ini sudah dibuka sejak jaman Belanda, namun karena emas yang dijumpai berukuran sangat halus, akhirnya tambang yang sempat dikelola oleh Newmont Minahasa Raya berhenti pada tahun 2001. Jika kita mencari mengenai literatur mengenai Mesel, maka kita akan menjumpai banyak tulisan yang menghubungkan dengan pencemaran yang terjadi di Teluk Buyat pada tahun 2004. 

Fotomikrograf sampel dulang di Sulawesi Tengah

Provinsi Metalogenik yang kedua adalah Metalogenik Sulawesi Bagian Barat, yang membentang dari Sulawesi Selatan hingga leher Sulawesi Utara menghasilkan beberapa tipe endapan logam seperti emas dan tembaga, yang jumlahnya kurang signifikan dibanding Metalogenik Sulawesi Bagian Utara. Kita akan menemui prospek Poboya di Palu, Awak Mas dan Palopo di sekitar pegunungan Latimojong, Baturappe di sekitar Makassar dan banyak prospek lain.

Serta bagian ketiga adalah Sulawesi bagian Timur, yang merupakan tipikal dari tipe ophiolit, yang didominasi oleh batuan dengan tipe basaltik hingga ultrabasa, yang menghasilkan komoditi nikel dan besi laterit. Di provinsi metalogenik ketiga ini, tambang emas yang sangat fenomenal adalah tambang emas di Bombana, dimana hampir 20.000 orang menambang emas di daerah yang diduga mempunyai tipe endapan emas pada batuan metamorfik. Adanya ledakan dari jumlah penambang rakyat ini, membuat pemerintah setempat menghentikan penambangan pada tahun 2009. 


Untuk pengantar awal dari metalogenik Sulawesi, saya mau solat Jumat dulu di komunitas Islam Turki di Leoben. Tschüss



Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain







Share:

Thursday, October 16, 2014

Mendulang Emas di Perbatasan Indonesia



Awal bulan Oktober ini, saya berkesempatan kembali lagi ke Kabupaten yang berbatasan dengan 3 provinsi, Kalimantan Utara-Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah dan dan 1 negara tetangga-Serawak (Malaysia), yaitu Kabupaten Mahakam Ulu. Kalau bulan Juni lalu kebanyakan waktu saya selama mengeksplorasi daerah ini saya habiskan di Kecamatan Long Bagun dan Long Pahangai, sekarang saya menghabiskan waktu di Long Apari, dan setengah yang lain saya habiskan di perjalanan. Mengapa habis di perjalanan? Tidak lain dan tidak bukan karena permasalahan kabut asap kiriman dari hutan yang terbakar, akhirnya mengharuskan saya menempuh perjalanan darat dari Balikpapan menuju Tering, Melak.


Batu dinding, Long Apari


Kesampaian Wilayah, Budaya dan Kehidupan di Long Apari
Lokasi Kecamatan Long Apari
Early sketch map of Borneo, showing distribution of Jurassic-Cretaceous oceanic deposits of the Danau Fm (Molengraaff 1909) - dikutip dari http://www.vangorselslist.com/borneo.html 
Untuk menuju Long Apari, target eksplorasi kali ini, perjalanannya tidak kalah lama. Kalau dibuat poin,
- Balikpapan - Tering : 10 jam (darat)
- Pelabuhan sungai Tering - Ujoh Bilang: 4 jam (speedboat)
- Ujoh Bilang - Tiong Ohang (Long Apari): 9 jam (speedboat+jalan kaki)
Pelabuhan Tering yang ditutupi kabut asap



Kalau di total, untuk mencapai lokasi yang saya tuju, hampir 3 hari perjalanan harus ditempuh. Kenapa saya tulis harus berjalan kaki? Untuk menuju hulu, ada beberapa riam yang harus ditembus, seperti riam Udang dan riam panjang di Long Bagun. Dan saya pun harus berjalan kaki karena air sungai Mahakam kali ini sangat surut karena kemarau yang berkepanjangan. Speed boat tidak berani menhambil resiko dengan melintasi sungai, karena aungai yang dangkal, membuat baling-baling dari speedboat menabrak dasar sungai yang penuh dengan gravel dan kayu.

Semua penumpang speed harus turun, supaya speed bisa bermanuver meliuk di antara dua bongkah batuan. Karena itu, dinamakan Riam Beliu

Bukan hanya sekali dua kali saya harus jalan kaki. Hampir 10x saya harus jalan kaki, dengan jarak paling pendek 500 meter hingga 1km. Tidak jauh memang, cuma medan yang harus dilewati yang membuat perjalanan tidak santai. Jalan di gravel batuan basah sama seperti pijat akupuntur, nah kalau jalan kaki nya pas terik, batuan metamorf yang disinari matahari terus terusan panasnya naudzubillah.
Sore hari tepat sebelum maghrib, sampai juga saya di Tiong Ohang. Sampai disana, saya langsung berdecak kagum, ada jembatan panjang yang membelah sungai Mahakam. Ada kawan yang bilang, jembatan itu sudah ada sejak jaman Belanda, pemerintah Indonesia hanya merenovasinya beberapa kali. Beeuh,,, jembatan yang di bangun di daerah perbatasan dengan Serawak itu menjadi hal yang membuat Tiong Ohang begitu megah. Namun setelah saya naik ke daratan, saya langsung dibuat terheran-heran.

Jembatan panjang yang menghubungkan Tiong Ohang dan Tiong Bu'u, Long Apari

- Di Long Apari, warga belum merasakan listrik yang disalurkan melalui PLN. Setahu saya, di Long Pahangai juga mengalami hal yang sama. Warga secara swadaya menggunkan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Apa yang membuat saya tercengang? Listrik hanya menyala dari jam 6 malam hingga jam 9.30 malam. Setelah itu, listrik kembali padam, tinggal lampu-lampu darurat LED yang menerangi, itu pun kalau ada
Nenek Bulan, yang mempunyai daun telinga yang panjang, khas Suku Dayak 

- Sudah ada tower provider komunikasi berdiri sejak 2 tahun ini, namun belum ada transmitter dan receiver terpasang. Warung telekomunikasi alias wartel lah yang menyambungkan warga Long Apari dengan dunia luar. Dulu beberapa orang sempat mempunyai telepon satelit, terutama untuk keperluan medis dan beberapa orang saja yang memakainya secara bergantian



Hasil pendulangan emas salah satu ibu-ibu di Sungai Cehan, Long Apari

- Karena lokasinya yang sangat terpencil dan hanya menggantungkan transportasi dari sungai Mahakam, harga harga kebutuhan pokok serba membumbung tidak karuan. Bensin 17rb/L , normalnya Rp 6.500/L, telur ayam 4rb/butir, normalnya 19-20rb/kg isi sekitar 14 butir, zak semen 350rb/zak, normalnya 70rb /zak. Sudah mulai terbayang kondisi disana? Bandingkan dengan harga emas hasil penduangan mereka yang dihargai sama, 400rb/gram, betapa besar keperluan mereka. Oh iya, sebagai tambahan, mayoritas bekerja di ladang di hutan (masih membakar hutan untuk bercocok tanam), pada musim kemarau mencari emas di sungai atau gunung, dan hanya sebagian kecil menjala di sungai

Rawon daging Payau, alias daging Rusa
Hasil jeratan di hutan,, waktunya membersihkan perutnya..

- Kambing dan sapi merupakan makanan langka, bahkan jarang dijumpai. Ayam pun hampir sama. Warga lebih lazim memakan daging payau (rusa), kijang, maupun pelanduk (kancil). Mayoritas warga merupakan Dayak Oheng/ Dayak Penihing, Dayak bahau dan sedikit Dayak Kenya memakan babi, dari hasil menjerat ataupun berburu di hutan. Pada musim kemarau seperti ini, orang Dayak sudah menyiapkan tombak yang sudah diolesi racun dari akar atau dari katak untuk bersiap-siap menunjamkan tombak ketika babi rusa menyeberang sungai Mahakam yang sangat lebar.



Geologi
Kalimantan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terbentuk dari kerak benua. Berbeda dibandingkan dengan Jawa bagian Selatan, yang mempunyai topografi yang kasar yang dipengaruhi akibat tumbukan antara lempeng samudera dengan lempeng benua. Secara umur relatif, semakin ke Utara, umur batuan di Mahakam Ulu jauh lebih tua dibandingkan di sisi Selatan. Emas yang saat ini didulang oleh warga, diyakini berasal dari formasi intrusi Sintang.


Secara regional, kondisi geologi Kab. Mahakam Ulu dikontrol oleh struktur geologi berupa perlipatan dan sesar yang memiliki arah tenggara – barat laut dan barat daya – timur laut. Satuan batuan yang menempati wilayah Kab. Mahakam Ulu terdiri dari batuan beku plutonik (intrusi), batuan sedimen, dan batuan gunungapi (ekstrusi).
Kelurusan Kab Mahakam Ulu (diolah oleh Pak Asep Saepulloh, GL ITB)

Secara fisiografis, Kab. Mahakam Ulu terletak di Tinggian Kuching. Tinggian yang mengelilingi wilayah Kab. Mahakam Ulu merupakan pertemuan antara Pegunungan Muller yang berada di arah selatan dan barat daya, Pegunungan Kapuas yang berada di arah barat dan utara, dan Pegunungan Iran yang berada di arah timur laut dan timur. Tinggian Kuching ini terbentuk akibat dari pengangkatan yang terjadi pada busur kepulauan dengan daerah perairan dangkal yang berada di sekitarnya. Daerah ini merupakan bagian yang tinggi di Kalimantan Utara pada Zaman Paleogen. Daerah ini terpisah dari Kalimantan Barat Laut yang mengalami penurunan cepat. Tinggian Kuching merupakan sumber untuk sedimentasi di daerah barat laut dan tenggara selama Zaman Neogen



Formasi Gunung Api Nyaan, didominasi batuan beku dan sedimen yang sudah termetamorfkan
 Pengecekan keradioaktifan dengan scintillometer
Potensi uranium? Hmmm,, baru indikasi saja.. karena bacaan di daerah lokal yang tidak terganggu batuan radioaktif berkisar 200 cps. Di lokasi ini, lebih tinggi, mungkin karena batuan metamorf

Di tempat yang sama, batuan nya super besar

Aktivitas penambangan emas di Long Apari sangat banyak, terutama pada saat musim kemarau, seperti ketika saya datang ke daerah ini. Umumnya, mereka menyelam untuk mengambil gravel yang ada di dasar sungai, kemudian di dulang oleh ibu-ibu, atau di lewatkan melalui sluice box. Jika kita lihat, hampir semua kegiatan penambangan selalu pada daerah yang dekat dengan intrusi, bisa jadi memang para penambang sudah melakukan "eksplorasi" dengan pengalaman mereka selama ini. Ketika saya tanya, hanya 1 penambangan yang dilakukan di darat dengan cara memberaikan batuan, sedangkan sisanya dengan mengambil aluvial yang ada di sepanjang sungai Mahakam dan anak-anak sungainya. Ternyata, harga 1 gram emas di hulu Mahakam, hampir sama dengan emas di hilir, berkisar Rp 390rb-Rp410rb per gram. Wah wah, padahal biaya hidupnya jauh lebih tinggi dibanding daerah lain. Miris bukan? Warga disini tidak memerlukan belas kasihan, mereka hanya membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Listrik, Kesehatan, Komunikasi,, sebagai awal, itu sudah cukup. 

 Saya mendulang emas bersama warga Long Apari, dilihat orang banyak grogi juga,, hahaha
Emas yang disedot dan dilewatkan sluice box
Tambang sedot di sepanjang Mahakam
Emas yang berukuran sangat halus
 Emas pada pengamatan mikroskop binokuler


Share:

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *