Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Thursday, April 19, 2018

Saya senang, saya tidak sendiri

Hari Kamis jam 9 pagi. Saya pergi menuju ke salah satu agen penukaran uang asing di Jalan Dago. Kebetulan saya masih simpan beberapa lembar dollar Kanada dan satu lembar Euro. Itu uang asing yang tersisa.

"Di atas dua puluh juta atau di bawah, Pak?" tanya petugas keamanan.

Saya menuju ke loket yang antriannya tidak panjang tanpa perlu mengambil antrian. Sesampainya saya di depan loket, saya melihat 2 teman. 1 orang sedang studi doktorat di ITB, beliau adalah dosen di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Beliau sudah selesai mengambil magister di ITB, sekarang beliau melanjutkan lagi studi doktorat. Kawan kedua sedang duduk, dia masih mengingat-ingat karena agak lupa dengan saya. Setelah menyerahkan uang ke loket, saya salami teman saya yang pertama.

"Dari mana dan mau kemana, Pak?" tanya saya.
"Saya dari kampus, long weekend ini saya ke Shanghai, bersama dosen lain dan tata usaha."
"Wah, mantap. Enjoy, Pak." Komunikasi saya dengan beliau tidak lama karena beliau sepertinya terburu-buru.

Saya menghampiri teman saya yang kedua. Dia sudah menempuh studi Magister dan Doktorat nya di Jerman. Saya kenal dengan dia karena dia datang ke Austria untuk mencari kesempatan post-doc. Hampir setengah tahun dia tinggal di Austria.

"Ketemu disini kita, Kang! Sudah berapa lama di Bandung?" saya menyapa beliau. Beliau adalah lulusan dari TU Berlin, Jerman di bidang ekonomi. Beliau sempat mengisi materi pengajian , karena ilmu agamanya lebih dalam dibanding saya dan teman-teman lainnya.  
"Baru seminggu disini. Ini lagi nukarkan sisa Euro, buat ditukar ke Dollar Australia" jawab dia ramah
"Sama, saya juga nukar. Sekarang jaman susah. Lho, mau ke Australia?"
"Iya, saya dapat penawaran post-doc di Adelaide. Sedih memang ninggalkan Eropa. Saya dapat tawaran di Swiss, pajaknya tinggi banget. Aplikasi saya di Austria, Jerman, Belanda, Perancis, UK, semuanya gagal."

Saya berpikir, perjuangan dia mendapatkan post-doc panjang sekali. Seingat saya, dia sudah tinggal lebih dari 5 tahun di Jerman, sehingga dia sudah ditawari untuk mempunyai visa khusus.

"Kapan berangkat ke Adelaide? Baru aja Senin kemarin saya video conference juga dengan Professor di Adelaide!"ujar saya.
"Serius? Hahaha, bisa gini ya. Saya cari post-doc di Eropa ga dapat-dapat. Di Adelaide, kurang dari 2 minggu saya langsung dapat posisi itu disana. Terus sekarang Andy kerja dimana?"tanya dia.
"Saya masih di kampus, Kang, lagi nulis paper sisa penelitian yang lalu. Karena sekarang belum ada lowongan PNS buka, ya sementara nebeng bantu-bantu di lab. Lumayan banyak waktu luangnya."
"Oh gitu ya. Mantap lah kalau sudah ada cantolannya. Saya ditawarin di Unpad, tapi belum saya ambil. InsyaAllah bulan Juli ini saya lanjut post-doc di Adelaide."
"Mantap, Kang. Kalau di kampus saya juga belum ngajar. Karena belum banyak yang dikerjakan, saya kepikiran buat nyopir on-line, " saya nyeletuk.
"Lah, mau nyopir juga? Saya habis pulang minggu kemarin dari Wina, ini juga bawa mobil, ngejalanin Uber."
"Hahaha, kalau saya belum punya mobil, adanya cuma motor. Tapi belum sempat daftar juga, mau nulis buku aja lah sambil nunggu hasil wawancara dan bukaan PNS."

Kami berdua sama-sama ketawa ngakak di tempat penukaran uang. Ternyata pikiran kami berdua sama. Apapun pekerjaannya dan selama itu halal, kenapa harus malu? 

"Semoga sukses di Adelaide, Kang. Kalau saya kontak, berarti seleksi saya lolos" sambil saya bersalaman dengan dia.
"Tschuss, Viel Spaß!"
  
Saya senang, saya tidak sendiri. 
Acara perpisahan di apartemen saya di Leoben ketika saya akan pulang ke Indonesia, akhir Januari 2018. Kawan yang saya ceritakan disini, Doktor yang menjadi sopir ojek online, ada di foto tersebut.

Disclaimer:
Alhamdulillah kemarin, saya mendapatkan beberapa kerjaan berbeda dalam satu hari, cukup lah untuk hidup sederhana di Bandung, sambil istri menunggu panggilan untuk bekerja lagi. Saya sempat terkejut, gaji pertama yang saya terima selepas saya pulang dari Austria, ternyata masih di bawah UMR kota Bandung. Saya harus bersyukur, ternyata banyak lulusan doktor di jurusan lain (di ITB juga) yang tidak mendapatkan gaji setelah dia lulus, selama dia menunggu menjadi pegawai ITB. Dan uang yang saya terima pagi ini dari kasir penukaran uang pagi ini, itulah celengan yang tersisa selama 3 tahun di LN. Saya masih bersyukur, banyak teman saya yang lebih minus sekembali dari berkuliah di LN. InsyaAllah uang ini masih cukup untuk saya sekeluarga hingga menunggu gaji (dan semoga ada penghasilan di luar gaji, amiiiin) bulan depan.

Saya sadar, kuliah tinggi-tinggi bukanlah untuk menjadi kaya, dan ijazah hanyalah tanda sudah pernah sekolah. Kita hanyalah makhluk Allah, yang harus memberi manfaat untuk sesama. Urusan rezeki, itu rahasia Allah. Selama kita berusaha di jalan yang halal, akan selalu ada jalan.
Share:

Sunday, April 8, 2018

Taman Bumi Pelabuhan Ratu and Ciletuh

Ciletuh dapat ditempuh sekitar 7-8 jam dari Jakarta atau Bandung dengan menggunakan mobil. Kota terdekat dari lokasi ini adalah Sukabumi. Di taman bumi (Geopark) ini, kita bisa mengunjungi berbagai macam obyek, antara lain air terjun, pantai yang indah, lokasi pandang, dan tentu saja, belajar geologinya. 

1. Pantai loji (bijih besi)
Jika kita berangkat dari Sukabumi, kita akan menjumpai simpang tiga (pertigaan) sebelum mencapai Pelabuhan Ratu. Ambil sisi kiri, yang akan mengarahkan kita ke Pantai Ciawitali- Loji. Setelah 4 km, akan ada persimpangan yang ditandai dengan patung ikan dan ombak. Penting! Ambil jalan ke kanan bawah yang akan mengarahkan kita ke pantai Loji dan taman bumi Ciletuh. 

Di tepi pantai, kita bisa melihat PLTU Pelabuhan Ratu, yang mempunyai kapasitas 3x350 MW. Pantai Loji, berlokasi di sebelah Selatan PLTU ini. Di Pantai Loji, kita bisa melihat pantai yang berukuran hitam, yang mengandung banyak mineral pembawa bijih besi, seperti magnetit, ilmenit dan beberapa mineral aksesoris yang lain (mis. zirkon, rutil). Ketika kita menggali lebih dalam, kita bisa melihat lapisan yang lebih hitam, yang mengindikasikan lapisan yang mengandung kadar besi yang lebih tinggi dibanding di permukaan. 

Pasir Besi adalah endapan pasir yang mengandung partikel bijih besi (magnetit), yang terdapat di sepanjang pantai, terbentuk karena proses penghancuran oleh cuaca, air permukaan dan gelombang terhadap batuan asal yang mengandung mineral besi seperti magnetit, ilmenit, oksida besi, kemudian terakumulasi serta tercuci oleh gelombang air laut. Pasir ini juga berasal dari erupsi gunung api atau berasal dari pelapukan batuan beku yang tertransport hingga pesisir pantai. Lapisan yang bergradasi menunjukkan adanya proses sedimentasi secara bertahap, yang terus berlangsung hingga sekarang.

Kalau kita melihat peta geologi regional (lihat gambar di bawah), kita bisa melihat beberapa formasi pembawa besi umum dijumpai, misalkan dari Citanglar (Surade) dan Cimangkok (Sukalarang, Sukabumi). Pasir ini tertransport melalui sungai yang mengarah ke pesisir laut.
Peta geologi Jampang dan Balekambang (digambar oleh dari Sukamto, 1975. versi pdf tersedia disini)

2. Hotel Cipunaga (breksi)
Dari Pantai Loji, kita lanjutkan perjalanan menuju Hotel Cipunaga. Disini kita bisa menjumpai singkapan breksi volkanik yang berkontak dengan lava yang terletak persis di pinggir pantai. Batu ini adalah termasuk batuan penyusun Formasi Jampang. Formasi ini tersusun atas: 
(i) breksi volkanik, 
(ii) anggota Cikarang terdiri dari tufa dan tufa lapili berselingan dengan tufa berbatuapung, batupasir berbatuapung, tufa gampingan, batulempung tufaan, batupasir gampingan, napal tufaan, breksi, batugamping.
(iii) aliran andesit dan basal, sebagian membreksi dan ditemukan basal bantal dari anggota Ciseureuh. 
Breksi volkanik di Cipunaga
Breksi dan lava dari Formasi Jampang

3. Puncak Darma/ Pasir Muncang/ Puncak Kemiri
Walaupun penyebutan namanya berbeda-beda, lokasi ini populer dengan nama Puncak Darma. Lokasi ini tempat yang ideal untuk melihat amfiteater Ciletuh, dimana kita bisa melihat dinding dari Formasi Jampang (Miosen Bawah, 23-16 juta tahun yang lalu), lembah di sepanjang teluk Ciletuh yang tersusun dari aluvium dan endapan Formasi Ciletuh. 

Nama Puncak Darma dipopulerkan oleh Direktur CV Darma Guna yang bernama H. Opan Sopardi (alm). Di tahun 2004, pembangunan jalan menuju daerah ini dilakukan oleh kontraktor tersebut. 
 Ciletuh amphiteater dari Puncak Darma
Teluk Ciletuh (Ci atau cai= air, letuh=kotor). Air yang berwarna kecokelatan ini berasal dari sungai Ciletuh dan sungai Cimarinjung
Amphiteater Ciletuh dilihat dari arah Barat 
Citra google earth di overlay dengan peta geologi regional
Coret-coretan saya
4. Curug Cimarinjung
Air terjun Cimarinjung, terletak di Desa Ciemas, tidak jauh dari Puncak Darma. Kita cukup menuruni bukit dengan kendaraan (atau berjalan kaki), dan kita akan menjumpai 2 buah curug yang dipisahkan oleh jembatan Cimarinjung. Air terjun di sisi kiri jembatan bisa dikunjungi dengan gratis dan tidak perlu membayar biaya parkir. Kalau kita melanjutkan rute ke Curug Cimarinjung yang kedua, maka kita dipungut restribusi untuk parkir dan dana kebersihan (sukarela). Air sungai Cimarinjung sangat deras dan airnya berwarna kecokelatan. Air sungai mengalir di sepanjang batuan yang mudah tererosi, sehingga airnya yang deras mengerosi bagian bawah dan samping sungai. Hal ini mengakibatkan air sungai menjadi keruh, terutama pada musim hujan. Kalau kita melihat peta geologinya, air sungai CIletuh berasal dari hulu yang banyak mengandung endapan pasir besi (endapan besi Citanglar).  
Curug Cimarinjung yang terletak di sisi Kiri Jembatan Cimarinjung (jika perjalanan dimulai dari Puncak Darma)
 
Curug Cimarinjung dilihat dari etage atas
Curug Cimarinjung dilihat dari etage lebih rendah


5. Curug Sodong-Ngelai-Cikaret-Cikanteh
Curug di atas berlokasi agak jauh dari Curug Cimarinjung (+- 30 menit dengan kendaraan bermotor). Batuan dasar dari air terjun di atas sama seperti batuan dari Curug Cimarinjung, yaitu batupasir tufaan dan breksi dari Formasi Jampang anggota Cikarang. Air yang mengisi air terjun berasal dari Sungai Cikanteh. Curug Sodong disebut juga sebagai Curug Kembar  karena aliran airnya bercabang menjadi dua. Tidak jauh dari Curug Sodong, kita bisa mendatangi Curug Ngelai, Curug Ciateul dan Curug Cikanteh. Saya beruntung bisa mendapatkan dua buah pelangi di kedua air terjun tersebut. 

Saya jadi ingat dongeng berbahasa Jerman tentang pelangi. "Der Leprechaun und das Gold am Ende des Regenbogens". Artinya, di ujung pelangi akan muncul kurcaci dan satu panci penuh berisi emas. 

Sayang, itu cuma dongeng. 
 Curug Sodong
Curug Cikanteh 
Curug Cikanteh
Curug Ngelai. Curug ini mempunyai aliran yang sangat tinggi dan menjulur seperti lidah (ngelai dalam bahasa Sunda)
Matahari tenggelam di tepi Teluk Ciletuh
Di Puncak Darma, Taman bumi Ciletuh
Saya dan dosen saya, Pak Komang

Artikel lain tentang potensi sumber daya alam Sukabumi bisa dibaca di halaman ini . Artikel tentang Geopark Merangin pernah saya tulis di halaman ini. Selamat membaca!

Behind the scene
Tulisan ini ditulis dalam 1 minggu, karena inspirasi yang ga kunjung datang. 
Share:

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *