Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label situ cisanti. Show all posts
Showing posts with label situ cisanti. Show all posts

Monday, August 17, 2020

Situ Cisanti: dulu dan kini

8 tahun lalu, bulan Desember 2012 ada 2 acara bersepeda bersamaan, yang sebenarnya dua-duanya saya pengen banget ikut: Ulin Bareng Bikepacker Indonesia ke Situ Cisanti dan Gowes Bareng Geolog di Gunung Patuha-Situ Patenggang. Dua-duanya berlangsung di hari yang sama, Ulin Bareng 2 hari, sedangkan Gowes Bareng Geolog cuma 1 hari. 

Saya akhirnya memutuskan untuk ikut acara kedua, karena penasaran dengan kuliah alam alm. P Budi Brahmantyo (Dosen Geologi ITB). Dalam hati kecil, saya juga penasaran dengan Situ Cisanti, karena saya sudah dengar keindahan alam disana. Keduanya sama-sama berlokasi di selatan Bandung. Gunung Patuha dan Situ Patenggang melewati Ciwidey yang kaya akan strawberry, sedangkan Situ Cisanti perjalanannya melalui Ciparay, lumbung padi.

Tulisan penunjuk danau (2014)
Tulisan penunjuk danau (2020)

Beberapa hari berselang, saya cuma bisa senyum-senyum sendiri melihat teman-teman yang kemping di Situ Cisanti. Woooow.... Bagus bener pemandangan disana, itu yang terpikir waktu saya lihat foto-foto mereka.

April tahun 2014, 1 hari menjelang pemilu Presiden, akhirnya saya baru kesampaian juga bersepeda ke Cisanti bersama 1 orang teman. Teman-teman saya menyusul dengan naik mobil, waktu itu saya iming-imingi, disana bisa mancing. Saya berangkat sore hari jam 4 dari Dago, baru sampai sekitar jam 2 dini hari, selain bersepedanya santai, saya juga sempat diinterogasi di Polsek Kertasari gara2 bersepeda dengan jaket yang identik dengan warna salah satu parpol, di malam menjelang pemilu. 

"Kamu ngapain sepeda malam-malam ke Cisanti? Ga ikutan pemilu? Jangan-jangan mau ada serangan fajar ya?" Pengalaman bersepeda yang ga pernah saya lupakan sampai sekarang. Niat hati cari senang, malah kartu izin mengemudi saya nginap di kantor polisi.

Lewat dari Kantor Polisi, kami sampai subuh menunggu di parkiran Situ Cisanti. Setelah masuk, saya baru membuktikan sendiri keindahan Cisanti. Danau ini benar-benar indah. Indah. Danau yang berada di kaki Gunung Wayang dan Gunung Windu, sangat asri. Tidak jauh dari danau ini, terdapat pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia yang berlokasi di Wayang Windu. 

2014 dulu, saya masih ingat lokasi ini masih sangat natural. Jalan masih setapak, sudah ada saluran air dan saya masih ingat sekali, petilasan Dipati Ukur, dimana mata air keluar, berwarna sangat-sangat jernih. Warna biru kehijauan yang sama dengan air gletser yang berasal lelehan salju, yang pernah saya lihat di Gruener See (artinya danau hijau), Austria. 

Mataair Cikahuripan (2014)
Mataair Cikahuripan (2014)
Mataair Cikahuripan/ Citarum (2020)

Kemarin, 1 hari menjelang 17 Agustus 2020, saya bisa kembali lagi ke danau ini, kali ini bersama keluarga dan seorang teman. Saya ingin sekali membagi apa yang pernah saya lihat dulu ke keluarga saya. Tahun 2020, saya melihat lokasi ini menjadi jauh lebih tertata dan sudah di-paving sebagian. Sangat berbeda dengan tahun 2014, jalanan yang mengelilingi danau masih tanah. Sayangnya, lebar bagian yang di paving berukuran sangat sempit. Ketika harus berpapasan dengan orang lain, salah satu harus mengalah untuk turun ke tanah, atau merapat ke sisi kiri yang sudah dibatasi dengan pagar bambu berwarna-warni dan ditanami alang-alang.

Di tahun 2014 dulu, belum ada pembatas jalanan dengan danau. Beberapa pemancing bisa menghabiskan waktu di tepian danau, menunggu ikan dengan berjongkok, duduk atau berdiri persis di tepian. Beberapa orang justru memancing di atas rakit, ada juga yang melempar jala di tengah danau.Tahun 2020 ini, berbeda drastis. Sudah ada pagar bambu yang membatasi jalan dengan danau. Tidak ada lagi pemancing, sepertinya sudah dilarang sejak program Citarum Harum yang dilaksanakan beberapa tahun lalu. Banyak plang yang menunjukkan lokasi-lokasi 7 mata air di Cisanti. Hal yang tidak saya jumpai beberapa tahun lalu.

Memancing di tengah danau (2014)

Saya di tahun 2014, dan teman-teman saya Bikepacker Indonesia di tahun 2012, masih bisa membawa sepeda ke tepian danau dan membuka tenda untuk menginap. Di tahun 2020 ini terpampang jelas: sepeda tidak boleh dibawa ke bawah (maksudnya danau). Saya tidak lihat adanya tenda. Yang jelas, sekarang lebih banyak wisatawan, banyak yang membawa tikar dan menggantungkan hammock untuk berayun. Situasinya sangat bersih, tersedia tempat sampah dan tulisan-tulisan yang mempromosikan kebersihan.

Mempersiapkan umpan di tepi danau (2014)

Tepian danau (2020)
7 mata air di Cisanti (2020)
Darajat, Garut dari Situ Cisanti (2020)

Ketika masih tinggal di Austria, danau yang saya sebutkan di atas (Gruener See), memang dibiarkan natural tanpa adanya sentuhan modernisasi. Masyarakat dibiarkan menikmati danau itu apa adanya dan menyesuaikan diri. Ada beberapa kursi untuk wisatawan duduk, tapi tidak ada pagar yang membatasi pengunjung dengan danau. Saya sendiri, jujur lebih senang dengan kondisi natural Situ Cisanti yang dulu, ketika pengunjung bisa melihat langsung tepian air, tanpa ada pembatas. Membiarkan melihat ikan yang berenang kesana-sini dengan jumlah beberapa ekor saja, tanpa harus diberikan bibit ikan yang sangat sangat sangat banyak sekali, seperti kondisi situ Cisanti sekarang. 

Gruener see, Austria (2015)
Gruener see, Austria (2017)

Walaupun Situ Cisanti sudah tidak seperti dahulu, saya masih mengagumi kebersihannya. Banyak keluarga, pesepeda yang berkunjung. Penjaja makanan ada di sisi luar, diteduhi pohon Eucalyptus berwarna hijau yang rindang. Terima kasih buat semua yang sudah menjaga Cisanti, semoga danau ini terus asri. Let nature sing, let nature forever humble you.

Saya jadi ingat waktu saya baca tulisan Martinus Brouwer, seorang budayawan dari Delft yang ditolak status warga negara Indonesia berkata seperti ini: Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum. Apa kita sudah bersyukur lahir di tanah yang indah ini? 


Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku merasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Terima kasih, Ibu Sud. Dirgahayu Indonesia. 



Tulisan Situ Cisanti tahun 2014 (Asrinya Situ Cisanti)

Gruener see, Austria




Share:

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *