Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Thursday, April 19, 2018

Saya senang, saya tidak sendiri

Hari Kamis jam 9 pagi. Saya pergi menuju ke salah satu agen penukaran uang asing di Jalan Dago. Kebetulan saya masih simpan beberapa lembar dollar Kanada dan satu lembar Euro. Itu uang asing yang tersisa.

"Di atas dua puluh juta atau di bawah, Pak?" tanya petugas keamanan.

Saya menuju ke loket yang antriannya tidak panjang tanpa perlu mengambil antrian. Sesampainya saya di depan loket, saya melihat 2 teman. 1 orang sedang studi doktorat di ITB, beliau adalah dosen di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Beliau sudah selesai mengambil magister di ITB, sekarang beliau melanjutkan lagi studi doktorat. Kawan kedua sedang duduk, dia masih mengingat-ingat karena agak lupa dengan saya. Setelah menyerahkan uang ke loket, saya salami teman saya yang pertama.

"Dari mana dan mau kemana, Pak?" tanya saya.
"Saya dari kampus, long weekend ini saya ke Shanghai, bersama dosen lain dan tata usaha."
"Wah, mantap. Enjoy, Pak." Komunikasi saya dengan beliau tidak lama karena beliau sepertinya terburu-buru.

Saya menghampiri teman saya yang kedua. Dia sudah menempuh studi Magister dan Doktorat nya di Jerman. Saya kenal dengan dia karena dia datang ke Austria untuk mencari kesempatan post-doc. Hampir setengah tahun dia tinggal di Austria.

"Ketemu disini kita, Kang! Sudah berapa lama di Bandung?" saya menyapa beliau. Beliau adalah lulusan dari TU Berlin, Jerman di bidang ekonomi. Beliau sempat mengisi materi pengajian , karena ilmu agamanya lebih dalam dibanding saya dan teman-teman lainnya.  
"Baru seminggu disini. Ini lagi nukarkan sisa Euro, buat ditukar ke Dollar Australia" jawab dia ramah
"Sama, saya juga nukar. Sekarang jaman susah. Lho, mau ke Australia?"
"Iya, saya dapat penawaran post-doc di Adelaide. Sedih memang ninggalkan Eropa. Saya dapat tawaran di Swiss, pajaknya tinggi banget. Aplikasi saya di Austria, Jerman, Belanda, Perancis, UK, semuanya gagal."

Saya berpikir, perjuangan dia mendapatkan post-doc panjang sekali. Seingat saya, dia sudah tinggal lebih dari 5 tahun di Jerman, sehingga dia sudah ditawari untuk mempunyai visa khusus.

"Kapan berangkat ke Adelaide? Baru aja Senin kemarin saya video conference juga dengan Professor di Adelaide!"ujar saya.
"Serius? Hahaha, bisa gini ya. Saya cari post-doc di Eropa ga dapat-dapat. Di Adelaide, kurang dari 2 minggu saya langsung dapat posisi itu disana. Terus sekarang Andy kerja dimana?"tanya dia.
"Saya masih di kampus, Kang, lagi nulis paper sisa penelitian yang lalu. Karena sekarang belum ada lowongan PNS buka, ya sementara nebeng bantu-bantu di lab. Lumayan banyak waktu luangnya."
"Oh gitu ya. Mantap lah kalau sudah ada cantolannya. Saya ditawarin di Unpad, tapi belum saya ambil. InsyaAllah bulan Juli ini saya lanjut post-doc di Adelaide."
"Mantap, Kang. Kalau di kampus saya juga belum ngajar. Karena belum banyak yang dikerjakan, saya kepikiran buat nyopir on-line, " saya nyeletuk.
"Lah, mau nyopir juga? Saya habis pulang minggu kemarin dari Wina, ini juga bawa mobil, ngejalanin Uber."
"Hahaha, kalau saya belum punya mobil, adanya cuma motor. Tapi belum sempat daftar juga, mau nulis buku aja lah sambil nunggu hasil wawancara dan bukaan PNS."

Kami berdua sama-sama ketawa ngakak di tempat penukaran uang. Ternyata pikiran kami berdua sama. Apapun pekerjaannya dan selama itu halal, kenapa harus malu? 

"Semoga sukses di Adelaide, Kang. Kalau saya kontak, berarti seleksi saya lolos" sambil saya bersalaman dengan dia.
"Tschuss, Viel Spaß!"
  
Saya senang, saya tidak sendiri. 
Acara perpisahan di apartemen saya di Leoben ketika saya akan pulang ke Indonesia, akhir Januari 2018. Kawan yang saya ceritakan disini, Doktor yang menjadi sopir ojek online, ada di foto tersebut.

Disclaimer:
Alhamdulillah kemarin, saya mendapatkan beberapa kerjaan berbeda dalam satu hari, cukup lah untuk hidup sederhana di Bandung, sambil istri menunggu panggilan untuk bekerja lagi. Saya sempat terkejut, gaji pertama yang saya terima selepas saya pulang dari Austria, ternyata masih di bawah UMR kota Bandung. Saya harus bersyukur, ternyata banyak lulusan doktor di jurusan lain (di ITB juga) yang tidak mendapatkan gaji setelah dia lulus, selama dia menunggu menjadi pegawai ITB. Dan uang yang saya terima pagi ini dari kasir penukaran uang pagi ini, itulah celengan yang tersisa selama 3 tahun di LN. Saya masih bersyukur, banyak teman saya yang lebih minus sekembali dari berkuliah di LN. InsyaAllah uang ini masih cukup untuk saya sekeluarga hingga menunggu gaji (dan semoga ada penghasilan di luar gaji, amiiiin) bulan depan.

Saya sadar, kuliah tinggi-tinggi bukanlah untuk menjadi kaya, dan ijazah hanyalah tanda sudah pernah sekolah. Kita hanyalah makhluk Allah, yang harus memberi manfaat untuk sesama. Urusan rezeki, itu rahasia Allah. Selama kita berusaha di jalan yang halal, akan selalu ada jalan.
Share:

Friday, December 29, 2017

Laporan Tahunan 2017

Judul ini saya pilih setelah saya nanya ke istri saya tentang judul tulisan yang pas buat akhir tahun. Vidya nyeletuk "Laporan tahunan 2017". Walupun kedengarannya seperti laporan tahunan koperasi, saya setuju sama idenya. 

Tulisan ini hanya refleksi saya dan keluarga saya. Anggap saja ini cerpen. Naik turun, jatuh bangun, dan sabar, itu lah proses pendewasaan kami berdua. 

Januari 2017
Salju turun lebat di Leoben sejak awal bulan Januari. Air di sungai Mur membeku, salju tebal menutupi hampir di seluruh kota. Aqila senang karena punya cukup persediaan salju untuk boneka saljunya.

Di bulan Januari ini kami harus memperpanjang ijin tinggal tahunan kami. Sayangnya paspor Vidya kadaluarsa September, sehingga ijin tinggalnya hanya diperpanjang sampai September tsb. Dampaknya, Vidya harus memperbaharui paspor terlebih dahulu, baru kemudian memperpanjang ijin tinggalnya sekali lagi. Untuk tahun 2017, Vidya harus membayar ijin tinggal 2x120EUR. Cleguk.

Di musim dingin ini juga, saya sudah mulai menulis disertasi dan merevisi konten dari internal reviewer untuk jurnal saya.

Februari 2017
Aqila kami daftarkan di kindergarten (setara play group dan TK), karena di Austria, anak berumur 3 tahun mulai diperbolehkan untuk masuk sekolah. Aqila akan berumur 3 tahun di bulan Agustus ini, namun pendaftarannya sudah dimulai dari 1 semester sebelumnya. Karena penghasilan saya masih di bawah syarat minimum bayar TK, alhamdulillah, sekolah untuk Aqila gratis.

Maret 2017
Saya berangkat ke Hannover, Jerman untuk menghadiri sebuah konferensi disana. Saya mengajak  Vidya dan Aqila ikut, sambil saya pamit ke Profesor saya karena beliau yang akan membayar hotel tempat saya tinggal. Beliau tidak keberatan keluarga saya ikut, dengan catatan transportasi dan konsumsi keluarga saya yang menanggung. Saya langsung mengiyakan.
Tembok Berlin

Sebelum berangkat, Vidya yang sudah terlambat haid beberapa bulan, memutuskan untuk melakukan cek kehamilan. Hasilnya positif, Vidya hamil. Kami senang sekali karena Aqila memang menginginkan adik. Kami berusaha menjaga kesehatan dan gizi karena perjalanan ke Hannover cukup panjang dengan menggunakan kereta malam. 
Aqila, Ezza, Uti

Di sela-sela kami ke Hannover, saya menyempatkan melakukan field trip di beberapa tambang tembaga-galena-sfalerit "kupferschiefer type" di Clausthal dan mengunjungi beberapa lokasi di Berlin. Di Hannover dan Berlin, saya bertemu teman SMP (Ezza) dan adik kelas (Aceng+Reza) semasa kuliah, senang rasanya bisa bertemu teman yang lama tidak berjumpa.
Aceng, Aqila, saya, Reza

Sepulang kami dari Hannover ke Leoben, kami pergi ke dokter kandungan (akhir Maret). Karena dokter kandungan melihat ada yang aneh dari kandungan tersebut, beliau meminta untuk datang beberapa minggu lagi. 

Bulan ini Vidya merayakan ulang tahun, saya pikir ini adalah hadiah yang pas. Kami sekeluarga makan di rumah makan all you can eat, sambil memikirkan nama yang pas, baik kalau laki-laki atau perempuan. Saya mulai mencari-cari nama gunung, nama mineral, belum ada yang pas.

Di tengah bulan Maret, Vidya datang ke dokter kandungan sekali lagi. Karena saat itu saya berhalangan, dia datang sendirian ke dokter kandungan. Setelah kunjungan, Vidya menelepon saya sambil menangis, dia bilang kalau dia dirujuk ke rumah sakit dan dokter meminta saya untuk mendampinginya ke rumah sakit. Vidya bilang dokter kandungan tidak bercerita apa-apa dan hanya memberikan secarik kertas, tertulis Gestörte Frühgravidität . Saya coba cari di google sebelum saya mendampingi ke rumah sakit, saya menjadi tambah bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampai di rumah sakit, kami mengantri, saya menemani Vidya untuk USG, sedangkan Aqila kami titipkan ke teman kami (Ghadeer dan Fahim) yang ikut mendampingi di rumah sakit. Perawat dan dokter tidak bercerita banyak ketika melakukan tindakan medis. Selepas itu, saya baru sadar, ternyata kami harus merelakan anak kedua yang kami tunggu karena janin tersebut tidak berkembang di dalam kandungan Vidya. Tidak ada cara lain selain menggugurkan kandungannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Setelah tindakan medis itu, dokter menjelaskan kepada kami, banyak hal yang terjadi di luar kemampuan manusia. Vidya harus minum beberapa obat untuk menggugurkan kandungan tersebut. Kami terpukul, tapi kami harus berbesar hati menerimanya. Bukan rezeki kami saat ini

Di bulan ini, saya juga mendapat beberapa email dari beberapa proposal yang saya kirim. Email dari SGA (Society of Geology Apllied for Mineral Deposits) menyatakan ucapan selamat karena travel grant saya ke Kanada di approve, sedangkan email lain dari SEG (Society of Economic Geology) tentang permohonan maaf karena proposal riset saya tidak bisa didanai oleh mereka. 3 kali saya apply beasiswa dari SEG dari tahun 2015-2017, semuanya gagal.
Galena-sfalerit dari kupferschiefer

April 2017
Di bulan April ini, tiap dua minggu sekali saya menemani Vidya kontrol ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Hormon kehamilan harus tetap dikontrol hingga hormon tersebut hilang. Di bulan April ini, ternyata hormon kehamilannya hasilnya masih positif. Dia harus minum beberapa obat, sebagai penahan rasa sakit saat terjadi peluruhan. Dia bilang sakitnya melebihi orang haid biasa. Saya cuma bisa menemani dia, karena dia membutuhkan support saya sebagai suami.  

Saya juga tetap membagi waktu dengan tetap fokus dengan disertasi. Ketika dia sudah mulai sehat, saya ajak Vidya, Aqila dan beberapa teman untuk light hiking dan bersepeda di sekitar Leoben, supaya Vidya juga tetap senang karena banyak teman yang ada di sekitarnya. 
Di minggu terakhir bulan April, saya bersama rekan kerja di kantor bepergian bersama di bagian Barat Daya dari Jerman, di sekitar Trier dan sekitarnya. Profesor saya (Frank) yang menghabiskan masa kecilnya di Trier dan bersebelahan dengan rumah Mbah nya ilmu marxisme, Karl Marx, mengajak kami berkeliling di Trier, menyusuri sungai Mosel, ekskursi geologi di "Maar" dan beberapa gunung di Eifel, serta yang berkesan buat saya, isi bensin mobil di Luksemburg karena harga bensin lebih murah dibanding di Jerman.
Landshut castle

Mei 2017
Beberapa bulan Vidya minum beberapa obat dari dokter, efek yang dia dapat masih terasa hingga beberapa bulan kemudian. Hormon kehamilannya masih ada, sehingga dia masih merasa mual dan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah. 

Di bulan Mei ini, adik kelas saya (Obi) mengunjungi saya di Leoben. Jalan-jalan. Di waktu yang berdekatan dengan kedatangan Obi, warga Indonesia di Leoben juga mengadakan kafe internasional, dan beberapa kawan dari Graz juga ikut meramaikan. Setelah selesai dengan kafe internasional, saya mengajak Obi untuk ke Dachstein, gunung tertinggi di provinsi tempat saya tinggal. Disana, saya mengambil waktu untuk membuat sketsa Dachstein. Saya juga mengajak Vidya, namun karena dia merasa belum fit, akhirnya hanya Aqila yang ikut. Kawan lain (Mbak Ossy, Graz) juga ikut bersama kami. Disana, saya sempat membuat video, alhamdulillah itu video pertama kami yang ditayangkan di NET TV.

Juni 2017

Alhamdulillah, kami bersyukur, Vidya tidak perlu di kuret. Hormon kehamilannya sudah negatif, dan Vidya mulai fit. Nikmat sehat itu mahal. Vidya mulai saya ajak berolahraga lagi, bersepeda di luar kota Leoben (20-30 km), dan pelan-pelan saya ajak dia bersepeda lebih jauh lagi. Teman dari Wina (Fajar, Ayu, Rayyan) berkunjung ke Leoben, dan kami mengajak mereka ke danau di Utara kota Leoben, Leopoldsteinersee.

Juli 2017
Bulan ini, gantian saya yang berulang tahun. Cuaca sudah hangat, Vidya dan Aqila dalam kondisi yang fit, dan tepat di hari ulang tahun saya, kami bertiga pergi hiking ke Polster di Eisenerz. Vidya dan Aqila yang fit saya ajak juga bersepeda ke luar kota (30-40 km) di weekend yang lain. Praktis, saya menghindari stress berlebih dengan meluangkan waktu dengan keluarga dan berolahraga. Studi doktorat itu ibarat mengikuti lomba lari marathon (atau bersepeda jarak jauh aja deh, belum pernah ikut marathon soalnya). Tempo harus dijaga stabil, bekerja sewajarnya (40-45 jam seminggu), istirahat yang cukup, supaya tidak loyo ketika harus sprint di akhir.

Polster, Eisenerz




Jurnal saya submit lagi ke Frank dan semua co-author, sepertinya saya harus tetap sabar, perjalanan revisi saya masih panjang ternyata. Disertasi saya sudah mulai terlihat bentuknya, namun ternyata masih banyak salah ketik, grammar, dsb. Saya perbaiki dan baca ulang, saya punya tekad, awal Agustus saya submit.

Di bulan ini, sepeda saya juga sempat dicuri dan hilang (selama 20 menit). Update sekarang (Desember 2017), pencurinya sudah ditemukan dan akan di sidang.
Kraubathersee

Agustus 2017

Saya dan Frank terbang ke Kanada untuk menghadiri konferensi di Quebec City. Saya mendapat travel grant untuk datang kesana, sisa kekurangan tiket dan akomodasi ditalangi oleh Montan. Saya bersyukur karena di Quebec dan Montreal, saya bertemu banyak teman lama dan teman baru dari Bandung (Tomy, Pak Nur, Pak Tom Mulja, Kimpoy, Ardin), teman-teman dari Freiberg, Hannover-Jerman, serta berkenalan dengan beberapa profesional penting (Kingsley Burlinson, Willy-Jones, Anne-Silvie Andre-Mayer). 
Foto milik Aldin Ardian (ki-ka: Tomy, Pras, orang ganteng, Aldin, Kimpoy)

Kingsley adalah ahli inklusi fluida dari Australia dan pesepeda jarak jauh, Willy-Jones adalah profesor di McGill, Kanada yang belum menerima saya menjadi muridnya (pertama bertemu tahun 2011, saya kontak beliau untuk jadi murid PhD tahun 2013), dan Andre-Mayer adalah profesor di Nancy, Perancis yang kala itu membuka lowongan postdoc di bidang yang saya geluti sekarang.

Disertasi saya dibawa oleh Frank ke Quebec City dan dia periksa semua halaman dengan teliti. Beberapa kali saya dapat kuliah dari dia, seperti perbedaan porphyroblast dan porphyroclast, tulisan-tulisan "non-qualified" yang di publish dari data yang jelek, dan cerita dia ketika dia ridak diterima untuk postdoc di ETH Zürich. Saya belajar etik, semangat dari orang yang saya anggap bapak saya selama di Leoben. Di saat saya masih berada di Quebec, Aqila merayakan ulang tahun di bulan ini, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah untuk dia.

September 2017

Saatnya perpanjang izin tinggal di Austria lagi untuk Vidya. Semua dokumen dan persyaratan administrasi (rekening bank) sudah saya submit, berharap tidak ada dokumen yang kurang. Di minggu pertama ini, saya menghabiskan tiga hari untuk konferensi MinPet (mineralogy petrology) di Innsbruck. Kota yang saya nobatkan sebagai kota paling indah di Austria. Di sela-sela konferensi, saya masih sempat kabur untuk menggambar beberapa sketsa kota cantik ini.

Di minggu kedua September, saya harus berangkat ke Lapland, Finlandia dan Swedia di sekitar lingkaran kutub Utara untuk mengikuti ekskursi geologi ekonomi. Kami berkeliling selama 10 hari. Di sana saya sempat melihat aurora borealis dan mengunjungi beberapa tambang (emas, platinum-palladiun, nikel sulfida, kromit, porfiri, IOCG, IOA) dan beberapa singkapan (trondjhemite, batuan tertua di Eropa, Ni-Cu-PGE)  di sekitara lingkaran arktik. Saya belajar banyak setelah mengikuti ekskursi ini. 
Aurora borealis di Gallivare, Swedia (foto milik Tim Steiner)

Selama di Finlandia dan Swedia, Frank masih mengoreksi disertasi saya, dan beberapa puluh halaman diberikannya ke saya untuk saya perbaiki kontennya. Saya langsung memperbaiki disertasi itu, karena saya mengejar supaya bisa lulus Desember ini. Mengapa? Karena kalau saya lewat dari bulan itu, saya tidak mendapatkan perpanjangan beasiswa lagi untuk tahun 2018 (kontrak saya terbatas hanya untuk 3 tahun), sehingga saya harus lulus tepat waktu. Saya tidak mempunyai uang lagi, sehinggga tidak ada opsi lain selain menyelesaikan studi secepat-cepatnya.

Di akhir bulan ketika cuaca masih cerah, kami sekeluarga dan Pak Anda menyempatkan ke Grüner see , dan kalau ditotal-total, Vidya dan Aqila sudah bisa bersepeda lebih dari 60 km an. Saya senang, karena pelan-pelan, Aqila sudah bisa mandiri dan Vidya juga fit. Aqila juga kembali masuk ke kindergarten. 


Oktober 2017

Sehat itu mahal. Ternyata Vidya di vonis heartburn dan GERD (gastro-esofageal reflux disease). Asma nya kambuh, akhirnya Vidya harus banyak bed rest. Stress juga meningkat, disertasi yang sudah diperbaiki di setor lagi ke Frank sebelum disubmit ke penguji. Saya diberikan beberapa alternatif penguji eksternal, akhirnya saya memilih Prof. Werner Paar dari Salzburg sebagai penguji. Pertimbangannya, beliau adalah ore mineralogist (nama beliau diabadikan menjadi mineral "Paarite"), beliau spesialis di bidang eksplorasi dan geologi endapan emas, serta menghabiskan masa tua nya untuk menulis buku tentang atlas mineral bijih untuk endapan epithermal di Argentina. Saya memulai berkenalan dengan Prof Paar (walaupun beliau minta dipanggil Werner), tanggapan beliau sangat positif. Syukur, syukur. 

November 2017

Kepala hampir pecah. Panic at the disco. Fokus, fokus, fokus dengan sidang. Saya bahkan merasa 1 bulan ini cepat berlalu. 

Desember 2017
Akhirnya saya lepas dari rigorosum (sebutan lain untuk sidang doktor). Perlu 1 hari hingga setelah sidang bahwa akhirnya saya lulus juga, saya benar-benar tidak menyangka akhirnya bisa lulus dari kampus tambang ini. 
1 minggu berselang, saya bersama-sama lulusan doktorat dipromosikan oleh Frank ketika Akademische Feier (semacam wisuda untuk mahasiswa master dan doktorat). Frank memberikan testimoni tentang kepribadian saya, apa yang saya lakukan di Leoben dan pencapaian saya selama hampir 3 tahun (2 tahun 10 bulan tepatnya) dalam 90 detik saja (commencement speech). Vidya saat itu mendokumentasikan pidato tsb. Karena pidato promosi dia dalam bahasa Jerman, kurang lebih begini terjemahannya. File asli ada di bawah gambar di bawah.
"Andy adalah insinyur pertambangan dan lulus dari salah satu kampus teknik di Bandung,Indonesia (tidak terekam, baru setelah ini baru masuk dalam video).
Andy berasal dari Indonesia. Dia datang ke Austria bersama keluarga kecilnya dengan beasiswa dari OeAD Austria melalui program dari ASEA UNINET.  

Andy adalah orang yang sangat teroganisir. Dia melewati semua keperluan birokratis di Universitas dan Austria, sangat cekatan dan akseptabel dengan komunitas (kolega) yang berbahasa Jerman. 

Andy orang mempunyai sifat penasaran yang ekstrim. Sebagai contoh, dia mencoba semua alat yg tersedia dalam bidang ilmu kebumian (mineralogi) di universitas ini, dan menulis karya yang sangat bagus untuk menjawab model terbentuknya endapan emas di Sulawesi. Saya berharap bisa melihat tambang itu beroperasi di masa mendatang.

Andy ini juga orang yang sangat unik. Dia mungkin satu-satunya orang Indonesia yang melewati Grossglockner (jalan tol tertinggi di Alpen Austria) dengan sepeda yang sudah berumur sangat tua (audiens tertawa).

Andy adalah orang yang fokus pada tujuan. Ada suatu foto ketika saya dan dia berada di hutan tropis di Sulawesi, dia melompat lurus mengambilkan buah bernama rambutan, yang rasanya seperti leci. Andy adalah orang yang terlahir bukan untuk dahan pohon yang rendah. Berjuanglah terus untuk dahan pohon yang lebih tinggi, Andy. 

Terima kasih, Danke dan Glück auf (salam tambang)
Commencement speech from Prof Frank Melcher to Andy Hakim from andyyahya on Vimeo.

Setelah lulus, saya berikan ucapan terima kasih untuk Frank berupa lukisan sketsa yang digambar oleh teman saya, Kang Ana Mulyana.
Apakah setelah lulus semua permasalahan selesai? Saya akan kembali ke Bandung tahun depan, tapi saya berharap untuk menimba pengalaman di tempat lain dan melanjutkan untuk postdoc. Ini sebatas cita-cita karena banyak hal yang harus kami (saya dan Vidya) pertimbangkan, terutama masalah ekonomi, akses terhadap ilmu agama dan keluarga. Kalau semua pertimbangan itu terpenuhi, mungkin saya akan berangkat. Sejauh ini, banyak pertimbangan lain yang masih saya pikirkan.

Dan, di penghujung akhir tahun, setelah naik turun periode kehidupan, saya mendapatkan surat dari asuransi untuk mengirimkan sejumlah uang karena saya dan Vidya tidak memeriksakan kesehatan anak di antara bulan ke-14 hingga ke 18 di akhir tahun 2015 yang lalu. Lumayan besar, setengah dari beasiswa saya. Apa boleh buat, kami tidak tahu karena belum mendapatkan panduan kesehatan ibu anak (mutter-kind-pass) pada saat itu. Kami  cuma bisa saling menghibur satu sama lain, sambil muter video "mohon bersabaar, ini ujian... mohon bersabaaar, ini ujian". Hidup adalah perjuangan kan?

Ada beberapa yang bertanya, "mau kemana aja nih sebelum pulang ke Indonesia? Tour de Europe?" Kami berdua hanya bisa menjawab "Amin, kalau ada rejekinya. Kalau tour sekarang, bisa-bisa bulan depan kami sekeluarga ga makan (sambil ketawa)."

Selamat tinggal 2017, selamat datang 2018. Cheers.

.

Thank you for reading!

Share:

Sunday, August 20, 2017

Hidup ini keras, Bung

Sarah-Kirk bla bla.. saya lupa nama lengkapnya. Afro, sepertinya dia yang memimpin kru swiss air di airport Zürich saat itu. Saya hanya transit sebentar untuk penerbangan berikutnya. Ketika saya datang untuk cek paspor dan tiket, dia meminta saya mengambil semua barang saya, mengambil tiket, dan saya diminta mengantri di sebuah kubikel berwarna hitam, "Please follow me."

Apes, cuma itu pikiran saya. Saya datang ke profesor saya, 
M:"I have to leave you for a moment, the woman right there asked me to go with her." 
P:"Why?" 
M:"I don't know yet."

Saya masuk ke kubikel berwarna gelap tidak jauh dari lokasi boarding, ruangannya terbuka, hanya tertutup saja dari luar. Sarah meminta saya duduk, di dalam seorang wanita sudah menunggu (berlogat India) meminta saya untuk menunggu petugas lain.

Datang laki-laki, berbaju security,  meminta saya melepas sepatu dan mengecek lengan, kantong celana sampai kaki. Nihil. Sarah-kirk juga tidak menemukan sesuatu yg aneh di tas dan kantong basoka berisi poster itu. Tapi saya tahu, mbak acha acha nehi-nehi mengambil sidik jari di alat elektronik saya, untuk dia cek di scanner di komputernya. Sepertinya nihil, Sarah-Kirk seperti memberi kode ke wanita India itu.

Saya diminta ke loket passport control, untuk ditanya apa tujuan saya, dimana menginap, kapan kembali ke Austria dsb, oleh petugas lainnya. Saya jawab apa adanya dan jujur, saya tanya balik dalam Jerman ke wanita itu mengapa saya diperiksa. Ketika saya tanya balik, kenapa saya di cek di kubikel itu, tidak ada jawaban, seperti pura-pura tidak mendengar. Saya ulang pertanyaan ke Sarah-Kirk. Nihil.

Profesor saya cuma bisa melihat dari jauh dan menanyakan "everythings fine?". Lewat kode tangan, saya cuma bisa menjawab geleng kepala dan angkat tangan tidak tahu.
Sarah-Kirk memberikan kembali tiket saya yang sebelumnya ditahan olehnya, dan di tiket sudah ada cap "security guard" berwarna kuning dan tulisan "HS" atau "4S", tulisannya besar tapi tak terbaca. Dia mencoret nama saya dari daftarnya, "Have a nice flight."
Bujubuset. Gitu doang.

P:"What happened?" 

M: "No explanation." Profesor saya mencoba mencairkan suasana, 
P:"Maybe you should buy a new family name, Schmidt, Meyer or anything you like. They randomly checked only from your family name."

Siiit...

Saya ambil positifnya. 3 dari ratusan penumpang menuju Montreal mendapat perlakuan ekstra, termasuk saya. Di kubikel yang sama, puluhan orang mengantri untuk keberangkatan ke Las Vegas, dan ketika saya tanya, mereka ga tahu untuk apa di cek disana. Mereka berpaspor Swiss, Jerman, dan beberapa dari Eropa Timur. nyway. Kalau memang itu gara-gara embel2 nama saya, ya sudah lah, "that's a life as a foreigner, as a minority." Suka ga suka, adil ga adil, seperti itu realitanya. 


Saya cuma bisa berdoa supaya diberi keselamatan dari Allah. Life is tough. 
At least masih dapat nasi goreng 5 langkah dari penginapan.
QC, CA
Share:

Wednesday, July 12, 2017

Menjadi Panutan

Seorang mahasiswa tingkat 3 jurusan Geologi di salah satu Universitas di Sulawesi mengirim pesan via facebook sejak akhir Juni 2017 yang lalu. Karena kami belum berteman, pesan itu baru saya baca di pertengahan Juli ini. Dia bercerita, jurusannya tempat dia belajar baru berdiri 3 tahun. Dia adalah angkatan pertama dan merasa apa yang dipelajarinya sangat kurang karena keterbatasan buku dan pengajar (hanya 2 orang pengajar yang berasal dari jurusan geologi). 

Singkat cerita, mahasiswa ini ingin membuat jurusan ini berwarna untuk adik-adiknya. Dia tidak ingin seperti mahasiswa angkatan pertama di kampus lain, yang dikenang karena mereka adalah angkatan pemberani, yang berani tawuran, membawa parang, air keras, dan 8 orang tak gentar melawan 1 Fakultas. 

Ketika saya membaca pesannya, tiba-tiba ada ide untuk mencari masukan dari teman-teman saya. Selama 2 hari, saya mendapat banyak sekali masukan. Dari semua masukan, ada poin-poin yang sama:

1. Sekarang bukan jamannya tawuran otot
Kampus adalah tempat untuk tawuran otak, bukan tawuran otot. Mahasiswa bukan lagi anak kecil yang harus dituntun seperti anak kecil. Mahsiswa adalah manusia dewasa yang berpendidikan dan berakal, yang nantinya akan menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. Ingat, pemimpin tidak hanya mengatur anak buah saja, tapi juga harus bisa memimpin diri sendiri. 

2. Tentukan arah: visi dan misi
Segala hal yang baru tentu harus memiliki tujuan, termasuk ketika program studi atau organisasi baru dibentuk. Dengan adanya tujuan, kita dapat mengetahui apa yang harus kita lakukan untuk mengejar ketertinggalan. Tanpa ada tujuan, program studi atau organisasi menjadi tidak jelas dan berjalan tanpa arah.

3. Studi banding
Studi banding sangat perlu dilakukan untuk membuat "benchmark", baik dari segi sistem, metode pengajaran dan sebagainya. Studi banding perlu dilakukan tidak hanya oleh pengajar, namun juga untuk mahasiswanya ketika akan membuat organisasi (misalnya himpunan atau badan eksekutif mahasiswa). Sebagai contoh, mahasiswa bisa mengunjungi kampus, kantor atau perusahaan terkait, sehingga akan terbentuk motivasi untuk berorganisasi dan berkumpul. Studi banding tidak harus mengeluarkan uang banyak. Kita bisa menggunakan media elektronik, misalkan dengan menggunakan fitur video call, sehingga yang jauh jadi dekat, yang sudah dekat jadi lebih rapat.

4. Tiap organisasi itu unik 
Setelah mengetahui arah dari organisasi, berbenah tapi jangan lupakan hal yang tidak kalah pentingnya. "Tiap organisasi itu mempunyai warna yang berbeda-beda." Organisasi harus mempunyai jati diri, tentunya identitas itu yang baik (ingat, kita membahas tentang dunia akademis)

Saya jadi ingat pengalaman 8 tahun lalu. Saya pernah didudukkan di kursi sidang, bukan untuk sidang kelulusan, tapi diinterogasi oleh dosen saya di Fakultas. Masalahnya: KADERISASI. 

Saat itu, saya menjabat menjadi ketua himpunan mahasiswa tambang dan harus melantik 80 orang mahasiswa. Semua rencana sudah dipersiapkan dengan matang. Panitia sudah mengikuti Training of Trainer (TOT) , dan saya sudah meminta izin dari Kaprodi dan pembina kemahasiswaan (saat itu Pak Ridho Wattimena dan alm. Pak Rudianto Ekawan). Kedua Bapak itu menyerahkan segala tanggung jawab kepada panitia, saat itu saya dan Kadiv Kaderisasi, Adho, yang bertanggung jawab. Alhamdulillah pelantikan berjalan lancar, tidak ada yang terluka. 

Apesnya, saya dilaporkan kepada Dekan oleh Dosen jurusan lain. Beritanya kurang lebih: ada mobilisasi mahasiswa baru di sepanjang jalan Cisitu (Bandung) pada malam hari menuju Curug Dago. Bapak Dosen yang melaporkan ini ("wadul" dalam bahasa Jawa) belum tahu kalau saya sudah membuat gentlement agreement dengan dosen di Teknik Pertambangan. Karena laporan ini, saya disidang dan mendapat surat keterangan "Sdr. Andy Yahya Al Hakim" diberikan sanksi dan diturunkan dari jabatan ketua himpunan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Hahaha...

Rencana yang sudah tersusun rapi saja bisa ada kekurangannya, apalagi jika tidak terkonsep. Memulai sesuatu yang baru itu susah, sama seperti membangun pondasi gedung yang tinggi. Seperti pepatah favorit saya:
Even the tallest building, starts from the ground

Caption: setelah saya diturunkan dari ketua himpunan, 4 tahun kemudian dia menjadi Prince alias ketua himpunan mahasiswa mesin (HMM). Saat dia wisuda, dia dilarang untuk naik di samping tiang bendera di depan gerbang ITB oleh petugas K3L. Akhirnya dia mengambil inisiatif. Dia meminta temannya bisa mengangkat dia sama tingginya dengan tiang bendera itu, dan dia memimpin mars HMM, dengan ketinggian yang sama dengan tiang bendera itu. Salut.
HMM dan HMT

Oh ya, ini beberapa masukan dari kawan-kawan saya tentang bagaimana membangun organisasi yang baik.

Prasetiyono Hari Mukti

kebiasaan tawurannya aja udh bukan merupakan budaya akademik yg patut diwariskan. Apalagi dg segala pernak-pernik perlengkapannya. Era saat ini udh bukan lagi era adu otot. Udh eranya adu otak. Kalaupun kosakata "tawuran" msh mau dipakai, maka saat ini bukan masanya tawuran fisik. Tapi "tawuran otak". Just my 2 Cents.

Setia Obi Pambudi

Menurutku Mas, angkatan-angkatan awal yang otaknya masih fresh ini diberikan suatu stimulus dengan mengadakan studi banding. 2-3 tahun pertama menurutku ini perlu buat membangun budaya akademis sekalian bisa belajar dari segi organisasi. Selain inisiasi dari mahasiswa, dari sisi pengajarnya pun perlu mencari referensi juga dari universitas yang sudah stabil mengajarkan materi mereka, baru setelah tahu mereka ingin cenderung ke arah mana, mereka bisa menekankan pada suatu konsentrasi keilmuan. Untuk budaya kekerasan, aku belum tahu solusinya mas. Tapi mumpung masih angkatan-angkatan awal, kalau bisa jangan sampai mereka ikut budaya yang tidak baik ini. Menurutku, budaya itu menular. Mana yang lebih kuat tendensinya bakal mendominasi. Jadi harus bisa dipotong mata rantai budaya yang tidak baik ini untuk menghentikan.

Muhammad Ikrar Lagowa 

Mas Andy Yahya Al Hakim, saya dulu juga "dibesarkan" di kondisi yang kurang lebih sama. Yang digadang gadangkan oleh senior-senior saya dulu ya yang seperti itu, dan dulu saya sempat bangga dengan itu. Tetapi ketika saya berkesempatan studi di pulau seberang, di kampusnya Mas, dan lalu ke negeri seberang, saya rasa semua hal itu konyol dan tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Saya setuju dengan komentarnya Mas Prasetiyono di atas. Sudah bukan jamannya tawuran otot. Lagipula memang sudah seharusnya dunia kampus berisikan tawuran otak, bukan tawuran otot. Senior lah yang biasanya berusaha mewariskan cara berpikir ini ke mahasiswa atau adik-adik tingkatnya, baik di kampus atau bahkan di dunia kerja. Alasan klasiknya adalah "kami dulu seperti itu". Alasan mereka adalah dunia kerja geologis dan insinyur tambang ini keras, jadi mahasiswa harus dididik keras. Yang banyak terjadi adalah tujuannya benar, tapi caranya salah. Selain itu, generasi mahasiswa sekarang sudah berbeda dengan yang dulu. Saya ingat sekali ketika mengospek mahasiswa angkatan 2008 dulu, bukannya mereka membalas dengan melawan balik, tapi mereka malah lapor polisi, Ringkas dan logis. Mereka juga harus dirangkul dengan cara yang lain, bukan dengan ditakut-takuti atau dikerasi. Jadi menurut saya Mas, yang bersangkutan dinasehati saja bahwa apa yang dia dengar itu sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang. Alangkah lebih baiknya dia dan teman-teman angkatan pionernya meningkatkan skill dan pengalaman mereka sehingga nanti mampu menjadi angkatan pioneer yang membanggakan. Layaknya anak pertama, mereka harus punya kecintaan yang tertinggi terhadap almamater, bahkan kalau perlu mereka sekolah lagi dan kembali sebagai pendidik di kampus, demi kondisi belajar mengajar yang lebih baik dari apa yang mereka dapat sebagai angkatan pioneer, dimana kondisi lab mungkin belum lengkap, atau kurikulum belum terlalu established. Dengan perkembangan teknologi dan globalisasi saat ini, sudah saatnya putra putri local Indonesia jadi global-minded dan berkaca pada prestasi teman-temannya di negara maju. Studi banding tidak harus berkunjung langsung. Tur kampus bisa lewat youtube, atau skype. Semoga saran saya membantu. Salam dari seorang calon dosen


Andre Ginting

Menurutku apa yang dia sampaikan udah pas untuk menjawab masalahnya sendiri bang. Organisasi baru butuh portofolio yang baik dan benar menurut tujuan awal mereka ada. Jika mereka sudah punya maksud dan tujuan organisasinya, tinggal dikembangkan ke arah prestasi baik dalam lomba skala kampus maupun lomba nasional. Kalau belum punya tujuan, mereka harus buat dulu. Mau kemana ini perkumpulan mereka. Kalau sudah punya tujuan, sudah sangat mudah mengarahkan kumpulan mereka. Dan turunannya bisa dikembangkan ke bentuk yang lebih riil seperti budaya, kegiatan dan lainnya. Silahkan kita berdiskusi bang.hehe

Hariono La Pili

kalau menurut saya, setiap prodi baru harus menetapkan "identitas" mereka yang unik dibandingkan dengan prodi yang sama dari universitas lain sehingga mereka akan keluar dengan sesuatu yang unik sebagai identitasnya. cara ini juga akan menambah pengkayaan keilmuan diprodi tersebut yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing alumninya. yang perlu dilakukan adalah: 1. Para dosen harus mau belajar dan mengajarkan "sesuatu yang baru" dari pada hanya sekedar "copy/paste" materi yang diajarkan dosen mereka saat kuliah di universitas asal masing-masing. 2). untuk dapat "membuat pembeda" tersebut, maka prodi baru harus tau apasaja yang dimiliki dan yang telah dilakukan oleh prodi yang sama di universitas yang lain melalui kemintraan strategis yang saling menguntungkan, lalu menetapkan visi/misinya secara jelas dan memenuhi kaidah2 manajemen yang mereka anut. 3) Sebagai mahasiswa angkatan pertama atau angkatan setelahnya (sampaikapanpun... :) harus lebih proaktif, energik, pantang menyerah. poin ke tiga inilah yang paling penting dalam kasus ini. contoh rilnya: asosiasi mahasiswa geologi angkatan pertama tersebut misalnya sebaiknya lebih aktif melakukan silaturahim dan berdiskusi dengan asosiasi geologist di daerahnya, dengan dinas pertambangan, badan penenggulangan bencana dan atau dengan komunitas2 terkait lainnya. membangun komunikasi/silaturahmi tersebut tidak selalu harus melalui jalur resmi dapat dimulai dengan diskusi2 warung kopi atau mengundang mereka untuk mengisi kelas-kelas seminar dikampus.. mahasiswa harus bisa datang kepada para pihak tersebut sebagai anak yang ingin belajar, mau membantu mereka dan akan menguntungkan para pihak tersebut bukan sebagai mahasiswa yang mengedepankan "kritik menankutkan" sehingga proses silaturahim akan dimulai dengan suasana positif. mahasiswa angkatan awal juga jangan terlalu "terlena" dengan aktifitas prodi yang sibuk sosialisasi ke sekolah2 (SMA) biarkan itu sebagai pekerjaan kaprodi, fakultas dan universitas. kami dulu menyaksikan banyak mahasiswa sibuk atau disibukkan ngurusin anak SMA (untuk tujuan sosialisasi prodi) dan lupa mengembangkan kemampuannya sendiri.

Ivan Kurnia

Kalau boleh nambah: tidak ada salahnya mereka berembuk dengan pihak pengelola institusi. Biar kesalahpahaman di masa yang akan datang bisa terhindarkan. Untuk soal keunikan identitas serta visi dan misi, fokus ke subjek-subjek ilmu di lingkungan terdekat bisa jadi salah satu titik awal. Soal kultur kekerasan tampak lebih rumit. Kalau orang Minang ada pepatah: lawan pantang dicari, bertemu pantang dielakkan. Tapi kalau sudah sibuk membangun diri sendiri, mungkin peluang "bertemu lawan" bisa diperkecil

Achmad Rofi Irsyad

Ini kenapa saya dimasukkan... 😂 Btw, jagoan itu orang yg curhat ke sampean mas, salut. Pola pikirnya udah maju, mau menginisiasi budaya yg nggak soal gengsi "sangar2an" himpunan. Boleh sangar, tapi sangar prestasi..
Share:

Friday, January 6, 2017

Inferiority Complex: perlu ga sih?

Kita ini kaya akan keberagaman dan keramahan lokal, kenapa kita harus malu, merasa rendah diri alias inferior dan parahnya bisa-bisa tidak menghargai budaya kita sendiri? Kita ini harus bersyukur karena kita ini beragam dan bisa unggul dengan budaya kita.

Saya beri contoh: bambu, wayang dan matahari.
- Bambu: makan dengan alat makan dari bambu itu merupakan sebuah kemewahan, begitu menurut pandangan iklan peralatan makanan berbahasa Jerman "Soehnle". Jadi kalau kita makan nasi bakar dalam bambu, harusnya kita bisa berbahagia dan mempromosikannya sebagai kekayaan alam Indonesia.
- Wayang: tidak ada yang menyangkal kalau wayang adalah output dari tingginya peradaban nenek moyang kita. Seni bertutur dalam cerita, mendongeng sudah ada sejak 930 Masehi. Cerita dalam pewayangan mengisahkan kebaikan akan mengalahkan kebatilan, raja yang adil dan romansa percintaan. Bukan saatnya lagi bilang "ndeso" terhadap budaya sendiri, apalagi mencibir.
- Matahari: tahukah teman-teman, banyak turis negara non-tropis merindukan matahari? Matahari bersinar sepanjang tahun, buah melimpah, agraria berkembang, kenapa kita tidak mensyukuri nikmat yang gratisan ini?

Tidak perlu merasa rendah diri. Tiap orang, bahkan bangsa, punya kelebihan dan kekurangan. Kalau negara tetangga promosi punya salju, berarti dia memanfaatkan kekuranhan mereka akan matahari untuk hal yang positif (padahal ya, banyak orang dan alat transportasi "kepeleset" gara2 salju).
Kelebihan bukan untuk disombongkan, namun untuk tahu arah mengembangkan potensi untuk kemakmuran (kalau itu negara) dan kesuksesan (kalau itu perorangan). Tidak perlu minder dengan kekurangan, diamini saja, toh itu jadi motivasi buat memperbaiki diri.


noun
  1. an unrealistic feeling of general inadequacy caused by actual or supposed inferiority in one sphere, sometimes marked by aggressive behaviour in compensation.

Share:

Wednesday, December 7, 2016

Devide et impera

6 Desember. Semalam saya diundang untuk menghadiri acara Barbara feier yang diadakan di jurusan saya. Acara ini setahun sekali dan masih diterapkan di kampus saya, karena Santa Barbara adalah pelindung untuk orang-orang yang bekerja di tambang, begitu menurut kepercayaan Katolik. Lebih dari 50 orang datang, termasuk mahasiswa dan dosen. Makanan gratis, minuman bayar sendiri, kelipatan 5€. Saya beli kupon paling murah dan mengambil jus jeruk 0.5L seharga 1.5€. Sepertinya, hanya saya saja yang ambil non-alkohol di malam itu.Sisa 3.5€ karena ga bisa ditukar uang lagi, ya sudah saya bawa pulang saja daripada saya kasihkan ke teman malah dibuat beli bir. 

Selama acara, saya berbincang dengan kawan Erasmus dari Yunani dan mahasiswa lain dari Jerman. Mbak dari Yunani mengagum-ngagumkan tempat asal dia dan mengajak kami mampir. Pulau yang indah, dihuni hanya 300 penghuni saja dan dihiasi oleh pemandangan laut Aegea. Teman saya berasal dari Jerman Barat, sebuah desa kecil, hanya 800 orang saja. Giliran saya, saya cerita di kota saya bekerja ada sekitar 3juta orang. Mereka berdua kaget. Akhirnya mereka membuka google maps, dan terkejut kalau di Indonesia ada sekitar 13-17ribu pulau, yang kalau dibentangkan mulai dari London sampai Istanbul.

Si kawan dari Jerman menanyakan, berapa lama kalau pulang sampai bertemu orang tua? Saya bilang, minimal 1,5 hari saya baru bisa bertemu, karena orang tua saya ada di Malang. Perjalanan dari Leoben-Wina-Jakarta-Surabaya-Malang sudah cukup membuat mereka "nggumun", jauh juga ternyata. Saya bercerita, Indonesia itu heterogen. Hampir 700 suku bangsa, 300 bahasa, tapi minimal, semua bisa berbahasa Indonesia. 

Si mbak dari Yunani itu merespon, walah, negara saya ga ada apa-apanya dibanding Indonesia. Dia juga bercerita, ada kawannya yang bikin pengumuman untuk bisa menikah dengan orang US atau Eropa, supaya bisa dapat US citizenship ataupun mobility ke berbagai negara seperti Jerman. Memang berkewarganegaraan Jerman itu enak, konon katanya paspor Jerman adalah paspor paling hebat di dunia yang punya bebas akses ke 177 negara. 

Saya, masih bersyukur dengan kewarganegaraan Indonesia. Ada yang pernah menanyakan, "ISIS itu menurutmu seperti apa?" Saya jawab, "ISIS itu bukan Islam. Islam itu dari kata "Salama" yang artinya "selamat, damai", selama dia tidak bisa menyebarkan kedamaian, dia bukan Islam. Di Al Qur'an, kami tidak pernah diajarkan untuk membuat kerusakan di muka bumi ini, malahan harus menyebarkan kedamaian."

Saya paham mengapa dia menanyakan itu kepada saya. Di Eropa, beberapa kawan yang saya jumpai tidak memeluk agama. Hidup mereka bebas, namun  kadang-kadang mereka menanyakan kepada saya tentang Islam, atau menanyakan kawan Erasmus lain dari Finlandia yang Kristen Ortodok, karena keinginan tahu yang cukup besar. Orang-orang terdidik lebih paham bagaimana harus bersikap terhadap perbedaan itu, itu keyakinanmu, silahkan laksanakan dan tidak akan saya ganggu. Teman saya dari Jerman yang besar di perkebunan anggur dan kuat minum birnya tidak berminat untuk men-cekok-i saya dengan bir, sekali saya bilang tidak, dia paham, itu keyakinanmu.

Saya jadi garuk-garuk sendiri dengan pemberitaan akhir-akhir ini. Sedih rasanya ibu pertiwi jadi runyam seperti ini. Kalau kita menempatkan permasalah pada porsinya, jika permasalahan itu disebabkan oleh 'oknum', ya oknum itu lah yang selayaknya di periksa secara hukum, tidak perlu menyangkut-nyangkutkan dengan agama dari oknum tersebut. 

Sama seperti pertanyaan yang diajukan ke saya tentang ISIS, apakah ISIS itu Islam? Bukan, dia bukan Islam. Apakah Islam mengajarkan untuk mengganggu agama lain? Tentu tidak, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Jadi apakah layak menempatkan segelintir orang yang 'memancing di air keruh' dan menganalogikan menjadi keseluruhan. Nein, ini bukan seperti peribahasa 'gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.' Ini masalah oknum dengan aparat berwenang, yang semoga aparat bisa menyelesaikannya dengan tepat. Jika ingin menginterogasi tentu tidak susah. Foto orang-orangnya sudah ada, ditanya dan kalau memang bersalah ya di proses. As simple as it seems.

Saya ga mau kejadian jaman dulu terjadi lagi. Politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia. Belanda tahu kondisi saat itu yang heterogen, dimana jika menyerang secara fisik, bisa jadi strateginya terhadap negara jajahannya tidak akan berhasil. Tidak perlu tidak menyerang frontal secara langsung, keberagamannya lah yang diserang. Sekarang sudah berapa puluh tahun dari kejadian devide et impera dari Belanda, masak harus kita ceritakan kepada anak cucu kita, bahwa kita pun sempat merasakan hidup di jaman adu domba seperti ini. 

Saya merasa, di antara kita, ada orang yang sengaja memecah belah keberagaman itu. Siapa yang menjajah? Ya anak bangsa kita sendiri. Saya punya ide untuk menangkalnya. Mas, mbak, semua yang membaca pasti sudah dewasa dan bisa menyikapi, apakah berita ini sudah benar, mana kantor berita yang busuk, apakah agama ini seperti itu, silahkan dinilai sendiri. Kita sendiri lah yang menciptakan jarak, bukan kantor berita. Semua kontrol ada di tangan kita, kita bisa membuat orang menjauh dari kita, namun kita juga bisa merangkul mereka untuk lebih dekat.

Kalau versinya band jadul dari  Jerman seperti ini:
Do you ever ask yourself
Is there a Heaven in the sky
Why can't we stop the fight

Cause we all live under the same sun
We all walk under the same moon
Then why, why can't we live as one 

(dipopulerkan oleh Scorpion - Under the same sun)

7 Desember 2009 dulu saya pernah menulis di laman facebook saya. 
Perbedaan akan menjadikan kita sadar, dan akhirnya mengetahui bahwa dengan saling menghargai dan menghormati, kita bisa menjadi manusia yang dewasa.

Kalau kata om Armand Maulana, 
"Perdamaian, perdamaian, 
banyak yang cinta damai, 
tapi perang semakin ramai"

Mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif itu sama beratnya dengan meraih kemerdekaan itu dari penjajah. Indonesia itu indah karena beragam. Sekarang sudah 2016, jadi, maju dong, masak mundur lagi. 

Salam damai,
AYAH










Share:

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *