Conversations with the Earth

Saturday, April 12, 2014

Asrinya Situ Cisanti


Untuk mencapai kaki Gunung Wayang dengan tinggi 2.182 m ini, sebenarnya tidak terlalu jauh dari Bandung, hanya sekitar 50 km dari Bandung ke arah Selatan. Namun karena memang hobi saya untuk menikmati indahnya alam dari atas sepeda, saya berangkat sore hari dari Dago sekitar jam 4 sore, berharap 6 jam, paling lama 7 jam saya bisa sampai di Situ Cisanti. Saya mulai kayuh sepeda tua saya, Federal Mt Everest dengan gembolan di rak belakang saya.



Prediksi salah, karena ternyata banyak sekali faktor teknis yang saya jumpai selama perjalanan. Bersepeda malam hari memang tidak dilarang, namun saya sempat mendapat masalah karena salah satu baut rak sepeda saya yang terlepas selama menanjak, yang ternyata membuat beban di pannier belakang saya tidak berimbang, sehingga perjalanan saya kurang efektif karena pannier yang menempel di ban, yang baru saya sadari kurang dari 10 km mencapai lokasi. Belum lagi saya sempat diminta untuk menginap di Polsek Kertasari karena saya memakai jaket warna orange di malam hari, yang dipikir saya mewakili ormas tertentu dan akan melancarkan serangan fajar di desa tersebut.



Walhasil dari 00.30 hingga jam 01.00 saya diinterogasi di kantor polisi tersebut, selagi ke-9 teman yang lain menunggu di luar. Memang, semenjak tragedi Almarhum Joan Tobit, adik angkatan saya yang meninggal ketika mendaki Gunung Kendang, nama ITB di Polsek Kertasari sempat mencuat. Hal ini yang menjadi kami "dilarang" neko-neko lagi, apalagi kalau mengaku sebagai pencinta alam, bisa-bisa jauh-jauh saya mengayuh sepeda dari Bandung, harus berakhir menginap di Polsek. Setelah negosiasi yang cukup panjang, akhirnya berhujung dengan ditahannya kartu identitas saya, alias SIM A, sehingga saya bisa melanjutkan kembali perjalanan ke Situ Cisanti.





Mari kita lupakan celotehan tentang urusan non teknis selama perjalanan ke Situ Cisanti, mari kita gali lebih dalam tentang Situ Cisanti. Situ merupakan istilah bahasa Sunda dari Danau, terbentuk akibat adanya tujuh mata air yang ditemui di sekitar daerah tersebut. Mata air Pangsiraman, Cikoleberes, Cikahuripan, Cisadane, Cihaniwung dan Cisanti. Saya memang tidak bisa menjumpai semua mata air tersebut, namun saya hanya terfokus akan Mata Air Pangsiraman, yang sangat jernih, jernih dan sangat jernih. Warna hijau dan biru, merupakan warna yang menyegarkan mata, ketika saya dan kawan-kawan melihat langsung mata air tersebut. Mata air tersebut berlokasi di sebelah petilasan Dipati Ukur, seorang wedana yang memimpin pasukan untuk menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1600-an.



Mata air ini, jika di plot ke Peta Geologi Garut berlokasi di Formasi yang terbentuk pada masa Quarter, dengan kode Qopu, yang merupakan Endapan Rempah Lepas Gunungapi Tua Tak Teruraikan. Penjelasan dari Peta Geologi, Qopu adalah tuf hablur halus kasar dasitan, breksi tufan  mengandung batuapung dan endapan lahar tua bersifat andesit basalan. Mata air ini terbentuk akibat adanya kontak dengan Formasi Qwb, yang berumur lebih tua yang merupakan Andesit Waringin-Bedil, Malabar Tua. Adanya kontak antara batuan yang impermeabel dari Formasi Andesit Waringin-Bedil (Qwb), dengan Endapan Rempah Lepas Gunungapi Tua Tak Teruraikan (Qopu), diperkirakan menjadikan di sekitar daerah ini ditemukan banyak mata air, yang akhirnya membentuk mata air yang mengalir ke sungai-sungai di sekitarnya, yang salah satunya mengalir hingga Laut Utara Jawa di Muara Gembong, Bekasi. Belum lagi di daerah tersebut, banyak struktur yang memotong Gunung Wayang dan Gunung Windu, yang selain membawa air melalui media-media yang porous, juga membawa fluida lain sehingga membawa mineralisasi dari logam berharga dan panas bumi ke dekat permukaan. Mengenai penjelasan geologi tentang mata air, saya dulu pernah mengulasnya ketika saya berkunjung ke Situ Sangkuriang, yang berlokasi di Bandung Utara melalui tulisan "Indahnya Situ Sangkuriang di Kaki Gunung Bukit Tunggul"

Yap, di daerah itu, memang lokasi dari Pembangkit Listrik Panas Bumi yang menghasilkan daya terbesar di Indonesia, mencapai 200 MW, yaitu pembangkit Wayang Windu yang dikelola oleh Star Energy. Pembangkit listrik panas bumi, pernah saya ulas sebelumnya di web "Serba-serbi Tentang Geothermal: Gunung Ciremay yang "katanya" dijual ke Chevron" , kala itu saya sempat terbingung-bingung, karena banyak sekali pemberitaan yang salah mengenai pemanfaatan panas bumi di Ciremay, yang katanya Gunung tertinggi di Jawa Barat itu akan dijual kepada Chevron. Hal ini yang memicu pencinta alam di Indonesia banyak termakan info yang tidak bertanggung jawab, yang menggelitik saya untuk menulis tulisan saya di link di atas.


Di Situ Cisanti, yang terletak di Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, danau ini masih terjaga dengan asri. Kabut di pagi hari yang menyeruak di antara Pegunungan di Malabar ini, membuat daerah ini semakin indah dan eksotis yang banyak dicari oleh orang-orang yang ingin melupakan penatnya kota besar. Banyak orang yang menghabiskan waktu untuk memancing ikan nila ataupun ikan mas. Kebanyakan dari mereka pada hari libur menghabiskan waktu dari malam hingga pagi menunggu joran untuk mendapatkan ikan tersebut. Tidak terlepas dengan keempat teman saya yang juga memancing sejak pagi hingga siang di Situ Cisanti, yang hanya mendapat 1 ikan mas berukuran besar, dan 1 ikan mas yang berukuran sangat kecil. Tidak mudah memang mendapatkan ikan di daerah tersebut, karena saya juga melihat, pemancing lokal yang memancing pada hari libur itu tidak banyak membawa banyak ikan dari jaring tempat menyimpan ikan mereka.





Sangat disayangkan, tak jauh dari mata air tersebut, banyak warga lokal yang mempunyai sapi untuk diternakkan, yang limbahnya dibuang ke sungai, sehingga bahkan kurang dari Situ Cisanti, air dari Situ Cisanti yang bersih sudah berubah menjadi kecokelatan. Hal ini diperparah dengan sampah yang dibuang oleh warga ke sungai yang melintas sepanjang 300 km dari hulu hingga muara. Kalau ingin melihat lebih jelas tentang Citarum, ada sebuah organisasi yang bernama Cita Citarum, yang bertujuan untuk menjaga sungai yang termasuk tercemar di dunia. Detail tentang Citarum, mampir saja ke web sebelah, yang bisa diakses disini (foto : Keterangan foto: Foto udara di Situ Cisanti. Photo by: Saleh Sudrajad and team/Doc. Cita-Citarum) .


Kelak, ingin sekali saya mengajak orang-orang terdekat saya untuk mengunjungi danau ini, supaya mereka juga sadarm bahwa alam ini adalah milik kita bersama, supaya nantinya, kita tidak hanya bisa menikmati dan merekam indahnya Situ ini, namun juga ikut menjaga alam, dan melestarikannya untuk anak cucu kita.

A short story from Natupala HMT ITB

Baca Juga














Share:

2 comments:

  1. asyik sekali gowes sambil camping ...
    btw ... pencemaran sungai sudah dimulai dari hulunya ... ck ck ck

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu dia Om bersapedahan,, banyak sekali ternak sapi yang seharusnya diarahkan untuk mengolah kotoran sapinya, bukan malah membuang limbahnya ke sungai

      Delete

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari mulai menulis dan bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *