Conversations with the Earth

Hiking with kid, why not?

We went to a Polster on my birthday

Menjadi panutan

Saya dan beberapa teman berbagi tentang pengalaman kami berorganisasi kepada mahasiswa baru

Sketch, mostly mountains

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label geowisata. Show all posts
Showing posts with label geowisata. Show all posts

Thursday, July 21, 2016

Asal usul Dolomit

Cara paling mudah untuk menguji apakah batuan batuan atau mineral yang diamati mengandung karbonat, adalah dengan cara meneteskan asam klorida (HCl), biasa disebut uji asam. Jika batuan karbonat, maka batuan yang sedang diamati akan mengeluarkan buih, kadang-kadang mengeluarkan bunyi ("cessss/ josss"). Namun sebenarnya, tidak semua karbonat akan bereaksi kuat dengan HCl, karena ada beberapa mineral karbonat memberikan reaksi yang lemah terhadap uji asam. Kalsit memang penyusun batuan karbonat yang paling umum dijumpai, namun ada juga mineral yang memberikan reaksi lemah dengan HCl, salah satunya adalah dolomit. Tapi tahukah teman-teman, kalau dolomit juga merupakan nama salah satu pegunungan di Alpen?


The Dolomites adalah rangkaian pegunungan di Utara Italia, berbatasan dengan Austria, merupakan singkapan pegunungan dolomit terluas di dunia. Daerah ini merupakan bagian dari UNESCO World Heritage Site dan juga diabadikan menjadi nama mineral.

Kimia
Seperti saya tulis sebelumnya, dolomit CaMg(CO3)2 adalah satu dari beberapa karbonat yang bereaksi lemah dengan HCl. Magnesit dan siderit juga bereaksi sangat lemah dengan HCl. 

Reaksi yang terjadi antara HCl dan karbonat menghasilkan buih yang kadang berbunyi "jess atau coss", merupakan bukti bahwa sedang terjadi reaksi kimia yang menghasilkan CO2 dan H2O. Ion lain juga terbentuk, seperti ion Ca2+ pada kalsit, atau ion Mg2+ pada magnesit dan Fe2+ pada siderit.
Jika kita meneteskan HCl dingin ke dolomit, maka sangat sulit untuk melihat buih, karena reaksi ini sangat lemah. Sering kali, HCl malah menetes seperti air di permukaan, baru kemudian bereaksi dengan karbonat. Lain hal nya kalau kita menghancurkan mineral dolomit, kemudian baru meneteskannya. Hal ini disebabkan luas permukaan dari dolomit akan lebih luas, sehingga reaksi akan sangat mudah diamati. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan menetesi karbonat dengan HCl hangat.

Batuan lain yang bereaksi dengan HCl
Kalsit sangat umum dijumpai di batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Karena keterdapatannya yang melimpah, baik sebagai bentukan primer maupun alterasi, kita bisa menjumpai reaksi di atas tidak hanya di batuan sedimen karbonat.

Sebagai contoh, batuan sedimen seperti batupasir (sandstone), batulanau (siltstone) maupun konglomerat, sering mengandung kalsit sebagai semen, sehingga reaksi nge"joss" sangat lazim dijumpai. Saya ambil contoh batuan beku yang sudah teralterasi oleh karbonat, sehingga jangan kaget kalau ada batuan beku yang tiba-tiba bereaksi jika ditetesi dengan HCl.
Pengamatan mikroskopis dari basalt yang telah lapuk lapuk, tampak fenokris dari plagioklas (habit meniang) dan kalsit (gambar kanan, warna interferensi cokelat-merah-hijau) di pengamatan.

Mendaki di Dolomiten
Kalau ditanya, mana lokasi favorit dari pegunungan dolomit (sering juga disebut dolomiten), saya akan menyarankan:
1. Drei Zinnen,
2. Tre Cime atau
3. Three Pinnacles.
Kalau disuruh memilih, saya pilih ketiganya, karena ketiga nama tersebut sama, hehehe. Yang pertama bahasa Jerman, kedua bahasa Italia, yang terakhir bahasa Italia. Drei Zinnen berbentuk seperti candi prambanan dari sisi Utara dan di dekatnya, terdapat Alpin hütte (dibaca huette), yang merupakan rumah tempat pendaki biasanya bermalam (shelter). Hütte ini bernama Drei Zinnenhütte - Rifugio Antonio Locatelli. Hütte ini didirikan tahun 1935 dan masih berdiri hingga sekarang. Tapi di bagian dalam shelter, saya lihat hütte semi permanen sudah ada sejak tahun 1883.  Wow...

Apa isi hütte?
Selain pendaki bisa menginap, umumnya kita bisa memesan makanan atau minuman untuk dimakan, sehingga sangat jarang pendaki membawa peralatan masak sendiri. Umumnya, beberapa gunung di Alpen melarang untuk menyalakan api untuk menghindari kebakaran. Untuk masak, umumnya alpinist menggunakan fasilitas hütte, sehingga tas yang mereka bawa akan jauh lebih ringan.  Hal ini baru saya pahami setelah mendaki beberapa gunung di Alpen. Trangia yang saya punya akhirnya lebih banyak mangkrak, sehingga ketika sudah sampai mendekati puncak atau sampai di puncak dan lapar, biasanya sudah ada hütte, sehingga tinggal memesan telor goreng dan kentang rebus, plus cokelat panas.

Drei Zinnen Hütte ini adalah hütte paling ramai yang saya datangi. Hütte ini hanya dibuka pada saat musim panas dan tutup saat musim panas. Di dalam hütte ini, terdapat 40 kasur dan hampir 100 matras, sehingga pendaki hanya perlu membawa sleeping bag saja. Untuk anggota komunitas Alpen Verein, akan disediakan diskon 50%. Keunggulan menjadi anggota komunitas Alpen Verein adalah asuransi ketika terjadi kecelakaan. Penting kah? Menurut saya, kalau kita banyak beraktivitas di gunung, maka menjadi member sangat dianjurkan, karena selain diskon, ada fasilitas helikopter darurat jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagai gambaran, jika kita terjebak dalam kondisi kritis dan terpaksa harus dievakuasi dengan helikopter, padahal kita tidak menjadi member Alpen Verein, maka kita harus membayar helikopter tersebut.

Pendakian menuju Drei Zinnen bisa dilakukan dalam beberapa trek. Saya mengambil trek perjalanan 3,5 jam dengan kenaikan elevasi sekitar 1000 meter. Jika tidak terbiasa dengan berjalan jauh, ada trek lain menuju Drei Zinnen dengan kenaikan elevasi hanya 240 meter. Bagaimana cara memilihnya? Disediakan web untuk semua lokasi alpen di bergfex.at . Saya personal sangat terbantu dengan web ini, karena selain bisa mendownload trek untuk gps, saya juga bisa melihat cuaca via webcam secara live.

Mendaki bersama anak 
Alhamdulillah, ketika umur saya bertambah (sebenarnya berkurang) tanggal 17 Juli lalu, saya, Vidya dan Aqila bisa mencapai Drei Zinnen dalam 5 jam. Sampai disana, saya langsung memesan nudelsuppe (sup mie, padahal isinya seperti makaroni) dan sphagetti. Saya bukan satu-satunya orang tua yang membawa anak kecil. Selama pendakian, saya menjumpai 4 orang membawa baby carrier (2 Osprey, 1 Vaude dan 1 Phil & Teds) dan Aqila bukan yang termuda. Anak termuda berumur 1 tahun dan yang paling tua berumur 3 tahun. 

Anak-anak umur di bawah 10 tahun sangat banyak yang diajak oleh orang tuanya mendaki gunung, umumnya mereka sudah bisa memilih jalan sendiri namun tetap dalam pengarahan orang tuanya. Terlepas diskusi panjang baik tidaknya mengajak anak ke gunung, saya hanya memberikan pengalaman mendaki Alpen di bagian Austria dan Italia saja, karena ini yang saya tahu. Saya dan istri berlatih bersama Aqila secara bertahap, karena mendaki bersama anak diperlukan latihan. 10 bulan Aqila bersama saya di sini, lama-kelamaan, anak bisa berkata dan mengungkapkan apa yang dirasakan (lapar, capek, ngantuk, nenen), barulah disitu saya memilih jalur yang pas untuk istri dan anak saya.

Dan tulisan ini saya tutup dengan beberapa foto dari pegunungan dolomit, tetap sehat, tetap semangat, stay save.







 






Share:

Thursday, May 7, 2015

Glittering Hematite in Waldenstein

"The master has failed more times than beginner has ever tried". 

I am still learning to draw a geological cartoon of the deposits than can be easily understand by the peoples. Since I am not a master to draw a geological sketch, this is the best I can imagine, interpret, and draw as a geological sketch
The basic things of this cartoon, is the replacement of the hematite (ferrous) ore body with the marbles, and remobilized, enriched by the iron-rich fluid and metamorphic fluid, and minor meteoric fluids. The chloritisation occur near the ore vein, and pegmatite occur older than the mineralization. The mineralisation tends to be epigenetic, means, the ore deposit mineralised later than the host rock

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Empat hari ini saya beraktivitas di kedalaman 70 meter di bawah permukaan sejak jam 06.30-13.30 di tambang hematit bawah tanah Waldenstein, Karinthia. Saya mengambil kuliah berjudul "Montangeologische aufnahme", atau pemetaan geologi di dalam terowongan. Lokasi nya sekitar 100 km di Selatan kota saya tinggal, Leoben. Kalau saya boleh kupas sedikit sejarahnya, tambang ini ditambang sejak "Roman Empire" (saya pun kurang paham itu berapa tahun Masehi ya,, :D). Tambang ini berlanjut dan ditambang dengan metode "gophering", dengan mengikuti arah kemenerusan dari bijih. Bijih yang ditambang adalah hematite (Fe2O3), yang mempunyai sifat fisik paramagnetik, atau tidak tertarik kuat oleh magnet. Apa itu paramagnetik, diamagnetik, dan ferromagnetik bisa dibaca di artikel ini.


Ini pertama kalinya saya mengunjungi tambang besi bawah tanah, karena yang pernah saya datangi sebelumnya umumnya ditambang dengan metode tambang terbuka yang berdekatan dengan pantai (artikel tambang pasir besi di Indonesia) , atau masih dalam tahap eksplorasi seperti di Merangin, Jambi . Tambang ini dijalankan hanya oleh 25 orang manajemen dan karyawan, dan hanya mempunyai 1 shift operasional tambang, dan kadang 2 hingga 3 shift pengolahan. Kegiatan pengangkutan dan pemuatan mineral dilakukan dengan Bobcat, semacam loader dengan ukuran kecil, yang memuat bijih yang sudah diberaikan (diledakkan) ke dalam lori (kereta kecil di dalam tambang).

Komoditi dari tambang ini adalah "specularite hematite", yaitu varian dari hematite yang mengandung besi, berwarna perak kehitaman, dan mempunyai habit tabular (flakes). Jika kita memegang mineral ini, tangan kita seperti dilumuri "glitter" yang berkilauan. Itu yang terjadi selama 4 hari ini di dalam tambang. Baju kerja dan jaket kerja saya sangat berkilauan jika terkena sinar, dan jika saya kibaskan, maka butiran dari "specularite" itu akan sangat mudah terbang dan menempel di tempat lain.

Hal yang membuat saya kagum, seorang asisten profesor (Pak Heinrich Mali) yang sudah senior mendampingi grup kami selama pemetaan di terowongan selama 4 hari ini, dan mengontrol pemetaan kami, naik turun tiap 1 jam dari 1 kelompok ke kelompok lain. Beliau harus naik turun terowongan melalui ramp (terowongan melingkar) untuk mengecek dan mengulang-mengulang "Fragen?" atau ada pertanyaan. Penjelasan diberikan dalam 2 bahasa, Jerman dan Inggris. Beberapa kali saya ampun-ampunan karena bahasa jerman saya masih belepotan, sehingga banyakan ga ngertinya karena saya satu-satunya penduduk baru yang belum bisa bahasa jerman. Akhirnya, saya harus rajin bertanya supaya tidak menjadi penonton di tengah diskusi dosen dengan mahasiswa. 


 Ini namanya kloritisasi, yaitu proses berubahnya marmer akibat adanya fluida meteorik/ fluida yang kaya akan unsur besi yang masuk melalui rekahan
Hematite (warna merah dan hitam). Specularite yang semula berwarna hitam, akibat tergerus oleh sesar atau kekar menjadi berukuran lebih halus, dan berubah warna menjadi merah  
 Lori untuk mengangkut bijih untuk diremukkan di crusher, kemudian dibawa dengan belt conveyor
Pegmatit dicirikan oleh mineral yang mempunyai ukuran yang kasar, sebagai contoh muskovit (yg ditunjuk bolpoin berukuran cukup besar)
Specularite yang menyebabkan tangan saya mengkilap
Kondisi 70 meter di bawah permukaan. Gelap, dingin, basah
 Persiapan sebelum masuk ke terowongan
Mobil dari kampus untuk membawa mahasiswa ekskursi

Penginapan di atas bukit
Bobcat, loader dengan ukuran yang lebih kecil, tingginya hanya 1,9 meter
Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain







Share:

Friday, April 17, 2015

Buku Wisata Tambang Jawa Barat

Buku ini disusun pada akhir tahun 2013 yang lalu, terlaksana atas dana hibah penelitian LPPM ITB, yang disusun oleh Dr Syafrizal, Dr Ginting Jalu, dan saya. Pada saat itu, motivasi untuk merangkum lokasi wisata tambang dalam sebuah buku, adalah untuk mengenalkan kepada pembaca tentang kondisi geologi dan tambang Jawa Barat, dimana masyarakat selain berwisata, juga dapat mengetahui potensi tambang yang ada di daerah yang dituju.

Dengan berjalannya waktu, saya merasa masih banyak kekurangan, karena tidak semua lokasi wisata dan lokasi geologi dapat dikupas secara mendalam. Lokasi Geopark di Ciletuh, Gunung Padang di Cianjur, dan beberapa lokasi lain belum dapat diulas pada buku ini.  Banyak lokasi lain yang kelak harus bisa masuk ke dalam destinasi wisata tambang di Jawa Barat, karena tatar Sunda ini sangat kaya nya potensi wisata, serta potensi untuk mempelajari secara geologi dan potensi tambangnya. Besar harapan, akan muncul pemahaman di berbagai kalangan, bahwa aspek geologi, aspek pertambangan dan aspek pariwisata dapat berdampingan dengan baik, karena semuanya disinergikan dengan ilmu. Good Mining Practice (kaidah penambangan yang baik dan berwawasan lingkungan) adalah tujuan besar yang harus kita capai, yang harus dimulai sejak sekarang. 

Silahkan download buku ini di link ini, dan lokasi wisata tambang Jawa Barat, sudah pernah saya tulis sebelumnya di blog saya yang berjudul Potensi Wisata Tambang Seputaran Jawa Barat

Selamat bermain body rafting di Cukang Taneuh, Green Canyon, menikmati damainya Situ Cisanti di Pengalengan, sambil menjajal peuyeum atau colenak khas dari Bandung.  








Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain







Share:

Tuesday, April 7, 2015

Galeri Nusantara



Foto ini saya kumpulkan dari perjalanan saya berkeliling di 21 dari total 34 Provinsi yang ada di Indonesia selama 2010-2015. Berbekal kamera Sony TX-10 (sudah rusak) dan Nikon AW-100 (hingga sekarang), saya bagikan beberapa gambaran lokasi-lokasi yang menarik di penjuru Nusantara. Editting foto sebatas brightness dan contrast.

1. Nangroe Aceh Darussalam
Singkapan magnetit skarn- Lhoong, Geunteut

2. Sumatera Utara
Bandara Binaka, Kepulauan Nias
 Danau Toba, Parapat

3. Sumatera Barat
Lubang Batubara Mbah Suro, Sawahlunto

Museum Kereta Api Sawah Lunto

4. Riau
Istana Rokan, Rokan Hulu

Jus Pinang saya yang pertama, dan.... saya ketagihan, Pekanbaru


5. Jambi 
Araucarioxylon, fosil konifer di Geopark Merangin, Kabupaten Tebo


Angkutan kelapa sawit di Sungai Lalang

6. Kepulauan Riau (belum didatangi)
7. Kepulauan Bangka Belitung (belum didatangi)
8. Sumatera Selatan
Bucket Wheel Excavator (BWE), PT Bukit Asam, Tanjung Enim


9. Bengkulu (belum didatangi)
10. Lampung
Lokomotif pengangkut batuan dari tambang bawah tanah, PT Natarang Mining

11. Banten
Menara Suar, Cikoneng, Anyer

12. DKI Jakarta
(paling susah cari gambar, yang ada foto makan gule kambing di warung. Maafkan saya Jakarta)

13. Jawa Barat
Silahkan berkunjung untuk membaca dan mengunduh  Buku Wisata Tambang Jawa Barat (LPPM ITB, 2013) di link ini
Mentari menyeruak di Ranca Upas, Kabupaten Bandung
Bulu Babi, Santolo, Garut
 Situ Cisanti, Bandung
Kebun Teh Pengalengan, Bandung Selatan

14. Jawa Tengah
Tanah kahyangan, Candi Dieng, Wonosobo

15. Jawa Timur
Menuju Cemoro Kandang, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

 
Lautan Pasir, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

 Kawah Ijen, Banyuwangi

16. DI Yogyakarta
Renovasi Prambanan

17. Bali
Gatotkaca gugur oleh Adipati Karna, Badung, Bandara Ngurah Rai

18. Nusa Tenggara Barat
Bongkar muatan, Gili Air
Pantai Kuta, Lombok Selatan

19. Nusa Tenggara Timur (belum pernah dikunjungi)
20. Kalimantan Barat (belum pernah dikunjungi)
21. Kalimantan Timur
Menjelang sore hari di Batu Dinding, Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu
Melawan arus di Riam Udang, Mahakam Ulu

22. Kalimantan Tengah (belum pernah dikunjungi)
23. Kalimantan Selatan
Batubara, abu, debu - Sungai Danau

24. Kalimantan Utara (belum pernah dikunjungi)
25. Sulawesi Utara (belum pernah dikunjungi)
26. Gorontalo (belum pernah dikunjungi)
27. Sulawesi Barat (belum pernah dikunjungi)
28. Sulawesi Tengah (belum pernah dikunjungi)
29. Sulawesi Tenggara (belum pernah dikunjungi)
30. Sulawesi Selatan
Leang-leang, Karst Maros-Bantimurung
31. Maluku Utara
Hijau sedikit biru, Pantai Sulamadaha, Ternate
Danau Tolire dan Gunung Gamalama, Ternate

32. Maluku (belum pernah dikunjungi)
33. Papua
Menembus kabut Hidden Valley, Tembagapura



34. Papua Barat (belum pernah dikunjungi)

Kapan giliranmu?


Klik Gambar di bawah untuk Melihat Artikel Lain



Share:

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari mulai menulis dan bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *