Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Monday, December 26, 2011

Journey to Cileat Waterfall, Subang

Curug Cileat berada di kota Subang, Jawa Barat. Ditempuh dengan perjalanan darat sejauh 2 jam menggunakan angkot menuju Terminal Ledeng, kemudian oper menuju Jalan Cagak, kemudian oper elf sekali lagi ke Sayang Heulang, Subang. 


Perjalanan dari Ledeng hingga Jalan Cagak menempuh waktu sekitar 1 hingga 1.5 jam (kalau angkot nya ga ngetem), dengan ongkos Rp 10rb rupiah, kemudian oper ke elf berikutnya seharga Rp 2500 hingga Rp 5000, tergantung sopirnya. Setelah sampai di Sayang Heulang, kita harus naik angkot 1 kali ke kaki Curug yang memakan waktu sekitar 15 menit hingga pos terakhir.

Sampai di bawah pos terakhir, seperti biasa kita foto2 dulu. Ada saya, Khairul Anwar alias Anwar, Muhammad Irfannidan alias John, Anindito Mahendra alias Pije, Galang Budiansyah alias Galang, dan Rahmat Fadhillah alias Kudil ato Fadhil. 

Kombinasi orang-orang yang demen ngesot ceria (tapi perjalanan kali ini akhirnya ternoda karena salah satu rombongan terpaksa harus pulang cepat2 ke Bandung). Perjalanan dari Pos terakhir ke Curug CIleat memakan waktu sekitar 3 jam dengan perjalanan normal. Setelah persawahan, jalanan terus menanjak hingga curug 1. Perjalanan dari sawah menuju curug 1 merupakan perjalanan yang paling berat, yang akhirnya memakan 1 orang korban muntah di jalan walopun akhirnya bisa segera sembuh setelah dipijit oleh Anwar (siapa itu yang muntah? hehehe, diam2 aja ya).

Setelah curug 1, tidak sampai 10 menit langsung dijumpai curug 2, yang lebih lebar dibandingkan curug 1. Curug 2 berukuran lebih tinggi dibandingkan curug 1 dan lebih besar, sehingga semangat untuk melanjutkan perjalanan pun meningkat secara drastis (maklum, perjalanan tidak menjadi membosankan setelah ini). Perjalanan antara curug 2 dan curug 3 menjadi lebih menantang, karena medan yang berbatu dan licin karena lembab menjadikan perjalanan ini semakin menantang.

Sesampai dari curug 3, kita sampai di perladangan yang cukup luas, dimana para petani menggembalakan kerbau dan menanam padi di lereng yang relatif datar. Disini kami sempat tersesat selama 45 menit, karena jalur yang tertutup alang-alang. Akhirnya kami bisa menemukan jalurnya kembali, dan kami melanjutkan perjalanan ke curug yang paling indah, curug 4 atau curug cileat.

Curug cileat terdiri dari 2 curug yang sangat tinggi, kira2 mencapai 100 meter dengan debit air yang sangat deras. Curug kanan jauh lebih lebar dibandingkan curug di sisi kiri, dan karena debit air yang sangat tinggi, air yang jatuh ke batuan di bawah membuat angin bertiup sangat kencang, sehingga ini yang membuat hambatan  terbesar kami selama kemping di curug ini. Air, air dan air. Air yang jatuh serasa badai, sehingga sangat dianjurkan untuk membawa tenda atau fly sheet serta jaket yang anti air dan anti angin. 


Menurut opini saya, dari skala 1-10, curug ini layak dapat nilai 9, karena pemandangan yang sangat indah, terutama ketika air terjun disinari oleh hangat nya matahari. Sangat, sangat, sangat dianjurkan membawa jaket wind breaker karena saat anda mencuci alat makan atau mengambil air di sungai, seluruh badan akan basah karena angin dari air terjun yang sangat kencang. Bawalah baju kering yang cukup, persediaan makanan yang cukup, dan kurangi bawa air secara berlebihan, karena selama perjalanan, air nya sangat melimpah dan hutan nya yang tertutup membuat anda tidak akan terlalu haus dalam perjalanan (kalau perjalanan ke curug ya haus,, hehhe).
duo badak mejeng di bawah curug cileat

saking kencangnya air terjun, sudah mirip badai aja

Share:

Friday, May 20, 2011

Kisah dari Jepang - Kisah Seekor Kadal Yang Terjepit Selama 10 Tahun

Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?

Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya …. astaga!!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.



http://www.nps.gov/ozar/naturescience/images/WUPA_Collared-Lizards_710x340_1_1.jpg

Source:


Share:

Thursday, March 24, 2011

Di Antara Tenda Biru, Gelundung Emas dan Merkuri


Sejauh mata memandang, hanya tenda-tenda plastik berwarna biru, orange, kadang beberapa bagian telah tampak seng, bahkan genteng. Hampir seragam pemandangan yang terlihat di daerah itu, terkesan kumuh dan acak-acakan, genangan air berwarna hijau kecoklatan terdapat dimana-mana. Tidak setetes air pun yang dapat dimanfaatkan daro kubangan tersebut. Namun setelah kita masuk jauh ke dalam daerah tersebut, pemandangan berbeda pun muncul, banyak mobil Daihatsu Carry yang diparkir dan berjajar dengan rapi, bahkan sebuah sebuah mobil Honda Jazz, Toyota Kijang, serta puluhan mobil Suzuki Carry. Agak kontras memang pemandangan yang disajikan, namun seperti ini lah realita kehidupan penambang emas liar di Desa Ciguha. Dari kantong batu yang digerus menjadi halus ini lah mereka hidup, namun jangan salah, penghasilan  yang mereka punyai tidak bisa dibilang sedikit. Di tengah kemewahan yang mereka miliki, ada pemandangan yang kontras, karena penambang-penambang tersebut harus menggadaikan sisa hidupnya dengan berkutat dengan merkuri.



Pemurnian logam mulia itu dilakukan dengan melakukan reduksi ukuran dari batuan yang mempunyai indikasi keterdapatan emas atau batuan pembawa emas, dari ukuran sebesar kepalan tangan, dihancurkan hingga ukuran yang sangat halus dengan “gelundung” (dalam bahasa pengolahan bahan galian modern, alat tersebut disebut dengan ball mill). Prinsip kerja gelundung adalah memutar sebuah tong yang terbuat dari baja, yang diisi bola-bola baja, batuan yang diindikasikan membawa emas, serta air yang dicampur merkuri, kesemuanya diputar sekitar 6-8 jam. Ketika gelundung berputar, batu-batu akan bertumbukan dengan bola-bola baja yang ada yang mengakibatkan batu menjadi hancur berkeping-keping dan berukuran halus dengan ukuran yang seragam. Material yang berat, akan dipisahkan dengan material dengan berat jenis ringan, sehingga dapa diketahui bahwa nantinya emas akan terpisah dengan batuan-batuan pengotor lainnya, serta luas penampang dari mineral-mineral, terutama emas akan lebih luas.



Setelah dilakukan proses penggelundungan dan pemisahan material yang mengendap, fraksi yang telah halus itu kemudian ditambahkan air raksa, yang berguna untuk penangkap atau pengikat emas, kemudian di aduk dengan tangan. Air raksa akan mengikat butiran-butiran emas tersebut, dan proses tersebut sering disebut dengan amalgam,diambil untuk dipisahkan dari pasirnya, lalu ditaruh dalam kain penyaring yang terbuat dari parasut, diperas sampai sebagian besar air raksa keluar lolos kain saringan. Air raksa ini bisa digunakan lagi untuk menangkap emas dalam pekerjaan amalgamasi berikutnya. Setelah disaring dan air raksa terpisah, butiran emas terlihat tertinggal dalam kain. Butiran ini disebut dengan “jendil” yang kemudian akan dibakar di atas cawan tanah liat, dan dibakar dengan kompor yang sangat panas, mirip pekerjaan menge las. Pada saat dilakukan pelelehan, ditambahkan material berwarna putih mirip garam yang ditambahkan untuk menangkap pengotor, sehingga emas menjadi makin murni. Dan ironisnya, pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut, sudah jelas akan terkontaminasi dengan merkuri, entah masuk ke dalam pori-pori, atau bahkan sudah terhirup masuk ke dalam tubuhnya.



Saya sendiri sempat ragu ketika akan melihat lebih dekat dengan para penambang tersebut, karena saya khawatir merkuri tersebut akan masuk ke dalam tubuh saya. Namun, bermodalkan keingintahuan – karena belum pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri – akhirnya saya memegang jendil yang belum dibakar dan mencoba meremas-remas nya. Seperti memegang plastisin, namun tekstur nya sangat halus. Dan ketika saya melihat proses pembakaran jendil – dalam bahasa lokal disebut gebos -, tidak ada masker ataupun penutup hidung yang mencegah uap raksa tersebut masuk ke dalam tubuhnya.


Bukan hanya satu orang yang melakukan hal tersebut, ratusan warga pendatang berduyun-duyun datang hanya untuk mendapatkan gram-gram emas yang nantinya akan ditukarkan dengan kesehatan mereka. Mungkin saat ini mereka mendapatkan banyak, bahkan sangat banyak harta, dari tiap gram emas hasil gebosan, tapi di kemudian hari, harta yang mereka dapat dari hasil tersebut yang malah akan membuat mereka jatuh sakit, dan bisa berdampak pada keluarga dan keturunan mereka. Bukan untuk melempar sebuah permasalahan untuk dunia yang makin pelik ini, karena praktek ini tidak hanya berlangsung di Desa Ciguha ini saja, namun hampir di semua penambangan liar yang ada di tanah air tercinta kita. Menyalahkan Dinas Pertambangan yang tidak memberikan peringatan, rasanya bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah jauh mengakar hingga lapisan masyarakat terbawah. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh kita, masyarakat yang melek dengan ilmu pengetahuan untuk menangani hal tersebut, bukan malah saling menyalahkan dan lepas tangan dari rantai setan yang tiada akhirnya.




*) Banyak “peran” yang dapat dimainkan dalam kehidupan pertambangan nasional ini, ada yang mengambil peran di sektor swasta, ada peran di sektor pemerintah, peneliti, pendidik, yang semuanya harus harus sinergis satu sama lain.  

Kita sebagai generasi muda, sudah banyak berhutang pada negara ini, dan sekarang waktu nya kita mengabdi pada negara ini. Bukan hanya dengan memperkaya diri sendiri, namun melupakan orang-orang yang kurang mampu di sekeliling kita. Buka mata, karena kita tidak buta. Buka hati, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua bisa berubah, asal kita mau berusaha dan bertekad untuk mencapainya. Majulah pertambangan demi pembangunan.

Baca juga


Share:

Wednesday, March 16, 2011

Pendamping Hidup - Dulu, Saat Ini, dan Sampai Mati

Tanyakan kepada orang yg paling anda cintai,siapkah dia ada untukmu di saat senang maupun sedih,siapkah dia menemanimu di kala sehat maupun sakit,dan siapkah dia setia di kala kaya maupun miskin.Jika dia bisa menjawab iya,maka pertimbangkanlah dia menjadi pendamping terbaikmu hingga salah satu dari kalian menghembuskan nafas terakhir .

 membagi keceriaan dengan istri, hammocking di Gunung Puntang
 Kelak, kamu akan hammocking bersama kami ya, Aqila
Share:

Saturday, March 5, 2011

Mari Menulis, Mari Berkarya

Menguatkan keinginan untuk menulis atau membaca hanya akan sia-sia jika anda tidak mencoba untuk belajar menulis dan membaca..tak peduli hanya satu kalimat yang anda goreskan, atau satu larik yang anda baca, melainkan anda telah MELAKUKANNYA, bukan hanya MEMIKIRKANNYA.
https://www.flickr.com/photos/alancleaver/4460976042/
Share:

Friday, March 4, 2011

Refleksi untuk hari kemarin, hari ini, dan esok

Setelah melewati banyak hal dalam cerita bergambar yang bernama kehidupan, saya banyak mendapat pelajaran dari banyak orang hebat, yang ternyata mengiringi kehidupan saya hingga saat ini. Dimulai dari orang tua saya, keluarga saya, teman-teman dan sahabat, guru, bahkan seorang sopir yang mendampingi saya ketika di lapangan. Disadari atau tidak, saya berhutang banyak terhadap orang-orang tersebut, yang kepada semua nya tidak akan dapat saya balas satu persatu, dan hutang tersebut yang akan sangat sulit untuk kita bayarkan. Karena masalahnya, hutang harta itu sangat mudah untuk dibayar dan dilunasi, namun hutang budi dan hutang pembelajaran, hal tersebut yang tidak akan mungkin dibayar, dan lunas serta tanpa bekas. 

Foto Ricky Elson: PLT Angin Palindi, Sumba Timur. Salah satu karya anak muda untuk bangsa

Kadang kala kita meremehkan seseorang, seperti "ah, siapa sih anda, baru "anak kemarin" sudah bisa mengatur orang", dan sebagainya dan sebagainya. Tapi alangkah baiknya kalau kita coba mengubah paradigma tersebut, dan anggap siapa pun yang ada di sekitar kita sebagai seseorang dewasa dan "mempunyai nilai" yang dari padanya kita dapat belajar, walau hanya sedikit saja. Tapi tanpa mengesampingkan banyak atau sedikit, kita coba untuk mau menghargai hasil karya orang lain, dimana kita tidak mendewakan hasil yang dicapai dan melupakan proses yang sudah terjadi. Jika ditinjau dalam hal ini, kepribadian seseorang muncul akibat proses pembelajaran yang dia alami selama hidupnya, dan sudah waktunya kita untuk maklum dan mengerti, bahwa ternyata, bukan hanya kita lah orang yang mengalami proses pembelajaran tersebut. Sehingga dari hal tersebut, muncul lah kemakluman untuk mau menerima orang per orang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 

Saya sadar, ternyata kesuksesan kita tidak ditentukan oleh kita sendiri, namun banyak faktor di sekitar kita yang nanti nya akan menentukan kesuksesan kita. Untuk berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, sangat mustahil sekali dapat terwujud, sehingga perlu kita pertimbangkan lagi, akankah kita akan mendongakkan dagu ke atas dan berjalan dengan angkuhnya, atau mau untuk merakyat dan mendengarkan apa yang terjadi di sekitar kita. Dan tulisan ini saya buat karena saya perlu lebih banyak lagi untuk ber refleksi diri, karena kita sebagai manusia harus berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, bukan malah menujukkan kemunduran dalam perjalanan hidup kita. Berani merefleksikan diri dan berubah menjadi lebih baik. Mengutip pernyataan seorang pemuka agama, untuk mau merubah suatu kondisi, kita ubah dari yang kecil, dari diri kita sendiri, dan dimulai dari sekarang. 

Cobaan yang kita alami saat ini tidak lah seberapa dibanding orang-orang yang kurang beruntung di sekitar kita, karena itu banyak-banyak lah kita bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini, dan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan banyak hal bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita.

*) Terinspirasi dari orang-orang yang "bukan" apa-apa dan dipandang sebelah mata di kehidupan ini, namun mereka lebih dapat melakukan banyak hal besar daripada yang kita lakukan. 
Share:

Wednesday, March 2, 2011

Motivasi Hidup

Ketika semuanya tampak tidak berpihak kepada Anda, ingatlah bahwa pesawat terbang lepas landas melawan arah angin, bukan sebaliknya (Henry Ford).

Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah rasa putus asa,dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan.Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik 'Arasy, dia akan memetik manisnya buah yang dipetik di tengah-tengah pohon berduri  (Al Qarni – La Tahzan)

Know something is a valuable thing, but understanding is the most precious one (no name)

Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur.” (Warren Buffet)

Pelaut dan kapal terbaik tidak pernah muncul dari samudera yang tenang. Terbanglah terbang walau aral menghalang, berani lah bermimpi, karena kamu, adalah pelaut terbaik di samudera mu

Jangan pernah  menggantungkan harapan kepada sesama ciptaan Tuhan, karena tidak ada yang bisa menjanjikan apapun. Yang ada hanyalah kekecewaan.  (no name)

http://usimages.detik.com/content/2013/10/04/1036/154853_bjhabibiehasan8.jpg
Share:

Tuesday, March 1, 2011

Kaderisasi

Tantangan di masa mendatang jauh lebih berat daripada sekarang, jadi bagaimana kita mempersiapkannya? Bukan untuk mundur dengan tantangan yang lebih berat dan mengekang kebebasan kita untuk bergerak maju, namun supaya kita selalu memikirkan bagaimana kita akan bergerak ke depannya. Kita dikekang dalam segala perbuatan kita, dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Sejak awal kita kedatangan adik-adik baru di Institut Teknologi Bandung ini, berbagai larangan telah secara otomatis mereka emban. Larangan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang berbau “OS” yang dilontarkan oleh “pihak-pihak” yang selalu mengkambing hitamkan kegiatan tersebut, yang ingin mendewasakan tanpa memberikan kesempatan untuk berdiskusi dua arah. Itu hanya awal dari perjalanan kader-kader yang katanya masih terbaik bangsa, walaupun secara turun temurun, prestasinya makin menurun karena kita berdiri di atas tongkat kesombongan kita dengan mengemban Institut terbaik bangsa.


Saat kader-kader tersebut masuk sesuai minat dan bakat mereka di jurusan masing-masing, mereka sudah mendapat larangan yang sama untuk tidak mengikuti kegiatan “OS” tersebut. Entah karena ada bayang-bayang kesalahan yang pernah terjadi sebelumnya, sehingga semua pihak rasanya khawatir akan hal tersebut. Bukan hal yang mudah untuk mengkomunikasikan semuanya, karena kembali lagi, banyak orang-orang tua yang telah ketakutan akan terjadinya kesalahan kecil yang dapat merenggut nyawa anak Adam, dan pintu untuk bernegosiasi akhirnya tertutup. Padahal kalau kalian semua, yang kata mereka “OS”, atau “kaderisasi – begitu saya akan menyebutnya dalam paragraph-paragraf saya berikutnya”, bukan lah untuk kegiatan pembalasan dendam dan peluapan amarah karena dulu mendapat perlakuan seperti itu. Kaderisasi merupakan sebuah penurunan nilai, sebuah pembelajaran, dan tidak hanya berhenti saat seseorang mendapat pengakuan, seperti saat dia dilantik menjadi anggota biasa.

Kaderisasi dimulai sejak seorang anak Adam memilih untuk menangis sejadi-jadinya saat ari-ari perut dia terputus dari ibu-nya. Sampai anak Adam itu mati dan melepaskan nyawa dari tenggorokannya, baru lah perjalanan panjang akan kaderisasi itu usai. Apakah kita memutuskan untuk tidak berkaderisasi (sekali lagi saya ingatkan, kaderisasi adalah proses untuk belajar dan penurunan nilai), dimana saat ini, di Institut Teknologi Bandung ini semua orang-orang tua kita sudah anti dengan kata tersebut? Jawabannya, TIDAK. Karena kita adalah seorang mahasiswa yang menjadi agent of change (agen perubahan), guardian of value (penjaga nilai), dan iron stock (cadangan masa depan), yang harus membuktikan semuanya berdasarkan pendapat yang ilmiah dan bisa dirasionalisasikan dengan baik. Inikah yang harus terjadi, penggundulan terhadap kemahasiswaan kita? Bukan saatnya terlena oleh kondisi kenyamanan yang ada, namun untuk keluar dari sisi kenyamanan tersebut dan mulai memikirkan bagaimana ke depannya.

Apakah saat kita nantinya melupakan proses kaderisasi tersebut, kita akan membiarkan tidak ada nilai yang turun kepada adik-adik kita, yang akan menjadi penerus kita? Apakah kita akan membiarkan dengan seenaknya melupakan perjuangan para pendahulu kita, yang bahkan harus memberontak untuk masuk kampus, saap kampus ditutup oleh militer dan mahasiswa pun terbatas untuk keluar masuk? Jaman kita memang berbeda dengan pendahulu kita tersebut, tidak ada lagi todongan senjata, namun apakah kita akan terlena oleh kamar kosan yang nyaman dengan internet dan televisi kabel di dalamnya, dengan HP di tangan dan hanya dengan beberapa tombol makanan sudah datang di depan pintu kita. Inikah generasi masa depan kita, ini kah para penerus perjuangan Indonesia. Aku yakin kita tidak seburuk itu. Bagaimana sekarang untuk kita bergerak maju, berindak atas dasar keyakinan kita, bahwa PENERUS kita harus lebih baik dari pada kita. Orang-orang yang masih mau meluangkan waktu untuk membahas kasus yang mendera bangsa ini, orang-orang yang membahas ketidak adilan yang terjadi di masa ini, dan orang-orang yang selalu progresif dan bergerak maju, dan selalu mempersiapkan adik-adik terbaiknya untuk menggantikan posisinya di masa mendatang, melalui proses belajar dan penurunan nilai, yang kembali lagi bersinomim dengan kata kaderisasi. Buat saya, buat para penerus saya, saya hanya pesankan, KADERISASI HARGA MATI. Apa pun bentuk tekanan yang kalian hadapi, akan selalu ada solusi untuk melewati semuanya. 

Dan terakhir untuk adik-adikku, kalian telah lakukan yang terbaik yang kalian bisa untuk menjalani proses pembelajaran tersebut, dan sekarang kalian telah mendapat hak tersebut, sebuah pengakuan akan keanggotaan kalian dalam Himpunan Mahasiswa Tambang. Namun semuanya akan sia-sia kalau kalian tidak melakukan apa pun untuk HMT ini. Kecintaanku terhadap HMT, teman-teman seperjuanganku, dan para pendahuluku, sudah saatnya kalian teruskan. Aku, teman-temanku, dan para pendahuluku, tetap ingin HMT ada sampai kapan pun. Budaya boleh berubah, namun NILAI TIDAK. Selamat berkarya adik-adikku.


Share:

Wednesday, February 23, 2011

Kenangan Semasa di Himpunan Mahasiswa Tambang ITB

Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah rasa putus asa,dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan. Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik Arasy, dia akan memetik manisnya buah yang dipetik di tengah-tengah pohon berduri  (Al Qarni – La Tahzan)

Sebuah perubahan dalam sistem,yg dmotori oleh seseorang, sekelompok orang selalu muncul dari kaum yg merasakan keanehan atas ke"habitual"an atau keseharian yg mereka alami. Umumnya perubahan muncul dari kalangan terpelajar, dimana mereka tidak hanya memikirkan apa yang akan terjadi sekarang, namun mereka memikirkan bagaimana hari esok akan berlangsung. Namun untuk berubah, sangat jarang semua berlangsung dlm wktu yg singkat,karena butuh proses yang lama utk memasifkan gerakan tersebut. Menstimulus dan mengajak org lain utk mau dan ikut bergerak sesuai ide-ide baru tersebut tidak lah pernah se gampang yang pernah anda bayangkan. Butuh lebih dari sebuah kepercayaan, karena jaminan dari kemapanan hal tsb di masa depan tidak pernah kita tahu seperti apa. 

Saat kita sadar akan sebuah "weird" tsb, naluri kita utk mendobrak dan mengubah hal tsb,harusny sudah mulai muncul dari dini. Tiada sistem yang sempurna, ada "noise" dan "loss" yg membuat efisiensi sistem tsb tdk 100%. Pun juga dengan HMT, sebuah sistem yang digerakkan oleh sekelompok orang dgn dasar yg sama, keprofesian tambang yg berlandaskan kemahasiswaan dan mengedepankan keleluargaan, pasti mengalami perubahan, dan selalu, semua perubahan itu sgt lah wajar,asalkn menuju ke hal yg lebih baik.

HMT akan selalu berubah dari masa ke masa, namun satu hal yg tidak berubah, nilai-nilai luhur yg akan selalu turun temurun melalui proses penurunan nilai, yg sebagian orang mendefinisikan hal tsb dalam proses "mengkader" dan "dikader." Proses tsb tidak akan berhenti, karena perlu kita ingat, belajar tidak akan mengenal waktu, sampai roh kita lepas dari tenggorokan kita. Proses belajar tsb yg harus tetap ada dlm HMT.

Tantangan masa kini jauh lebih berat dibanding masa-masa sebelumnya, dan aku, sangat menyadari hal tersebut. HMT yg kritis dan solutif, kata para penjaga nilai, itu lah yg diharap dari penerus-penerus kami. Kami hanyalah setitik kecil yg mewarnai keberlangsungan HMT, sisanya teman-teman semua yang akan meneruskan. Namun kecil yang kami lakukan, akan berdampak besar utk perubahan HMT itu ke hal yang lebih baik. 

Mengutip dari konfusius, "I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand." Berpikirlah, Bertindaklah utk HMT yg lebih baik.
Andy Yahya Al Hakim
Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Tambang 2009-2010

Share:

Sunday, February 6, 2011

Kisah kehidupan Bapak Penjual Kopi di Himpunan, Kang Dedi

Update Setember 2017
Alhamdulillah anak Kang Ded yang pertama sudah di wisuda. Keberhasilan dia salah satunya berkat ga ada lagi yang ngutang ke Kang D, sehingga uang dari berdagang makanan masih bisa disisihkan untuk pendidikan dan perbaikan rumahnya di Garut







Daerah itu berjarak 130 km dari Bandung, Awilega, Cihurip namanya. Daerah yang berada di balik gunung, dimana kalau kita menggunakan motor, tak kurang dari 5 jam tempat itu dapat dicapai. Untung aku mencapai nya dengan menggunakan motorku, jika harus menggunakan angkutan pribadi, aku harus rela merelakan 7-9 jam ku untuk mencapai daerah yang sangat "remote" tersebut. Ditambah jalan yang berliku-liku, mendaki dan menurun tajam, serta kondisi jalan yang rusak pada 5 km terakhir menuju desa tersebut. Bayangkan, untuk mencapai 5 km terakhir, kondisi jalan berbatu aspal namun sudah amburadul kemana-mana dan di salah satu sisinya harus diberi sekam supaya motor yang melewati tidak sampai terjatuh (walaupun akhirnya aku dan Openg-GEA 06 terjatuh juga tertimpa motor yang ga bisa dibilang keci di tanjakan dengan kemiringan lereng 70 derajat). Tepat di kampung itu, terdapat tidak kurang dari 10 orang yang menjajakan dagangannya di kampus ITB, dan salah satu nya, yang aku kenal baik sebagai KANG DEDDY.


Dibalik sikapnya yang baik, ramah, dan sholeh, ternyata terbesit sebuah kehidupan yang keras di tempat beliau berasal, yang belum pernah aku sangka sebelum-sebelumnya. Beliau mempunyai 3 orang anak, yang sekarang duduk di bangku TK, SD dan SMP. Untuk yang terakhir, tepatnya SMP naik ke SMK. Bukan, saya memang menulis SMK bukan SMA. Kang Deddy tidak mempunyai uang untuk menyekolahkan ke SMA, karena mahalnya biaya tempat tinggal, makan sehari-hari dan transportasi. Bayangkan teman-teman, anaknya yang pertama harus berjalan sejauh 3 km dari rumah ke sekolah dengan naik turun bukit, dan itu dijalani selama 3 tahun di masa SMP. Dan sekarang, masalah yang dihadapi adalah bagaimana cara untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Kalau teman-teman tahu, Kang Deddy menghabiskan Rp 120rb untuk tempat tinggal anaknya yang terbuat dari bambu (gedhek dalam bahasa Jawa) dan hanya Rp 60rb untuk makan anaknya dalam sebulan. Terbayang kan, betapa tiap satu keping rupiah sangat berarti buat beliau. 


Rumahnya di kampung Cihurip pun sangat sederhana. Terbuat dari kayu dan bambu (karena beliau belum mampu untuk membeli semen dan batu untuk membangun rumahnya) dan hanya terdapat 2 buah kamar untuk beliau dan istri serta ke-3 orang anaknya. Namun yang membuatku sangat terkejut, bagaimana beliau dan keluarga menyambut aku dan 3 kawan-kawan GEA (Joe 06, Openg 06, Dwi 06) ketika aku disana. 5 ikan mas terbaik dan terbesar beliau ambil dari empang nya (ikan tersebut hanya mendapat makan dari dari air untuk mencuci beras, "dedek", dan selebihnya mendapat makanan dari kotoran manusia - di atas empang tersebut adalah kamar mandi umum, dan jika teman2 mandi dan membuat hajat, ikan di bawah siap menunggu untuk mendapatkan makanan- ). 


Ikan terbesar disuguhkan untukku dan keluarganya dengan dibakar. Belum lagi itu, beliau menjadikan aku layaknya seorang tamu istimewa di Hotel berbintang 5. Apa pun yang ada beliau suguhkan untukku, mulai dari kelapa muda, ketela goreng, wajik, pisang raja, pete, ayam kampung dan itu berlangsung bukan hanya dalam waktu yang sebentar, namun terus-terusan sepanjang hari. Anyir mulutku untuk memakan semua makanan tersebut, karena mengingat bagaimana beratnya tanggungan keluarga harus dihidupi. Namun untuk menghormati beliau sebagai pemilik rumah, aku makan semua makanan tersebut bersama teman-teman GEA.

Keramahan yang beliau dan warga di kampung tersebut berikan kepada kami sangat luar biasa. Bayangkan, di tiap rumah yang kami datangi saat kami pamit untuk pulang, kami harus makan, untuk menghormati si pemilik rumah. Kalau teman-teman pernah mendengar nama Abuy, Acuy, Odin, di tempat itu lah kami harus makan walaupun perut kami sudah penuh terisi. Keramahan yang tak tersaingi bahkan di hotel berbintang 5. 

Hiburan di daerah itu mungkin hanyalah televisi, karena nampaknya itu lah barang termahal yang beliau miliki selain anak dan keluarga. Namun sayangnya, televisi yang dipunyai Kang Ded dan keluarga sudah tidak berfungsi maksimal lagi. Antena yang dipasang pada bambu di atas rumahnya terkena petir dan sampai sekarang, bahkan untuk membeli antena beliau tidak kuasa, karena besarnya pengeluaran untuk anak dan keluarganya. Aku hanya bisa menonton qosidahan, atau menonton power ranger yang di dubbing dalam bahasa Malay, dan anaknya yang paling kecil sampai hafal tiap text dan gerakannnya, karena mungkin hanya itu lah hiburannya tiap hari.

Secuil kisah ini mungkin tidak merefleksikan seluruh kehidupan Kang Deddy dan keluarga nya. Banyak yang sudah terketuk hatinya untuk sekedar datang melihat kehidupan beliau, seperti Lubi dan Kak Febi. Dan apa yang akan beliau suguhkan ke kalian, benar-benar di luar batas nalar dan kemampuan seorang Kang Deddy dalam menjamu tamunya. Ah, aku terlalu berlebihan. Untuk datang kesana saja terlalu berat, dan memang itu lah kondisi beliau. Minimal dengan anda semua tidak hutang ke Kang Deddy, itu sangat membantu beliau menghidupi keluarganya, sekedar untuk membeli seonggok pasir dan se karung semen untuk rumah beliau. Dan ingat, beiau adalah orang tua kita di himpunan, bukan kacung, bukan pesuruh, apalagi pelayan kita. Jangan hanya bisa meminta, menyuruh, dan kalian meninggalkan kepedihan di hati beliau dengan angka-angka yang beliau tulis di buku lepek yang berisi nama-nama kalian. Menyisihkan uang untuk menabung, sama sekali tidak menghilangkan uang mu, karena kau hanya memindahkan fungsi waktu, dari semula membayar hutang, sekarang menjadi di awal bulan. Dan tahu kah apa dampaknya? Senyum kecil beliau merekah karena beliau bisa berangan-angan untuk bisa pulang ke kampung halamannya dengan mobil ELF di akhir bulan depan, untuk mengantarkan sekeping uang tersebut dan se kotak Gery Chocolatos untuk anaknya, karena ternyata, di kampung tersebut tidak ada toko, bahkan pasar tempat ibu bisa membelikan jajanan untuk anak-anaknya.


(: thx 4 teman2 GEA yang menemani ku pulang ke Bandung, mengajari ku deskripsi endapan mineral di sungai, terutama untuk Kang Deddy untuk ikan mas jantan 50cm lebih untuk dibakar, yang ternyata itu adalah ikan bakar pertama yang beliau buat, dan itu spesial untukku...

++ cobain mandi n buang hajat di empang, katanya sih enak... ternyata emang nikmat dah... 


Walau makan sederhana

(Makan nasi sambal lalap)
Walau baju sederhana 
(Asal menutup aurat) 
Walau makan sederhana 
Walau baju sederhana 
Walau serba sederhana 
Asal sehat jiwa raga 
Dan juga hutang tak punya… 
Itulah orang yang kaya (hi-hu…) ------ Rhoma Irama, Gali lobang tutup lobang 


Hidup sederhana 
Gak punya apa-apa tapi banyak cinta 
Hidup bermewah-mewahan 
Punya segalanya tapi sengsara 
Seperti para koruptor…2x ------ Slank, Seperti Para Koruptor 

Share:

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *