Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Thursday, April 19, 2018

Saya senang, saya tidak sendiri

Hari Kamis jam 9 pagi. Saya pergi menuju ke salah satu agen penukaran uang asing di Jalan Dago. Kebetulan saya masih simpan beberapa lembar dollar Kanada dan satu lembar Euro. Itu uang asing yang tersisa.

"Di atas dua puluh juta atau di bawah, Pak?" tanya petugas keamanan.

Saya menuju ke loket yang antriannya tidak panjang tanpa perlu mengambil antrian. Sesampainya saya di depan loket, saya melihat 2 teman. 1 orang sedang studi doktorat di ITB, beliau adalah dosen di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Beliau sudah selesai mengambil magister di ITB, sekarang beliau melanjutkan lagi studi doktorat. Kawan kedua sedang duduk, dia masih mengingat-ingat karena agak lupa dengan saya. Setelah menyerahkan uang ke loket, saya salami teman saya yang pertama.

"Dari mana dan mau kemana, Pak?" tanya saya.
"Saya dari kampus, long weekend ini saya ke Shanghai, bersama dosen lain dan tata usaha."
"Wah, mantap. Enjoy, Pak." Komunikasi saya dengan beliau tidak lama karena beliau sepertinya terburu-buru.

Saya menghampiri teman saya yang kedua. Dia sudah menempuh studi Magister dan Doktorat nya di Jerman. Saya kenal dengan dia karena dia datang ke Austria untuk mencari kesempatan post-doc. Hampir setengah tahun dia tinggal di Austria.

"Ketemu disini kita, Kang! Sudah berapa lama di Bandung?" saya menyapa beliau. Beliau adalah lulusan dari TU Berlin, Jerman di bidang ekonomi. Beliau sempat mengisi materi pengajian , karena ilmu agamanya lebih dalam dibanding saya dan teman-teman lainnya.  
"Baru seminggu disini. Ini lagi nukarkan sisa Euro, buat ditukar ke Dollar Australia" jawab dia ramah
"Sama, saya juga nukar. Sekarang jaman susah. Lho, mau ke Australia?"
"Iya, saya dapat penawaran post-doc di Adelaide. Sedih memang ninggalkan Eropa. Saya dapat tawaran di Swiss, pajaknya tinggi banget. Aplikasi saya di Austria, Jerman, Belanda, Perancis, UK, semuanya gagal."

Saya berpikir, perjuangan dia mendapatkan post-doc panjang sekali. Seingat saya, dia sudah tinggal lebih dari 5 tahun di Jerman, sehingga dia sudah ditawari untuk mempunyai visa khusus.

"Kapan berangkat ke Adelaide? Baru aja Senin kemarin saya video conference juga dengan Professor di Adelaide!"ujar saya.
"Serius? Hahaha, bisa gini ya. Saya cari post-doc di Eropa ga dapat-dapat. Di Adelaide, kurang dari 2 minggu saya langsung dapat posisi itu disana. Terus sekarang Andy kerja dimana?"tanya dia.
"Saya masih di kampus, Kang, lagi nulis paper sisa penelitian yang lalu. Karena sekarang belum ada lowongan PNS buka, ya sementara nebeng bantu-bantu di lab. Lumayan banyak waktu luangnya."
"Oh gitu ya. Mantap lah kalau sudah ada cantolannya. Saya ditawarin di Unpad, tapi belum saya ambil. InsyaAllah bulan Juli ini saya lanjut post-doc di Adelaide."
"Mantap, Kang. Kalau di kampus saya juga belum ngajar. Karena belum banyak yang dikerjakan, saya kepikiran buat nyopir on-line, " saya nyeletuk.
"Lah, mau nyopir juga? Saya habis pulang minggu kemarin dari Wina, ini juga bawa mobil, ngejalanin Uber."
"Hahaha, kalau saya belum punya mobil, adanya cuma motor. Tapi belum sempat daftar juga, mau nulis buku aja lah sambil nunggu hasil wawancara dan bukaan PNS."

Kami berdua sama-sama ketawa ngakak di tempat penukaran uang. Ternyata pikiran kami berdua sama. Apapun pekerjaannya dan selama itu halal, kenapa harus malu? 

"Semoga sukses di Adelaide, Kang. Kalau saya kontak, berarti seleksi saya lolos" sambil saya bersalaman dengan dia.
"Tschuss, Viel Spaß!"
  
Saya senang, saya tidak sendiri. 
Acara perpisahan di apartemen saya di Leoben ketika saya akan pulang ke Indonesia, akhir Januari 2018. Kawan yang saya ceritakan disini, Doktor yang menjadi sopir ojek online, ada di foto tersebut.

Disclaimer:
Alhamdulillah kemarin, saya mendapatkan beberapa kerjaan berbeda dalam satu hari, cukup lah untuk hidup sederhana di Bandung, sambil istri menunggu panggilan untuk bekerja lagi. Saya sempat terkejut, gaji pertama yang saya terima selepas saya pulang dari Austria, ternyata masih di bawah UMR kota Bandung. Saya harus bersyukur, ternyata banyak lulusan doktor di jurusan lain (di ITB juga) yang tidak mendapatkan gaji setelah dia lulus, selama dia menunggu menjadi pegawai ITB. Dan uang yang saya terima pagi ini dari kasir penukaran uang pagi ini, itulah celengan yang tersisa selama 3 tahun di LN. Saya masih bersyukur, banyak teman saya yang lebih minus sekembali dari berkuliah di LN. InsyaAllah uang ini masih cukup untuk saya sekeluarga hingga menunggu gaji (dan semoga ada penghasilan di luar gaji, amiiiin) bulan depan.

Saya sadar, kuliah tinggi-tinggi bukanlah untuk menjadi kaya, dan ijazah hanyalah tanda sudah pernah sekolah. Kita hanyalah makhluk Allah, yang harus memberi manfaat untuk sesama. Urusan rezeki, itu rahasia Allah. Selama kita berusaha di jalan yang halal, akan selalu ada jalan.
Share:

Sunday, April 8, 2018

Taman Bumi Pelabuhan Ratu and Ciletuh

Ciletuh dapat ditempuh sekitar 7-8 jam dari Jakarta atau Bandung dengan menggunakan mobil. Kota terdekat dari lokasi ini adalah Sukabumi. Di taman bumi (Geopark) ini, kita bisa mengunjungi berbagai macam obyek, antara lain air terjun, pantai yang indah, lokasi pandang, dan tentu saja, belajar geologinya. 

1. Pantai loji (bijih besi)
Jika kita berangkat dari Sukabumi, kita akan menjumpai simpang tiga (pertigaan) sebelum mencapai Pelabuhan Ratu. Ambil sisi kiri, yang akan mengarahkan kita ke Pantai Ciawitali- Loji. Setelah 4 km, akan ada persimpangan yang ditandai dengan patung ikan dan ombak. Penting! Ambil jalan ke kanan bawah yang akan mengarahkan kita ke pantai Loji dan taman bumi Ciletuh. 

Di tepi pantai, kita bisa melihat PLTU Pelabuhan Ratu, yang mempunyai kapasitas 3x350 MW. Pantai Loji, berlokasi di sebelah Selatan PLTU ini. Di Pantai Loji, kita bisa melihat pantai yang berukuran hitam, yang mengandung banyak mineral pembawa bijih besi, seperti magnetit, ilmenit dan beberapa mineral aksesoris yang lain (mis. zirkon, rutil). Ketika kita menggali lebih dalam, kita bisa melihat lapisan yang lebih hitam, yang mengindikasikan lapisan yang mengandung kadar besi yang lebih tinggi dibanding di permukaan. 

Pasir Besi adalah endapan pasir yang mengandung partikel bijih besi (magnetit), yang terdapat di sepanjang pantai, terbentuk karena proses penghancuran oleh cuaca, air permukaan dan gelombang terhadap batuan asal yang mengandung mineral besi seperti magnetit, ilmenit, oksida besi, kemudian terakumulasi serta tercuci oleh gelombang air laut. Pasir ini juga berasal dari erupsi gunung api atau berasal dari pelapukan batuan beku yang tertransport hingga pesisir pantai. Lapisan yang bergradasi menunjukkan adanya proses sedimentasi secara bertahap, yang terus berlangsung hingga sekarang.

Kalau kita melihat peta geologi regional (lihat gambar di bawah), kita bisa melihat beberapa formasi pembawa besi umum dijumpai, misalkan dari Citanglar (Surade) dan Cimangkok (Sukalarang, Sukabumi). Pasir ini tertransport melalui sungai yang mengarah ke pesisir laut.
Peta geologi Jampang dan Balekambang (digambar oleh dari Sukamto, 1975. versi pdf tersedia disini)

2. Hotel Cipunaga (breksi)
Dari Pantai Loji, kita lanjutkan perjalanan menuju Hotel Cipunaga. Disini kita bisa menjumpai singkapan breksi volkanik yang berkontak dengan lava yang terletak persis di pinggir pantai. Batu ini adalah termasuk batuan penyusun Formasi Jampang. Formasi ini tersusun atas: 
(i) breksi volkanik, 
(ii) anggota Cikarang terdiri dari tufa dan tufa lapili berselingan dengan tufa berbatuapung, batupasir berbatuapung, tufa gampingan, batulempung tufaan, batupasir gampingan, napal tufaan, breksi, batugamping.
(iii) aliran andesit dan basal, sebagian membreksi dan ditemukan basal bantal dari anggota Ciseureuh. 
Breksi volkanik di Cipunaga
Breksi dan lava dari Formasi Jampang

3. Puncak Darma/ Pasir Muncang/ Puncak Kemiri
Walaupun penyebutan namanya berbeda-beda, lokasi ini populer dengan nama Puncak Darma. Lokasi ini tempat yang ideal untuk melihat amfiteater Ciletuh, dimana kita bisa melihat dinding dari Formasi Jampang (Miosen Bawah, 23-16 juta tahun yang lalu), lembah di sepanjang teluk Ciletuh yang tersusun dari aluvium dan endapan Formasi Ciletuh. 

Nama Puncak Darma dipopulerkan oleh Direktur CV Darma Guna yang bernama H. Opan Sopardi (alm). Di tahun 2004, pembangunan jalan menuju daerah ini dilakukan oleh kontraktor tersebut. 
 Ciletuh amphiteater dari Puncak Darma
Teluk Ciletuh (Ci atau cai= air, letuh=kotor). Air yang berwarna kecokelatan ini berasal dari sungai Ciletuh dan sungai Cimarinjung
Amphiteater Ciletuh dilihat dari arah Barat 
Citra google earth di overlay dengan peta geologi regional
Coret-coretan saya
4. Curug Cimarinjung
Air terjun Cimarinjung, terletak di Desa Ciemas, tidak jauh dari Puncak Darma. Kita cukup menuruni bukit dengan kendaraan (atau berjalan kaki), dan kita akan menjumpai 2 buah curug yang dipisahkan oleh jembatan Cimarinjung. Air terjun di sisi kiri jembatan bisa dikunjungi dengan gratis dan tidak perlu membayar biaya parkir. Kalau kita melanjutkan rute ke Curug Cimarinjung yang kedua, maka kita dipungut restribusi untuk parkir dan dana kebersihan (sukarela). Air sungai Cimarinjung sangat deras dan airnya berwarna kecokelatan. Air sungai mengalir di sepanjang batuan yang mudah tererosi, sehingga airnya yang deras mengerosi bagian bawah dan samping sungai. Hal ini mengakibatkan air sungai menjadi keruh, terutama pada musim hujan. Kalau kita melihat peta geologinya, air sungai CIletuh berasal dari hulu yang banyak mengandung endapan pasir besi (endapan besi Citanglar).  
Curug Cimarinjung yang terletak di sisi Kiri Jembatan Cimarinjung (jika perjalanan dimulai dari Puncak Darma)
 
Curug Cimarinjung dilihat dari etage atas
Curug Cimarinjung dilihat dari etage lebih rendah


5. Curug Sodong-Ngelai-Cikaret-Cikanteh
Curug di atas berlokasi agak jauh dari Curug Cimarinjung (+- 30 menit dengan kendaraan bermotor). Batuan dasar dari air terjun di atas sama seperti batuan dari Curug Cimarinjung, yaitu batupasir tufaan dan breksi dari Formasi Jampang anggota Cikarang. Air yang mengisi air terjun berasal dari Sungai Cikanteh. Curug Sodong disebut juga sebagai Curug Kembar  karena aliran airnya bercabang menjadi dua. Tidak jauh dari Curug Sodong, kita bisa mendatangi Curug Ngelai, Curug Ciateul dan Curug Cikanteh. Saya beruntung bisa mendapatkan dua buah pelangi di kedua air terjun tersebut. 

Saya jadi ingat dongeng berbahasa Jerman tentang pelangi. "Der Leprechaun und das Gold am Ende des Regenbogens". Artinya, di ujung pelangi akan muncul kurcaci dan satu panci penuh berisi emas. 

Sayang, itu cuma dongeng. 
 Curug Sodong
Curug Cikanteh 
Curug Cikanteh
Curug Ngelai. Curug ini mempunyai aliran yang sangat tinggi dan menjulur seperti lidah (ngelai dalam bahasa Sunda)
Matahari tenggelam di tepi Teluk Ciletuh
Di Puncak Darma, Taman bumi Ciletuh
Saya dan dosen saya, Pak Komang

Artikel lain tentang potensi sumber daya alam Sukabumi bisa dibaca di halaman ini . Artikel tentang Geopark Merangin pernah saya tulis di halaman ini. Selamat membaca!

Behind the scene
Tulisan ini ditulis dalam 1 minggu, karena inspirasi yang ga kunjung datang. 
Share:

Friday, January 5, 2018

Pirit, emas dan sejarah Kanada

Gold, gospel, glory

Tiga kata ini sering kita dengar untuk menggambarkan ekspedisi berbagai negara di Eropa di abad ke-16. Gold menggambarkan kekayaan (penguasaan sumber daya alam, misal rempah-rempah), gospel menggambarkan misi suci untuk menyebarkan agama, sedangkan glory artinya kejayaan. Ekspedisi beberapa negara Eropa tidak hanya menuju ke Timur (benua Asia), namun juga ke arah Barat (benua Amerika). 

Pada periode tersebut, kerajaan Spanyol sudah mengirimkan banyak emas yang didapat dari daerah kekuasaan mereka di benua di Amerika (Mexico, Peru) membuat iri Inggris dan Perancis. Kedua negara tersebut akhirnya berencana untuk melaukan ekspedisi yang sama secara sendiri-sendiri. Idenya cukup masuk akal, kalau Spanyol bisa mendapatkan emas di daerah jajahan yang baru, maka kedua negara tersebut pasti juga bisa mendapatkan sumber emas yang sama.

Alkisah seorang eksplorer bernama Jacques Cartier, berangkat dari Perancis menuju ke Barat. Cartier yang ditugasi oleh raja Perancis pertama kali menemukan delta dan pulau, yang ternyata adalah delta dari sungai St Lawrence, dan pulau yang kini dinamakan "Newfoundland". Sekembali dari pelayaran pertamanya, Cartier bercerita pada raja Perancis, bahwa dia menemukan dataran Asia, padahal sebenarnya yang dia temukan adalah Kanada.

Setahun berselang, Cartier melakukan pelayaran kembali lagi untuk meneruskan ekspedisi. Karena pada pelayaran pertama Cartier hanya mencapai delta sungai St Lawrence, kali ini Cartier masuk lebih jauh masuk menjelajahi bagian hulu dari St Lawrence. Singkat cerita, Cartier bertemu dengan seorang pemimpin suku bernama Donnacuna. Donnacuna bercerita bahwa dia mengetahui daerah yang kaya akan emas, rubi dan intan. Cartier senang mendengar cerita tersebut, dan mengajak Donnacuna ikut ke Perancis untuk menceritakan hal ini langsung ke raja Perancis.

Kesuksesan Cartier berbuah pada pelayaran ketiga kalinya untuk menelusuri sungai St Lawrence lebih jauh. Cartier juga membuat pemukiman dan benteng untuk menandai daerah kekuasaan Perancis. Di saat itu, Cartier dan awak nya menemukan mineral berwarna kuning yang mengkilat, serta mineral transparan yang tampak berkilauan. Cartier yakin bahwa dia telah menemukan daerah yang dimaksud oleh Donnacuna sebagai lahan emas dan intan. Mereka mengisi seluruh muatan kapal dengan kedua mineral tersebut dan membawanya ke Perancis. 

Patung Jacques Cartier di kota Quebec

Ternyata kedua benda tersebut bukanlah yang dia cari. Mineral berwarna kuning yang dia angkut adalah pirit, mineral kedua yang dia angkut adalah kuarsa. Karena kesalahannya itu, ada sebuah idiom dari bahasa Perancis: "faux comme les diamants du Canada" = "As false as Canadian diamonds". Pirit, (FeS2) sering disebut sebagai "fools gold", (emas tipuan?  Saya tidak tahu bahasa Indonesia-nya yang pas), karena kesamaan warnanya dengan emas. Yang membedakan, pirit itu berbentuk isometrik, mempunyai belahan yang sempurna dan tidak mudah tergores, sedangkan emas tidak mempunyai belahan yang jelas dan sangat mudah tergores. Istilah fool's gold dipakai sangat lazim, bahkan oleh band rock dari Inggris, Procol Harum. Dia membuat lagu berjudul "fool's gold". Sayangnya, saya hanya tahu lagu terkenal dari Procol Harum yang berjudul "whiter shade of pale" saja.

Tapi cerita ini belum selesai, hampir 5 abad berlalu, Kanada termasuk dalam 5 besar negara penghasil emas di dunia. Dari 10 perusahaan emas terbesar di dunia, 5 perusahaan adalah perusahaan yang berbasis di Kanada (Goldcorp, Barrick Gold, Agnico Eagle, dst), sisanya berasal dari Amerika Serikat, Australia dan Afrika Selatan. Kalau masih ingat tentang skandal emas di Busang, Bre-X juga perusahaan yang berasal dari Kanada.  

Andai Jacques Cartier datang ke sebuah lembah bernama Val-d'Or (lembah emas) dan sempat dikenalkan tentang mineral dan batuan, mungkin saat itu dia bisa membawa emas ke Perancis. Selain emas, saat ini Kanada adalah pemain besar di komoditi nikel (mayoritas berasal daerah bernama Sudbury, yang terbentuk karena meteor besar yang menghantam bumi yang menyisakan kawah dengan diameter 130 km), cobalt, platinum group mineral (PGM) dan uranium.

Tidak salah memang, untuk mencari emas, kita harus menemukan mineral asosiasinya, salah satunya pirit. Di bawah mikroskop, kedua mineral ini sering kali tertukar. Contohnya seperti ini.


Anhedral gold (bright yellow) grains in pyrite (pale yellow). Enargite (grey) precipitates in pyrite cracks. Picture 1 in PPL, picture 2 in XPL.
Butiran emas dengan tekstur anhedral (kuning cerah) mengisi rekahan pirit (kuning). Enargit (abu-abu) juga mengisi rekahan pirit. Gambar 1 nikol sejajar, gambar 2 nikol silang.
©Andy YA Hakim


Cerita ini pertama kali saya dengar dari Frank (pembimbing disertasi saya) ketika saya menemani dia berkeliling kota Quebec. Saya lebih memahami cerita lengkapnya setelah membaca buku Pyrite: A Natural History of Fool's Gold oleh David Rickard.


Canada berwarna biru, Indonesia berwarna merah
Pirit berukuran lebih dari 5 cm (maaf, ini bukan dari Kanada, tapi dari sebuah deposit kromit di Finlandia)
=====================================================
Caution
Bagian ini adalah resume salah satu kuliah yang saya ambil. Maaf kalau kurang sistematis, karena saya buat berdasarkan slide kuliah dari Frank Melcher. Emas umumnya ditemukan di Kanada dan Amerika Serikat umumnya berasal dari North American (Canadian) shield atau dari Cordillera. Beberapa komoditi lain saya tulis secara sekilas dan memang tidak bermaksud untuk mendetailkannya. 
Section below is only for those who are interested in economic geology topic. I summarized it from what I learnt in class (Regional aspect of economic geology) given by Frank Melcher. 

Major geological unit
a. North American (Canadian) Shield (Precambrian)
b. Appalachian orogeny (Paleozoic)
c. North American cordillera (Mesozoic-cenozoic)
d. North American platform


I drawed  the boundary line based on the decription of Eisbacher (1988)- Geologie der Erde. Band 2: NordamerikaSource of the image is the wikimedia site, adapted from USGS.


A. North American (Canadian) Shield (Precambrian)
From old to young
- Consolidation of Archean nuclei (2,7-2,5 Ga)
- Late Archean to early Proterozoic basic and ultrabasic (2,6 Ga)
- Hudsonian/ Penokean orogeny (1,9-1,75 Ga)
- Paleoproterozoic sediments (e.g. Huronian supergroup)
- Sudbury impact (1,85 Ga)
- Anorogenic orogeny (1,6-1,2 Ga)
- Greenvillian orogeny (1 Ga) 

A. Consolidation of Archean Nuclei Deposit:
- stratiform massive Zn-Cu sulphides (VMS)
--> ore types: massive, laminated, breccia, stringer-type
ex. Abitibi belt : Kidd Creek deposit (hydrothermal black smoker) Kidd Creek is source of indium
- Orogenic gold ex. Ontario (Porcupine district, Hemlo)
- Archean BIF (syn-genetic)
ex. Homestake type (commonly located along the contacts of ultrabasic-basic volcanic rock to sediments)
ex. Algoma type (keypoints: associated with submarine volcanic rock, siderite-hematite BIF, less-extensive than superior type)
- BIF-superior type --> up to 200 m (chemical carbonate sediments)
=iron ranges related with Dulluth gabbro (Cuyuna, stromatolitic), Biwabik Iron Formation
=textures in Superior BIF
==Cherty (oxide facies, shallow water, thick bedded, granular, massive)
==Slaty (carbonate-silicate facies, deep water, thin bedded, non-granular, laminated)
- Ni,Cu (sulphides) --> in komatiite rocks within greenstone belts
- Rare-element pegmatites Sudbury district: Ni up to 50% world production

B. Mineralization in paleoproterozoic (1,9 Hudson orogeny- Churchill province-Transhudson orogen) -massive polymetallic
-uranium/Ag in Great Bear Lake

 C. Sudbury complex (1.85 Ga)
- meteorite impact, almost near to the mantle, resulted in the lake of magma
= stratigraphy from top to the bottom:
a. Post-impact sedimentary rock (top)
b. Suevite (Onaping sediment)
c. Impact-melt layer (granophyre - quartz gabbro - norite)
d. Brecciated crater floor (bottom)
== differentiation of layered complex
== formation of Ni-Cu-PGE mineralization in sublayer and offset dikes

D. Mineralization in Middle Proterozoic clastic sedimentary basin: U, Cu, Ni
= native Cu
= sedimentary U
= thick clastic sediments, basalts and native Cu (Ni-Cu-Co Thompson,Voisey's, Duluth Complex)

E. Anorogenic magmatic province (1.5 - 1.4 Ga)
=Titanium deposits (rutile, ilmenite) in anorthosites

Appalachian-Ouchita orogen, Innuit-Ellesmere Orogen (Arctic), Antler orogen (Rocky mountains)
=Pb/Zn, baryte (VMS, SEDEX)
ex. Brunsswick no.12
=Iron ores
=Asbestos (ophiolites from ultramafic rocks around Quebec, biggest in the world)
=Rare element (Li) pegmatites


B. Appalachian orogeny (Mineralization in the forelands of Paleozoic orogens): 

Pb-Zn (MVT)
=forebulge, basinal brines
=major exploration target: forebulge unconformities, syncollisional faults and strike slip zones
==metal-bearing fluids migrate towards the marginal zones of the orogenic foreland due to hydrostatic and thermal gradients, compaction of fine-grained basin sediments and squeezing-out of basinal brines (by tectonic pressure)
==uptake of hydrocarbons and metal precipitation along permeability, boundaries, mainly in carbonates
==ore minerals: galena, sphalerite (Ag-poor), fluorite, barite, pyrite, marcasite, chalcopyrite, siegenite, bravoite. Carbonate occur as a "pod" for sulphide
==hydrocarbons and coal
==uranium (roll-front and colorado type)

C. Mineralization in the North American Cordillera

- part of the global circum-Pacific belt (Cu,Mo,Au,Ag)
==Deposits in the Lower Precambrian (>2500 Ma) 
ex. Stillwater complex (Montana),
==Deposits in the Middle and Upper Proterozoic (1500-600 Ma)
ex. SEDEX
-PGE, chromite, layered ultramafic-mafic intrusion (44 km strike length), 2.7 Ga
==Deposits in the Paleozoic (Cambrian to Carboniferous)
ex. Red Dog (Alaska)
==Deposits in the Mesozoic
ex. Stratiform VMS in volcanic rocks, porphyry copper deposits, Juneau
ex. Orogenic: Juneau, Klondike
==Upper Paleogene to recent
ex. Bingham (Utah), Climax (Colorado), epithermal vein-type Au-Ag ores

Deposit
==Disseminated Cu/Mo-porphyry (by products: Au,Ag,Pb,Zn,Mn,Fe,Mo)
==Epithermal Au-Ag
==Carlin deposit (polycyclic)

==Massive and banded VHMS (Cu-Pb-Zn) (ex: Red Dog, Selwyn)



Share:

Friday, December 29, 2017

Laporan Tahunan 2017

Judul ini saya pilih setelah saya nanya ke istri saya tentang judul tulisan yang pas buat akhir tahun. Vidya nyeletuk "Laporan tahunan 2017". Walupun kedengarannya seperti laporan tahunan koperasi, saya setuju sama idenya. 

Tulisan ini hanya refleksi saya dan keluarga saya. Anggap saja ini cerpen. Naik turun, jatuh bangun, dan sabar, itu lah proses pendewasaan kami berdua. 

Januari 2017
Salju turun lebat di Leoben sejak awal bulan Januari. Air di sungai Mur membeku, salju tebal menutupi hampir di seluruh kota. Aqila senang karena punya cukup persediaan salju untuk boneka saljunya.

Di bulan Januari ini kami harus memperpanjang ijin tinggal tahunan kami. Sayangnya paspor Vidya kadaluarsa September, sehingga ijin tinggalnya hanya diperpanjang sampai September tsb. Dampaknya, Vidya harus memperbaharui paspor terlebih dahulu, baru kemudian memperpanjang ijin tinggalnya sekali lagi. Untuk tahun 2017, Vidya harus membayar ijin tinggal 2x120EUR. Cleguk.

Di musim dingin ini juga, saya sudah mulai menulis disertasi dan merevisi konten dari internal reviewer untuk jurnal saya.

Februari 2017
Aqila kami daftarkan di kindergarten (setara play group dan TK), karena di Austria, anak berumur 3 tahun mulai diperbolehkan untuk masuk sekolah. Aqila akan berumur 3 tahun di bulan Agustus ini, namun pendaftarannya sudah dimulai dari 1 semester sebelumnya. Karena penghasilan saya masih di bawah syarat minimum bayar TK, alhamdulillah, sekolah untuk Aqila gratis.

Maret 2017
Saya berangkat ke Hannover, Jerman untuk menghadiri sebuah konferensi disana. Saya mengajak  Vidya dan Aqila ikut, sambil saya pamit ke Profesor saya karena beliau yang akan membayar hotel tempat saya tinggal. Beliau tidak keberatan keluarga saya ikut, dengan catatan transportasi dan konsumsi keluarga saya yang menanggung. Saya langsung mengiyakan.
Tembok Berlin

Sebelum berangkat, Vidya yang sudah terlambat haid beberapa bulan, memutuskan untuk melakukan cek kehamilan. Hasilnya positif, Vidya hamil. Kami senang sekali karena Aqila memang menginginkan adik. Kami berusaha menjaga kesehatan dan gizi karena perjalanan ke Hannover cukup panjang dengan menggunakan kereta malam. 
Aqila, Ezza, Uti

Di sela-sela kami ke Hannover, saya menyempatkan melakukan field trip di beberapa tambang tembaga-galena-sfalerit "kupferschiefer type" di Clausthal dan mengunjungi beberapa lokasi di Berlin. Di Hannover dan Berlin, saya bertemu teman SMP (Ezza) dan adik kelas (Aceng+Reza) semasa kuliah, senang rasanya bisa bertemu teman yang lama tidak berjumpa.
Aceng, Aqila, saya, Reza

Sepulang kami dari Hannover ke Leoben, kami pergi ke dokter kandungan (akhir Maret). Karena dokter kandungan melihat ada yang aneh dari kandungan tersebut, beliau meminta untuk datang beberapa minggu lagi. 

Bulan ini Vidya merayakan ulang tahun, saya pikir ini adalah hadiah yang pas. Kami sekeluarga makan di rumah makan all you can eat, sambil memikirkan nama yang pas, baik kalau laki-laki atau perempuan. Saya mulai mencari-cari nama gunung, nama mineral, belum ada yang pas.

Di tengah bulan Maret, Vidya datang ke dokter kandungan sekali lagi. Karena saat itu saya berhalangan, dia datang sendirian ke dokter kandungan. Setelah kunjungan, Vidya menelepon saya sambil menangis, dia bilang kalau dia dirujuk ke rumah sakit dan dokter meminta saya untuk mendampinginya ke rumah sakit. Vidya bilang dokter kandungan tidak bercerita apa-apa dan hanya memberikan secarik kertas, tertulis Gestörte Frühgravidität . Saya coba cari di google sebelum saya mendampingi ke rumah sakit, saya menjadi tambah bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampai di rumah sakit, kami mengantri, saya menemani Vidya untuk USG, sedangkan Aqila kami titipkan ke teman kami (Ghadeer dan Fahim) yang ikut mendampingi di rumah sakit. Perawat dan dokter tidak bercerita banyak ketika melakukan tindakan medis. Selepas itu, saya baru sadar, ternyata kami harus merelakan anak kedua yang kami tunggu karena janin tersebut tidak berkembang di dalam kandungan Vidya. Tidak ada cara lain selain menggugurkan kandungannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Setelah tindakan medis itu, dokter menjelaskan kepada kami, banyak hal yang terjadi di luar kemampuan manusia. Vidya harus minum beberapa obat untuk menggugurkan kandungan tersebut. Kami terpukul, tapi kami harus berbesar hati menerimanya. Bukan rezeki kami saat ini

Di bulan ini, saya juga mendapat beberapa email dari beberapa proposal yang saya kirim. Email dari SGA (Society of Geology Apllied for Mineral Deposits) menyatakan ucapan selamat karena travel grant saya ke Kanada di approve, sedangkan email lain dari SEG (Society of Economic Geology) tentang permohonan maaf karena proposal riset saya tidak bisa didanai oleh mereka. 3 kali saya apply beasiswa dari SEG dari tahun 2015-2017, semuanya gagal.
Galena-sfalerit dari kupferschiefer

April 2017
Di bulan April ini, tiap dua minggu sekali saya menemani Vidya kontrol ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Hormon kehamilan harus tetap dikontrol hingga hormon tersebut hilang. Di bulan April ini, ternyata hormon kehamilannya hasilnya masih positif. Dia harus minum beberapa obat, sebagai penahan rasa sakit saat terjadi peluruhan. Dia bilang sakitnya melebihi orang haid biasa. Saya cuma bisa menemani dia, karena dia membutuhkan support saya sebagai suami.  

Saya juga tetap membagi waktu dengan tetap fokus dengan disertasi. Ketika dia sudah mulai sehat, saya ajak Vidya, Aqila dan beberapa teman untuk light hiking dan bersepeda di sekitar Leoben, supaya Vidya juga tetap senang karena banyak teman yang ada di sekitarnya. 
Di minggu terakhir bulan April, saya bersama rekan kerja di kantor bepergian bersama di bagian Barat Daya dari Jerman, di sekitar Trier dan sekitarnya. Profesor saya (Frank) yang menghabiskan masa kecilnya di Trier dan bersebelahan dengan rumah Mbah nya ilmu marxisme, Karl Marx, mengajak kami berkeliling di Trier, menyusuri sungai Mosel, ekskursi geologi di "Maar" dan beberapa gunung di Eifel, serta yang berkesan buat saya, isi bensin mobil di Luksemburg karena harga bensin lebih murah dibanding di Jerman.
Landshut castle

Mei 2017
Beberapa bulan Vidya minum beberapa obat dari dokter, efek yang dia dapat masih terasa hingga beberapa bulan kemudian. Hormon kehamilannya masih ada, sehingga dia masih merasa mual dan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah. 

Di bulan Mei ini, adik kelas saya (Obi) mengunjungi saya di Leoben. Jalan-jalan. Di waktu yang berdekatan dengan kedatangan Obi, warga Indonesia di Leoben juga mengadakan kafe internasional, dan beberapa kawan dari Graz juga ikut meramaikan. Setelah selesai dengan kafe internasional, saya mengajak Obi untuk ke Dachstein, gunung tertinggi di provinsi tempat saya tinggal. Disana, saya mengambil waktu untuk membuat sketsa Dachstein. Saya juga mengajak Vidya, namun karena dia merasa belum fit, akhirnya hanya Aqila yang ikut. Kawan lain (Mbak Ossy, Graz) juga ikut bersama kami. Disana, saya sempat membuat video, alhamdulillah itu video pertama kami yang ditayangkan di NET TV.

Juni 2017

Alhamdulillah, kami bersyukur, Vidya tidak perlu di kuret. Hormon kehamilannya sudah negatif, dan Vidya mulai fit. Nikmat sehat itu mahal. Vidya mulai saya ajak berolahraga lagi, bersepeda di luar kota Leoben (20-30 km), dan pelan-pelan saya ajak dia bersepeda lebih jauh lagi. Teman dari Wina (Fajar, Ayu, Rayyan) berkunjung ke Leoben, dan kami mengajak mereka ke danau di Utara kota Leoben, Leopoldsteinersee.

Juli 2017
Bulan ini, gantian saya yang berulang tahun. Cuaca sudah hangat, Vidya dan Aqila dalam kondisi yang fit, dan tepat di hari ulang tahun saya, kami bertiga pergi hiking ke Polster di Eisenerz. Vidya dan Aqila yang fit saya ajak juga bersepeda ke luar kota (30-40 km) di weekend yang lain. Praktis, saya menghindari stress berlebih dengan meluangkan waktu dengan keluarga dan berolahraga. Studi doktorat itu ibarat mengikuti lomba lari marathon (atau bersepeda jarak jauh aja deh, belum pernah ikut marathon soalnya). Tempo harus dijaga stabil, bekerja sewajarnya (40-45 jam seminggu), istirahat yang cukup, supaya tidak loyo ketika harus sprint di akhir.

Polster, Eisenerz




Jurnal saya submit lagi ke Frank dan semua co-author, sepertinya saya harus tetap sabar, perjalanan revisi saya masih panjang ternyata. Disertasi saya sudah mulai terlihat bentuknya, namun ternyata masih banyak salah ketik, grammar, dsb. Saya perbaiki dan baca ulang, saya punya tekad, awal Agustus saya submit.

Di bulan ini, sepeda saya juga sempat dicuri dan hilang (selama 20 menit). Update sekarang (Desember 2017), pencurinya sudah ditemukan dan akan di sidang.
Kraubathersee

Agustus 2017

Saya dan Frank terbang ke Kanada untuk menghadiri konferensi di Quebec City. Saya mendapat travel grant untuk datang kesana, sisa kekurangan tiket dan akomodasi ditalangi oleh Montan. Saya bersyukur karena di Quebec dan Montreal, saya bertemu banyak teman lama dan teman baru dari Bandung (Tomy, Pak Nur, Pak Tom Mulja, Kimpoy, Ardin), teman-teman dari Freiberg, Hannover-Jerman, serta berkenalan dengan beberapa profesional penting (Kingsley Burlinson, Willy-Jones, Anne-Silvie Andre-Mayer). 
Foto milik Aldin Ardian (ki-ka: Tomy, Pras, orang ganteng, Aldin, Kimpoy)

Kingsley adalah ahli inklusi fluida dari Australia dan pesepeda jarak jauh, Willy-Jones adalah profesor di McGill, Kanada yang belum menerima saya menjadi muridnya (pertama bertemu tahun 2011, saya kontak beliau untuk jadi murid PhD tahun 2013), dan Andre-Mayer adalah profesor di Nancy, Perancis yang kala itu membuka lowongan postdoc di bidang yang saya geluti sekarang.

Disertasi saya dibawa oleh Frank ke Quebec City dan dia periksa semua halaman dengan teliti. Beberapa kali saya dapat kuliah dari dia, seperti perbedaan porphyroblast dan porphyroclast, tulisan-tulisan "non-qualified" yang di publish dari data yang jelek, dan cerita dia ketika dia ridak diterima untuk postdoc di ETH Zürich. Saya belajar etik, semangat dari orang yang saya anggap bapak saya selama di Leoben. Di saat saya masih berada di Quebec, Aqila merayakan ulang tahun di bulan ini, kami mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah untuk dia.

September 2017

Saatnya perpanjang izin tinggal di Austria lagi untuk Vidya. Semua dokumen dan persyaratan administrasi (rekening bank) sudah saya submit, berharap tidak ada dokumen yang kurang. Di minggu pertama ini, saya menghabiskan tiga hari untuk konferensi MinPet (mineralogy petrology) di Innsbruck. Kota yang saya nobatkan sebagai kota paling indah di Austria. Di sela-sela konferensi, saya masih sempat kabur untuk menggambar beberapa sketsa kota cantik ini.

Di minggu kedua September, saya harus berangkat ke Lapland, Finlandia dan Swedia di sekitar lingkaran kutub Utara untuk mengikuti ekskursi geologi ekonomi. Kami berkeliling selama 10 hari. Di sana saya sempat melihat aurora borealis dan mengunjungi beberapa tambang (emas, platinum-palladiun, nikel sulfida, kromit, porfiri, IOCG, IOA) dan beberapa singkapan (trondjhemite, batuan tertua di Eropa, Ni-Cu-PGE)  di sekitara lingkaran arktik. Saya belajar banyak setelah mengikuti ekskursi ini. 
Aurora borealis di Gallivare, Swedia (foto milik Tim Steiner)

Selama di Finlandia dan Swedia, Frank masih mengoreksi disertasi saya, dan beberapa puluh halaman diberikannya ke saya untuk saya perbaiki kontennya. Saya langsung memperbaiki disertasi itu, karena saya mengejar supaya bisa lulus Desember ini. Mengapa? Karena kalau saya lewat dari bulan itu, saya tidak mendapatkan perpanjangan beasiswa lagi untuk tahun 2018 (kontrak saya terbatas hanya untuk 3 tahun), sehingga saya harus lulus tepat waktu. Saya tidak mempunyai uang lagi, sehinggga tidak ada opsi lain selain menyelesaikan studi secepat-cepatnya.

Di akhir bulan ketika cuaca masih cerah, kami sekeluarga dan Pak Anda menyempatkan ke Grüner see , dan kalau ditotal-total, Vidya dan Aqila sudah bisa bersepeda lebih dari 60 km an. Saya senang, karena pelan-pelan, Aqila sudah bisa mandiri dan Vidya juga fit. Aqila juga kembali masuk ke kindergarten. 


Oktober 2017

Sehat itu mahal. Ternyata Vidya di vonis heartburn dan GERD (gastro-esofageal reflux disease). Asma nya kambuh, akhirnya Vidya harus banyak bed rest. Stress juga meningkat, disertasi yang sudah diperbaiki di setor lagi ke Frank sebelum disubmit ke penguji. Saya diberikan beberapa alternatif penguji eksternal, akhirnya saya memilih Prof. Werner Paar dari Salzburg sebagai penguji. Pertimbangannya, beliau adalah ore mineralogist (nama beliau diabadikan menjadi mineral "Paarite"), beliau spesialis di bidang eksplorasi dan geologi endapan emas, serta menghabiskan masa tua nya untuk menulis buku tentang atlas mineral bijih untuk endapan epithermal di Argentina. Saya memulai berkenalan dengan Prof Paar (walaupun beliau minta dipanggil Werner), tanggapan beliau sangat positif. Syukur, syukur. 

November 2017

Kepala hampir pecah. Panic at the disco. Fokus, fokus, fokus dengan sidang. Saya bahkan merasa 1 bulan ini cepat berlalu. 

Desember 2017
Akhirnya saya lepas dari rigorosum (sebutan lain untuk sidang doktor). Perlu 1 hari hingga setelah sidang bahwa akhirnya saya lulus juga, saya benar-benar tidak menyangka akhirnya bisa lulus dari kampus tambang ini. 
1 minggu berselang, saya bersama-sama lulusan doktorat dipromosikan oleh Frank ketika Akademische Feier (semacam wisuda untuk mahasiswa master dan doktorat). Frank memberikan testimoni tentang kepribadian saya, apa yang saya lakukan di Leoben dan pencapaian saya selama hampir 3 tahun (2 tahun 10 bulan tepatnya) dalam 90 detik saja (commencement speech). Vidya saat itu mendokumentasikan pidato tsb. Karena pidato promosi dia dalam bahasa Jerman, kurang lebih begini terjemahannya. File asli ada di bawah gambar di bawah.
"Andy adalah insinyur pertambangan dan lulus dari salah satu kampus teknik di Bandung,Indonesia (tidak terekam, baru setelah ini baru masuk dalam video).
Andy berasal dari Indonesia. Dia datang ke Austria bersama keluarga kecilnya dengan beasiswa dari OeAD Austria melalui program dari ASEA UNINET.  

Andy adalah orang yang sangat teroganisir. Dia melewati semua keperluan birokratis di Universitas dan Austria, sangat cekatan dan akseptabel dengan komunitas (kolega) yang berbahasa Jerman. 

Andy orang mempunyai sifat penasaran yang ekstrim. Sebagai contoh, dia mencoba semua alat yg tersedia dalam bidang ilmu kebumian (mineralogi) di universitas ini, dan menulis karya yang sangat bagus untuk menjawab model terbentuknya endapan emas di Sulawesi. Saya berharap bisa melihat tambang itu beroperasi di masa mendatang.

Andy ini juga orang yang sangat unik. Dia mungkin satu-satunya orang Indonesia yang melewati Grossglockner (jalan tol tertinggi di Alpen Austria) dengan sepeda yang sudah berumur sangat tua (audiens tertawa).

Andy adalah orang yang fokus pada tujuan. Ada suatu foto ketika saya dan dia berada di hutan tropis di Sulawesi, dia melompat lurus mengambilkan buah bernama rambutan, yang rasanya seperti leci. Andy adalah orang yang terlahir bukan untuk dahan pohon yang rendah. Berjuanglah terus untuk dahan pohon yang lebih tinggi, Andy. 

Terima kasih, Danke dan Glück auf (salam tambang)
Commencement speech from Prof Frank Melcher to Andy Hakim from andyyahya on Vimeo.

Setelah lulus, saya berikan ucapan terima kasih untuk Frank berupa lukisan sketsa yang digambar oleh teman saya, Kang Ana Mulyana.
Apakah setelah lulus semua permasalahan selesai? Saya akan kembali ke Bandung tahun depan, tapi saya berharap untuk menimba pengalaman di tempat lain dan melanjutkan untuk postdoc. Ini sebatas cita-cita karena banyak hal yang harus kami (saya dan Vidya) pertimbangkan, terutama masalah ekonomi, akses terhadap ilmu agama dan keluarga. Kalau semua pertimbangan itu terpenuhi, mungkin saya akan berangkat. Sejauh ini, banyak pertimbangan lain yang masih saya pikirkan.

Dan, di penghujung akhir tahun, setelah naik turun periode kehidupan, saya mendapatkan surat dari asuransi untuk mengirimkan sejumlah uang karena saya dan Vidya tidak memeriksakan kesehatan anak di antara bulan ke-14 hingga ke 18 di akhir tahun 2015 yang lalu. Lumayan besar, setengah dari beasiswa saya. Apa boleh buat, kami tidak tahu karena belum mendapatkan panduan kesehatan ibu anak (mutter-kind-pass) pada saat itu. Kami  cuma bisa saling menghibur satu sama lain, sambil muter video "mohon bersabaar, ini ujian... mohon bersabaaar, ini ujian". Hidup adalah perjuangan kan?

Ada beberapa yang bertanya, "mau kemana aja nih sebelum pulang ke Indonesia? Tour de Europe?" Kami berdua hanya bisa menjawab "Amin, kalau ada rejekinya. Kalau tour sekarang, bisa-bisa bulan depan kami sekeluarga ga makan (sambil ketawa)."

Selamat tinggal 2017, selamat datang 2018. Cheers.

.

Thank you for reading!

Share:

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *