Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label tembaga. Show all posts
Showing posts with label tembaga. Show all posts

Monday, March 2, 2015

Gold Out Of Celebes




(update 15-11-2017: link dropbox peta geologi regional sulawesi)

Gold Out Of Celebes.. Dingle, Aylward Edward, 1874- , Synopsis: A romance of thrills and adventures on the island of Celebes, in the Dutch East Indies.


Ketika saya mencari referensi tentang emas yang ada di Sulawesi, pencarian sampai juga di halaman ini. Saya sudah sangat bersemangat, saya pikir ini adalah publikasi yang saya cari, namun ternyata ini adalah novel, yang di publish tahun 1920. Wow... pada tahun itu, ternyata kita mempunyai sebuah provinsi, bernama Celebes atau Sulawesi, yang sudah diabadikan menjadi novel. Saya belum sempat membaca semua isinya, namun semoga kelak saya bisa membaca. Sekilas saya melihat isinya, menceritakan kisah petualangan di Hindia Belanda. Saya melihat sudah ada Solo, Semarang, Batavia, Meneer, dan sepenggal pembicaraan tentang Indonesia dari orang Belanda tentang Indonesia. Sayangnya novel ini tidak bisa di download, dan hanya bisa dibaca online.



Garis Wallacea Weber, dan garis Lydekker

Sebuah novel yang ditulis oleh Captain Dingle, seorang pelaut, di era tahun 1920. Istilah Celebes mungkin muncul dari Sula yang artinya pulau, dan besi. Ada juga cerita tentang pelaut Portugis berkunjung ke Raja Gowa untuk meminta izin berlayar, dan ketika pelaut menanyakan nama daerah ini, Raja Gowa sedang memegang sebuah besi. Karena sama-sama tidak mengerti, Raja Gowa yang sedang memegang besi mengatakan, "ini adalah besi", atau Selle Bassi. Dan Alfred Wallace pun di laporan nya juga mencantumkan nama tersebut, yang membatasi flora dan fauna menjadi zona Wallacea dan zona Weber.


Kalau urusan disertasi, saya ingin sekedar bercerita, tentang apa yang saya lakukan di bulan-bulan awal sejak kedatangan saya akhir Januari yang lalu. Setelah datang dan menghadap supervisor, saya diminta untuk menulis manuskrip, kira-kira 50 lembar, yang berisi tentang resume dari berbagai tipe deposit yang ada di Indonesia. Resume ini menceritakan berbagai macam tipe deposit di Indonesia, kemudian menyajikannya dalam sebuah tulisan ilmiah yang akan di presentasikan secara internal di Departemen saya, untuk matrikulasi program Doktor saya.  Saya juga terbantu dengan adanya tugas ini (tidak boleh mengeluh, harus mengambil sisi positifnya), karena rangkuman ini akan digunakan sebagai salah satu bab di disertasi saya. Bersyukur...engga boleh mengeluh, hehehe.... Orang Indonesia memang harus dipaksa dulu, sampai akhirnya "suhu" nya sama, baru deh "tune in." Hahaha...

Topik yang saya ambil berhubungan dengan mineralisasi yang ada di Indonesia, yang akan saya khususkan di Sulawesi Selatan. Namun, sebelum masuk ke Sulawesi Selatan, saya harus memberikan gambaran berbagai macam deposit di Indonesia, mulai dari karya van Bemmelen tentang Geologi Indonesia, John Ario Katili tentang tektonik di Indonesia, Carlile dan Mitchel tentang hubungan antara busur magmatik dengan potensi endapan yang ada di Indonesia, serta pola tektonik yang dituliskan oleh Robert Hall mengenai tektonik lempeng di SE Asia dan SW Asia. Dan masih banyak pekerjaan rumah menanti ke depan. Ternyata meng eloborasi data yang sangat banyak itu membutuhkan waktu, dan yang jelas, ga boleh mengeluh, karena tugas seorang mahasiswa itu adalah membaca-membaca, dan membaca, begitu kata Guru Spiritual saya, ABAH saya di Malang.

Untuk oleh-oleh, saya cantumkan hasil karya saya, resume persebaran deposit logam yang ada di Sulawesi Utara. Untuk teman-teman ketahui, pulau Sulawesi itu merupakan gabungan dari 2 circum, yaitu Circum Asia dan Circum Pacific. Pertemuan keduanya menghasilkan bentukan huruf "K" yang sangat unik. 



Jika kita melihat pulau Sulawesi, pada bagian Utara, terdapat transisi antara Circum Asia dan Circum Pacific, sehingga menghasilkan adanya lempeng-lempeng mikro, dan pertemuan antara busur magmatik tersebut menghasilkan gunung-gunung berapi yang aktif, seperti Gunung Lokon yang sempat meletus pada 2011 yang lalu. Di lain sisi, banyaknya gunung berapi ini membuat banyak dijumpai potensi mineral logam dengan berbagai tipe depositnya, seperti epithermal sulfidasi rendah, epithermal sulfidasi tinggi, porfiri Cu-Au, porfiri Mo, serta sedimentary hosted atau biasa disebut tipe Carlin. Kita akan menjumpai deposit seperti Tombulilato, Motomboto, Doup, Gunung Pani, Riska, Bakan, Bolaang Mongondow, Mesel, Tapabekin, Ratatotok, Lanut, Toka Tindung, Sumalata, dan sebagainya. 
Dari semua tipe endapan yang baru saya sebutkan dan nama depositnya, ada satu tipe endapan yang jarang dijumpai di Indonesia, karena endapan ini sangat dipengaruhi oleh kontrol litologi dan struktur, yaitu tipe Carlin. Carlin sendiri, merupakan sebuah komplek tambang emas di Canada. Karena tipe nya yang khas, maka nama lokasi ini umum dijumpai, untuk menyebutkan tipe endapan emas yang sangat halus, umumnya berukuran sangat mikron dan terinklusi pada mineral yang mengandung arsen, serta sangat dipengaruhi oleh kontrool struktur dan litologi. Beberapa referensi menyebutkan tipe carlin sebagai sedimentary hosted gold deposit.

Di Sulawesi Utara, tipe ini dijumpai di tambang yang bernama Mesel. Tambang ini sudah dibuka sejak jaman Belanda, namun karena emas yang dijumpai berukuran sangat halus, akhirnya tambang yang sempat dikelola oleh Newmont Minahasa Raya berhenti pada tahun 2001. Jika kita mencari mengenai literatur mengenai Mesel, maka kita akan menjumpai banyak tulisan yang menghubungkan dengan pencemaran yang terjadi di Teluk Buyat pada tahun 2004. 

Fotomikrograf sampel dulang di Sulawesi Tengah

Provinsi Metalogenik yang kedua adalah Metalogenik Sulawesi Bagian Barat, yang membentang dari Sulawesi Selatan hingga leher Sulawesi Utara menghasilkan beberapa tipe endapan logam seperti emas dan tembaga, yang jumlahnya kurang signifikan dibanding Metalogenik Sulawesi Bagian Utara. Kita akan menemui prospek Poboya di Palu, Awak Mas dan Palopo di sekitar pegunungan Latimojong, Baturappe di sekitar Makassar dan banyak prospek lain.

Serta bagian ketiga adalah Sulawesi bagian Timur, yang merupakan tipikal dari tipe ophiolit, yang didominasi oleh batuan dengan tipe basaltik hingga ultrabasa, yang menghasilkan komoditi nikel dan besi laterit. Di provinsi metalogenik ketiga ini, tambang emas yang sangat fenomenal adalah tambang emas di Bombana, dimana hampir 20.000 orang menambang emas di daerah yang diduga mempunyai tipe endapan emas pada batuan metamorfik. Adanya ledakan dari jumlah penambang rakyat ini, membuat pemerintah setempat menghentikan penambangan pada tahun 2009. 


Untuk pengantar awal dari metalogenik Sulawesi, saya mau solat Jumat dulu di komunitas Islam Turki di Leoben. Tschüss



Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain







Share:

Thursday, October 16, 2014

Mendulang Emas di Perbatasan Indonesia



Awal bulan Oktober ini, saya berkesempatan kembali lagi ke Kabupaten yang berbatasan dengan 3 provinsi, Kalimantan Utara-Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah dan dan 1 negara tetangga-Serawak (Malaysia), yaitu Kabupaten Mahakam Ulu. Kalau bulan Juni lalu kebanyakan waktu saya selama mengeksplorasi daerah ini saya habiskan di Kecamatan Long Bagun dan Long Pahangai, sekarang saya menghabiskan waktu di Long Apari, dan setengah yang lain saya habiskan di perjalanan. Mengapa habis di perjalanan? Tidak lain dan tidak bukan karena permasalahan kabut asap kiriman dari hutan yang terbakar, akhirnya mengharuskan saya menempuh perjalanan darat dari Balikpapan menuju Tering, Melak.


Batu dinding, Long Apari


Kesampaian Wilayah, Budaya dan Kehidupan di Long Apari
Lokasi Kecamatan Long Apari
Early sketch map of Borneo, showing distribution of Jurassic-Cretaceous oceanic deposits of the Danau Fm (Molengraaff 1909) - dikutip dari http://www.vangorselslist.com/borneo.html 
Untuk menuju Long Apari, target eksplorasi kali ini, perjalanannya tidak kalah lama. Kalau dibuat poin,
- Balikpapan - Tering : 10 jam (darat)
- Pelabuhan sungai Tering - Ujoh Bilang: 4 jam (speedboat)
- Ujoh Bilang - Tiong Ohang (Long Apari): 9 jam (speedboat+jalan kaki)
Pelabuhan Tering yang ditutupi kabut asap



Kalau di total, untuk mencapai lokasi yang saya tuju, hampir 3 hari perjalanan harus ditempuh. Kenapa saya tulis harus berjalan kaki? Untuk menuju hulu, ada beberapa riam yang harus ditembus, seperti riam Udang dan riam panjang di Long Bagun. Dan saya pun harus berjalan kaki karena air sungai Mahakam kali ini sangat surut karena kemarau yang berkepanjangan. Speed boat tidak berani menhambil resiko dengan melintasi sungai, karena aungai yang dangkal, membuat baling-baling dari speedboat menabrak dasar sungai yang penuh dengan gravel dan kayu.

Semua penumpang speed harus turun, supaya speed bisa bermanuver meliuk di antara dua bongkah batuan. Karena itu, dinamakan Riam Beliu

Bukan hanya sekali dua kali saya harus jalan kaki. Hampir 10x saya harus jalan kaki, dengan jarak paling pendek 500 meter hingga 1km. Tidak jauh memang, cuma medan yang harus dilewati yang membuat perjalanan tidak santai. Jalan di gravel batuan basah sama seperti pijat akupuntur, nah kalau jalan kaki nya pas terik, batuan metamorf yang disinari matahari terus terusan panasnya naudzubillah.
Sore hari tepat sebelum maghrib, sampai juga saya di Tiong Ohang. Sampai disana, saya langsung berdecak kagum, ada jembatan panjang yang membelah sungai Mahakam. Ada kawan yang bilang, jembatan itu sudah ada sejak jaman Belanda, pemerintah Indonesia hanya merenovasinya beberapa kali. Beeuh,,, jembatan yang di bangun di daerah perbatasan dengan Serawak itu menjadi hal yang membuat Tiong Ohang begitu megah. Namun setelah saya naik ke daratan, saya langsung dibuat terheran-heran.

Jembatan panjang yang menghubungkan Tiong Ohang dan Tiong Bu'u, Long Apari

- Di Long Apari, warga belum merasakan listrik yang disalurkan melalui PLN. Setahu saya, di Long Pahangai juga mengalami hal yang sama. Warga secara swadaya menggunkan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Apa yang membuat saya tercengang? Listrik hanya menyala dari jam 6 malam hingga jam 9.30 malam. Setelah itu, listrik kembali padam, tinggal lampu-lampu darurat LED yang menerangi, itu pun kalau ada
Nenek Bulan, yang mempunyai daun telinga yang panjang, khas Suku Dayak 

- Sudah ada tower provider komunikasi berdiri sejak 2 tahun ini, namun belum ada transmitter dan receiver terpasang. Warung telekomunikasi alias wartel lah yang menyambungkan warga Long Apari dengan dunia luar. Dulu beberapa orang sempat mempunyai telepon satelit, terutama untuk keperluan medis dan beberapa orang saja yang memakainya secara bergantian



Hasil pendulangan emas salah satu ibu-ibu di Sungai Cehan, Long Apari

- Karena lokasinya yang sangat terpencil dan hanya menggantungkan transportasi dari sungai Mahakam, harga harga kebutuhan pokok serba membumbung tidak karuan. Bensin 17rb/L , normalnya Rp 6.500/L, telur ayam 4rb/butir, normalnya 19-20rb/kg isi sekitar 14 butir, zak semen 350rb/zak, normalnya 70rb /zak. Sudah mulai terbayang kondisi disana? Bandingkan dengan harga emas hasil penduangan mereka yang dihargai sama, 400rb/gram, betapa besar keperluan mereka. Oh iya, sebagai tambahan, mayoritas bekerja di ladang di hutan (masih membakar hutan untuk bercocok tanam), pada musim kemarau mencari emas di sungai atau gunung, dan hanya sebagian kecil menjala di sungai

Rawon daging Payau, alias daging Rusa
Hasil jeratan di hutan,, waktunya membersihkan perutnya..

- Kambing dan sapi merupakan makanan langka, bahkan jarang dijumpai. Ayam pun hampir sama. Warga lebih lazim memakan daging payau (rusa), kijang, maupun pelanduk (kancil). Mayoritas warga merupakan Dayak Oheng/ Dayak Penihing, Dayak bahau dan sedikit Dayak Kenya memakan babi, dari hasil menjerat ataupun berburu di hutan. Pada musim kemarau seperti ini, orang Dayak sudah menyiapkan tombak yang sudah diolesi racun dari akar atau dari katak untuk bersiap-siap menunjamkan tombak ketika babi rusa menyeberang sungai Mahakam yang sangat lebar.



Geologi
Kalimantan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terbentuk dari kerak benua. Berbeda dibandingkan dengan Jawa bagian Selatan, yang mempunyai topografi yang kasar yang dipengaruhi akibat tumbukan antara lempeng samudera dengan lempeng benua. Secara umur relatif, semakin ke Utara, umur batuan di Mahakam Ulu jauh lebih tua dibandingkan di sisi Selatan. Emas yang saat ini didulang oleh warga, diyakini berasal dari formasi intrusi Sintang.


Secara regional, kondisi geologi Kab. Mahakam Ulu dikontrol oleh struktur geologi berupa perlipatan dan sesar yang memiliki arah tenggara – barat laut dan barat daya – timur laut. Satuan batuan yang menempati wilayah Kab. Mahakam Ulu terdiri dari batuan beku plutonik (intrusi), batuan sedimen, dan batuan gunungapi (ekstrusi).
Kelurusan Kab Mahakam Ulu (diolah oleh Pak Asep Saepulloh, GL ITB)

Secara fisiografis, Kab. Mahakam Ulu terletak di Tinggian Kuching. Tinggian yang mengelilingi wilayah Kab. Mahakam Ulu merupakan pertemuan antara Pegunungan Muller yang berada di arah selatan dan barat daya, Pegunungan Kapuas yang berada di arah barat dan utara, dan Pegunungan Iran yang berada di arah timur laut dan timur. Tinggian Kuching ini terbentuk akibat dari pengangkatan yang terjadi pada busur kepulauan dengan daerah perairan dangkal yang berada di sekitarnya. Daerah ini merupakan bagian yang tinggi di Kalimantan Utara pada Zaman Paleogen. Daerah ini terpisah dari Kalimantan Barat Laut yang mengalami penurunan cepat. Tinggian Kuching merupakan sumber untuk sedimentasi di daerah barat laut dan tenggara selama Zaman Neogen



Formasi Gunung Api Nyaan, didominasi batuan beku dan sedimen yang sudah termetamorfkan
 Pengecekan keradioaktifan dengan scintillometer
Potensi uranium? Hmmm,, baru indikasi saja.. karena bacaan di daerah lokal yang tidak terganggu batuan radioaktif berkisar 200 cps. Di lokasi ini, lebih tinggi, mungkin karena batuan metamorf

Di tempat yang sama, batuan nya super besar

Aktivitas penambangan emas di Long Apari sangat banyak, terutama pada saat musim kemarau, seperti ketika saya datang ke daerah ini. Umumnya, mereka menyelam untuk mengambil gravel yang ada di dasar sungai, kemudian di dulang oleh ibu-ibu, atau di lewatkan melalui sluice box. Jika kita lihat, hampir semua kegiatan penambangan selalu pada daerah yang dekat dengan intrusi, bisa jadi memang para penambang sudah melakukan "eksplorasi" dengan pengalaman mereka selama ini. Ketika saya tanya, hanya 1 penambangan yang dilakukan di darat dengan cara memberaikan batuan, sedangkan sisanya dengan mengambil aluvial yang ada di sepanjang sungai Mahakam dan anak-anak sungainya. Ternyata, harga 1 gram emas di hulu Mahakam, hampir sama dengan emas di hilir, berkisar Rp 390rb-Rp410rb per gram. Wah wah, padahal biaya hidupnya jauh lebih tinggi dibanding daerah lain. Miris bukan? Warga disini tidak memerlukan belas kasihan, mereka hanya membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Listrik, Kesehatan, Komunikasi,, sebagai awal, itu sudah cukup. 

 Saya mendulang emas bersama warga Long Apari, dilihat orang banyak grogi juga,, hahaha
Emas yang disedot dan dilewatkan sluice box
Tambang sedot di sepanjang Mahakam
Emas yang berukuran sangat halus
 Emas pada pengamatan mikroskop binokuler


Share:

Friday, July 11, 2014

Geowisata di Sekitar Ternate

Early geologic map of Halmahera- Bacan (Verbeek 1908) - dikutip dari http://www.vangorselslist.com/north_moluccas.html , di update 22 Oktober 2014


Pulau Maitara dan Pulau Tidore, Gunung Kiamatubu nampak menjulang tinggi di belakang

Awal Juli ini, yang bersamaan dengan bulan Ramadhan pada kalender Hijriyah, saya menghabiskan waktu bersama rekan-rekan dari Kyushu University, ke tempat yang belum pernah saya datangi juga sebelumnya, yaitu ke Maluku Utara. Lokasi yang kami tuju adalah Gosowong, yang terletak di Pulau Halmahera. Sebagai informasi, ibukota Provinsi Maluku Utara adalah Sofifi di Pulau Halmahera, sejak Agustus 2010 yang lalu. Penerbangan saya dimulai dari Jakarta dengan maskapai lokal burung berwarna biru menuju Ternate tanpa harus transit di kota lain. Saat mendarat di Bandara Sultan Baabullah, Ternate, hal yang pertama saya lihat adalah laut, gunung, serta satu gunung menunjam tinggi di belakang bandara. Yap, itu adalah Gunung Gamalama. Gunung ini merupakan tipe gunung stratovolkano, dengan tinggi mencapai 1.715 meter, yang terakhir kali mengeluarkan erupsi pada September 2012 yang lalu. Di luar bandara, kita akan melihat bekas dari lelehan gunung api, yang merupakan lava andesit-basalt yang membeku, dan sekarang tepat berada di depan bandara.
Lava andesitik-basalt di depan Bandara Sultan Baabullah

 Perjalanan dilanjutkan kembali dengan menggunakan pesawat Twin Otter, yang telah di charter oleh Airfast Indonesia untuk Nusa Halmahera Mineral untuk pegawai dan tamu perusahaan. Jumlah penumpang hanya 15 orang, membawa penumpang untuk menikmati panorama pulau-pulau volkanik seperti Ternate, Tidore, serta kita bisa melihat pulau kecil yang berada di antara Ternate dan Tidore, yaitu Pulau Maitara. Pulau yang diabadikan dalam uang seribu rupiah ini, merupakan pulau-pulau yang terbentuk pada Era Kuarter-Holosen. Tipe gunung api seperti saya tulis sebelumnya merupakan stratovolkano yang berbentuk kerucut, yang tersusun oleh batuan andesitik, lava andesitik-basalt dan tuf.

Ilustrasi Ternate (sumber: wikipedia.org)
Ternate tahun 1880-an (http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Uitzicht_op_Ternate_TMnr_3728-865.jpg)

Pesawat membawa kita menyeberangi Selat antara Ternate dan Halmahera, dan membawa kita melihat lebih jelas Teluk Kao, yaitu sebuah teluk kecil yang berada di bagian Timur Laut dari Sofifi. Dari atas Teluk Kao, saya melihat hal yang unik, dimana beberapa nelayan yang memasang keramba di pantai, membuat jembatan dan keramba mereka berbentuk menyerupai panah, yang jika dilihat dari atas, akan terlihat seperti panah yang menunjuk ke arah keramba. Unik ya. :D
keramba yang ditunjuk oleh panah
Jailolo (gunung tinggi), Sindangoligam (menjorok), dan Sofifi (Selatan Teluk)
Twin otter tiba di Kobok

Sesampai di Kobok, bandara yang dioperasikan oleh Nusa Halmahera Mineral, kami masuk ke dalam area kegiatan penambangan PT Nusa Halmahera Mineral, dengan tujuan untuk mengumpulkan sampel-sampel urat kuarsa, baik dari permukaan maupun dari muka tambang bawah tanah (underground face), untuk dianalisa oleh salah satu mahasiswa dari Kyushu University untuk keperluan riset Master-nya. Kami diterima sangat baik oleh Departemen Eksplorasi Mineral, dimana saya banyak menjumpai geologis-geologis senior, yang mengeksplorasi lokasi dari Newcrest, Australia, sejak awal tahun 1990-an hingga sekarang. Banyak informasi baru yang saya dapat di tambang ini, dimana kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh perusahaan ini tergolong sangat rapi, sistematik, dengan dokumentasi dan penyajian data yang cukup baik. Saya ditunjukkan kolom stratigrafi dan berbagai macam tekstur batuan yang teramati di lokasi penambangan mereka, yang membuat orang awam bisa lebih mudah untuk membayangkan, yang mana sih tesktur batuan colloform, vuggy quartz, breccia, vein, stockwork dan sebagainya. Hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan perusahaan ini, pada beberapa lokasi, kadar emasnya sangat tinggi, mencapai puluhan, bahkan pernah beberapa kali menjumpai urat kuarsa yang mempunyai kadar hingga 8.000 ppm. Apa yang dimaksud dengan kadar itu? Mengapa dinyatakan dalam ppm? Mari kita sama-sama belajar.
 Visible gold, katanya kadarnya lebih dari 6.000 ppm
Visible gold dari dekat

Kadar suatu batuan umumnya dinyatakan dalam satuan volume, kadang dalam persen, ppm, atau pun dalam ppb. Seperti kita ketahui, persen adalah per seratus, ppm adalah part per million atau sepersejuta, dan ppb adalah part per billion atau seper satu milyar. Sebagai ilustrasi, jika kita mempunyai satu masa batuan dengan ukuran 1x1x1 meter dengan specific gravity (SG) 1 ton/m3, maka berat batuan tersebut adalah 1 ton. Dari 1 ton batuan tersebut, terdapat logam yang ekonomis untuk di ekstrak, katakana saja emas, dengan kadar 20 ppm. Artinya, dalam masa batuan seberat 1 ton tersebut, hanya 20 gram dari masa batuan yang ekonomis untuk di ekstrak, sedangkan 999,98 nya akan dibuang sebagai tailing. Namun ingat, specific gravity dari batuan bervariasi untuk masing-masing jenis, sehingga kita harus memperhitungkan ulang berapa berat batuan sebenarnya.

 Breccia
 Breccia type
 Colloform texture
Banding dari kuarsa-magnetit-adularia


Breccia kuarsa-klorit pada sampel bor , kalau seperti ini katanya kadarnya biasanya tinggi

Dari massa batuan tersebut, tidak hanya emas yang akan diekstrak, namun logam berharga lain seperti perak, tembaga, dan logam lain akan diekstrak. Nusa Halmahera Mineral, yang merupakan joint venture dengan Aneka Tambang, sudah melakukan proses peningkatan nilai tambah, dengan hasil akhir berupa bullion yang akan dimurnikan lagi oleh Aneka Tambang, sebelum dijual sebagai emas murni. Mengenai kadar ekonomis yang ditambang, umumnya perusahaan mensyaratkan kadar rata-rata berkisar 5-8 ppm, artinya di bawah itu, umumnya aktivitas penambangannya tidak ekonomis. Hal ini berkaitan dengan berbagai aspek, seperti biaya eksplorasi, biaya penambangan, biaya pengangkutan, biaya reklamasi, dan sebagainya.
Discovery vein dari Gosowong

Terdapat tiga prospek utama di Nusa Halmahera Mineral, yaitu Gosowong, Toguraci dan Kencana. Penambangan di Gosowong sudah lama selesai dengan metode penambangan terbuka dengan metode open pit, penambangan di Toguraci dulunya menggunakan open pit, namun saat ini sudah beralih menjadi tambang bawah tanah, sedangkan Kencana memang telah didesain untuk tambang bawah tanah. Masing-masing prospek mempunyai cerita yang unik dibalik penemuannya, dan karakteristiknya.
 Reklamasi tambang Gosowong
Sketsa Gosowong

Gosowong ditemukan dari urat-urat kuarsa yang mempunyai kadar rendah di permukaan, namun ketika dilakukan pemboran, didapatkan nilai assay yang menarik, yang ternyata merupakan satu sistem epithermal sulfidasi rendah yang cukup besar dan ekonomis. Dan tidak lama ini, para geologis menemukan, bahwa tipe endapan di lokasi ini merupakan satu sistem yang kompleks, karena terdapat juga sistem epithermal sulfidasi tinggi yang ditunjukkan oleh alterasi lempung yang cukup kuat.

 Panasnya di dalam Toguraci
 Urat kuarsa di Toguraci
 Veinlet kuarsa-klorit

Toguraci mempunyai keistimewaan, selain ditemukan endapan epithermal sulfidasi rendah, ditemukan juga tipe endapan porfiri yang umurnya jauh lebih tua dibanding endapan emas yang memotongnya kemudian hari. Selain itu, Toguraci juga mempunyai keunikan, karena tambang bawah tanahnya yang sangat panas. Dari wall rock nya, muncul air panas yang masuk ke dalam front tambang, dengan suhu 80 derajat celcius. Cukup untuk membuat kulit kepanasan ketika kita menyentuhnya, bahkan membuat penyangga di dinding menjadi terkorosi. Tidak asin memang, perkiraan saya adalah air meteorik atau air permukaan yang terpanaskan oleh suatu sistem geothermal yang berada dekat dengan permukaan. Saya sendiri tidak kuat berlama-lama di Toguraci, karena seperti berada dalam kuali. Beeuhhh…. Prospek Kencana merupakan tambang yang unik, karena ditemukan tanpa adanya indikasi di permukaan. Para geologis menyatakan hal tersebut sebagai blind deposit, yang muncul tepat ketika prospek yang lain sudah hampir habis. Dan blind deposit seperti ini yang masih dicari oleh tim eksplorasi NHM, karena tidak lama lagi cadangan dari beberapa prospek akan habis. Disana, saya menemukan mineral amethyst, atau yang sering disebut sebagai kecubung, sebagai alterasi dari silika, dan nampak berwarna keunguan. 
Amethyst atau kecubung
Farewell alias pamitan dengan tim eksplorasi mineral (atas dari kiri : Pak Mukhlis, Mas Daud, Kuroda, Thomas Tindell, Hase, Pak Dadan, Ibu Fintje, Pak Rob Taube, Pak Iskandar, Pak Hendry, Saya. bawah dari kiri: Pak Joko, Pak Saman, Mas Dedi, Mas Arif - foto diambil dari kamera Mas Zulkifli)

Setelah kegiatan kami berakhir di Halmahera, kami pergi ke Ternate untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya ke Jakarta. Di Ternate, saya berterima kasih kepada Mas Wawan, teman seperjuangan semasa kuliah S2 di ITB, yang mendampingi saya berkeliling ke beberapa lokasi yang sangat menarik di Ternate. Saya berkunjung melihat “Batu Angus”, yang merupakan endapan yang terbentuk akibat adanya letusan Gunung Gamalama, menurut info sekitar tahun 1800-an. Batuan yang ada disini merupakan lava andesitik-basalt dengan menunjukkan tekstur vesikuler, dan terakumulasi di jalur lahar dari Gunung yang terbentuk pada zaman Holosen tersebut. Dari Batu Angus, kami melanjutkan perjalanan ke Utara, dan mampir ke Pantai Taduma. Di pantai itu, kita bisa melihat lava andesitik yang umurnya diperkirakan lebih tua dibanding di Batu Angus, dan berada tepat di sisi Timur dari pantai. Di tepi pantai itu, kita menghadap ke Pulau Hiri yang berada di sebelah Utara Ternate, dan di belakangnya nampak Gunung yang menjulang dari Pulau Halmahera, yaitu Jailolo. Jika kita ingin melihat indahnya laut jernih dengan gradasi warna cerah-hijau muda-hijau tua-biru, maka jangan malas untuk masuk ke jalan setapak untuk mencapai Telaga Nita. Indah sekali dan menyegarkan mata. Saya ingin sekali berlama-lama disini, namun sayangnya saya harus mampir ke lokasi lain lagi, yaitu kaldera di sisi Barat Pulau Ternate, yaitu Danau Tolire.
 
Benteng Toluko
 Batu Angus 
Nampak batuan asal berwarna keabuan, tipikal andesitik lava, nampak adanya vesikuler



Danau Tolire berwarna hijau tua, yang mungkin disebabkan oleh adanya alga yang berkembang baik di dasar danau. Yang unik dari tempat ini, kami ditawari oleh anak-anak kecil yang membawa kresek berisi batu, yang katanya kalau kita melempar dari sisi kawah, lemparan kita tidak akan pernah masuk ke dalam kawah. Nyatanya? Coba saja sendiri, hihihi…. Dari Danau Tolire, kami mampir menuju Rumah Makan Florida, yang tepat berada di depan Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Masih nampak asing dengan kedua pulau tersebut, coba lihat uang pecahan Rp 1.000,-. Dan hari ini, ditutup dengan berbuka puasa dengan ikan bakar Colo-Colo yang lezat, dan saya semoga, kelak saya bisa mencicipi makanan yang belum saya cicipi hingga saat ini, papeda. Dan malam hari saya tutup dengan berjalan di sebuah gang yang berisi orang yang berjualan batu mulia yang berasal dari Pulau Bacan, Pulau Obi, Pulau Haltim, dan beberapa lokasi di Maluku. Selain itu, terdapat juga kerajinan besi putih, yang memikat hati, namun apa daya, tong kosong nyaring bunyinya. Artinya,,, boleh kitong mampir Ternate lagi lain hari ya...


 Pantai Sulamadaha
 Telaga Nita, indah ya...
 Saya di Telaga Nita
Danau Tolire
 Sunset di depan Pulau Maitara dan Pulau Tidore
Uang Rp 1.000,- pinjeman.. :D
 Kartun unik dari salah satu ruangan di Dept. Eksplorasi Mineral di NHM
Indahnya langit di pagi hari (foto diambil dari Bandara Sultan Baabullah)

Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain




Share:

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *