Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Sunday, April 5, 2020

Syukur mumpung masih bisa

Sabtu pagi kemarin saya dan anak saya beli gorengan di dekat rumah, si penjual menanyakan ke saya.
"Aa' minggu ini diminta kartu keluarganya sama Pak RT?" tanya penjual gorengan.
"Engga Bu, memang ada apa?"
"Katanya mau ada pembagian dari pemerintah, Rp 400rb tiap keluarga. Rumahnya si itu sudah diminta dan dikasih uang, saya ga diminta kartu keluarga tuh sama Pak RT. Pilih-pilih euy Pak RT-nya. Uang saya udah mulai habis diminta anak saya terus buat sekolah, pake internet terus sekarang" lanjut penjual sambil cemberut.

Saya termenung, seingat yang pernah saya baca, Pemprov memerintahkan untuk mendata terlebih dahulu warga yang terdampak yang berhak untuk mendapatkannya, untuk ditindaklanjuti Pemda
Provinsi Jabar untuk menyalurkan dana tersebut (baca: Jabar Siapkan Rp16,2 Triliun Atasi Dampak Sosial COVID-19 tanggal 3 April 2020). Jumlah yang diakan diberikan adalah Rp 500rb, dimana 1/3 dalam bentuk tunai dan 2/3 dalam bentuk sembako. Memang agak beda jumlahnya dengan yang di lapangan, saya ga paham jadi saya manggut-manggut saja.

Tetangga saya juga menginginkan hal yang sama. Saat saya menulis tulisan ini, dia baru saja selesai merenovasi rumahnya supaya jadi dua lantai. Saya sendiri bingung, sudah punya mobil, rumah, renovasi sudah, ternyata mengharapkan dana kucuran pemerintah karena merasa terdampak. Keluarga mereka mempunyai bisnis biro wisata, saat ini sepi, pemasukan hampir tidak ada.
"Enak ya kayak Mas, di rumah aja tapi tiap bulan dapat gaji" begitu dia bilang ke saya.

Saya sendiri merasa belum perlu didata karena masih banyak yang lebih membutuhkan. Malah yang saya lihat lebih berkecukupan dibanding saya, ternyata ikut mengharapkan uang bantuan cair juga. Wis, wis...

Malam harinya, Pak Satpam di tempat saya tinggal meminta izin untuk meminjam uang dari kas tempat saya tinggal. Istrinya dirumahkan, si Bapak tidak bisa ojek dan mengantar penumpang lagi ke pasar karena pasarnya sepi.
"Alhamdulillah masih ada pegangan pekerjaan disini. Kalau boleh, saya bayar pinjamannya 10 kali ya Pak, nanti saya angsur 50rb per bulan", kata si Bapak.

Berbagai sektor merasakan perubahan drastis semenjak wabah ini. Semuanya mendapat ujian, yang biasanya longgar rezeki, sekarang menjadi agak seret. Di saat-saat seperti ini, kita semua diuji, ada yang melewatinya dengan mudah, ada yang tidak.

Saya bisa melihat, ada yang menyikapinya dengan bijak, ada yang tidak. Ada yang bersyukur masih bisa bekerja walaupun dengan kesulitan yang ada, ada yang akhirnya kebawa nyeletuk hal-hal yang kurang bermakna. Saya tahu kesulitan si Pak Satpam, dengan penghasilan yang pas-pasan, tapi menyikapinya dengan positif dengan tidak mengeluh. Prinsip saya, daripada mengatakan sesuatu yang tidak berfaedah, lebih baik diam saja. Daripada harus mengeluarkan energi untuk berkata hal yang negatif, lebih baik disimpan untuk hal positif lain.

Di saat-saat seperti ini, kita cuma bisa berikhtiar dan berdoa saja supaya wabah ini segera hilang. Perbanyak bersyukur karena ga akan habis hal yang bisa kita syukuri. Bersyukur masih bekerja, karena banyak yang akhirnya dirumahkan dan belum tahu harus mendapatkan penghasilan dari mana. Bersyukur dirumahkan, karena akhirnya ada waktu dengan keluarga (jika sudah berkeluarga), atau bisa menekuni kegiatan lain selama di rumah. Yang merasakan pelajaran on-line, harus bersyukur karena banyak yang tidak mengenyam pendidikan yang memadai. Yang masih bisa membeli masker, bisa mencuci tangan, harus banyak bersyukur karena banyak yang tidak bisa membeli masker karena harganya yang mahal dan akses air yang susah.

Tidak akan habis rasa syukur kalau kita mau sejenak diam dan berpikir.
Cobaan ini membuat saya ingat tentang QS Al Ibrahim ayat 7-8, yang artinya seperti ini:
"Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Sabar, sabar, dan bersyukur atas apa yang sudah kita rasakan saat ini. Kita bersyukur karena masih sehat dan dikaruniai banyak nikmat. Seperti janji-Nya, Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar kemampuannya. Semuanya akan diuji, hanya tarafnya berbeda. Berjenjang memang, karena saat kita melewati satu anak tangga, kita akan menjumpai anak tangga yang lain. Saya cuma bisa berdoa, semoga kita termasuk orang yang pandai bersyukur, supaya setelah melewati satu tanjakan ini, kita kuat untuk melewati tanjakan berikutnya. Syukuri saja, mumpung masih bisa, dimanapun kita berada. Entah sedang di bawah, atau sedang di atas. Masih ada yang bisa dimakan besok pagi, masih punya teman, masih ada keluarga. Toh, waktu baca tulisan ini masih diberi nikmat hidup dan masih bernafas, ya kan?


Share:

Tuesday, January 28, 2020

Membaca untuk bisa menulis

Pagi tadi saya menonton berita dari TVRI. Ada liputan sebuah kegiatan di Nusa Tenggara Timur yang mengulas tentang minat baca dan literasi di sana. Satu kalimat yang membuat saya akhirnya menulis blog ini: "bagaimana bisa anak-anak kita suruh untuk menulis, kalau mereka tidak pernah membaca."

Saya jadi mikir, apa yang dikatakan Bapak di TV tadi itu benar. Bagaimana mau membaca kalau tidak ada bukunya? Kalau sudah ada bukunya, apa sudah ada semangatnya?

Kemarin lusa saya membaca tulisan founder Bukalapak, Achmad Zaky.

Berkunjung ke perpustakaan jadi salah satu favorit warga Paman Sam di waktu senggangnya. 

Saya tahu stigma orang tentang membaca, CAPEK, BOSAN. Membaca buku, jurnal buat mahasiswa, atau koran, membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Banyak orang yang udah penat dengan pekerjaan atau tugas sehari-harinya, ga mungkin lagi mengambil sisa waktunya untuk membaca. 

Banyak orang yang juga lebih suka untuk skimming bacaan, yaitu membaca cepat dan mencari kata-kata kunci dalam suatu bacaan. Sayangnya, disaat itu pula banyak informasi penting ga sempat ikut terbaca. Banyak juga yang karena skimming (bahkan beberapa hanya melihat judul besar saja), akhirnya banyak mendapatkan informasi yang salah, apalagi kalau yang dibaca adalah tulisan media yang click bait, dimana judul dan konten bisa berbeda jauh.

Bisa karena biasa
Membaca kan susah banget? Baru baca 10 menit, langsung ngantuk, atau terdistraksi dengan kondisi sekitar. Inget Bapak Ibu Saudara Saudara sekalian, semua yang bermanfaat itu pasti berat dijalani. Memulai jogging supaya sehat, buat sebagian orang itu berat. Memulai bersepeda supaya tubuh berkeringat, udah dikompor-komporin banyak asap. Apalagi mengurangi makanan rendang, sate kambing, bakso, opor ayam, yang semuanya kalo ga dikontrol tentu ga baik buat kesehatan. 

Kalau buat saya, mulai membaca itu sama seperti mulai bersepeda atau mendaki gunung. Pesepeda atau pendaki pasti bakal menemukan tanjakan. Saya sering kok, waktu nyepeda udah maleeees banget pengen balik kanan putar balik. Tanjakannya tinggi beneeer? Nyampe ga ya??? Ini bukunya tebel amat, bahasanya dewa bangeet? Paham ga ya? 

Alhamdulillah, berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, saya mulai belajar sabar, ngayuh sepeda pelan-pelan, ntar juga lama-lama juga sampe di tempat yang dituju. Sama seperti membaca, dibiasakan saja dulu membaca yang ringan-ringan, lama-lama juga kita bakal bisa fokus ketika dihadapkan dengan tulisan yang menuntut konsentrasi tinggi.
Naik dulu, turun kemudian. Grossglockner (2016)

Bagaimana bisa memulai? Ya awalnya memang harus dipaksa dulu. Sulitnya membaca sama dengan sulitnya menulis. Ada yang pernah bilang ke saya kalau si Fulan pengen menulis tentang A, pengen nyepi di tempat B supaya tenang dan seterusnya. Si Fulan ini ga bakal dapat itu semua kalau kalimat pertama dalam tulisannya belum dimulai. Kata Aa' Gym, mulailah yang kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari sekarang. Kalau pengen bisa menulis, ya hayuk ditulis kalimat pertama. 

Lah, bagaimana bisa menulis, kalau tidak ada ilmunya? Ya jangan males dong. Sekolah yang bener, trus resapi judul tulisan di atas: membaca dulu, baru bisa menulis!

Buku itu old style? 
"Om Om, kalau misalkan baca bukunya dari handphone, boleh ga? Bawa buku males, berat"

Jadi begini Kakak-kakak, membaca itu baik, asal niatnya juga lurus. Awalnya pengen praktis, baca buku dari handphone, tablet, eh belum lama baca, jempol udah gatel ngebuka aplikasi lain lagi, ngecek Whatsap lah, notif ini itu lah, akhirnya batal sudah membacanya.

Kalau memang suka membaca eBook, saran saya membaca lah dari kindle, paperwhite dan sejenisnya. Beberapa cuma dilengkapi WiFi, beberapa lain sudah dilengkapi SIM Card. Kindle berbeda dengan tablet, karena Kindle didesain supaya pembaca bisa nyaman membaca dalam kondisi terang maupun gelap, karena memang teknologi LED yang digunakan oleh tablet vs. kindle memang berbeda. 

Aqila, bolpen dan kertas
Kalau suatu saat mampir ke rumah saya, di kamar Aqila banyak sekali tempelan gambar dan tulisan hasil coret-coretan dia. Coret-coretan itu jarang dibuang, biasanya kami simpan di map, beberapa kami tempel di tembok. Saya dan Vidya memang membiasakan Aqila buat rajin coret-coret kertas (selama bukan coret-coret tembok), bisa gambar, bisa tulisan. 

Karena menulis dan menggambar, Aqila jadi lebih mudah diarahkan, bisa berkonsentrasi, lebih fokus dan ga gampang bosen. Sejak Aqila berumur 2 tahun, saya mulai bawai dia kertas dan bolpoin, saya biarkan dia mencorat coret buku sketch book saya, terserah dia, buat mengalihkan dia dari hp dan youtube. Alhamdulillah kebiasaan itu terbawa sampai sekarang (umur dia sekarang 5,5 tahun). Kalau kita menghabiskan waktu di luar rumah, di kereta, pas mampir di ruangan saya di kampus, atau nganggur di rumah, cukup dibawain bolpoin, spidol dan kertas, dia sudah senang.
Aqila coret-coret sewaktu hiking di Polster-Eisenerz (2017)
Aqila mewarnai di Situ Sangkuriang (2019)

Dengan membaca, kita bisa jadi lebih fokus, dan suatu saat nanti ketika kita menulis, kita jadi paham apa yang ingin ditulis. Dengan membaca, kita bisa tahu cara pikir orang lain, dan dengan menulis, kita bisa menuangkan apa yang ada di pikiran kita sehingga orang lain bisa memahami jalan pikir kita. Tulis aja dulu, draft pertama, kedua pasti kualitasnya jelek. Ntar ketika udah komplit semuanya, pasti kita bakal puas sama usaha kita. 

Membaca dan menulis itu perlu pembiasaan, semuanya berat kalau tidak dimulai. Penulis favorit saya (Mbah Pram) bilang gini: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"

Bicara tanpa ilmu adalah membual. Dan ilmu yang paling jujur serta apa adanya hanyalah BUKU. Yuk, membaca buku! Kalau sudah membaca, yuk menulis juga!

Share:

Thursday, December 5, 2019

Jatuh, bangkit dan berlari

Sudah dua hari ini saya sempatkan tidur siang di kampus, walau cuma 10 hingga 20 menit. Dengan beralaskan plastik bubble sisa bungkus buku saya dulu, saya jadi lebih fresh dan bisa bekerja lebih fokus. Pelan-pelan saya mulai kenal diri saya, kalau capek, istirahat dulu sebentar, jangan terlalu diforsir.

Proses mengenali diri sendiri itu cukup lama. Setelah mengenal diri sendiri, kita bisa lebih tahu, apa kekurangan kita dan apa kelebihan kita. Kita bukan superhero yang bisa terus menerus berjuang membela kebenaran tanpa kenal lelah. Kadang kita ada di bawah, terjatuh, dan beberapa orang mungkin perlu menghilang untuk menghilangkan kejenuhan. Sangat sangat wajar.

Yang tidak wajar adalah orang yang selalu gas pol tanpa kenal lelah, meraih kesuksesan tanpa pernah jatuh terlebih dahulu, ibarat kalau judi, menang lotere terus.

Alhamdulillah saya masih normal.

Tahun 2018 dulu, setelah saya lulus saya mendapat kesempatan untuk bisa melanjutkan postdoc di Austria, tidak saya ambil karena ada lowongan pegawai di Indonesia. Setelah menunggu 1,5 tahun, ternyata lowongan itu baru ada di 2019. Di masa penantian itu, saya coba kesana-sini apply postdoc di Australia dan Finlandia, tapi belum rejeki. Saya juga apply proposal riset di Austria, sama juga belum berhasil. Mirip sama cerita saya mencari sekolah untuk S3. Hampir 2 tahun saya habiskan. Saya apply ke Kanada, Jepang, Australia, ternyata rejeki nya di Austria. Screenshoot di bawah cuma beberapa email yang saya terima ketika saya gagal, masih banyak lagi aplikasi yang ditolak.

Apa saya sedih? Alhamdulillah saya masih normal, sedih beberapa saat, tapi saya sudah tahu caranya buat bangkit lagi. Saya sudah mulai mengenali diri saya: jatuh itu sudah biasa, bangkit dan melanjutkan berlari itu WAJIB bisa. Kita perlu bersyukur, ujian itu tanda cintanya Allah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu ber husnudzon (berbaik sangka), dan yakin kalau seberat-berat ujian pasti ada jalan keluarnya.

Hari ini, 2 tahun yang lalu di Leoben, Austria, saya menelepon Abah dan Umi saya di Malang. 30 detik setelah telepon sudah terhubung, saya hanya bisa diam sambil menangis, setelah menenangkan diri saya baru bisa bilang "Alhamdulillah, saya lulus." Saya menangis karena ingat berapa puluh kali saya jatuh, orang tua saya lah yang membuat saya harus bangkit dan melanjutkan perjuangan saya. Semangat untuk bisa membahagiakan orang tua lah yang membuat saya bisa bangkit ketika jatuh dan melanjutkan untuk berlari lagi.

Belum lagi istri dan anak saya, Vidya dan Aqila yang menemani saya ketika sekolah, kepada mereka berdua lah saya harus banyak berterima kasih. Di saat saya sekolah dulu, orang tua kami berdua di Wonosobo mendapat musibah, dan saya tidak bisa memulangkan Vidya karena saya tidak mempunyai uang di rekening saya. Untuk pulang dari Austria pun, saya harus meminjam uang ke teman saya di Wina, karena memang tidak ada dana untuk kami bisa membeli tiket pulang ke Indonesia. Saya lupakan cita-cita membawa pulang sepeda, tas gunung, mainan anak dan beberapa barang pribadi yang sebenarnya sudah saya tunggu-tunggu untuk bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Saya jatuh, saya bangkit, saya lanjutkan berlari.

2019 ini agak berbeda. Pertama kali saya mendapat mahasiswa bimbingan yang spesial. Ketika saya share cerita saya di twitter, saya kaget dengan respons yang didapat. Belum pernah twitter saya dibanjiri retweet atau likes dari orang lain

Mahasiswa saya, yang bekerja sambilan sebagai tukang cat rumah, akhirnya bisa lulus dari ITB. Alhamdulillah 2 minggu lalu dia datang ke saya dan bilang kalau sudah diterima kerja di Lahat, Sumatera Selatan. Banyak kisah yang membuat motivasi itu muncul, ada di sekitar kita, kita cuma bisa harus lebih peka dan banyak mendengarkannya.

 2 minggu yang lalu juga, saya dapat notifikasi, penelitian saya yang saya ajukan akhirnya didanai oleh ITB. Hal lain, kemarin saya dapat kabar kalau saya dapat full support untuk datang konferensi di India bulan Maret tahun depan. Banyak kejutan yang kita tidak pernah tahu, dan swing mood itu memang ada. Buat saya, biarkan saja, roda itu berputar. Ga selamanya kita di bawah, ga selamanya juga kita di atas. Kita cuma perlu berusaha, apa pun hasilnya nanti.

Semua tergantung bagaimana caranya kita tahu, dimana kelemahan kita, dan apa kelebihan kita. Saya, Mas-Mbak yang lagi baca tulisan ini, semuanya bakal diuji, dengan kesenangan maupun kesusahan. Bersabar lah ketika diuji, dan jangan besar kepala ketika mendapat kesenangan.

Jatuh satu kali, dua kali, sepuluh kali, seribu kali, itu sudah biasa. Istirahat dulu, ambil nafas, setelah cukup, lakukan hal yang luar biasa. Bangkit, bangkit dan bangkit, untuk kemudian melanjutkan berlari lagi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Seperti anak saya yang paling kecil, Kamila, yang lagi belajar berjalan. Dia jatuh, menangis, tertawa, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Pesan saya:
Jutaan orang bahkan tidak menyadari,
seberat-beratnya ujian,
masih lebih berat ujian untuk Dobleh, Jamal, Taufik, dan kabur.
Harap bersabar, ini ujian.

AYAH

Share:

Thursday, April 19, 2018

Saya senang, saya tidak sendiri

Hari Kamis jam 9 pagi. Saya pergi menuju ke salah satu agen penukaran uang asing di Jalan Dago. Kebetulan saya masih simpan beberapa lembar dollar Kanada dan satu lembar Euro. Itu uang asing yang tersisa.

"Di atas dua puluh juta atau di bawah, Pak?" tanya petugas keamanan.

Saya menuju ke loket yang antriannya tidak panjang tanpa perlu mengambil antrian. Sesampainya saya di depan loket, saya melihat 2 teman. 1 orang sedang studi doktorat di ITB, beliau adalah dosen di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Beliau sudah selesai mengambil magister di ITB, sekarang beliau melanjutkan lagi studi doktorat. Kawan kedua sedang duduk, dia masih mengingat-ingat karena agak lupa dengan saya. Setelah menyerahkan uang ke loket, saya salami teman saya yang pertama.

"Dari mana dan mau kemana, Pak?" tanya saya.
"Saya dari kampus, long weekend ini saya ke Shanghai, bersama dosen lain dan tata usaha."
"Wah, mantap. Enjoy, Pak." Komunikasi saya dengan beliau tidak lama karena beliau sepertinya terburu-buru.

Saya menghampiri teman saya yang kedua. Dia sudah menempuh studi Magister dan Doktorat nya di Jerman. Saya kenal dengan dia karena dia datang ke Austria untuk mencari kesempatan post-doc. Hampir setengah tahun dia tinggal di Austria.

"Ketemu disini kita, Kang! Sudah berapa lama di Bandung?" saya menyapa beliau. Beliau adalah lulusan dari TU Berlin, Jerman di bidang ekonomi. Beliau sempat mengisi materi pengajian , karena ilmu agamanya lebih dalam dibanding saya dan teman-teman lainnya.  
"Baru seminggu disini. Ini lagi nukarkan sisa Euro, buat ditukar ke Dollar Australia" jawab dia ramah
"Sama, saya juga nukar. Sekarang jaman susah. Lho, mau ke Australia?"
"Iya, saya dapat penawaran post-doc di Adelaide. Sedih memang ninggalkan Eropa. Saya dapat tawaran di Swiss, pajaknya tinggi banget. Aplikasi saya di Austria, Jerman, Belanda, Perancis, UK, semuanya gagal."

Saya berpikir, perjuangan dia mendapatkan post-doc panjang sekali. Seingat saya, dia sudah tinggal lebih dari 5 tahun di Jerman, sehingga dia sudah ditawari untuk mempunyai visa khusus.

"Kapan berangkat ke Adelaide? Baru aja Senin kemarin saya video conference juga dengan Professor di Adelaide!"ujar saya.
"Serius? Hahaha, bisa gini ya. Saya cari post-doc di Eropa ga dapat-dapat. Di Adelaide, kurang dari 2 minggu saya langsung dapat posisi itu disana. Terus sekarang Andy kerja dimana?"tanya dia.
"Saya masih di kampus, Kang, lagi nulis paper sisa penelitian yang lalu. Karena sekarang belum ada lowongan PNS buka, ya sementara nebeng bantu-bantu di lab. Lumayan banyak waktu luangnya."
"Oh gitu ya. Mantap lah kalau sudah ada cantolannya. Saya ditawarin di Unpad, tapi belum saya ambil. InsyaAllah bulan Juli ini saya lanjut post-doc di Adelaide."
"Mantap, Kang. Kalau di kampus saya juga belum ngajar. Karena belum banyak yang dikerjakan, saya kepikiran buat nyopir on-line, " saya nyeletuk.
"Lah, mau nyopir juga? Saya habis pulang minggu kemarin dari Wina, ini juga bawa mobil, ngejalanin Uber."
"Hahaha, kalau saya belum punya mobil, adanya cuma motor. Tapi belum sempat daftar juga, mau nulis buku aja lah sambil nunggu hasil wawancara dan bukaan PNS."

Kami berdua sama-sama ketawa ngakak di tempat penukaran uang. Ternyata pikiran kami berdua sama. Apapun pekerjaannya dan selama itu halal, kenapa harus malu? 

"Semoga sukses di Adelaide, Kang. Kalau saya kontak, berarti seleksi saya lolos" sambil saya bersalaman dengan dia.
"Tschuss, Viel Spaß!"
  
Saya senang, saya tidak sendiri. 
Acara perpisahan di apartemen saya di Leoben ketika saya akan pulang ke Indonesia, akhir Januari 2018. Kawan yang saya ceritakan disini, Doktor yang menjadi sopir ojek online, ada di foto tersebut.

Disclaimer:
Alhamdulillah kemarin, saya mendapatkan beberapa kerjaan berbeda dalam satu hari, cukup lah untuk hidup sederhana di Bandung, sambil istri menunggu panggilan untuk bekerja lagi. Saya sempat terkejut, gaji pertama yang saya terima selepas saya pulang dari Austria, ternyata masih di bawah UMR kota Bandung. Saya harus bersyukur, ternyata banyak lulusan doktor di jurusan lain (di ITB juga) yang tidak mendapatkan gaji setelah dia lulus, selama dia menunggu menjadi pegawai ITB. Dan uang yang saya terima pagi ini dari kasir penukaran uang pagi ini, itulah celengan yang tersisa selama 3 tahun di LN. Saya masih bersyukur, banyak teman saya yang lebih minus sekembali dari berkuliah di LN. InsyaAllah uang ini masih cukup untuk saya sekeluarga hingga menunggu gaji (dan semoga ada penghasilan di luar gaji, amiiiin) bulan depan.

Saya sadar, kuliah tinggi-tinggi bukanlah untuk menjadi kaya, dan ijazah hanyalah tanda sudah pernah sekolah. Kita hanyalah makhluk Allah, yang harus memberi manfaat untuk sesama. Urusan rezeki, itu rahasia Allah. Selama kita berusaha di jalan yang halal, akan selalu ada jalan.
Share:

Friday, December 29, 2017

Laporan Tahunan 2017

Judul ini saya pilih setelah saya nanya ke istri saya tentang judul tulisan yang pas buat akhir tahun. Vidya nyeletuk "Laporan tahunan 2017". Walupun kedengarannya seperti laporan tahunan koperasi, saya setuju sama idenya. 

Tulisan ini hanya refleksi saya dan keluarga saya. Anggap saja ini cerpen. Naik turun, jatuh bangun, dan sabar, itu lah proses pendewasaan kami berdua. 

Januari 2017
Salju turun lebat di Leoben sejak awal bulan Januari. Air di sungai Mur membeku, salju tebal menutupi hampir di seluruh kota. Aqila senang karena punya cukup persediaan salju untuk boneka saljunya.

Di bulan Januari ini kami harus memperpanjang ijin tinggal tahunan kami. Sayangnya paspor Vidya kadaluarsa September, sehingga ijin tinggalnya hanya diperpanjang sampai September tsb. Dampaknya, Vidya harus memperbaharui paspor terlebih dahulu, baru kemudian memperpanjang ijin tinggalnya sekali lagi. Untuk tahun 2017, Vidya harus membayar ijin tinggal 2x120EUR. Cleguk.

Di musim dingin ini juga, saya sudah mulai menulis disertasi dan merevisi konten dari internal reviewer untuk jurnal saya.

Februari 2017
Aqila kami daftarkan di kindergarten (setara play group dan TK), karena di Austria, anak berumur 3 tahun mulai diperbolehkan untuk masuk sekolah. Aqila akan berumur 3 tahun di bulan Agustus ini, namun pendaftarannya sudah dimulai dari 1 semester sebelumnya. Karena penghasilan saya masih di bawah syarat minimum bayar TK, alhamdulillah, sekolah untuk Aqila gratis.

Maret 2017
Saya berangkat ke Hannover, Jerman untuk menghadiri sebuah konferensi disana. Saya mengajak  Vidya dan Aqila ikut, sambil saya pamit ke Profesor saya karena beliau yang akan membayar hotel tempat saya tinggal. Beliau tidak keberatan keluarga saya ikut, dengan catatan transportasi dan konsumsi keluarga saya yang menanggung. Saya langsung mengiyakan.
Tembok Berlin

Sebelum berangkat, Vidya yang sudah terlambat haid beberapa bulan, memutuskan untuk melakukan cek kehamilan. Hasilnya positif, Vidya hamil. Kami senang sekali karena Aqila memang menginginkan adik. Kami berusaha menjaga kesehatan dan gizi karena perjalanan ke Hannover cukup panjang dengan menggunakan kereta malam. 
Aqila, Ezza, Uti

Di sela-sela kami ke Hannover, saya menyempatkan melakukan field trip di beberapa tambang tembaga-galena-sfalerit "kupferschiefer type" di Clausthal dan mengunjungi beberapa lokasi di Berlin. Di Hannover dan Berlin, saya bertemu teman SMP (Ezza) dan adik kelas (Aceng+Reza) semasa kuliah, senang rasanya bisa bertemu teman yang lama tidak berjumpa.
Aceng, Aqila, saya, Reza

Sepulang kami dari Hannover ke Leoben, kami pergi ke dokter kandungan (akhir Maret). Karena dokter kandungan melihat ada yang aneh dari kandungan tersebut, beliau meminta untuk datang beberapa minggu lagi. 

Bulan ini Vidya merayakan ulang tahun, saya pikir ini adalah hadiah yang pas. Kami sekeluarga makan di rumah makan all you can eat, sambil memikirkan nama yang pas, baik kalau laki-laki atau perempuan. Saya mulai mencari-cari nama gunung, nama mineral, belum ada yang pas.

Di tengah bulan Maret, Vidya datang ke dokter kandungan sekali lagi. Karena saat itu saya berhalangan, dia datang sendirian ke dokter kandungan. Setelah kunjungan, Vidya menelepon saya sambil menangis, dia bilang kalau dia dirujuk ke rumah sakit dan dokter meminta saya untuk mendampinginya ke rumah sakit. Vidya bilang dokter kandungan tidak bercerita apa-apa dan hanya memberikan secarik kertas, tertulis Gestörte Frühgravidität . Saya coba cari di google sebelum saya mendampingi ke rumah sakit, saya menjadi tambah bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampai di rumah sakit, kami mengantri, saya menemani Vidya untuk USG, sedangkan Aqila kami titipkan ke teman kami (Ghadeer dan Fahim) yang ikut mendampingi di rumah sakit. Perawat dan dokter tidak bercerita banyak ketika melakukan tindakan medis. Selepas itu, saya baru sadar, ternyata kami harus merelakan anak kedua yang kami tunggu karena janin tersebut tidak berkembang di dalam kandungan Vidya. Tidak ada cara lain selain menggugurkan kandungannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Setelah tindakan medis itu, dokter menjelaskan kepada kami, banyak hal yang terjadi di luar kemampuan manusia. Vidya harus minum beberapa obat untuk menggugurkan kandungan tersebut. Kami terpukul, tapi kami harus berbesar hati menerimanya. Bukan rezeki kami saat ini

Di bulan ini, saya juga mendapat beberapa email dari beberapa proposal yang saya kirim. Email dari SGA (Society of Geology Apllied for Mineral Deposits) menyatakan ucapan selamat karena travel grant saya ke Kanada di approve, sedangkan email lain dari SEG (Society of Economic Geology) tentang permohonan maaf karena proposal riset saya tidak bisa didanai oleh mereka. 3 kali saya apply beasiswa dari SEG dari tahun 2015-2017, semuanya gagal.
Galena-sfalerit dari kupferschiefer

April 2017
Di bulan April ini, tiap dua minggu sekali saya menemani Vidya kontrol ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Hormon kehamilan harus tetap dikontrol hingga hormon tersebut hilang. Di bulan April ini, ternyata hormon kehamilannya hasilnya masih positif. Dia harus minum beberapa obat, sebagai penahan rasa sakit saat terjadi peluruhan. Dia bilang sakitnya melebihi orang haid biasa. Saya cuma bisa menemani dia, karena dia membutuhkan support saya sebagai suami.  

Saya juga tetap membagi waktu dengan tetap fokus dengan disertasi. Ketika dia sudah mulai sehat, saya ajak Vidya, Aqila dan beberapa teman untuk light hiking dan bersepeda di sekitar Leoben, supaya Vidya juga tetap senang karena banyak teman yang ada di sekitarnya. 
Di minggu terakhir bulan April, saya bersama rekan kerja di kantor bepergian bersama di bagian Barat Daya dari Jerman, di sekitar Trier dan sekitarnya. Profesor saya (Frank) yang menghabiskan masa kecilnya di Trier dan bersebelahan dengan rumah Mbah nya ilmu marxisme, Karl Marx, mengajak kami berkeliling di Trier, menyusuri sungai Mosel, ekskursi geologi di "Maar" dan beberapa gunung di Eifel, serta yang berkesan buat saya, isi bensin mobil di Luksemburg karena harga bensin lebih murah dibanding di Jerman.
Landshut castle

Mei 2017
Beberapa bulan Vidya minum beberapa obat dari dokter, efek yang dia dapat masih terasa hingga beberapa bulan kemudian. Hormon kehamilannya masih ada, sehingga dia masih merasa mual dan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah. 

Di bulan Mei ini, adik kelas saya (Obi) mengunjungi saya di Leoben. Jalan-jalan. Di waktu yang berdekatan dengan kedatangan Obi, warga Indonesia di Leoben juga mengadakan kafe internasional, dan beberapa kawan dari Graz juga ikut meramaikan. Setelah selesai dengan kafe internasional, saya mengajak Obi untuk ke Dachstein, gunung tertinggi di provinsi tempat saya tinggal. Disana, saya mengambil waktu untuk membuat sketsa Dachstein. Saya juga mengajak Vidya, namun karena dia merasa belum fit, akhirnya hanya Aqila yang ikut. Kawan lain (Mbak Ossy, Graz) juga ikut bersama kami. Disana, saya sempat membuat video, alhamdulillah itu video pertama kami yang ditayangkan di NET TV.

Juni 2017

Alhamdulillah, kami bersyukur, Vidya tidak perlu di kuret. Hormon kehamilannya sudah negatif, dan Vidya mulai fit. Nikmat sehat itu mahal. Vidya mulai saya ajak berolahraga lagi, bersepeda di luar kota Leoben (20-30 km), dan pelan-pelan saya ajak dia bersepeda lebih jauh lagi. Teman dari Wina (Fajar, Ayu, Rayyan) berkunjung ke Leoben, dan kami mengajak mereka ke danau di Utara kota Leoben, Leopoldsteinersee.

Juli 2017
Bulan ini, gantian saya yang berulang tahun. Cuaca sudah hangat, Vidya dan Aqila dalam kondisi yang fit, dan tepat di hari ulang tahun saya, kami bertiga pergi hiking ke Polster di Eisenerz. Vidya dan Aqila yang fit saya ajak juga bersepeda ke luar kota (30-40 km) di weekend yang lain. Praktis, saya menghindari stress berlebih dengan meluangkan waktu dengan keluarga dan berolahraga. Studi doktorat itu ibarat mengikuti lomba lari marathon (atau bersepeda jarak jauh aja deh, belum pernah ikut marathon soalnya). Tempo harus dijaga stabil, bekerja sewajarnya (40-45 jam seminggu), istirahat yang cukup, supaya tidak loyo ketika harus sprint di akhir.

Polster, Eisenerz




Jurnal saya submit lagi ke Frank dan semua co-author, sepertinya saya harus tetap sabar, perjalanan revisi saya masih panjang ternyata. Disertasi saya sudah mulai terlihat bentuknya, namun ternyata masih banyak salah ketik, grammar, dsb. Saya perbaiki dan baca ulang, saya punya tekad, awal Agustus saya submit.

Di bulan ini, sepeda saya juga sempat dicuri dan hilang (selama 20 menit). Update sekarang (Desember 2017), pencurinya sudah ditemukan dan akan di sidang.
Kraubathersee

Agustus 2017

Saya dan Frank terbang ke Kanada untuk menghadiri konferensi di Quebec City. Saya mendapat travel grant untuk datang kesana, sisa kekurangan tiket dan akomodasi ditalangi oleh Montan. Saya bersyukur karena di Quebec dan Montreal, saya bertemu banyak teman lama dan teman baru dari Bandung (Tomy, Pak Nur, Pak Tom Mulja, Kimpoy, Ardin), teman-teman dari Freiberg, Hannover-Jerman, serta berkenalan dengan beberapa profesional penting (Kingsley Burlinson, Willy-Jones, Anne-Silvie Andre-Mayer). 
Foto milik Aldin Ardian (ki-ka: Tomy, Pras, orang ganteng, Aldin, Kimpoy)

Kingsley adalah ahli inklusi fluida dari Australia dan pesepeda jarak jauh, Willy-Jones adalah profesor di McGill, Kanada yang belum menerima saya menjadi muridnya (pertama bertemu tahun 2011, saya kontak beliau untuk jadi murid PhD tahun 2013), dan Andre-Mayer adalah profesor di Nancy, Perancis yang kala itu membuka lowongan postdoc di bidang yang saya geluti sekarang.

Disertasi saya dibawa oleh Frank ke Quebec City dan dia periksa semua halaman dengan teliti. Beberapa kali saya dapat kuliah dari dia, seperti perbedaan porphyroblast dan porphyroclast, tulisan-tulisan "non-qualified" yang di publish dari data yang jelek, dan cerita dia ketika dia ridak diterima untuk postdoc di ETH Zürich. Saya belajar etik, semangat dari orang yang saya anggap bapak saya selama di Leoben. Di saat saya masih berada di Quebec, Aqila merayakan ulang tahun di bulan ini, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah untuk dia.

September 2017

Saatnya perpanjang izin tinggal di Austria lagi untuk Vidya. Semua dokumen dan persyaratan administrasi (rekening bank) sudah saya submit, berharap tidak ada dokumen yang kurang. Di minggu pertama ini, saya menghabiskan tiga hari untuk konferensi MinPet (mineralogy petrology) di Innsbruck. Kota yang saya nobatkan sebagai kota paling indah di Austria. Di sela-sela konferensi, saya masih sempat kabur untuk menggambar beberapa sketsa kota cantik ini.

Di minggu kedua September, saya harus berangkat ke Lapland, Finlandia dan Swedia di sekitar lingkaran kutub Utara untuk mengikuti ekskursi geologi ekonomi. Kami berkeliling selama 10 hari. Di sana saya sempat melihat aurora borealis dan mengunjungi beberapa tambang (emas, platinum-palladiun, nikel sulfida, kromit, porfiri, IOCG, IOA) dan beberapa singkapan (trondjhemite, batuan tertua di Eropa, Ni-Cu-PGE)  di sekitara lingkaran arktik. Saya belajar banyak setelah mengikuti ekskursi ini. 
Aurora borealis di Gallivare, Swedia (foto milik Tim Steiner)

Selama di Finlandia dan Swedia, Frank masih mengoreksi disertasi saya, dan beberapa puluh halaman diberikannya ke saya untuk saya perbaiki kontennya. Saya langsung memperbaiki disertasi itu, karena saya mengejar supaya bisa lulus Desember ini. Mengapa? Karena kalau saya lewat dari bulan itu, saya tidak mendapatkan perpanjangan beasiswa lagi untuk tahun 2018 (kontrak saya terbatas hanya untuk 3 tahun), sehingga saya harus lulus tepat waktu. Saya tidak mempunyai uang lagi, sehinggga tidak ada opsi lain selain menyelesaikan studi secepat-cepatnya.

Di akhir bulan ketika cuaca masih cerah, kami sekeluarga dan Pak Anda menyempatkan ke Grüner see , dan kalau ditotal-total, Vidya dan Aqila sudah bisa bersepeda lebih dari 60 km an. Saya senang, karena pelan-pelan, Aqila sudah bisa mandiri dan Vidya juga fit. Aqila juga kembali masuk ke kindergarten. 


Oktober 2017

Sehat itu mahal. Ternyata Vidya di vonis heartburn dan GERD (gastro-esofageal reflux disease). Asma nya kambuh, akhirnya Vidya harus banyak bed rest. Stress juga meningkat, disertasi yang sudah diperbaiki di setor lagi ke Frank sebelum disubmit ke penguji. Saya diberikan beberapa alternatif penguji eksternal, akhirnya saya memilih Prof. Werner Paar dari Salzburg sebagai penguji. Pertimbangannya, beliau adalah ore mineralogist (nama beliau diabadikan menjadi mineral "Paarite"), beliau spesialis di bidang eksplorasi dan geologi endapan emas, serta menghabiskan masa tua nya untuk menulis buku tentang atlas mineral bijih untuk endapan epithermal di Argentina. Saya memulai berkenalan dengan Prof Paar (walaupun beliau minta dipanggil Werner), tanggapan beliau sangat positif. Syukur, syukur. 

November 2017

Kepala hampir pecah. Panic at the disco. Fokus, fokus, fokus dengan sidang. Saya bahkan merasa 1 bulan ini cepat berlalu. 

Desember 2017
Akhirnya saya lepas dari rigorosum (sebutan lain untuk sidang doktor). Perlu 1 hari hingga setelah sidang bahwa akhirnya saya lulus juga, saya benar-benar tidak menyangka akhirnya bisa lulus dari kampus tambang ini. 
1 minggu berselang, saya bersama-sama lulusan doktorat dipromosikan oleh Frank ketika Akademische Feier (semacam wisuda untuk mahasiswa master dan doktorat). Frank memberikan testimoni tentang kepribadian saya, apa yang saya lakukan di Leoben dan pencapaian saya selama hampir 3 tahun (2 tahun 10 bulan tepatnya) dalam 90 detik saja (commencement speech). Vidya saat itu mendokumentasikan pidato tsb. Karena pidato promosi dia dalam bahasa Jerman, kurang lebih begini terjemahannya. File asli ada di bawah gambar di bawah.
"Andy adalah insinyur pertambangan dan lulus dari salah satu kampus teknik di Bandung,Indonesia (tidak terekam, baru setelah ini baru masuk dalam video).
Andy berasal dari Indonesia. Dia datang ke Austria bersama keluarga kecilnya dengan beasiswa dari OeAD Austria melalui program dari ASEA UNINET.  

Andy adalah orang yang sangat teroganisir. Dia melewati semua keperluan birokratis di Universitas dan Austria, sangat cekatan dan akseptabel dengan komunitas (kolega) yang berbahasa Jerman. 

Andy orang mempunyai sifat penasaran yang ekstrim. Sebagai contoh, dia mencoba semua alat yg tersedia dalam bidang ilmu kebumian (mineralogi) di universitas ini, dan menulis karya yang sangat bagus untuk menjawab model terbentuknya endapan emas di Sulawesi. Saya berharap bisa melihat tambang itu beroperasi di masa mendatang.

Andy ini juga orang yang sangat unik. Dia mungkin satu-satunya orang Indonesia yang melewati Grossglockner (jalan tol tertinggi di Alpen Austria) dengan sepeda yang sudah berumur sangat tua (audiens tertawa).

Andy adalah orang yang fokus pada tujuan. Ada suatu foto ketika saya dan dia berada di hutan tropis di Sulawesi, dia melompat lurus mengambilkan buah bernama rambutan, yang rasanya seperti leci. Andy adalah orang yang terlahir bukan untuk dahan pohon yang rendah. Berjuanglah terus untuk dahan pohon yang lebih tinggi, Andy. 

Terima kasih, Danke dan Glück auf (salam tambang)
Commencement speech from Prof Frank Melcher to Andy Hakim from andyyahya on Vimeo.

Setelah lulus, saya berikan ucapan terima kasih untuk Frank berupa lukisan sketsa yang digambar oleh teman saya, Kang Ana Mulyana.
Apakah setelah lulus semua permasalahan selesai? Saya akan kembali ke Bandung tahun depan, tapi saya berharap untuk menimba pengalaman di tempat lain dan melanjutkan untuk postdoc. Ini sebatas cita-cita karena banyak hal yang harus kami (saya dan Vidya) pertimbangkan, terutama masalah ekonomi, akses terhadap ilmu agama dan keluarga. Kalau semua pertimbangan itu terpenuhi, mungkin saya akan berangkat. Sejauh ini, banyak pertimbangan lain yang masih saya pikirkan.

Dan, di penghujung akhir tahun, setelah naik turun periode kehidupan, saya mendapatkan surat dari asuransi untuk mengirimkan sejumlah uang karena saya dan Vidya tidak memeriksakan kesehatan anak di antara bulan ke-14 hingga ke 18 di akhir tahun 2015 yang lalu. Lumayan besar, setengah dari beasiswa saya. Apa boleh buat, kami tidak tahu karena belum mendapatkan panduan kesehatan ibu anak (mutter-kind-pass) pada saat itu. Kami  cuma bisa saling menghibur satu sama lain, sambil muter video "mohon bersabaar, ini ujian... mohon bersabaaar, ini ujian". Hidup adalah perjuangan kan?

Ada beberapa yang bertanya, "mau kemana aja nih sebelum pulang ke Indonesia? Tour de Europe?" Kami berdua hanya bisa menjawab "Amin, kalau ada rejekinya. Kalau tour sekarang, bisa-bisa bulan depan kami sekeluarga ga makan (sambil ketawa)."

Selamat tinggal 2017, selamat datang 2018. Cheers.

.

Thank you for reading!

Share:

Sunday, August 20, 2017

Hidup ini keras, Bung

Sarah-Kirk bla bla.. saya lupa nama lengkapnya. Afro, sepertinya dia yang memimpin kru swiss air di airport Zürich saat itu. Saya hanya transit sebentar untuk penerbangan berikutnya. Ketika saya datang untuk cek paspor dan tiket, dia meminta saya mengambil semua barang saya, mengambil tiket, dan saya diminta mengantri di sebuah kubikel berwarna hitam, "Please follow me."

Apes, cuma itu pikiran saya. Saya datang ke profesor saya, 
M:"I have to leave you for a moment, the woman right there asked me to go with her." 
P:"Why?" 
M:"I don't know yet."

Saya masuk ke kubikel berwarna gelap tidak jauh dari lokasi boarding, ruangannya terbuka, hanya tertutup saja dari luar. Sarah meminta saya duduk, di dalam seorang wanita sudah menunggu (berlogat India) meminta saya untuk menunggu petugas lain.

Datang laki-laki, berbaju security,  meminta saya melepas sepatu dan mengecek lengan, kantong celana sampai kaki. Nihil. Sarah-kirk juga tidak menemukan sesuatu yg aneh di tas dan kantong basoka berisi poster itu. Tapi saya tahu, mbak acha acha nehi-nehi mengambil sidik jari di alat elektronik saya, untuk dia cek di scanner di komputernya. Sepertinya nihil, Sarah-Kirk seperti memberi kode ke wanita India itu.

Saya diminta ke loket passport control, untuk ditanya apa tujuan saya, dimana menginap, kapan kembali ke Austria dsb, oleh petugas lainnya. Saya jawab apa adanya dan jujur, saya tanya balik dalam Jerman ke wanita itu mengapa saya diperiksa. Ketika saya tanya balik, kenapa saya di cek di kubikel itu, tidak ada jawaban, seperti pura-pura tidak mendengar. Saya ulang pertanyaan ke Sarah-Kirk. Nihil.

Profesor saya cuma bisa melihat dari jauh dan menanyakan "everythings fine?". Lewat kode tangan, saya cuma bisa menjawab geleng kepala dan angkat tangan tidak tahu.
Sarah-Kirk memberikan kembali tiket saya yang sebelumnya ditahan olehnya, dan di tiket sudah ada cap "security guard" berwarna kuning dan tulisan "HS" atau "4S", tulisannya besar tapi tak terbaca. Dia mencoret nama saya dari daftarnya, "Have a nice flight."
Bujubuset. Gitu doang.

P:"What happened?" 

M: "No explanation." Profesor saya mencoba mencairkan suasana, 
P:"Maybe you should buy a new family name, Schmidt, Meyer or anything you like. They randomly checked only from your family name."

Siiit...

Saya ambil positifnya. 3 dari ratusan penumpang menuju Montreal mendapat perlakuan ekstra, termasuk saya. Di kubikel yang sama, puluhan orang mengantri untuk keberangkatan ke Las Vegas, dan ketika saya tanya, mereka ga tahu untuk apa di cek disana. Mereka berpaspor Swiss, Jerman, dan beberapa dari Eropa Timur. nyway. Kalau memang itu gara-gara embel2 nama saya, ya sudah lah, "that's a life as a foreigner, as a minority." Suka ga suka, adil ga adil, seperti itu realitanya. 


Saya cuma bisa berdoa supaya diberi keselamatan dari Allah. Life is tough. 
At least masih dapat nasi goreng 5 langkah dari penginapan.
QC, CA
Share:

Wednesday, July 12, 2017

Menjadi Panutan

Seorang mahasiswa tingkat 3 jurusan Geologi di salah satu Universitas di Sulawesi mengirim pesan via facebook sejak akhir Juni 2017 yang lalu. Karena kami belum berteman, pesan itu baru saya baca di pertengahan Juli ini. Dia bercerita, jurusannya tempat dia belajar baru berdiri 3 tahun. Dia adalah angkatan pertama dan merasa apa yang dipelajarinya sangat kurang karena keterbatasan buku dan pengajar (hanya 2 orang pengajar yang berasal dari jurusan geologi). 

Singkat cerita, mahasiswa ini ingin membuat jurusan ini berwarna untuk adik-adiknya. Dia tidak ingin seperti mahasiswa angkatan pertama di kampus lain, yang dikenang karena mereka adalah angkatan pemberani, yang berani tawuran, membawa parang, air keras, dan 8 orang tak gentar melawan 1 Fakultas. 

Ketika saya membaca pesannya, tiba-tiba ada ide untuk mencari masukan dari teman-teman saya. Selama 2 hari, saya mendapat banyak sekali masukan. Dari semua masukan, ada poin-poin yang sama:

1. Sekarang bukan jamannya tawuran otot
Kampus adalah tempat untuk tawuran otak, bukan tawuran otot. Mahasiswa bukan lagi anak kecil yang harus dituntun seperti anak kecil. Mahsiswa adalah manusia dewasa yang berpendidikan dan berakal, yang nantinya akan menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. Ingat, pemimpin tidak hanya mengatur anak buah saja, tapi juga harus bisa memimpin diri sendiri. 

2. Tentukan arah: visi dan misi
Segala hal yang baru tentu harus memiliki tujuan, termasuk ketika program studi atau organisasi baru dibentuk. Dengan adanya tujuan, kita dapat mengetahui apa yang harus kita lakukan untuk mengejar ketertinggalan. Tanpa ada tujuan, program studi atau organisasi menjadi tidak jelas dan berjalan tanpa arah.

3. Studi banding
Studi banding sangat perlu dilakukan untuk membuat "benchmark", baik dari segi sistem, metode pengajaran dan sebagainya. Studi banding perlu dilakukan tidak hanya oleh pengajar, namun juga untuk mahasiswanya ketika akan membuat organisasi (misalnya himpunan atau badan eksekutif mahasiswa). Sebagai contoh, mahasiswa bisa mengunjungi kampus, kantor atau perusahaan terkait, sehingga akan terbentuk motivasi untuk berorganisasi dan berkumpul. Studi banding tidak harus mengeluarkan uang banyak. Kita bisa menggunakan media elektronik, misalkan dengan menggunakan fitur video call, sehingga yang jauh jadi dekat, yang sudah dekat jadi lebih rapat.

4. Tiap organisasi itu unik 
Setelah mengetahui arah dari organisasi, berbenah tapi jangan lupakan hal yang tidak kalah pentingnya. "Tiap organisasi itu mempunyai warna yang berbeda-beda." Organisasi harus mempunyai jati diri, tentunya identitas itu yang baik (ingat, kita membahas tentang dunia akademis)

Saya jadi ingat pengalaman 8 tahun lalu. Saya pernah didudukkan di kursi sidang, bukan untuk sidang kelulusan, tapi diinterogasi oleh dosen saya di Fakultas. Masalahnya: KADERISASI. 

Saat itu, saya menjabat menjadi ketua himpunan mahasiswa tambang dan harus melantik 80 orang mahasiswa. Semua rencana sudah dipersiapkan dengan matang. Panitia sudah mengikuti Training of Trainer (TOT) , dan saya sudah meminta izin dari Kaprodi dan pembina kemahasiswaan (saat itu Pak Ridho Wattimena dan alm. Pak Rudianto Ekawan). Kedua Bapak itu menyerahkan segala tanggung jawab kepada panitia, saat itu saya dan Kadiv Kaderisasi, Adho, yang bertanggung jawab. Alhamdulillah pelantikan berjalan lancar, tidak ada yang terluka. 

Apesnya, saya dilaporkan kepada Dekan oleh Dosen jurusan lain. Beritanya kurang lebih: ada mobilisasi mahasiswa baru di sepanjang jalan Cisitu (Bandung) pada malam hari menuju Curug Dago. Bapak Dosen yang melaporkan ini ("wadul" dalam bahasa Jawa) belum tahu kalau saya sudah membuat gentlement agreement dengan dosen di Teknik Pertambangan. Karena laporan ini, saya disidang dan mendapat surat keterangan "Sdr. Andy Yahya Al Hakim" diberikan sanksi dan diturunkan dari jabatan ketua himpunan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Hahaha...

Rencana yang sudah tersusun rapi saja bisa ada kekurangannya, apalagi jika tidak terkonsep. Memulai sesuatu yang baru itu susah, sama seperti membangun pondasi gedung yang tinggi. Seperti pepatah favorit saya:
Even the tallest building, starts from the ground

Caption: setelah saya diturunkan dari ketua himpunan, 4 tahun kemudian dia menjadi Prince alias ketua himpunan mahasiswa mesin (HMM). Saat dia wisuda, dia dilarang untuk naik di samping tiang bendera di depan gerbang ITB oleh petugas K3L. Akhirnya dia mengambil inisiatif. Dia meminta temannya bisa mengangkat dia sama tingginya dengan tiang bendera itu, dan dia memimpin mars HMM, dengan ketinggian yang sama dengan tiang bendera itu. Salut.
HMM dan HMT

Oh ya, ini beberapa masukan dari kawan-kawan saya tentang bagaimana membangun organisasi yang baik.

Prasetiyono Hari Mukti

kebiasaan tawurannya aja udh bukan merupakan budaya akademik yg patut diwariskan. Apalagi dg segala pernak-pernik perlengkapannya. Era saat ini udh bukan lagi era adu otot. Udh eranya adu otak. Kalaupun kosakata "tawuran" msh mau dipakai, maka saat ini bukan masanya tawuran fisik. Tapi "tawuran otak". Just my 2 Cents.

Setia Obi Pambudi

Menurutku Mas, angkatan-angkatan awal yang otaknya masih fresh ini diberikan suatu stimulus dengan mengadakan studi banding. 2-3 tahun pertama menurutku ini perlu buat membangun budaya akademis sekalian bisa belajar dari segi organisasi. Selain inisiasi dari mahasiswa, dari sisi pengajarnya pun perlu mencari referensi juga dari universitas yang sudah stabil mengajarkan materi mereka, baru setelah tahu mereka ingin cenderung ke arah mana, mereka bisa menekankan pada suatu konsentrasi keilmuan. Untuk budaya kekerasan, aku belum tahu solusinya mas. Tapi mumpung masih angkatan-angkatan awal, kalau bisa jangan sampai mereka ikut budaya yang tidak baik ini. Menurutku, budaya itu menular. Mana yang lebih kuat tendensinya bakal mendominasi. Jadi harus bisa dipotong mata rantai budaya yang tidak baik ini untuk menghentikan.

Muhammad Ikrar Lagowa 

Mas Andy Yahya Al Hakim, saya dulu juga "dibesarkan" di kondisi yang kurang lebih sama. Yang digadang gadangkan oleh senior-senior saya dulu ya yang seperti itu, dan dulu saya sempat bangga dengan itu. Tetapi ketika saya berkesempatan studi di pulau seberang, di kampusnya Mas, dan lalu ke negeri seberang, saya rasa semua hal itu konyol dan tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Saya setuju dengan komentarnya Mas Prasetiyono di atas. Sudah bukan jamannya tawuran otot. Lagipula memang sudah seharusnya dunia kampus berisikan tawuran otak, bukan tawuran otot. Senior lah yang biasanya berusaha mewariskan cara berpikir ini ke mahasiswa atau adik-adik tingkatnya, baik di kampus atau bahkan di dunia kerja. Alasan klasiknya adalah "kami dulu seperti itu". Alasan mereka adalah dunia kerja geologis dan insinyur tambang ini keras, jadi mahasiswa harus dididik keras. Yang banyak terjadi adalah tujuannya benar, tapi caranya salah. Selain itu, generasi mahasiswa sekarang sudah berbeda dengan yang dulu. Saya ingat sekali ketika mengospek mahasiswa angkatan 2008 dulu, bukannya mereka membalas dengan melawan balik, tapi mereka malah lapor polisi, Ringkas dan logis. Mereka juga harus dirangkul dengan cara yang lain, bukan dengan ditakut-takuti atau dikerasi. Jadi menurut saya Mas, yang bersangkutan dinasehati saja bahwa apa yang dia dengar itu sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang. Alangkah lebih baiknya dia dan teman-teman angkatan pionernya meningkatkan skill dan pengalaman mereka sehingga nanti mampu menjadi angkatan pioneer yang membanggakan. Layaknya anak pertama, mereka harus punya kecintaan yang tertinggi terhadap almamater, bahkan kalau perlu mereka sekolah lagi dan kembali sebagai pendidik di kampus, demi kondisi belajar mengajar yang lebih baik dari apa yang mereka dapat sebagai angkatan pioneer, dimana kondisi lab mungkin belum lengkap, atau kurikulum belum terlalu established. Dengan perkembangan teknologi dan globalisasi saat ini, sudah saatnya putra putri local Indonesia jadi global-minded dan berkaca pada prestasi teman-temannya di negara maju. Studi banding tidak harus berkunjung langsung. Tur kampus bisa lewat youtube, atau skype. Semoga saran saya membantu. Salam dari seorang calon dosen


Andre Ginting

Menurutku apa yang dia sampaikan udah pas untuk menjawab masalahnya sendiri bang. Organisasi baru butuh portofolio yang baik dan benar menurut tujuan awal mereka ada. Jika mereka sudah punya maksud dan tujuan organisasinya, tinggal dikembangkan ke arah prestasi baik dalam lomba skala kampus maupun lomba nasional. Kalau belum punya tujuan, mereka harus buat dulu. Mau kemana ini perkumpulan mereka. Kalau sudah punya tujuan, sudah sangat mudah mengarahkan kumpulan mereka. Dan turunannya bisa dikembangkan ke bentuk yang lebih riil seperti budaya, kegiatan dan lainnya. Silahkan kita berdiskusi bang.hehe

Hariono La Pili

kalau menurut saya, setiap prodi baru harus menetapkan "identitas" mereka yang unik dibandingkan dengan prodi yang sama dari universitas lain sehingga mereka akan keluar dengan sesuatu yang unik sebagai identitasnya. cara ini juga akan menambah pengkayaan keilmuan diprodi tersebut yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing alumninya. yang perlu dilakukan adalah: 1. Para dosen harus mau belajar dan mengajarkan "sesuatu yang baru" dari pada hanya sekedar "copy/paste" materi yang diajarkan dosen mereka saat kuliah di universitas asal masing-masing. 2). untuk dapat "membuat pembeda" tersebut, maka prodi baru harus tau apasaja yang dimiliki dan yang telah dilakukan oleh prodi yang sama di universitas yang lain melalui kemintraan strategis yang saling menguntungkan, lalu menetapkan visi/misinya secara jelas dan memenuhi kaidah2 manajemen yang mereka anut. 3) Sebagai mahasiswa angkatan pertama atau angkatan setelahnya (sampaikapanpun... :) harus lebih proaktif, energik, pantang menyerah. poin ke tiga inilah yang paling penting dalam kasus ini. contoh rilnya: asosiasi mahasiswa geologi angkatan pertama tersebut misalnya sebaiknya lebih aktif melakukan silaturahim dan berdiskusi dengan asosiasi geologist di daerahnya, dengan dinas pertambangan, badan penenggulangan bencana dan atau dengan komunitas2 terkait lainnya. membangun komunikasi/silaturahmi tersebut tidak selalu harus melalui jalur resmi dapat dimulai dengan diskusi2 warung kopi atau mengundang mereka untuk mengisi kelas-kelas seminar dikampus.. mahasiswa harus bisa datang kepada para pihak tersebut sebagai anak yang ingin belajar, mau membantu mereka dan akan menguntungkan para pihak tersebut bukan sebagai mahasiswa yang mengedepankan "kritik menankutkan" sehingga proses silaturahim akan dimulai dengan suasana positif. mahasiswa angkatan awal juga jangan terlalu "terlena" dengan aktifitas prodi yang sibuk sosialisasi ke sekolah2 (SMA) biarkan itu sebagai pekerjaan kaprodi, fakultas dan universitas. kami dulu menyaksikan banyak mahasiswa sibuk atau disibukkan ngurusin anak SMA (untuk tujuan sosialisasi prodi) dan lupa mengembangkan kemampuannya sendiri.

Ivan Kurnia

Kalau boleh nambah: tidak ada salahnya mereka berembuk dengan pihak pengelola institusi. Biar kesalahpahaman di masa yang akan datang bisa terhindarkan. Untuk soal keunikan identitas serta visi dan misi, fokus ke subjek-subjek ilmu di lingkungan terdekat bisa jadi salah satu titik awal. Soal kultur kekerasan tampak lebih rumit. Kalau orang Minang ada pepatah: lawan pantang dicari, bertemu pantang dielakkan. Tapi kalau sudah sibuk membangun diri sendiri, mungkin peluang "bertemu lawan" bisa diperkecil

Achmad Rofi Irsyad

Ini kenapa saya dimasukkan... 😂 Btw, jagoan itu orang yg curhat ke sampean mas, salut. Pola pikirnya udah maju, mau menginisiasi budaya yg nggak soal gengsi "sangar2an" himpunan. Boleh sangar, tapi sangar prestasi..
Share:

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *