Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Monday, May 20, 2019

Resensi Buku Mineralogi oleh Penulisnya Sendiri

Judul: Mineralogi
Penulis: Dr.mont. Andy Yahya Al Hakim
Jumlah halaman: 212 halaman
Penerbit : ITB Press
Harga: normal Rp 135.000,-; promo untuk pre-order Rp 115.000,- (s.d. 21 Juni 2019) 
Pemesanan: bit.ly/bukumineralogi
Pembelian toko: Toko Buku ITB

Aqila, anak saya, ketika dia berumur 3 tahun sangat suka bermain dengan mineral koleksi saya. Suatu waktu dia mengambil magnet dari kulkas kemudian mendekatkannya ke dua mineral: satu berwarna hitam, yang lain berwarna ungu. Seketika magnet tertarik kuat ke mineral berwarna hitam. Dia tertawa senang dan terus mengulanginya. Berbeda ketika dia mendekatkan magnet ke mineral berwarna ungu, magnet tidak menarik mineral itu. MAGNETIT! Itulah mineral berwarna hitam tertarik oleh magnet, dan AMETIS adalah mineral kedua yang tidak tertarik magnet. Semenjak saat itu hingga buku ini selesai saya tulis, 2 mineral itu masih diingat Aqila. Dia selalu ingat cara membedakan magnetit dan ametis. Secara tidak sadar, dia mempraktekkan cara mengidentifikasi mineral, yaitu menggunakan warna dan sifat kemagnetannya.





Ilmu mineral sangat menarik untuk dipelajari karena mineral mempunyai warna dan bentuk yang beragam. Ketika mineral diamati dengan menggunakan mikroskop optik mineral akan nampak lebih indah karena adanya efek optis yang membuat mineral menjadi berwarna-warni. Ilmu mineral sangat berharga karena menjadi fondasi ilmu untuk berkarir di dunia pertambangan maupun di bidang non-pertambangan, seperti di bidang lingkungan, perminyakan, farmasi maupun sains material.


Buku ini bermaksud untuk menjembatani luasnya ilmu mineral. Dasar yang kuat tentang atom, ion, serta kristal akan menjadi fondasi untuk mempelajari lebih dalam tentang mineral. Penjelasan buku ini berlanjut tentang macam-macam kristal, sumbu kristalografi, pengertian mineral, sifat fisik dan kimia, sifat optik, serta cara untuk mengidentifikasi mineral. Pembaca nantinya akan dapat mengidentifikasi mineral berdasarkan warna, sifar kemagnetan, warna gores, bentuk/ habit kristal. Pembahasan tentang batuan disinggung secara umum dalam buku ini. Pada bagian akhir, akan dijelaskan tentang klasifikasi mineral secara sistematis serta contoh beberapa kelas (grup) mineral utama yang sering dijumpai. Buku ini tersusun dari 11 bab dalam 212 halaman.



Ilustrasi dalam buku ini saya gambar sendiri, dan saya pastikan berulang-ulang kualitas gambar dapat dibaca jelas dan cukup sederhana untuk pembaca awam. Foto mineral kebanyakan berasal dari koleksi mineral saya, beberapa yang lain saya foto ketika saya berkunjung ke lapangan atau ke museum mineral.



Pembaca buku ini saya harapkan tidak hanya dari kalangan akademisi maupun praktisi, namun juga untuk khalayak awam yang ingin mempelajari cabang ilmu geologi. Dalam buku terdapat box yang berisi informasi geologi umum yang sifatnya populer.


Semakin dalam saya mempelajari ilmu ini, semakin saya melihat banyak keteraturan yang ada di alam ini. Batuan tersusun oleh satu oleh lebih mineral, dan mineral tersusun oleh atom-atom yang teratur yang mempunyai konfigurasi berulang yang akan terus sama hingga susunan terkecil. Hampir 5000 spesies mineral telah diketahui, dan semua keteraturan yang ada pada mineral dan batuan tidak mungkin ada tanpa ada campur tangan Allah Yang Maha Kuasa. Mineral dan batuan inilah yang mengajarkan saya tetap tawadhu’ akan kebesaran Ilahi. 

Makasih kepada yang sudah membaca resensi bukunya, ditunggu pesanannya ya!

AYAH
Hari Kebangkitan Nasional 2019


Share:

Sunday, May 5, 2019

Hewan endemik Sulawesi dan eksplorasi panas bumi

Cerita kali ini datang dari kegiatan ekspIorasi panas bumi di ujung paling utara pulau Sulawesi. Dari Kota Manado, perjalanan darat dilanjutkan dengan menggunakan mobil selama 1-1,5 jam menuju kelurahan Dua Saudara, Kota Bitung. Saya tidak menyangka, di sela-sela kegiatan eksplorasi panas bumi di sini, saya bisa melihat keragaman fauna dan budaya Indonesia.

Di Sulawesi banyak hewan endemik yang belum pernah saya jumpai Burung Maleo yang lari - lari ketika menyeberangi jalan aspaI, ada Macaca nigra (monyet hitam besar yang mempunyai pantat berwarna merah), babi rusa (babi dengan tanduk di mulut), burung Rangkong. Sayang, saya belum berkesempatan melihat hewan kecil Tarsius di kesempatan pertama saya masuk ke taman nasional. Hewan karnivor ini hanya muncul di malam hari dan sangat sulit dijumpai ketika siang hari. Hewan ini adalah sumber inspirasi karakter Star Wars, Master Yoda .
Tiket masuk taman nasional

Ketemu Macaca nigra sewaktu cari manivestasi
 Ada yang melihat sesuatu?

Ternyata saya salah, tidak semua Tarsius begadang (nocturnal), di kali kedua saya masuk ke taman nasional untuk mengambil sampel air, saya menjumpai Tarsius. Tarsius ukurannya kecil, seperti genggaman kedua tangan orang dewasa. Tidak hanya Tarius, saya juga sempat melihat bekas sarang Maleo yang berjarak hanya berjarak kurang dari 10 meter dari manivestasi panas bumi.
Pulang dari manifestasi panas bumi, saya beruntun bisa sedekat ini dengan Tarsius
Tarsius berpindah dari 1 pohon ke pohon dengan melompat
Ada yang menebak lemon? Ini buah pala (Myristica fragrans) di dalamnya ada fuli berwarna merah dan buahnya yang keras

Berkat ke lapangan kali ini, saya sering sekali menjumpai Maleo. Pusat Sumber Daya Mineral dan Panas Bumi (PSDMDP - singkatan terpanjang yang bisa saya ingat dari nama kantor) pernah menulis artikel tentang Maleo yang mengerami telurnya di dekat manivestasi panas bumi. Walaupun medan nya berat, tapi saya selalu terhibur tiap melihat hewan-hewan endemik itu melintas. Maleo mengerami telur di tanah yang hangat  di kedalaman 60 cm dari permukaan. 

Sarang Maleo di Tangkoko
Di dalam hutan ada larangan mengambil sarang, telur dan burung Maleo

Hiburan bisa melihat berbagai hewan endemik Sulawesi ini yang membuat saya betah dengan pekerjaan saya saat ini, walaupun pekerjaan di lapangan sekarang bersamaan dengan puasa. 

Tahun 2013 yang lalu saya berpuasa ketika di quarry gamping, 2014 saya berpuasa di tambang emas di Halmahera, tahun 2015-2017 di Austria, dan 2018 yang lalu di tambang batubara di Kalimantan Tengah. Saya bersyukur pekerjaan sekarang yang saya tekuni adalah passion saya (untung dulu waktu SPMB saya ga masuk Sekolah Teknik Elektro dan Informatika STEI). Menjadi seorang ekspIorer dan mineralogis, sambil berkeliling melihat tempat baru yang belum pernah saya datangi, itu nikmat yang berulang-ulang saya syukuri.

Sebuah tulisan ketika masuk di area Taman Nasional Tangkoko- Dua Saudara 

Leave nothing but footprints,
Take nothing but pictures,
Kill nothing but time

Mungkin peribahasa di atas sering teman teman dengar. Disini saya banyak melihat hewan tetap terjaga karena kita ikut menjag habitat mereka. Sayang ketika anak cucu kita hanya mendapat cerita tentang indahnya Indonesia, tanpa bisa melihat lagi wujud aslinya.

Kembali lagi, apa kerjaan saya di sini? Pindah haluan jadi Zoologis atau botanis? Alhamdulillah gagal, saya masih ngutek batu dan mengoleksi sampel air untuk mengetahui zona upflow- outflow-reservoir dari panas bumi disini.
Kiri Gunung Tangkoko, kanan Gunung Dua Saudara
Quantab adalah satu alat untuk mengetahui kandungan klorida dari sampel air. 
Klorida adalah salah satu unsur indikator penting pada eksplorasi panas bumi. 
Bentuknya seperti test pack kehamilan. warnanya akan berubah dan menunjukkan konsentrasi klorida

Bicara tentang batuan, di daerah prospek panas bumi ini terdapat tambang emas yang telah berproduksi, Toka Tindung (sekarang di kelola oleh MSM-TTN, berproduksi di pit Araren dan Kopra). 
Urat Jasper- kuarsa banyak dijumpai sebagai float di sekitar manifestasi
Diorit dengan fenokris plagioklas (tak berwarna, ukuran kasar) dan biotit (hitam kecil)
Biotit tufa, mineral hitam mengkilap adalah mika- biotit

Saya, 5 geologis, 1 hidrogeologis dan geofisisis, lain tinggal di rumah yang kami sewa sebagai basecamp. Siang ke lapangan, malam membuat report. 



Jadi wahai mahasiswa kebumian (dan mahasiswa jurusan lain, kesuksesan sebuah proyek atau pekerjaan bergantung dari kerjasama Tim, bukan ego atau kemampuan perorangan. 

Jadi, jangan takut pergi ke tempat baru, perbanyak jam terbang dengan belajar, dengan terus belajar di tempat baru, jangan egois dan bekerja dalam tim. 

Kata orang sih gini, semakin banyak kita melihat, semakin kita terus belajar dan paham.

The best geologist is the one who has seen the most rocks (Herbert Harold Read, 1940)



Share:

Friday, May 3, 2019

Resensi Di Kaki Gunung Cibalak - Ahmad Tohari

Buku ini menceritakan tentang kisah seorang pemuda jujur bernama Pambudi yang tinggal di sebuah Desa bernama Cibalak. Dia bukan orang berada, namun dia menolak untuk memperkaya diri sendiri, walaupun dia bekerja di koperasi Desa Tanggir. Hal ini yang membuat Lurah Cibalak, Pak Dirga, lurah yang bergonta-ganti istri, murka dan membuat fitnah yang ditujukan kepada dirinya dan keluarganya.

Seperti namanya, Pambudi yang berbudi luhur pernah membuat iklan di harian Kalawarta, untuk membuka donasi kemanusiaan kepada Mbok Ralem yang menderita kanker. Sebelumnya Mbok Ralem pernah mengajukan pinjaman untuk berobat ke Lurah Cibalak namun ditolak dan malah diperberat dengan hutang Mbok Ralem bertahun-tahun lalu. Pambudi merasa marah dan keluar dari pekerjaannya.
Pambudi memilih menyingkiemr ke Jogja dan memulai hidup baru. Dia bekerja sebagai kuli bangunan, pindah ke toko jam milik peranakan Tiong Hoa, dimana dia berkenalan dengan Mulyani, anak pemilik toko.

Karena keuletan dan semangat dari, Pambudi bisa melanjutkan lagi ke bangku kuliah dan berkarya di koran Kalawarta. Pambudi harus merelakan Sanis, gadis muda tercantik di Tanggir yang pernah saling memadu kasih dengan Pambudi, dinikahi oleh Pak Dirga.

Buku karya Ahmad Tohari ini dengan tebal 170 halaman, mempunyai banyak nilai baik tentang kejujuran dan ketulusan untuk berbuat baik. Kisah percintaan Pambudi dengan Sanis dan Mulyani layak ditunggu di bagian akhir. Beberapa bagian buku ini mengandung konten yang perlu mendapat arahan dari orang tua.

Buku ini saya beli seharga Rp 20.000,-, membuat saya ingin membaca karya Ahmad Tohari yang lain. Mungkin Ronggeng Dukuh Paruk.

-ayah-
Sitou Timou Tumou Tou
Share:

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *