Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label geothermal. Show all posts
Showing posts with label geothermal. Show all posts

Tuesday, January 1, 2013

Sejarah Erupsi Gunung Papandayan


Gunung Papandayan merupakan gunung berapi yang terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Gunung ini mempunyai ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut. Gunung ini mempunyai jarak kurang lebih 70 km dari Bandung, dan ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 3-4 jam.


Berdasarkan catatan DVMBG, Kawah Mas Gunung Papandayan dapat dicapai dari Bandung dengan kendaraan bermotor melalui 2 jalan alternatif. Jalan alternatif pertama, melalui kota Garut (lama perjalanan sekitar 2 jam), lalu menuju Kecamatan Cisurupan (lama perjalanan sekitar 20 menit) dan dari sini dilanjutkan hingga Kawah Mas (lama perjalanan sekitar 25 menit). Jalan alternatif yang kedua, melalui Pangalengan, melewati daerah perkebunan Garut Selatan (Perkebunan Sedep dan Malabar) hingga perkebunan Cileuleuy (lama perjalanan sekitar 3 jam), dari sini dilanjutkan menuju Kawah Mas (lama perjalanan sekitar 30 menit).

Banyak kawah kecil, cerobong kecil yang muncul semenjak letusan tahun 2002. Muncul beberapa kawah baru yang mengeluarkan bau yang sangat menyengat, seperti Kawah Mas, Kawah Batu, Kawah Nangklak, Kawah Manuk yang termasuk ke dalam tipe solfatar.Namun sebenarnya, sudah banyak catatan aktivitas dari Gunung Papandayan ini. Berikut beberapa catatan terakhir tentang Gunung Papandayan. 

2011 -  Periode kembali aktif/ unrest period
Gunung Cikuray (berwarna biru runcing tampak dari kejauhan), sedangkan Gunung Guntur (bagian kanan, sedikit tertutup oleh perbukitan)

Gunung Papandayan berada pada level 3 (maksimum 4) setelah adanya peningkatan aktivitas. Aktivitas gempa mikro tercatat meningkat sejak bulan Agustus 2011. Adanya deformasi pada batuan, kenaikan temperatur pada bulan Agustus 2011 dari 106.4 hingga 107.5 derajat Celcius, membuat zona siaga ditempatkan sejauh 2 km dari kawah.


2008 -  Periode kembali aktif/ unrest period
Bulan April 2008, status gunung Papandayan meningkat pada level 2 (maksimum 4) akibat adanya peningkatan aktivitas seismik, dan peningkatan solfatar pada 2 kawahnya, di Kawah Mas (245-262 derajat Celcius) dan Kawah Baladagama (91-116 derajat Celcius).

2002 - 2003 Erupsi
Erupsi abu bermula pada November 2002. Erupsi lanjutan terjadi pada Desember, yang mengeluarkan lahar melalui Sungai Cibeureum Gede dan Ciparugpug pada pertengahan Desember 2012. Erupsi ini membuat adanya kawah baru di gunung ini. Erupsi baru berhenti pada Januari 2003.

 Dokumentasi Fotografer Koran Tempo, Arie Basuki, 2002
 Erupsi di Kawah Baru, 2002
 Kerusakan pada kebun teh akibat uap panas, tahun 2002 (http://www.vsi.dpe.go.id)
 Kerusakan pada sawah padi akibat erupsi tahun 2002 (http://www.vsi.dpe.go.id)
Aktivitas erupsi di Kawah Baru, 17 November 2012  (http://www.vsi.dpe.go.id )

1993 Mud Explosion
Pemandangan dari Puncak Papandayan, tampak Pondok Saladah (hijau muda)

Tercatat adanya letusan di Kawah Baru 17 Juli 1993

1942 Erupsi
Erupsi mengakibatkan adanya kawah baru
Pucuk Edelweis di Pondok Saladah, Papandayan

1923-1926 Erupsi
Pada Maret 1923, tercatat adanya 7 erupsi di Kawah Baru akibat adanya gempa bumi di Cisurupan. Januari 1925, tercatat adanya kenaikan temperatur di Kawah Mas dari 364 derajat - 500 derajat Celcius. Erupsi ini menghancurkan Kawah Mas dan Kawah Baru, yang menghancurkan hutan, dan erupsi terjadi do Kawah Nangklak. Pada 1926, tercata adanya lumpur dan sulfur terjadi di Kawah Mas.

1772 Erupsi dan Longsor

Letusan pada 1772 terjadi di kawah utama, dan menghancurkan hampir 40 desan dan korban tewas mencapai 2951 orang. Longsor terjadi hampir di area 10 km (panjang) dan 6 km (lebar).
Natupala HMT ITB (ki-ka: Anindito "Vijay" M, M Najih "Lubi", Andy Yahya "Yayak", Eka Adhitya "Bolink", Tomy Alvin R "Tomy", Setia Pambudi "Obi", Rahmat Fadhillah "Pak Tile", Agathon Chandra "Aga")


http://www.volcanolive.com/papandayan.html
http://www.vulkaner.no/v/volcan/sjordi/bcindo.html
http://geodesy.gd.itb.ac.id/?page_id=288
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Papandayan
Share:

Saturday, December 29, 2012

Perlit, Panas Bumi, Emas dan Pasir Besi di Kabupaten Garut

Garut, sebuh kota berjarak sekitar 80 km dari Bandung, ditempuh perjalanan dengan kendaraan sekitar 2-3 jam menggunakan motor/ kendaraan, merupakan kota yang banyak dikenal karena domba, dodol, air panas, dan beberapa tempat wisata yang terkenal. Namun, sebenarnya banyak komoditi tambang yang bisa kita ketahui dan manfaatkan dari garut. 

Kalau coba ditengok dari geologi-nya, Garut itu termasuk pegunungan Selatan Jawa Barat. Disini, saya ga akan terlalu banyak membahas tentang geologinya, daripada nanti terlalu berat untuk dibaca, saya coba share yang dasar aja ya. Kita mulai satu-satu ya.

1. Pasir Vulkanik Gunung Guntur
Gunung Guntur atau sering juga disebut Gunung Gede yang berada di Kabupaten Garut mempunyai ketinggian 2,249 meter di atas permukaan laut, memiliki 13 kawah yang keadaannya masih aktif yaitu kawah Ayakan, Picung, Sangiang Buruan, Masigit, Japati, Geulis, Gajah, Parupuyan, Sangiang Jarian, Kabuyutan, Guntur dan Putri. Gunung Guntur mempunyai ciri khas khusus dari  “Hasil Letusan  Gunung  Api Pada  Tahun 1847,  Muntahan  Aliran  Lava membentuk Boot ujung berbentuk Tapal Kuda”. Merupakan fenomena alam yang  langka dan mempunyai karakteristik tertentu, dimana hanya dijumpai di Gunung Guntur sehingga “Perlu dilestarikan dan ditangani secara terpadu”, Baik ditinjau dari segi keilmuan khususnya ilmu kebumian atau aspek panorama alam. Akibat perubahan alam kondisi lereng Gunung Guntur dengan bertambahnya alur-alur dan semakin melebarnya alur-alur tersebut menunjukan material pasir yang turun ke kantong lahar alam terus bertambah

Kenapa pasir vulkanik disini bagus untuk dijadikan konstruksi bangunan? Karena disini pasir nya merupakan hasil erupsi dari gunung Guntur. Pasir ini masih belum terlontar jauh dari sumbernya, sehingga kalau dilihat, pasir ini mempunyai bentuk yang hampir menyudut, sehingga kalau teman-teman menggunakan pasir ini untuk bahan bangunan, ikatan antar butir nya akan melekat lebih kuat satu sama lain. Jadi, sangat logis kenapa pasir gunung berapi lebih mahal dibanding pasir pantai. :D

2. Obsidian Perlite, Samarang
Perlite dan Obsidian merupakan batuan vulkanik yang sebagian besar tersusun atas silika glass (SiO2) tanpa adanya struktur kristal. Obsidian dihasilkan dari lava riolitik yang mendingin secara cepat sehingga hanya memungkinkan terbentuknya glass sementara perlite adalah hasil proses hidrasi sekunder dari obsidian maupun tipe batuan vulkanik glass setelah pengendapan sehingga memiliki kandungan air lebih besar daripada obsidian 
Perlite merupakan produk dari proses pendinginan cepat dari magma berkomposisi riolit membentuk tipe batuan riolit glass yang amorf atau tanpa kristal. Magma riolit kental menyisakan lava yang masih mengandung SiO2 tinggi. Pendinginan lava kaya silika dengan cepat dapat membentuk lapisan endapan obsidian. 

Eksplorasi perlite di  Samarang bermula saat W. Kartawa (1974) (dalam Kurniawati 2010) pernah melakukan  peninjauan singkat yang ditujukan terhadap lokasi keterdapatan dan arah sebaran Perlite. Hasil peninjauan yang dilakukan oleh tim ini dapat diperoleh gambaran bahwa sebaran obsidian sebaran obsidian pada sekitar G. Kiamis ini berbentuk singkapan maupun bongkah-bongkah. Singkapan yang representatif terdapat di S. Cibodas, S. Cikaniri, dekat Kampung Penagan dan tebing baratdaya G.Kiamis. Arah sebaran baratlaut-tenggara dengan kemiringan timurlaut dan sebaran baratdaya-timur laut dengan kemiringan kearah barat laut. Hal ini memberikan gambaran bahwa awalnya Obsidian terdapat dalam kubah. Bongkahanya banyak tersebar mulai Kampung Gadog/ Patrol sampai barat dekat jembatan S. Cibodas (sekitar Cipanas) ke utara menyebar sampai Cibatuipis, Pangkalan, Lemahgandu dan Lereng Baratdaya G.Kiamis. Saya pernah mengunjungi tambang perlit di Thailand, yang ulasannya bisa dibaca disini.

3. Tambang Emas Aneka Tambang, Ciarinem, Papandayan

Daerah tambang emas ini, termasuk ke dalam pegunungan Jawa Barat bagian selatan dengan morfologi berupa perbukitan terjal. Litologi yang dijumpai pada wilayah ini berupa perselingan Lava andesit dan batuan Tuffa yang diprediksi merupakan formasi Waringin bedil-malabar tua dan Kancana. Formasi waringin bedil-malabar tua tersusun oleh Batu andesit dan tuffa yang tersusun oleh mineral piroksen dan horblende. Sedangkan formasi kancana tersusun oleh lava andesit (breksi autoklastika). Endapan hidrotermal ini merupakan  endapan yang letaknya relatif menempati tempat dangkal dengan tinggi suhu berkisar 500-2000 Celcius. Dalam tahap pengendapan mineral tipe ini terjadi reaksi kimia antara cairan sisa magma dengan batuan dinding celah yang dilewati cairan ini, yang dapat merubah susunan kimia maupun tekstur batuan asal itu sendiri dengan diiringi pengendapan mineral yang berharga yang dibawanya.

Di lokasi ini, PT Aneka Tambang sedang melakukan eksplorasi dan berencana untuk membuka tambang emas nya di masa mendatang. Namun mereka mendapat "partner", yaitu penambang liar. Mereka dengan bebas membuat lubang-lubang untuk mengejar urat kuarsa, yang kemudian di bawa dalam karung-karung untuk dibawa ke penggilingan. Miris memang, di saat BUMN kita harus "bersahabat" dengan para penambang liar, karena memang tidak bisa dipungkiri, tantangan sosial memang sulit untuk diselesaikan. Penertiban memang seharusnya dilakukan, sehingga keselamatan dari para penambang itu juga terjaga, karena ketika mereka membuat lubang-lubang galian, nyawa mereka hanya bergantung pada kayu yang menyangga,, bahkan jika batuannya memang sangat kompak, sangat mungkin mereka tidak menyangga batuannya. Subhanallah sekali memang.


4.  Pasir Besi Rancabuaya
Sepanjang pantai Selatan Pulau Jawa, kita ketahui potensi akan pasir besi sangat melimpah. Namun hal ini yang sering kali dimanfaatkan dengan salah, sehingga penambangan pasir besi di garis pantai sering merusak lingkungan, dan bertentangan dengan aspek tata ruang lain, seperti pariwisata dan perikanan. Endapan pasir besi merupakan produk dari rombakan proses kimia dan fisika dari batuan intermediet hingga basa atau batuan yang bersifat andesitik hingga basaltik. Pada beberapa daerah, endapan pasir besi juga diperkirakan berasal dari akumulasi hasil disintegrasi kimia dan fisika seperti adanya pelarutan, penghancuran batuan oleh arus bawah laut, pencucian secara berulang, transportasi, dan pengendapan.Endapan pasir besi juga diyakini merupakan endapan sedimenter placer. Model endapan pasir besi juga beragam, salah satunya adalah berupa lenses structure dengan kandungan magnetit yang beragam ke salah satu arah.

Secara umum pasir besi terdiri dari mineral opak yang bercampur dengan butiran-butiran dari mineral non logam seperti, kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit, dan tourmalin.mineral tersebut terdiri dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit, limonit, dan hematit, Titaniferous magnetit adalah bagian yang cukup penting merupakan ubahan dari magnetit dan ilmenit. Magnetit adalah komoditas utama dalam endapan pasir besi dimana kandungan Fe nya besar dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai industri besi dan baja.Mineral bijih pasir besi terutama berasal dari batuan basaltik dan andesitik 
-------------------------------------
Sebenarnya masih banyak komoditi Garut yang masih belum diangkat, seperti tambang emas rakyat di Cihideung, batu mulia Krisopras di Caringin, Bungbulang, panas bumi di Kamojang dan Darajat... Tulisan lainnya saya masukkan ke dalam halaman ini tentang potensi panas bumi di Kamojang, panas bumi di gunung Ciremay serta tentang Papandayan.


Potensi daerah lain juga sudah saya tulis, untuk Sukabumi dan Tasikmalaya.


Semoga bermanfaat ya. 
Salam Eksplorer... Anda melihat, anda mengingat, dan anda akan menceritakannya kepada dunia.. 

AYAH

Di jembatan Bambu yang melintas di Sungai Cikandang, tambang Emas Ciarinem, Papandayan

Sumber:
1. Artadana, I P E, 2011. “Geologi, Alterasi Dan Mineralisasi Daerah Nyerengseng Dan Sekitarnya,
Kecamatan Cisewu,Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat”. Skripsi Sarjana. Jurusan Teknik
Geologi.UPN Veteran. Jogjakarta.
2. Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan, 2009. “Peluang Investasi dan Bisnis Bidang Energi Dan
Sumber Daya Mineral”. Pemerintah Kabupaten Garut. Tidak dipublikasikan
3. Hendrasto, M. 2009. Guntur, Jawa Barat, http://portal.vsi.esdm.go.id/joomla/index.php.
4. Kurniawati, D. 2010. “Karakteristik Perlite Gunung Kiamis Daerah Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat”. Tugas Akhir. Institut Teknologi Bandung. Tidak dipublikasikan

Share:

Thursday, December 27, 2012

Kamojang, Lapangan Panas Bumi Pertama di Indonesia

Sudah pernah lihat panas bumi? Sudah pernah mampir ke Kamojang? Sekarang saya coba bahas sedikit yang saya tahu tentang Kamojang ya...

Lapangan panasbumi Kamojang berada dalam wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Lapangan ini berjarak + 17 km Baratlaut Garut atau + 42 km Tenggara Bandung, dan berada pada ketinggian 1640 – 1750 m diatas permukaan laut. Secara geografis, lapangan Kamojang terletak pada posisi 107o37,5’ – 107o48’ BT dan 7o5,5’ – 7o16,5’ LS.

Lapangan Kamojang mencakup suatu kumpulan kenampakan gejala panasbumi di permukaan, berupa fumarol serta kubangan lumpur panas. Beberapa diantaranya adalah Danau Pangkalan, Kawah Manuk, Kawah Berecek dan Kawah Leutak. Interpretasi Landsat menunjukkan lapangan Kamojang berada dalam suatu depresi berdiameter + 5 km (Sudarman & Hochstein, 1983). 


Gunung Guntur (2125 m) di sebelah barat Kamojang menunjukkan aktifitas terakhir tahun 1840 (Robert, 1988). Sebagai lapangan panasbumi pertama di Indonesia, lapangan Kamojang berpotensi 300 MWe. Melalui 24 sumur produksi, dewasa ini telah dihasilkan energi listrik 140 MWe dan akan dikembangkan hingga 200 MWe.

Lapangan panasbumi Kamojang merupakan sistem dominasi uap yang cenderung kehabisan air, oleh karena itu perlu dilakukan reinjeksi berdasarkan kondisi reservoir. Pada masa produksi terjadi perubahan tekanan, temperatur dan fasa fluida panasbumi.


Di Indonesia usaha pencarian sumber energi panasbumi pertama kali dilakukan di daerah Kawah Kamojang pada tahun 1918. Pada tahun 1926 hingga tahun 1929 lima sumur eksplorasi dibor dimana sampai saat ini salah satu dari sumur tersebut, yaitu sumur KMJ3 masih memproduksikan uap panas kering atau dry steam (Saptadji, 2010). Pecahnya perang dunia dan perang kemerdekaan Indonesia mungkin merupakan salah satu alasan dihentikannya kegiatan eksplorasi di daerah tersebut.


Kegiatan eksplorasi panasbumi di Indonesia baru dilakukan secara luas pada tahun 1972 (Saptadji, 2010). Direktorat Vulkanologi dan Pertamina, dengan bantuan Pemerintah Perapatan Ciamis dan New Zealand melakukan survey pendahuluan di seluruh wilayah Indonesia. Dari hasil survey dilaporkan bahwa di Indonesia terdapat 217 prospek panasbumi, yaitu di sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian Barat Sumatera, terus ke Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan kemudian membelok ke arah utara melalui Maluku dan Sulawesi. Survey yang dilakukan selanjutnya telah berhasil menemukan beberapa daerah prospek baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi 256 prospek, yaitu 84 prospek di Sumatera, 76 prospek di Jawa, 51 prospek di Sulawesi, 21 prospek di Nusatenggara, 3 prospek di Irian, 15 prospek di Maluku dan 5 prospek di Kalimantan. Sistem panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistem hidrothermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225oC), hanya beberapa diantaranya yang mempunyai temperatur sedang (150225oC).


Di Kamojang, kita akan mendapatkan berbagai macam manifestasi, seperti adanya steaming ground, kawah kereta api, kawah hujan, kolam lumpur, dsb. Kita coba bahas satu-satu ya...

1. Kawah Mati Kamojang
Lokasi ini dulunya merupakan kawah yang telah mati, yang ada di bagian Tenggara dari Kawah Berecek. Dulunya lokasi ini merupakan kawah yang aktif, namun saat ini telah sekarat dan membeku.  ada lokasi ini ditemukan adanya sulfur yang mengkristal dan membentuk seperti kelopak bunga. Tanah mempunyai temperatur yang cukup panas, yang mengindikasikan bagian bawah dari lapisan tanah yang membeku masih terdapat aktivitas hidrotermal yang berlangsung hingga sekarang. Pengukuran steaming ground menunjukkan temperatur tanah sebesar 70,60 C 


2. Kawah Kereta Api
Kawah kereta api merupakan bekas sumur panas bumi yang di bor semasa jaman penjajahan Belanda. Dari sumur ini, menyembur uap dengan tekanan yang sangat tinggi dan menimbulkan bunyi yang nyaring seperti bunyi kereta api. Disini, ada seorang "aki" atau kakek yang menunjukkan kebolehannya dengan melewatkan uap panas di antara sela-sela bambu, sehingga ketika udara panas tersebut lewat, maka akan terdengar suara melengking seperti bunyi sirine kereta api... tut tuttttt....



3.  Kawah Hujan
Pengamatan di lokasi ini adalah uap panas yang muncul dari rongga antar batuan. Namun di sebelah Timur dari lokasi ini, ditemukan adanya mata air yang dingin. Air yang dingin ini berasal dari akuifer yang dangkal, dan tidak berhubungan dengan aktivitas hidrotermal. Hasil perhitungan pH menunjukkan air mempunyai derajat keasaman yang mendekati netral. Banyak orang memanfaatkan untuk sekedar sauna, lumayan hangat sih, Tapi jangan terlalu lama ya. :D


4. Kolam Lumpur
Di sini ditemukan adanya bekas manifestasi air panas yang membentuk kolam lumpur yang sesekali mengeluarkan gas. Kolam lumpur ini terletak antara kawah hujan dengan kawah Cibuliran. Terdapat buih letupan air pada permukaan air, namun buih mempunyai ketinggian yang rendah. Buih berasal dari akuifer dangkal, dan muncul sebagai akibat dari tekanan yang tinggi dari gas dari dalam kerak bumi. Tidak jauh dari lokasi manifestasi, ditemukan adanya kawah yang telah mati dan mulai membeku. Ditemukan adanya alterasi argillik yang didominasi oleh mineral talk yang berwarna putih keabuan. Lumpur yang mengering tampak pecah dan retak pada beberapa sisi.

 5. Kawah Cibuliran
Pada kawah Cibuliran, tampak adanya sumur bekas pemboran yang sudah tidak berproduksi lagi pada saat ini. Di sebelah Utara dari lokasi bor ditemukan adanya mata air panas yang masih mengalir. Mata air ini mengalir dari arah relatif Timur menuju Barat, dan mengeluarkan kandungan gas yang cukup tinggi dan berbau menyengat. 

Semoga bisa bermanfaat buat rekan-rekan yang berencana berkunjung ke Kamojang, Garut. Selain Kamojang, masih banyak wisata geologi lain dan gunung papandayan yang juga 

Belajar bisa dimana saja lo. Yuk, kita belajar dari alam.

1.Alzwar, M S. BachriN. Akbar, 1992. Peta  Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (Indonesia)
2.Hilyah, Anik.  2010. Studi Gempa Mikro untuk mendeteksi Rekahan di area Panas bumi Kamojang Kabupaten Garut. Jurnal Fisika dan Aplikasinya. Volume 6, Nomor 2 Juni,2010
3.Sudarman, S. ,  Hochstein, M.P.,  1983. Geophysical structure of the Kamojang geothermal field (Java). Proceeding of the 5th New  Zealand geothermal workshop. New  Zealand.
4.Sulistijo, B. 2012. Buku Panduan Ekskursi Panas Bumi Kamojang. Modul Lapangan

Share:

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *