Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Wednesday, December 7, 2016

Devide et impera

6 Desember. Semalam saya diundang untuk menghadiri acara Barbara feier yang diadakan di jurusan saya. Acara ini setahun sekali dan masih diterapkan di kampus saya, karena Santa Barbara adalah pelindung untuk orang-orang yang bekerja di tambang, begitu menurut kepercayaan Katolik. Lebih dari 50 orang datang, termasuk mahasiswa dan dosen. Makanan gratis, minuman bayar sendiri, kelipatan 5€. Saya beli kupon paling murah dan mengambil jus jeruk 0.5L seharga 1.5€. Sepertinya, hanya saya saja yang ambil non-alkohol di malam itu.Sisa 3.5€ karena ga bisa ditukar uang lagi, ya sudah saya bawa pulang saja daripada saya kasihkan ke teman malah dibuat beli bir. 

Selama acara, saya berbincang dengan kawan Erasmus dari Yunani dan mahasiswa lain dari Jerman. Mbak dari Yunani mengagum-ngagumkan tempat asal dia dan mengajak kami mampir. Pulau yang indah, dihuni hanya 300 penghuni saja dan dihiasi oleh pemandangan laut Aegea. Teman saya berasal dari Jerman Barat, sebuah desa kecil, hanya 800 orang saja. Giliran saya, saya cerita di kota saya bekerja ada sekitar 3juta orang. Mereka berdua kaget. Akhirnya mereka membuka google maps, dan terkejut kalau di Indonesia ada sekitar 13-17ribu pulau, yang kalau dibentangkan mulai dari London sampai Istanbul.

Si kawan dari Jerman menanyakan, berapa lama kalau pulang sampai bertemu orang tua? Saya bilang, minimal 1,5 hari saya baru bisa bertemu, karena orang tua saya ada di Malang. Perjalanan dari Leoben-Wina-Jakarta-Surabaya-Malang sudah cukup membuat mereka "nggumun", jauh juga ternyata. Saya bercerita, Indonesia itu heterogen. Hampir 700 suku bangsa, 300 bahasa, tapi minimal, semua bisa berbahasa Indonesia. 

Si mbak dari Yunani itu merespon, walah, negara saya ga ada apa-apanya dibanding Indonesia. Dia juga bercerita, ada kawannya yang bikin pengumuman untuk bisa menikah dengan orang US atau Eropa, supaya bisa dapat US citizenship ataupun mobility ke berbagai negara seperti Jerman. Memang berkewarganegaraan Jerman itu enak, konon katanya paspor Jerman adalah paspor paling hebat di dunia yang punya bebas akses ke 177 negara. 

Saya, masih bersyukur dengan kewarganegaraan Indonesia. Ada yang pernah menanyakan, "ISIS itu menurutmu seperti apa?" Saya jawab, "ISIS itu bukan Islam. Islam itu dari kata "Salama" yang artinya "selamat, damai", selama dia tidak bisa menyebarkan kedamaian, dia bukan Islam. Di Al Qur'an, kami tidak pernah diajarkan untuk membuat kerusakan di muka bumi ini, malahan harus menyebarkan kedamaian."

Saya paham mengapa dia menanyakan itu kepada saya. Di Eropa, beberapa kawan yang saya jumpai tidak memeluk agama. Hidup mereka bebas, namun  kadang-kadang mereka menanyakan kepada saya tentang Islam, atau menanyakan kawan Erasmus lain dari Finlandia yang Kristen Ortodok, karena keinginan tahu yang cukup besar. Orang-orang terdidik lebih paham bagaimana harus bersikap terhadap perbedaan itu, itu keyakinanmu, silahkan laksanakan dan tidak akan saya ganggu. Teman saya dari Jerman yang besar di perkebunan anggur dan kuat minum birnya tidak berminat untuk men-cekok-i saya dengan bir, sekali saya bilang tidak, dia paham, itu keyakinanmu.

Saya jadi garuk-garuk sendiri dengan pemberitaan akhir-akhir ini. Sedih rasanya ibu pertiwi jadi runyam seperti ini. Kalau kita menempatkan permasalah pada porsinya, jika permasalahan itu disebabkan oleh 'oknum', ya oknum itu lah yang selayaknya di periksa secara hukum, tidak perlu menyangkut-nyangkutkan dengan agama dari oknum tersebut. 

Sama seperti pertanyaan yang diajukan ke saya tentang ISIS, apakah ISIS itu Islam? Bukan, dia bukan Islam. Apakah Islam mengajarkan untuk mengganggu agama lain? Tentu tidak, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Jadi apakah layak menempatkan segelintir orang yang 'memancing di air keruh' dan menganalogikan menjadi keseluruhan. Nein, ini bukan seperti peribahasa 'gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.' Ini masalah oknum dengan aparat berwenang, yang semoga aparat bisa menyelesaikannya dengan tepat. Jika ingin menginterogasi tentu tidak susah. Foto orang-orangnya sudah ada, ditanya dan kalau memang bersalah ya di proses. As simple as it seems.

Saya ga mau kejadian jaman dulu terjadi lagi. Politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia. Belanda tahu kondisi saat itu yang heterogen, dimana jika menyerang secara fisik, bisa jadi strateginya terhadap negara jajahannya tidak akan berhasil. Tidak perlu tidak menyerang frontal secara langsung, keberagamannya lah yang diserang. Sekarang sudah berapa puluh tahun dari kejadian devide et impera dari Belanda, masak harus kita ceritakan kepada anak cucu kita, bahwa kita pun sempat merasakan hidup di jaman adu domba seperti ini. 

Saya merasa, di antara kita, ada orang yang sengaja memecah belah keberagaman itu. Siapa yang menjajah? Ya anak bangsa kita sendiri. Saya punya ide untuk menangkalnya. Mas, mbak, semua yang membaca pasti sudah dewasa dan bisa menyikapi, apakah berita ini sudah benar, mana kantor berita yang busuk, apakah agama ini seperti itu, silahkan dinilai sendiri. Kita sendiri lah yang menciptakan jarak, bukan kantor berita. Semua kontrol ada di tangan kita, kita bisa membuat orang menjauh dari kita, namun kita juga bisa merangkul mereka untuk lebih dekat.

Kalau versinya band jadul dari  Jerman seperti ini:
Do you ever ask yourself
Is there a Heaven in the sky
Why can't we stop the fight

Cause we all live under the same sun
We all walk under the same moon
Then why, why can't we live as one 

(dipopulerkan oleh Scorpion - Under the same sun)

7 Desember 2009 dulu saya pernah menulis di laman facebook saya. 
Perbedaan akan menjadikan kita sadar, dan akhirnya mengetahui bahwa dengan saling menghargai dan menghormati, kita bisa menjadi manusia yang dewasa.

Kalau kata om Armand Maulana, 
"Perdamaian, perdamaian, 
banyak yang cinta damai, 
tapi perang semakin ramai"

Mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif itu sama beratnya dengan meraih kemerdekaan itu dari penjajah. Indonesia itu indah karena beragam. Sekarang sudah 2016, jadi, maju dong, masak mundur lagi. 

Salam damai,
AYAH










Share:

Sunday, September 4, 2016

Untuk abah dan umi disana

"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
dst"

2005, Bioskop Sarinah, Malang. Disana saya pertama kali kenalan dengan nama Soe Hok Gie. Seperti anak muda yang sedang mencari sosok panutan, nama dia langsung melesat ke nomor satu. Perlahan, ada nama-nama lain yang mengisi daftar itu, keluar masuk. Norman Edwin, Tan Malaka, Paimo, Jendral Hoegeng dan yang sempat membekas agak lama, Pramoedya. Beberapa karya sastra lain sudah masuk ke kardus yang sekarang ada di rumah bapak ibu mertua saya di Wonosobo. Biografi Nabi Muhammad, karya STA, hadiah dari adik saya tentang guyonan Cak Nun dan Emha, biografi Sutan Sjahrir, asal usul komunis karya Ruth Mcvey, dll, semua tersimpan di kardus itu. Saya kepikiran buat bikin perpustakaan kecil-kecilan, trus di data dan di cap, siapa tahu nanti bisa besar jadi seperti perpustakaan pataba (perpustakaan anak semua bangsa milik Pram) di Blora atau perpustakaan bung hatta di Bukit Tinggi. Mimpi ga salah toh.

Kembali ke Soe Hok Gie. 
"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
dst"

Penulis itu biasanya rajin membaca buku, tanpa membaca, darimana bahan yang ditulisnya? Itu yang diajarkan oleh bapak untuk saya dan adik saya. Semasa kecil, saya dan adik paling senang kalau diajak ke toko buku di Jalan Majapahit, Malang, soalnya kami pasti dibelikan buku, entah komik, cerita anak atau buku-buku lain. Umur bertambah, ketertarikan tentang komik berkurang, akhirnya berubah jadi buku. Kami diajari untuk menyenangi membaca. Mulai buku fikih dan sejarah islam, novel, cerita hantu (goosebumps), komik, sastra, terserah, asal disesuaikan dengan umur kami saat itu. Saya jadi ingat, ketika teman-teman SD pada main tamagochi, saya ga dibelikannya, mendingan buat buku. Bahkan sampai sekarang, saya ga ngerti cara memainkannya seperti apa dan barang itu belum sempat terbeli hingga 2016 ini (entah masih ada yang jual ga ya).

Di rumah, bapak saya yang dosen teknik mesin sering dapat orderan membuat lemari buku dari papan. Saya masih ingat, sepulang dari kantor, bapak masih nandangi kerjaan lain, percetakan dan bengkel. Rumah saya lantai 2 dulu masih blabag kayu, dibuat bapak untuk urusan percetakan hot print. Cetak kartu nama (jaman dahulu), kertas undangan ada tulisan yang berwarna emas mengkilat, nah, itulah yang dikerjakan bapak saya sepulang kerja. Itu bagian percetakan, belum bagian perbengkelan. Di bagian depan rumah, bagian depan rumah kami ditutup triplek. Bengkel nya ukuran 4x4, dibuat untuk bengkel mesin dan produksi lemari kayu. Di bengkel, lantai penuh dengan skrap potongan besi dan oli. Yang masih saya ingat, ada mesin bubut, gergaji mesin otomatis, ragum, dll, semuanya dipakai untuk tambah-tambahan keluarga kami.

Soe Hok Gie lagi. 
"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
dst"

Kemarin orang tua saya berangkat ke Jeddah untuk melengkapi rukun islam ke-5, berangkat haji. Umur tabungan beliau sama dengan umur adik saya yang sebentar lagi insyaAllah jadi bapak. Ternyata beliau sudah mengumpulkannya sejak lama, dan ketika sudah lunas antriannya sudah cukup panjang, sehingga baru mendapat giliran tahun ini. Saya senang akhirnya abah umi bisa berangkat. Yang membekas buat saya pribadi, berarti dulu start mulai menabung dari umur kepala 3. Berarti itu semua dimulai dari percetakan, bengkel, bikin lemari, yang baru saya sadari semalam ketika saya nglilir sepertiga malam terakhir. 

Saya mengidolakan tokoh Gie, Pram, Paimo, Hatta, tapi saya sering lupa lupa, perjuangan bapak ibu saya ga kalah dengan orang-orang hebat tadi. Mas Paimo bisa melintasi 5 benua karena beliau sudah memulainya sejak jaman SMP, nyepeda antar kota, akhirnya bertambah antar propinsi. Saya lihat orangnya tekun dan teratur menyimpan barang-barang memorabilia jaman dulu, membuat saya juga kudu menerapkan ke hal yang sama, saya ga boleh lupa dengan asal saya. Kacang ora oleh ninggal lanjaranne.

Gie satu lagi
"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza"

Alhamdulillah orang tua saya akhirnya berziarah Mekkah. Tentang Miraza, kenapa saya tulis berulang-ulang. Nama itu mengingatkan saya salah satu rumah makan favorit bapak saya di Pandaan, rumah makan Miraza. Bukan tentang judi.

Akhirnya, selamat menunaikan ibadah haji abah, umi.  
25 tahun pernikahan abah umi di Bromo, 2012
Gie untuk terakhir kali.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang
manis di lembah Mendalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Catatan Seorang Demonstran- Soe Hok Gie*
[Selasa, 11 November 1969]
Share:

Saturday, August 13, 2016

Hidup ibarat kacang panjang

Update: 24-10-2017
Pesan Bapak (saya panggil mbah saya Bapak), 24-10-2017


Saya dulu lahir dibantu bidan di desa kecil, desa Kepung, Pare, Kediri. Masa kecil saya habiskan di desa di kaki gunung Kelud ini. Sekarang Pare terkenal dengan kampung Inggris, saya yang lahir disana pun belum pernah mampir. Mbah lanang saya dulunya petani, jadi khotib tak tergantikan di "langgar" (surau; bahasa Jawa) pribadi di depan rumah, sedangkan mbah putri dulu dagang di pasar, tiap sore hari menjadi guru ngaji di langgar buat anak kecil dan remaja.

Minggu lalu saya sempat telepon mbah, tombo kangen, sekalian buat obat kangen buyut dengan cicit nya. Saya memanggil mbah putri "emak", mbah lanang saya panggil "bapak." Pesan emak buat cucu tertuanya,saya:
"Le, Aqila diwarai ngaji, iqro'. Arek umur sakmono gampang banget eling e. (Thole-panggilan emak saya ke saya-, Aqila diajari mengaji. Anak umur segitu gampang banget ingatnya)."
"Inggih, Mak'e, niki pun sinau alif ba' ta kaliyan pun tumut sholat bareng (iya Emak, ini sudah belajar alif ba' ta dan ikut sholat).
"Mben sholat tak dungakno Le, Le, ben keluargamu sukses dunyo akhirat (setiap habis sholat tak doakan thole supaya sukses dunia akhirat)."

Gara-gara pesan sederhana sebenarnya, banyak memori masa kecil saya rasanya terulang buat Aqila. Saya yang dibesarkan di lingkungan adat jawa yang kental dan pondok NU (Nahdlatul Ulama- Kediri salah satu basis kuat NU) yang sangat familiar dengan tembang-tembang Jawa. Tembang ini salah satunya diajarkan oleh Sunan Kalijaga untuk mengakulturasi agama dengan lagu-lagu dan adat Jawa.

Secara tidak sadar, pas Aqila nangis karena saya dan istri saya memulai untuk menyapih Aqila yang sudah hampir umur 2 tahun, saya langsung ingat lagu-lagu yang dinyanyikan Emak sebelum saya tidur, ilir ilir dan tombo ati (versi asli yg saya apal panjang banget dibanding versi nya Cak Nun dan Kyai Kanjeng). 

Saya minta istri bersenandung ke Aqila yg merengek. Setengah jam berlalu dan merengeknya mulai kurang, Aqila mulai nyaman dengan sholawat nabi, baru saya gantian nyanyi lagu dari emak saya.


Lir-ilir, lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wis sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten
anyar (Demikian menghijau bagaikan pengantin baru)

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi (Anak gembala, anak gembala panjatlah
pohon belimbing itu)

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu)

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir (Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping)
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore (jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore)


Mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane (Mumpung bulan bersinar terang,mumpung banyak waktu luang)
Yo surako… surak iyo… (Ayo bersoraklah dengan sorakan iya)


Makna singkat lagu ini. Lagu ini mengajak seorang muslim untuk bangun dari sifat malas dan menjaga keimanan kita (diibaratkan petani yang mendapati tanaman yang mulai menghijau). Iman itu naik turun, dan untuk menjaganya sulit (diibaratkan memanjat belimbing yang licin. Ada yang bilang belimbing itu simbol solat 5 waktu, karena ada 5 sudut di buah belimbing). . Iman itu ibarat pakaian, bisa terkoyak. Jika pakaian itu rusak, maka harus segera dijahit, selagi kita masih memiliki waktu luang. Oh ya, tadi tentang belimbing, belimbing wuluh yang rasanya asem, jaman dulu dipakai oleh orang-orang untuk mencuci dan menghapus noda di baju

Mengapa tiba-tiba menulis tentang ini? Emak dan Bapak ga bisa saya lupakan perjalanan hidup saya. Beliau salah satu yang menanamkan fondasi agama dari hal paling kecil. Apa yang sudah saya dapat selama hidup ini tidak semata-mata karena kemampuan saya sendiri. Saya yakin, kesuksesan seseorang tidak lepas dari doa orang-orang di sekitarnya, salah satunya orang tua. 

Sudahkah kita menyapa dan berterima kasih kepada orang berjasa disekitar kita? Distance does not separate people, silence does. Ibarat peribahasa, Kacang ora ninggal lanjaranne (kacang panjang tidak pernah meninggalkan akarnya). 
Umi (Ibu) saya sungkem dengan emak bapak
Bapak lagi ceramah 
Foto lebaran tahun 90an



Share:

Wednesday, July 13, 2016

Priiiiit.... kamu kena tilang

3 minggu lalu, saya terburu-buru mengejar kereta dari kota sebelah ke kota saya. Perjalanannya tidak jauh, cuma 7 menit dengan kereta. Harga tiketnya juga tidak mahal, 2,80€/orang. Cuma karena saya terburu-terburu karena 1 menit lagi kereta berangkat, saya salah pencet di mesin tiket. Saya beli 3 tiket untuk 2 orang. Di pikiran, saya+istri+anak, total 3 orang, padahal anak di bawah 6 tahun gratis. Saya memencet tombol diskon 50%, karena kami bepergian bersama keluarga.

Sebenarnya diskonnya ga masalah,  karena istri mempunyai kartu diskon tersebut. Yang jadi masalah, ternyata kartu diskon saya ternyata sudah kadaluwarsa, dan baru ingat ketika pak petugas tiket mengecek tiket kami. Sangat jarang petugas tiket melakukan pengecekan, karena naik angkutan transportasi di Austria dan Jerman sifatnya "kejujuran". Ada yang bilang "bisa saja tidak beli tiket, jarang di cek kok." 

Walaupun tiket ada 3 buah, pak petugas tidak mau tahu, padahal kalau dihitung, sebenarnya jumlah yang saya bayar sudah impas. 
yang saya bayar: 3 x 2,80€ x 50% = 4,20 € (kartu diskon keluarga 50%, asalkan bepergian dengan anak, orang tua masing-masing bawa 1 kartu)
seharusnya: 1 x 2,80€ + 1 x 2,80 x 50% = 4,20 € (kartu diskon istri 50%, saya bayar normal)

Walaupun nominalnya sama, ternyata si bapak punya pemikiran lain. Apa yang terjadi? Saya harus membayar denda. Awalnya, saya pikir, saya bayar kekurangannya di tempat. Karena pernah saya jumpai bepergian dengan Railjet (kereta supercepat) beberapa orang yang malah tidak membeli tiket, mereka hanya diturunkan di stasiun berikutnya. Saya jelaskan semua dengan jujur sambil minta maaf karena saya khilaf. Walhasil, si bapak ini ga berubah pikiran sama sekali. Priiiiit.... kamu kena tilang

Dalam kasus saya, saya diberi 2 pilihan, membayar denda di tempat atau membayar denda di bank. Karena memang uang di bank tidak cukup, saya pilih membayar di bank. Dan ternyata itu pilihan yang lebih berat. 

Peraturan dari kereta api seperti ini:
Sollten Sie in Zügen des Nahverkźehrs ohne gültiges Ticket angetroffen werden, fällt eine Kontrollgebühr von 70,- Euro (bei sofortiger Barzahlung) an. Sie erhalten eine Bestätigu- 2€ng mit einer Fahrgeldnachforderungsnummer und auf Wunsch Ihren Daten ausgestellt.
Zahlen Sie nicht umgehend, erhöht sich der Betrag um eine Bearbeitungsgebühr (30,- Euro). In einem solchen Fall werden Ihre Daten erfasst und eine Fahrgeldnachforderung zur späteren Bezahlung ausgestellt. Sie erhalten eine Bestätigung mit allen zur Einzahlung notwendigen Angaben (Fahrgeldnachforderungsnummer, Bankdaten, …).
Artinya kurang lebih begini: 
bayar di tempat= 70€, 
bayar di bank setelah turun dari kereta= 70€ + ongkos proses 30€ = 100

Apes bener. Saya baru tahu ketika kereta sudah sampai di tujuan dan tiket denda nya sudah selesai di cetak dari mesin printer yang dibawa di tasnya. Saya diberi waktu 14 hari untuk menyelesaikan pembayaran. Pesan terakhir pak tukang tiket, jangan coba-coba ga bayar, dendanya lebih mahal.

Sesudah saya sampai di stasiun di kota saya, saya langsung ke kantor kereta api dan menanyakan hal ini. Ternyata, kebijakan tukang cek tiket itu berbeda dengan penanggung jawab stasiun. Dia menyarankan untuk membayarnya, kemudian menjelaskan bahwa terjadi kesalahan beli tiket dan bla bla. 

Saya ikuti saran si bapak ini, dengan mencantumkan scan tiket, scan bukti bayar dan kartu diskon saya yang sudah lewat kadaluarsanya. Di email, saya meminta maaf secara tertulis kalau itu bukan karena kesengajaan dan menyesalinya. Waktu sempat punya pikiran jelek, jangan2 yang menilang saya ini rombongan anti orang asing, maklum, partai komunis di sini baru aja kalah pemilu, dengan selisih kurang dari 0,50%. Pikiran jelek saat itu, walaupun partai si kawan itu kalah, tapi kan pendukungnya sebagian dari penduduk Austria. Akhirnya mau ga mau, saya coba lupakan, daripada hidup saya ga tenang karena dihantui pikiran jelek.

Saya bayar denda dan berharap laporan pengaduannya dibalas. Denda itu nominalnya besar sekali buat saya, tapi ga ada pilihan. 3x saya kirim email yang sama, berharap ada balasan. Dan 2 minggu berselang, saya dapat email balasan. Intinya, mereka tetap memberlakukan  praduga tak bersalah dan menerima alasan karena ketidaksengajaan. Alhamdulillah, uang yang sudah saya bayarkan dulu dikembalikan utuh hari ini.

Pesan moral: 
Sistem tiket di Austria dan Jerman memberlakukan kejujuran dari penumpang, pengecekan hanya dilakukan sekali-kali. Ini cukup menjadi pelajaran berharga buat saya sendiri, syukur-syukur buat yang membaca tulisan ini sampai tuntas. Silahkan belajar dari kekhilafan saya, jangan coba-coba cari masalah dengan berlaku tidak jujur. Mending beli tiket dan minta maaf kalau salah, daripada kucing-kucingan sama petugas, hidup jadi lebih ga tenang. 

Pertanyaan iseng:
Tanya: Kalau uang 100 ga dikembalikan sama pihak kereta api (OeBB = Österreichische Bundesbahnen) apa tulisan ini tetap dibuat? 
Jawab: krononlogi ini udah pernah ditulis di tulisan bulan lalu. Ini buat refleksi saya sendiri, syukur-syukur buat yang baca tulisan ini sampai selesai.

Kesimpulan

Ayas ojo mbok seneni maneh, wis kapok iki (saya jangan dimarahi lagi, ini sudah insyaf) 

Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain:

 Sepatu Bally milik kami








Share:

Tuesday, June 21, 2016

Sepatu Bally Milik Kami

Kami selalu berupaya, jangan sampai ada harta yang bukan hak kami, kami makan dan menjadi darah daging di kemudian hari. Saya dan istri sudah sepaham tentang hal tersebut, apa yang saya nafkahkan untuk keluarga, sedikit banyak, harus jelas asalnya dari mana, cara mendapatkannya benar serta halal.

Tahun 2015 lalu, kami mengajukan aplikasi tunjangan untuk keluarga, alhamduillah, disetujui. Vidya mendapat bantuan, karena ibu yang tidak bekerja karena mengurus anak berhak mendapatkan bantuan tersebut. Aqila pun mendapat bantuan tiap bulan, seperti semua anak pada umumnya. Karena bantuan tersebut sangat cukup untuk keluarga kami,  kami keluarkan terlebih dahulu kepada yang berhak supaya barokah. Sisanya baru kami pakai untuk keperluan pendidikan dan keperluan lain. Nawaitu 'Alallah.

Setelah beberapa bulan kami pertimbangkan, tunjangan kami pergunakan untuk menyekolahkan Aqila ke taman kanak-kanak. Karena teman bermain seumuran sebaya Aqila tidak banyak, kami berharap Aqila bisa belajar dan bermain dengan kawan barunya. Alhamdulillah, hasilnya kami rasa positif. Aqila jadi lebih mandiri, makannya menjadi lebih banyak, dan banyak belajar dari pedagogin dan teman sebayanya.

Beberapa bulan berselang, ternyata banyak hal baru dan agak mengagetkan kami jumpai. 
1. Asuransi Vidya dan Aqila tiba-tiba berhenti dan tidak diperpanjang sejak Februari hingga saat ini (sekarang pertengahan Juni). Saya cek ke kantor asuransi, saya diminta ke kantor Pajak. Saya minta penjelasan, aplikasi perpanjangan yang sudah saya isi sejak Februari "digantung" sampai bulan Juni. Karena saya rasa ada yang tidak benar, saya konsultasikan ke Profesor saya, dan kami menghadap bersama-sama ke kantor Pajak.

Singkat cerita, kontrak beasiswa saya yang 3 tahun belum bisa membuat mereka yakin bahwa saya berhak mendapat bantuan (kesehatan, tunjangan keluarga). Profesor saya pun juga heran, mengapa prosesnya begitu lama dan berbelit-belit. Otomatis, jika asuransi tidak diperpanjang, maka tunjangan keluarga untuk istri dan anak tidak ada lagi. Hari ini, 27 Juni saya datang lagi berkunjung ke dokter anak untuk mendaftarkan anak saya untuk pemeriksaaan 2 tahun, dan hingga sekarang, belum ada kemajuan proses dari asuransi kami.

2. Kami ketiban sampur, musim dingin yang lalu, rumah yang kami tempati cukup dingin, karena tiap malam, pemanas ruangan dimatikan oleh pemilik rumah. Praktis, kami menggunakan pemanas portable sepanjang malam. Karena sistem isolasi rumah yang tidak baik, rumah mengembun dan akhirnya muncul jamur di sisi dalam rumah, dan saya harus mengecatnya. Padahal, si empunya rumah sempat berkata, bahwa rumah bakal dicat selama kami tinggal, nyatanya, 3 hari saya luangkan di bulan Mei untuk mengecat rumah 30 m2. Astaghfirullah hal 'adzim, sabar.

3. Saya akui, saya salah paham ketika saya harus melaporkan tagihan pajak saya selama di Indonesia. Ternyata ada pemasukan 2 tahun lalu yang belum dilaporkan beberapa tahun lalu ke kantor pajak, yang saya kira sudah dilaporkan oleh tempat saya bekerja. Walhasil, saya mendapat surat untuk mengkonfirmasi hal tersebut, dan ya saya sudah mengoreksi laporan pajak tersebut dan menunggu untuk menyetorkan kekurangan pembayarannya. 

4. Kali ini, ini kekhilafan saya. Kereta yang akan saya tumpangi akan jalan 3 menit lagi, namun saya belum selesai membeli tiket. Saya salah memencet tombol, seharusnya saya memilih tiket reguler untuk perjalanan kereta 7 menit, saya malah membeli tiket 3 dewasa untuk saya dan istri, dan saya memilih tiket diskon untuk keluarga. Dengan tiket diskon, harga menjadi 50%, asal membawa kartu berlangganan. Saya khilaf, kartu saya expired, hanya istri yang membawa kartu tersebut. Sebenarnya saya mempunyai kartu lain yang bisa digunakan, namun karena kartu tersebut tidak ditanyakan oleh pemeriksa tiket, saya kena "penalti". Walhasil, ketika pengecekan tiket, saya harus membayar 25x lipat dari harga yang seharusnya saya bayar dengan tiket reguler. Saya sudah meminta keringanan, namun hingga kini tidak ada jawaban. 

5. Balik lagi ke urusan rumah. Per tengah Juni ini, saya diminta si empunya rumah untuk pindah dengan batas akhir Juli 2016, dengan alasan di dapur, piring basah bakal membuat jamur muncul lagi di rumah ini. Hal lain, konsumsi listrik menjadi meningkat dibanding tahun sebelumnya, dan kami diminta membayar kekurangannya. Sebenarnya ini tidak masalah, karena memang kami berencana pindah di akhir Juli ini. Jadi, kami belum sempat pamitan, sudah diminta untuk pindah.

Rezeki yang tidak diduga datang dari salah satu dosen saya, yang mengirimkan dana SHU untuk pekerjaan yang saya kerjakan, hampir 2 tahun yang lalu. Saya tidak menyangka, rezeki datang dari tempat yang tidak bisa diduga.

Dari cerita di atas, kami pun mengoreksi diri, apa ada kewajiban yang belum kami tunaikan? Itu yang selalu menjadi pertanyaan kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk menitipkan rezeki kami ke Ibu di Wonosobo, semoga ke depannya, jalan kami menjadi lebih lapang.

Istri sempat bercerita. Selama tinggal di Jerman, kehidupan Pak Habibie dan Ibu Ainun juga tidak semudah kebanyakan orang, misalnya untuk membeli sepatu layak saja tidak mampu. Bung Hatta juga hanya menyimpan kenangan sepatu Bally yang tidak bisa terbeli hingga beliau wafat. Mereka berdua mengajarkan kesederhanaan, yang akhirnya dikenang banyak orang hingga kini.

Sekarang, kami lah yang harus belajar kepada dua orang besar tersebut. Kami harus berbesar diri dengan cobaan yang kami jalani. Ini hanya sekelumit  cerita saya dan istri menjalani hidup di negeri orang. Apa yang banyak dilihat orang, hanya gunung es yang kecil. Kami belajar, Allah lah yang memberikan kami kelapangan, kesusahan, nikmat serta cobaan. Kami hanya bisa berdoa, supaya kami sekeluarga selalu sehat, dicukupkan rezeki, serta tetap berada di jalan yang lurus. Innallaha ma'as shobirin.

Leoben, 
Imsak bulan Ramadan malam ke-15


La Tahzan, Yayak dan Vidya
Share:

Wednesday, March 30, 2016

Kotak Amal Lubang Tiga

30 Maret, 2012

4 tahun lalu, saya terkagum-kagum dengan sebuah kotak amal (kencleng) yang diedarkan ketika sholat Jumat. Saat itu saya berada di Bangkinang, Riau, untuk survey potensi tambang di beberapa kabupaten disana. 

Kotak amal, yang umumnya terkunci oleh gembok dan mempunyai 1 lubang kecil, tempat uang di lipat sampai kecil, di sini bentuknya jauh berbeda. Di masjid Bangkinang (saya lupa namanya),ibukota Kabupaten Kampar, terdapat 3 buah lubang untuk memasukkan uang, dan kotak dibiarkan tidak terkunci. Kotak itu bertuliskan "yatim,fakir miskin,keperluan masjid". Tiap orang bebas memasukkan uang bagian mana dia ingin memasukkan uang,bisa mengambil kembalian uang,jika dirasa tidak ada uang receh atau perlu kembalian. 

Hal yang masih membuat kagum,betapa kejujuran dijunjung oleh warga disini. Kejujuran bukan tanggung jawab takmir lagi, namun antara kita dan Sang Maha Pencipta. Seseorang bisa saja menukar uang dengan uang,atau bahkan mengambil uang tersebut karena tidak terkunci. Hal yang sulit lo, karena dalam laut bisa diukur, dalam hati siapa yang tahu. Memang benar,di tengah kejujuran yang makin mahal harganya,pelajaran itu sangat berharga,di tengah krisis moral pemimpin. 

Semua orang mendemo kebijakan BBM saat ini dan memasang posisi saling curiga, rakyat tidak percaya dengan pemerintah. (tahun 2012 dulu sedang ramai kenaikan BBM, banyak demo dan akhirnya kenaikan BBM dibatalkan melalui rapat pleno di DPR pada 1 April 2012). Kita sebagai rakyat, berkewajiban untuk memilih pemimpin yang amanah,dan mengawal kepemimpinannya itu, dan selebihnya, kita hanya bisa berikhtiar dengan berdoa. Alangkah indahnya saat kejujuran itu benar-benar di per-tuankan oleh pemimpin-pemimpin kita,tanpa perlu memasang kecurigaan antara suku, agama, organisasi dan semua hal yang kontraproduktif.  

Daripada energi kita habis untuk memikirkan hal yang negatif, mendingan kita perbaiki diri dan menyebarkan pesan yang baik untuk lingkungan kita. Kalau pun orang tidak melakukan suatu dengan jujur, tidak perlu khawatir, gusti Pangeran ora sare, selalu ada reward dan punishment. 

Kejujuran itu mata uang yang berlaku di seluruh dunia dan bukan muncul dengan sendirinya. Semua menjadi mudah kalau dibiasakan. Kalau kita ingin membuat negara kita besar, bebas korupsi, semua urusan lancar tanpa suap, ya mari kita lakukan hal terbaik di bidang kita masing-masing dengan penuh kejujuran. Kalau semua cuma bermimpi, siapa yang bakal merealisasikan. Ya dimulai dari diri sendiri dulu dong, betul?

Bangkinang, Riau, 2012
ditulis dan disunting ulang di Leoben, 2016
Share:

Tuesday, January 5, 2016

Refleksi 2015, Harapan 2016

Apa saja yang sudah dicapai di 2015 yang lalu?

Januari:
- mengawali awal tahun dengan bobo manis di kawah Ijen, Banyuwangi menunggu "api biru-blue flame" yang ternyata belum rejeki saya
- ambil data disertasi tentang tambang emas di Luwu, Sulawesi Selatan
- berangkat ke Leoben untuk S3

Februari:
- mengawali disertasi di Leoben disambut dengan suhu -9 derajat
- menyusun presentasi untuk "matrikulasi & ujian awal" untuk masuk ke S3, yang dicukupkan hanya dengan presentasi project (disertasi nya mau ngapain aja)


Maret-Agustus:
- ambil kursus Deutsch Anfänger
- ambil kursus English for Academic Professional (basic & advanced), daaan, menulis secara baik, benar dan to the point itu "harus dibiasakan"
- untuk S3 harus ambil 15 ECTS, semester 1 ngebut ambil 7 ECTS, semester 2 ambil 5 ECTS
- aktif lagi nyepeda antar kota di Austria (ke Brück, Graz, Eisenerz, Grüner See, Klagenfurt, Salzburg)
- nyepeda di jalan tol 2x (salah karena kesasar, jangan ditiru)
- nyepeda di jalan tol tertinggi di Austria, Grossglockner Alpen (ini baru yang bener)
- nulis artikel tentang gowes di Pikiran Rakyat "Back to Boseh" dan re-publish di ppi austria
- hiking di Bärrenschutzklamm, Ramsau am Dachstein
- adik nikahan, ga sempat datang pas resepsi, tapi alhamdulillah sempat ngantarkan dia sebelum dia berangkat ke Jepang


September
- mulai kursus Deutsch 1
- presentasi di MinPet Conference (Mineralogy Petrology Conference)
- nyumbang 1 artikel di anakbertanya.com , menjawab pertanyaan dari anak-anak "mengapa banyak gunung berapi di Indonesia"
- hiking di Hochblaser-Eisenerz

Oktober
- jemput anak istri supaya bisa tinggal bersama di Leoben
- ikutan ekskursi SEG Leoben ke Maissau
- diundang nulis di majalah edisi pertama "Bersains" , kali ini menulis tentang Rare Earth Element (link download majalah)


November-Desember
- diundang presentasi di depan SEG Student Chapter Leoben "Metallogenic Provinces of Indonesian Archipelago"
- mengajukan bantuan finansial ke: OeAD buat field work ke Indonesia, Bernd Rode Award buat dana penunjang disertasi, familienbehilfe buat bantuan ke istri
- alhamdulillah rumah di Bandung sudah ada yang ngontrak
- trip ke Wina, Graz sama anak istri
- tulisan buat ppi austria tentang Eisenerz, Leoben dan Graz yang ternyata belum di publish padahal sudah dikejar-kejar (ckckck)
- Hallstaaaaatt di penutup 2015


Apa yang di luar ekspektasi:
- makanan halal di luar kalau jajan hanya kebab, durum dan reisbox/ nuddle box, sisanya dicukupkan dengan masak tiap hari
- background ilmu semasa kuliah di Bandung ternyata perlu di "refresh" berulang-ulang, terutama tentang kimia, petrografi, mineralogi dan pemrograman (yang terakhir ini benar-benar menyita waktu akhir tahun)


Hal yang ingin dicapi 2016:
- fokus di riset dan kuliah
- bisa presentasi di EMC (European Mineralogical Conference) di Rimini, Italia
- mempersiapkan data yang matang untuk bisa publish 1 jurnal
- bisa berlibur di luar Austria bareng Vidya dan Aqila
- bersepeda di Silvretta Hoch Alpen Strasse dan/atau ke Dolomiten Mountain
- gramatik Jerman nya bisa lebih mendingan
- punya waktu membaca buku lagi
- bisa tetap seimbang antara akademik-keluarga-hobi


Last but not least, LEAVE NOTHING UNDONE

"Ibarat nyemplung ke kolam, jangan cuma basah sebagian, tapi sekalian aja basah kuyup. Karena sudah MEMUTUSKAN, mari kita SELESAIKAN"

Leoben,
5 Januari 2016
Time to gather with my precious thing, family






Share:

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *