Conversations with the Earth

Friday, December 29, 2017

Laporan Tahunan 2017

Judul ini saya pilih setelah saya nanya ke istri saya tentang judul tulisan yang pas buat akhir tahun. Vidya nyeletuk "Laporan tahunan 2017". Walupun kedengarannya seperti laporan tahunan koperasi, saya setuju sama idenya. 

Tulisan ini hanya refleksi saya dan keluarga saya. Anggap saja ini cerpen. Naik turun, jatuh bangun, dan sabar, itu lah proses pendewasaan kami berdua. 

Januari 2017
Salju turun lebat di Leoben sejak awal bulan Januari. Air di sungai Mur membeku, salju tebal menutupi hampir di seluruh kota. Aqila senang karena punya cukup persediaan salju untuk boneka saljunya.

Di bulan Januari ini kami harus memperpanjang ijin tinggal tahunan kami. Sayangnya paspor Vidya kadaluarsa September, sehingga ijin tinggalnya hanya diperpanjang sampai September tsb. Dampaknya, Vidya harus memperbaharui paspor terlebih dahulu, baru kemudian memperpanjang ijin tinggalnya sekali lagi. Untuk tahun 2017, Vidya harus membayar ijin tinggal 2x120EUR. Cleguk.

Di musim dingin ini juga, saya sudah mulai menulis disertasi dan merevisi konten dari internal reviewer untuk jurnal saya.

Februari 2017
Aqila kami daftarkan di kindergarten (setara play group dan TK), karena di Austria, anak berumur 3 tahun mulai diperbolehkan untuk masuk sekolah. Aqila akan berumur 3 tahun di bulan Agustus ini, namun pendaftarannya sudah dimulai dari 1 semester sebelumnya. Karena penghasilan saya masih di bawah syarat minimum bayar TK, alhamdulillah, sekolah untuk Aqila gratis.

Maret 2017
Saya berangkat ke Hannover, Jerman untuk menghadiri sebuah konferensi disana. Saya mengajak  Vidya dan Aqila ikut, sambil saya pamit ke Profesor saya karena beliau yang akan membayar hotel tempat saya tinggal. Beliau tidak keberatan keluarga saya ikut, dengan catatan transportasi dan konsumsi keluarga saya yang menanggung. Saya langsung mengiyakan.
Tembok Berlin

Sebelum berangkat, Vidya yang sudah terlambat haid beberapa bulan, memutuskan untuk melakukan cek kehamilan. Hasilnya positif, Vidya hamil. Kami senang sekali karena Aqila memang menginginkan adik. Kami berusaha menjaga kesehatan dan gizi karena perjalanan ke Hannover cukup panjang dengan menggunakan kereta malam. 
Aqila, Ezza, Uti

Di sela-sela kami ke Hannover, saya menyempatkan melakukan field trip di beberapa tambang tembaga-galena-sfalerit "kupferschiefer type" di Clausthal dan mengunjungi beberapa lokasi di Berlin. Di Hannover dan Berlin, saya bertemu teman SMP (Ezza) dan adik kelas (Aceng+Reza) semasa kuliah, senang rasanya bisa bertemu teman yang lama tidak berjumpa.
Aceng, Aqila, saya, Reza

Sepulang kami dari Hannover ke Leoben, kami pergi ke dokter kandungan (akhir Maret). Karena dokter kandungan melihat ada yang aneh dari kandungan tersebut, beliau meminta untuk datang beberapa minggu lagi. 

Bulan ini Vidya merayakan ulang tahun, saya pikir ini adalah hadiah yang pas. Kami sekeluarga makan di rumah makan all you can eat, sambil memikirkan nama yang pas, baik kalau laki-laki atau perempuan. Saya mulai mencari-cari nama gunung, nama mineral, belum ada yang pas.

Di tengah bulan Maret, Vidya datang ke dokter kandungan sekali lagi. Karena saat itu saya berhalangan, dia datang sendirian ke dokter kandungan. Setelah kunjungan, Vidya menelepon saya sambil menangis, dia bilang kalau dia dirujuk ke rumah sakit dan dokter meminta saya untuk mendampinginya ke rumah sakit. Vidya bilang dokter kandungan tidak bercerita apa-apa dan hanya memberikan secarik kertas, tertulis Gestörte Frühgravidität . Saya coba cari di google sebelum saya mendampingi ke rumah sakit, saya menjadi tambah bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampai di rumah sakit, kami mengantri, saya menemani Vidya untuk USG, sedangkan Aqila kami titipkan ke teman kami (Ghadeer dan Fahim) yang ikut mendampingi di rumah sakit. Perawat dan dokter tidak bercerita banyak ketika melakukan tindakan medis. Selepas itu, saya baru sadar, ternyata kami harus merelakan anak kedua yang kami tunggu karena janin tersebut tidak berkembang di dalam kandungan Vidya. Tidak ada cara lain selain menggugurkan kandungannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Setelah tindakan medis itu, dokter menjelaskan kepada kami, banyak hal yang terjadi di luar kemampuan manusia. Vidya harus minum beberapa obat untuk menggugurkan kandungan tersebut. Kami terpukul, tapi kami harus berbesar hati menerimanya. Bukan rezeki kami saat ini

Di bulan ini, saya juga mendapat beberapa email dari beberapa proposal yang saya kirim. Email dari SGA (Society of Geology Apllied for Mineral Deposits) menyatakan ucapan selamat karena travel grant saya ke Kanada di approve, sedangkan email lain dari SEG (Society of Economic Geology) tentang permohonan maaf karena proposal riset saya tidak bisa didanai oleh mereka. 3 kali saya apply beasiswa dari SEG dari tahun 2015-2017, semuanya gagal.
Galena-sfalerit dari kupferschiefer

April 2017
Di bulan April ini, tiap dua minggu sekali saya menemani Vidya kontrol ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Hormon kehamilan harus tetap dikontrol hingga hormon tersebut hilang. Di bulan April ini, ternyata hormon kehamilannya hasilnya masih positif. Dia harus minum beberapa obat, sebagai penahan rasa sakit saat terjadi peluruhan. Dia bilang sakitnya melebihi orang haid biasa. Saya cuma bisa menemani dia, karena dia membutuhkan support saya sebagai suami.  

Saya juga tetap membagi waktu dengan tetap fokus dengan disertasi. Ketika dia sudah mulai sehat, saya ajak Vidya, Aqila dan beberapa teman untuk light hiking dan bersepeda di sekitar Leoben, supaya Vidya juga tetap senang karena banyak teman yang ada di sekitarnya. 
Di minggu terakhir bulan April, saya bersama rekan kerja di kantor bepergian bersama di bagian Barat Daya dari Jerman, di sekitar Trier dan sekitarnya. Profesor saya (Frank) yang menghabiskan masa kecilnya di Trier dan bersebelahan dengan rumah Mbah nya ilmu marxisme, Karl Marx, mengajak kami berkeliling di Trier, menyusuri sungai Mosel, ekskursi geologi di "Maar" dan beberapa gunung di Eifel, serta yang berkesan buat saya, isi bensin mobil di Luksemburg karena harga bensin lebih murah dibanding di Jerman.
Landshut castle

Mei 2017
Beberapa bulan Vidya minum beberapa obat dari dokter, efek yang dia dapat masih terasa hingga beberapa bulan kemudian. Hormon kehamilannya masih ada, sehingga dia masih merasa mual dan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah. 

Di bulan Mei ini, adik kelas saya (Obi) mengunjungi saya di Leoben. Jalan-jalan. Di waktu yang berdekatan dengan kedatangan Obi, warga Indonesia di Leoben juga mengadakan kafe internasional, dan beberapa kawan dari Graz juga ikut meramaikan. Setelah selesai dengan kafe internasional, saya mengajak Obi untuk ke Dachstein, gunung tertinggi di provinsi tempat saya tinggal. Disana, saya mengambil waktu untuk membuat sketsa Dachstein. Saya juga mengajak Vidya, namun karena dia merasa belum fit, akhirnya hanya Aqila yang ikut. Kawan lain (Mbak Ossy, Graz) juga ikut bersama kami. Disana, saya sempat membuat video, alhamdulillah itu video pertama kami yang ditayangkan di NET TV.

Juni 2017

Alhamdulillah, kami bersyukur, Vidya tidak perlu di kuret. Hormon kehamilannya sudah negatif, dan Vidya mulai fit. Nikmat sehat itu mahal. Vidya mulai saya ajak berolahraga lagi, bersepeda di luar kota Leoben (20-30 km), dan pelan-pelan saya ajak dia bersepeda lebih jauh lagi. Teman dari Wina (Fajar, Ayu, Rayyan) berkunjung ke Leoben, dan kami mengajak mereka ke danau di Utara kota Leoben, Leopoldsteinersee.

Juli 2017
Bulan ini, gantian saya yang berulang tahun. Cuaca sudah hangat, Vidya dan Aqila dalam kondisi yang fit, dan tepat di hari ulang tahun saya, kami bertiga pergi hiking ke Polster di Eisenerz. Vidya dan Aqila yang fit saya ajak juga bersepeda ke luar kota (30-40 km) di weekend yang lain. Praktis, saya menghindari stress berlebih dengan meluangkan waktu dengan keluarga dan berolahraga. Studi doktorat itu ibarat mengikuti lomba lari marathon (atau bersepeda jarak jauh aja deh, belum pernah ikut marathon soalnya). Tempo harus dijaga stabil, bekerja sewajarnya (40-45 jam seminggu), istirahat yang cukup, supaya tidak loyo ketika harus sprint di akhir.

Polster, Eisenerz




Jurnal saya submit lagi ke Frank dan semua co-author, sepertinya saya harus tetap sabar, perjalanan revisi saya masih panjang ternyata. Disertasi saya sudah mulai terlihat bentuknya, namun ternyata masih banyak salah ketik, grammar, dsb. Saya perbaiki dan baca ulang, saya punya tekad, awal Agustus saya submit.

Di bulan ini, sepeda saya juga sempat dicuri dan hilang (selama 20 menit). Update sekarang (Desember 2017), pencurinya sudah ditemukan dan akan di sidang.
Kraubathersee

Agustus 2017

Saya dan Frank terbang ke Kanada untuk menghadiri konferensi di Quebec City. Saya mendapat travel grant untuk datang kesana, sisa kekurangan tiket dan akomodasi ditalangi oleh Montan. Saya bersyukur karena di Quebec dan Montreal, saya bertemu banyak teman lama dan teman baru dari Bandung (Tomy, Pak Nur, Pak Tom Mulja, Kimpoy, Ardin), teman-teman dari Freiberg, Hannover-Jerman, serta berkenalan dengan beberapa profesional penting (Kingsley Burlinson, Willy-Jones, Anne-Silvie Andre-Mayer). 
Foto milik Aldin Ardian (ki-ka: Tomy, Pras, orang ganteng, Aldin, Kimpoy)

Kingsley adalah ahli inklusi fluida dari Australia dan pesepeda jarak jauh, Willy-Jones adalah profesor di McGill, Kanada yang belum menerima saya menjadi muridnya (pertama bertemu tahun 2011, saya kontak beliau untuk jadi murid PhD tahun 2013), dan Andre-Mayer adalah profesor di Nancy, Perancis yang kala itu membuka lowongan postdoc di bidang yang saya geluti sekarang.

Disertasi saya dibawa oleh Frank ke Quebec City dan dia periksa semua halaman dengan teliti. Beberapa kali saya dapat kuliah dari dia, seperti perbedaan porphyroblast dan porphyroclast, tulisan-tulisan "non-qualified" yang di publish dari data yang jelek, dan cerita dia ketika dia ridak diterima untuk postdoc di ETH Zürich. Saya belajar etik, semangat dari orang yang saya anggap bapak saya selama di Leoben. Di saat saya masih berada di Quebec, Aqila merayakan ulang tahun di bulan ini, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah untuk dia.

September 2017

Saatnya perpanjang izin tinggal di Austria lagi untuk Vidya. Semua dokumen dan persyaratan administrasi (rekening bank) sudah saya submit, berharap tidak ada dokumen yang kurang. Di minggu pertama ini, saya menghabiskan tiga hari untuk konferensi MinPet (mineralogy petrology) di Innsbruck. Kota yang saya nobatkan sebagai kota paling indah di Austria. Di sela-sela konferensi, saya masih sempat kabur untuk menggambar beberapa sketsa kota cantik ini.

Di minggu kedua September, saya harus berangkat ke Lapland, Finlandia dan Swedia di sekitar lingkaran kutub Utara untuk mengikuti ekskursi geologi ekonomi. Kami berkeliling selama 10 hari. Di sana saya sempat melihat aurora borealis dan mengunjungi beberapa tambang (emas, platinum-palladiun, nikel sulfida, kromit, porfiri, IOCG, IOA) dan beberapa singkapan (trondjhemite, batuan tertua di Eropa, Ni-Cu-PGE)  di sekitara lingkaran arktik. Saya belajar banyak setelah mengikuti ekskursi ini. 
Aurora borealis di Gallivare, Swedia (foto milik Tim Steiner)

Selama di Finlandia dan Swedia, Frank masih mengoreksi disertasi saya, dan beberapa puluh halaman diberikannya ke saya untuk saya perbaiki kontennya. Saya langsung memperbaiki disertasi itu, karena saya mengejar supaya bisa lulus Desember ini. Mengapa? Karena kalau saya lewat dari bulan itu, saya tidak mendapatkan perpanjangan beasiswa lagi untuk tahun 2018 (kontrak saya terbatas hanya untuk 3 tahun), sehingga saya harus lulus tepat waktu. Saya tidak mempunyai uang lagi, sehinggga tidak ada opsi lain selain menyelesaikan studi secepat-cepatnya.

Di akhir bulan ketika cuaca masih cerah, kami sekeluarga dan Pak Anda menyempatkan ke Grüner see , dan kalau ditotal-total, Vidya dan Aqila sudah bisa bersepeda lebih dari 60 km an. Saya senang, karena pelan-pelan, Aqila sudah bisa mandiri dan Vidya juga fit. Aqila juga kembali masuk ke kindergarten. 


Oktober 2017

Sehat itu mahal. Ternyata Vidya di vonis heartburn dan GERD (gastro-esofageal reflux disease). Asma nya kambuh, akhirnya Vidya harus banyak bed rest. Stress juga meningkat, disertasi yang sudah diperbaiki di setor lagi ke Frank sebelum disubmit ke penguji. Saya diberikan beberapa alternatif penguji eksternal, akhirnya saya memilih Prof. Werner Paar dari Salzburg sebagai penguji. Pertimbangannya, beliau adalah ore mineralogist (nama beliau diabadikan menjadi mineral "Paarite"), beliau spesialis di bidang eksplorasi dan geologi endapan emas, serta menghabiskan masa tua nya untuk menulis buku tentang atlas mineral bijih untuk endapan epithermal di Argentina. Saya memulai berkenalan dengan Prof Paar (walaupun beliau minta dipanggil Werner), tanggapan beliau sangat positif. Syukur, syukur. 

November 2017

Kepala hampir pecah. Panic at the disco. Fokus, fokus, fokus dengan sidang. Saya bahkan merasa 1 bulan ini cepat berlalu. 

Desember 2017
Akhirnya saya lepas dari rigorosum (sebutan lain untuk sidang doktor). Perlu 1 hari hingga setelah sidang bahwa akhirnya saya lulus juga, saya benar-benar tidak menyangka akhirnya bisa lulus dari kampus tambang ini. 
1 minggu berselang, saya bersama-sama lulusan doktorat dipromosikan oleh Frank ketika Akademische Feier (semacam wisuda untuk mahasiswa master dan doktorat). Frank memberikan testimoni tentang kepribadian saya, apa yang saya lakukan di Leoben dan pencapaian saya selama hampir 3 tahun (2 tahun 10 bulan tepatnya) dalam 90 detik saja (commencement speech). Vidya saat itu mendokumentasikan pidato tsb. Karena pidato promosi dia dalam bahasa Jerman, kurang lebih begini terjemahannya. File asli ada di bawah gambar di bawah.
"Andy adalah insinyur pertambangan dan lulus dari salah satu kampus teknik di Bandung,Indonesia (tidak terekam, baru setelah ini baru masuk dalam video).
Andy berasal dari Indonesia. Dia datang ke Austria bersama keluarga kecilnya dengan beasiswa dari OeAD Austria melalui program dari ASEA UNINET.  

Andy adalah orang yang sangat teroganisir. Dia melewati semua keperluan birokratis di Universitas dan Austria, sangat cekatan dan akseptabel dengan komunitas (kolega) yang berbahasa Jerman. 

Andy orang mempunyai sifat penasaran yang ekstrim. Sebagai contoh, dia mencoba semua alat yg tersedia dalam bidang ilmu kebumian (mineralogi) di universitas ini, dan menulis karya yang sangat bagus untuk menjawab model terbentuknya endapan emas di Sulawesi. Saya berharap bisa melihat tambang itu beroperasi di masa mendatang.

Andy ini juga orang yang sangat unik. Dia mungkin satu-satunya orang Indonesia yang melewati Grossglockner (jalan tol tertinggi di Alpen Austria) dengan sepeda yang sudah berumur sangat tua (audiens tertawa).

Andy adalah orang yang fokus pada tujuan. Ada suatu foto ketika saya dan dia berada di hutan tropis di Sulawesi, dia melompat lurus mengambilkan buah bernama rambutan, yang rasanya seperti leci. Andy adalah orang yang terlahir bukan untuk dahan pohon yang rendah. Berjuanglah terus untuk dahan pohon yang lebih tinggi, Andy. 

Terima kasih, Danke dan Glück auf (salam tambang)
Commencement speech from Prof Frank Melcher to Andy Hakim from andyyahya on Vimeo.

Setelah lulus, saya berikan ucapan terima kasih untuk Frank berupa lukisan sketsa yang digambar oleh teman saya, Kang Ana Mulyana.
Apakah setelah lulus semua permasalahan selesai? Saya akan kembali ke Bandung tahun depan, tapi saya berharap untuk menimba pengalaman di tempat lain dan melanjutkan untuk postdoc. Ini sebatas cita-cita karena banyak hal yang harus kami (saya dan Vidya) pertimbangkan, terutama masalah ekonomi, akses terhadap ilmu agama dan keluarga. Kalau semua pertimbangan itu terpenuhi, mungkin saya akan berangkat. Sejauh ini, banyak pertimbangan lain yang masih saya pikirkan.

Dan, di penghujung akhir tahun, setelah naik turun periode kehidupan, saya mendapatkan surat dari asuransi untuk mengirimkan sejumlah uang karena saya dan Vidya tidak memeriksakan kesehatan anak di antara bulan ke-14 hingga ke 18 di akhir tahun 2015 yang lalu. Lumayan besar, setengah dari beasiswa saya. Apa boleh buat, kami tidak tahu karena belum mendapatkan panduan kesehatan ibu anak (mutter-kind-pass) pada saat itu. Kami  cuma bisa saling menghibur satu sama lain, sambil muter video "mohon bersabaar, ini ujian... mohon bersabaaar, ini ujian". Hidup adalah perjuangan kan?

Ada beberapa yang bertanya, "mau kemana aja nih sebelum pulang ke Indonesia? Tour de Europe?" Kami berdua hanya bisa menjawab "Amin, kalau ada rejekinya. Kalau tour sekarang, bisa-bisa bulan depan kami sekeluarga ga makan (sambil ketawa)."

Selamat tinggal 2017, selamat datang 2018. Cheers.

.

Thank you for reading!

Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *