Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Wednesday, June 19, 2013

Belaian Embun Situ Sangkuriang


Bandung, ibukota Provinsi yang dibangun oleh Belanda tidak berdekatan dengan pelabuhan, merupakan sebuah fenomena alam yang indah, karena dikelililingi oleh alam yang sejuk, dan dikelilingi oleh perbukitan dan gunung. Jika kita berdiri di tempat yang cukup tinggi di Bandung, kita dapat melihat adanya Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, Gunung Palasari dan Gunung Bukit Tunggul di sisi Utara, di Bagian Barat terdapat perbukitan kapur Padalarang-Ciatatah-Rajamandala (Gunung Masigit, Pasir Bancana, Pasir Pawon, dll), di bagian Timur terdapat Gunung Manglayang dan Gunung Masigit-Kareumbi, dan di bagian Selatan terdapat Gunung Malabar, Gunung Tilu dan Gunung Patuha. Hampir di tiap lokasi gunung tersebut ditemukan obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi, seperti obyek wisata Tangkuban Perahu di sisi Utara, Goa Pawon di Pasir Pawon-Citatah, Kawah Putih di Gunung Patuha, serta Kawasan Konservasi Kareumbi di Gunung Masigit, Kareumbi. Aduhai, betapa indahnya Bandung ini. Namun kali ini, saya coba membagi sedikit yang saya tahu tentang obyek wisata di sisi Utara Bandung, tentunya dengan sedikit bumbu "geologi", supaya tulisan di blog ini tetap pada jalurnya sebagai blog yang edukatif.

Gunung Bukit Tunggul dari Situ Sangkuriang

Gunung Bukit Tunggul, merupakan salah satu sisa dari letusan Gunung Sunda, dimana gunung ini mempunyai ketinggian 2.208 mdpl. Di kaki sebelah Selatan Bukit Tunggul, terdapat perkebunan kina yang dikelola oleh PTP VIII Bukit Unggul (entah mana yang betul, Bukit Tunggul atau Bukit Unggul). Asal muasal Bukit Tunggul menurut legenda Sangkuriang, berasal dari kayu dari pohon yang tumbuh di bagian Timur, dimana tunggul (pokok pohon, dalam bahasa Sunda), yang menjadi bahan untuk membuat perahu yang disyaratkan oleh Dayang Sumbi (cerita sejarahnya dapat dilihat disini). Bukit Tunggul tersebut, berada di Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, yang menghubungkan antara Lembang dengan Ujungberung. Daerah ini bisa dicapai dari Maribaya-Cibodas-Bukit Tunggul, atau dari Ujungberung-Tanjakan Panjang-Palintang-Palasari-Bukit Tunggul.

Situ sangkuriang

Di Situ Sangkuriang, terdapat mata air yang diperkirakan menjadi sumber dari Sungai Cikapundung, yang mengalir dari Lembang ke Kota Bandung. Jika dilihat secara geologi, mata air merupakan pertemuan antara 2 litologi yang berbeda, dimana air mengalir di antara rekahan-rekahan batuan, atau pada pertemuan antara batuan yang bersifat permeabel (dapat mengalirkan air), dengan yang impermeabel (susah ditembus air). Kalau kita lihat pada peta geologi dan morfologi, Situ Sangkuriang berada tepat di cekungan antara Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Palasari. 


Peta geologi lembar Bandung yang menunjukkan lokasi Bukit Tunggul dan Situ Sangkuriang

Dari peta geologi, Situ Sangkuriang berada di Formasi yang berwarna jingga hingga cokelat dengan kode Qyu, dimana Qyu adalah Hasil Gunung Api Tak Teruraikan yang terdiri dari pasir tufaan, lapili, breksi, aglomerat. Sebagian berasal dari Gunung Tangkuban Perahu dan sebagian berasal dari Gunung Tampomas. Sedangkan di bagian Selatan dari Situ Sangkuriang, formasi ditandai oleh kode Qc dimana, Qc adalah Koluvium, yang terdiri dari reruntuhan pegunungan hasil gunung api tua, berupa bongkah batuan beku antara andesit-basal breksi, batupasir, lempung dan tufa. Adanya kontak antara 2 formasi tersebut memungkinkan adanya air tanah yang keluar, dan mengalir mengisi cekungan, yang oleh warga dibendung, menjadi Situ Sangkuriang dan Curug Batu Sangkur.

Jika dilihat, daerah yang didominasi oleh persawahan dan perkebunan kina tersebut merupakan daerah yang sangat subur, dimana hampir di sepanjang pengamatan saya, tidak ada tanah yang tidak ditanami oleh warga. Pada beberapa titik, saya melihat adanya kenampakan terasering oleh warga yang teratur, yang biasa disebut oleh goweser sebagai jalur circle crop, yang melingkar sepanjang bukit. Tanah yang tebal, merupakan produk dari gunung api purba, sehingga pada daerah tersebut, abu gunung berapi terakumulasi sehingga membentuk lapisan tanah yang subur.

Crop circle di kala hujan 

Crop circle dengan pemandangan Gunung Palasari (di kala cerah) (foto: Yogie Subrata)

Hal lain yang bisa diamati adalah fenomena Sesar Lembang, yang tepat melintasi Gunung Palasari. Sesar yang relatif berarah Barat-Timur ini dapat diamati dengan jelas, jika kita melewati Maribaya-Cibodas, dan kita menengok ke gawir terjal. Adanya gawir tersebut ditunjukkan oleh adanya kontur kasar, yang berubah menjadi halus, dan sangat jelas jika dilihat pada penampakan di citra yang didapat dari google maps.

Sesar lembang yang melintasi Gunung Palasari dan Palintang, yang berarah ke Cibodas, Lembang dari citra Google Maps
Gawir sesar lembang (di jalan antara Maribaya-Cibodas melihat ke arah Selatan)

Nah, ternyata dengan berjalan-jalan, banyak bukan yang bisa dipelajari dari sekitar kita. Memang, alam kita merupakan laboratorium yang tiada habisnya untuk kita amati. Saya datang kemari, ditemani oleh Three Musketeer (Gumi, Firly dan Obi), serta teman-teman dari Bikepacker Indonesia, yang menemani saya bergowes dari Ujungberung sampai pintu masuk PTP Bukit Unggul, namun sayangnya rombongan Three Musketeer tidak bisa ikut saya menikmati Situ Sangkuriang karena harus kembali lagi ke Bandung. Semoga sekelumit cerita yang ngalor ngidul ini bisa memotivasi teman-teman, tidak hanya mengagumi keindahan alam di sekitar kita, namun juga melihatnya dari sisi yang lain.

end.of.paragraph.

GeoEducative Blog
Follow me: @andyyahya
Three Musketeer (dari ki-ka: Gumi, Firly dan Obi)
Warung di Tanjakan Pines

SD Palintang

Membelah Gunung Palasari dari Palintang
Perkampungan warga di kaki Palasari
Berlatarkan Gunung Palasari

Situ Sangkuriang berlatarkan Gunung Bukit Tunggul
Situ Sangkuriang, melihat ke arah Barat
Tanggul buatan untuk membendung Situ Sangkuriang


Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain





Share:

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *