Saturday, August 13, 2016

Saya dulu lahir dibantu bidan di desa kecil, desa Kepung, Pare, Kediri. Masa kecil saya habiskan di desa di kaki gunung Kelud ini. Sekarang Pare terkenal dengan kampung Inggris, saya yang lahir disana pun belum pernah mampir. Mbah lanang saya dulunya petani, jadi khotib tak tergantikan di "langgar" (surau; bahasa Jawa) pribadi di depan rumah, sedangkan mbah putri dulu dagang di pasar, tiap sore hari menjadi guru ngaji di langgar buat anak kecil dan remaja.

Minggu lalu saya sempat telepon mbah, tombo kangen, sekalian buat obat kangen buyut dengan cicit nya. Saya memanggil mbah putri "emak", mbah lanang saya panggil "bapak." Pesan emak buat cucu tertuanya,saya:
"Le, Aqila diwarai ngaji, iqro'. Arek umur sakmono gampang banget eling e. (Thole-panggilan emak saya ke saya-, Aqila diajari mengaji. Anak umur segitu gampang banget ingatnya)."
"Inggih, Mak'e, niki pun sinau alif ba' ta kaliyan pun tumut sholat bareng (iya Emak, ini sudah belajar alif ba' ta dan ikut sholat).
"Mben sholat tak dungakno Le, Le, ben keluargamu sukses dunyo akhirat (setiap habis sholat tak doakan thole supaya sukses dunia akhirat)."



Gara-gara pesan sederhana sebenarnya, banyak memori masa kecil saya rasanya terulang buat Aqila. Saya yang dibesarkan di lingkungan adat jawa yang kental dan pondok NU (Nahdlatul Ulama- Kediri salah satu basis kuat NU) yang sangat familiar dengan tembang-tembang Jawa. Tembang ini salah satunya diajarkan oleh Sunan Kalijaga untuk mengakulturasi agama dengan lagu-lagu dan adat Jawa.

Secara tidak sadar, pas Aqila nangis karena saya dan istri saya memulai untuk menyapih Aqila yang sudah hampir umur 2 tahun, saya langsung ingat lagu-lagu yang dinyanyikan Emak sebelum saya tidur, ilir ilir dan tombo ati (versi asli yg saya apal panjang banget dibanding versi nya Cak Nun dan Kyai Kanjeng). 

Saya minta istri bersenandung ke Aqila yg merengek. Setengah jam berlalu dan merengeknya mulai kurang, Aqila mulai nyaman dengan sholawat nabi, baru saya gantian nyanyi lagu dari emak saya.


Lir-ilir, lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wis sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten
anyar (Demikian menghijau bagaikan pengantin baru)


Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi (Anak gembala, anak gembala panjatlah

(pohon belimbing itu)
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu)

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir (Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping)
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore (jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore)


Mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane (Mumpung bulan bersinar terang,mumpung banyak waktu luang)
Yo surako… surak iyo… (Ayo bersoraklah dengan sorakan iya)


Makna singkat lagu ini. Lagu ini mengajak seorang muslim untuk bangun dari sifat malas dan menjaga keimanan kita (diibaratkan petani yang mendapati tanaman yang mulai menghijau). Iman itu naik turun, dan untuk menjaganya sulit (diibaratkan memanjat belimbing yang licin. Ada yang bilang belimbing itu simbol solat 5 waktu, karena ada 5 sudut di buah belimbing). . Iman itu ibarat pakaian, bisa terkoyak. Jika pakaian itu rusak, maka harus segera dijahit, selagi kita masih memiliki waktu luang. Oh ya, tadi tentang belimbing, belimbing wuluh yang rasanya asem, jaman dulu dipakai oleh orang-orang untuk mencuci dan menghapus noda di baju

Mengapa tiba-tiba menulis tentang ini? Emak dan Bapak ga bisa saya lupakan perjalanan hidup saya. Beliau salah satu yang menanamkan fondasi agama dari hal paling kecil. Apa yang sudah saya dapat selama hidup ini tidak semata-mata karena kemampuan saya sendiri. Saya yakin, kesuksesan seseorang tidak lepas dari doa orang-orang di sekitarnya, salah satunya orang tua. 

Sudahkah kita menyapa dan berterima kasih kepada orang berjasa disekitar kita? Distance does not separate people, silence does. Ibarat peribahasa, Kacang ora ninggal lanjaranne (kacang panjang tidak pernah meninggalkan akarnya). 
Umi (Ibu) saya sungkem dengan emak bapak

Bapak lagi ceramah 
Foto lebaran tahun 90an



Thursday, July 21, 2016

Cara paling mudah untuk menguji apakah batuan batuan atau mineral yang diamati mengandung karbonat, adalah dengan cara meneteskan asam klorida (HCl), biasa disebut uji asam. Jika batuan karbonat, maka batuan yang sedang diamati akan mengeluarkan buih, kadang-kadang mengeluarkan bunyi ("cessss/ josss"). Namun sebenarnya, tidak semua karbonat akan bereaksi kuat dengan HCl, karena ada beberapa mineral karbonat memberikan reaksi yang lemah terhadap uji asam. Kalsit memang penyusun batuan karbonat yang paling umum dijumpai, namun ada juga mineral yang memberikan reaksi lemah dengan HCl, salah satunya adalah dolomit. Tapi tahukah teman-teman, kalau dolomit juga merupakan nama salah satu pegunungan di Alpen?


The Dolomites adalah rangkaian pegunungan di Utara Italia, berbatasan dengan Austria, merupakan singkapan pegunungan dolomit terluas di dunia. Daerah ini merupakan bagian dari UNESCO World Heritage Site dan juga diabadikan menjadi nama mineral.

Kimia
Seperti saya tulis sebelumnya, dolomit CaMg(CO3)2 adalah satu dari beberapa karbonat yang bereaksi lemah dengan HCl. Magnesit dan siderit juga bereaksi sangat lemah dengan HCl. 

Reaksi yang terjadi antara HCl dan karbonat menghasilkan buih yang kadang berbunyi "jess atau coss", merupakan bukti bahwa sedang terjadi reaksi kimia yang menghasilkan CO2 dan H2O. Ion lain juga terbentuk, seperti ion Ca2+ pada kalsit, atau ion Mg2+ pada magnesit dan Fe2+ pada siderit.
Jika kita meneteskan HCl dingin ke dolomit, maka sangat sulit untuk melihat buih, karena reaksi ini sangat lemah. Sering kali, HCl malah menetes seperti air di permukaan, baru kemudian bereaksi dengan karbonat. Lain hal nya kalau kita menghancurkan mineral dolomit, kemudian baru meneteskannya. Hal ini disebabkan luas permukaan dari dolomit akan lebih luas, sehingga reaksi akan sangat mudah diamati. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan menetesi karbonat dengan HCl hangat.

Batuan lain yang bereaksi dengan HCl
Kalsit sangat umum dijumpai di batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Karena keterdapatannya yang melimpah, baik sebagai bentukan primer maupun alterasi, kita bisa menjumpai reaksi di atas tidak hanya di batuan sedimen karbonat.

Sebagai contoh, batuan sedimen seperti batupasir (sandstone), batulanau (siltstone) maupun konglomerat, sering mengandung kalsit sebagai semen, sehingga reaksi nge"joss" sangat lazim dijumpai. Saya ambil contoh batuan beku yang sudah teralterasi oleh karbonat, sehingga jangan kaget kalau ada batuan beku yang tiba-tiba bereaksi jika ditetesi dengan HCl.
Pengamatan mikroskopis dari basalt yang telah lapuk lapuk, tampak fenokris dari plagioklas (habit meniang) dan kalsit (gambar kanan, warna interferensi cokelat-merah-hijau) di pengamatan.

Mendaki di Dolomiten
Kalau ditanya, mana lokasi favorit dari pegunungan dolomit (sering juga disebut dolomiten), saya akan menyarankan:
1. Drei Zinnen,
2. Tre Cime atau
3. Three Pinnacles.
Kalau disuruh memilih, saya pilih ketiganya, karena ketiga nama tersebut sama, hehehe. Yang pertama bahasa Jerman, kedua bahasa Italia, yang terakhir bahasa Italia. Drei Zinnen berbentuk seperti candi prambanan dari sisi Utara dan di dekatnya, terdapat Alpin hütte (dibaca huette), yang merupakan rumah tempat pendaki biasanya bermalam (shelter). Hütte ini bernama Drei Zinnenhütte - Rifugio Antonio Locatelli. Hütte ini didirikan tahun 1935 dan masih berdiri hingga sekarang. Tapi di bagian dalam shelter, saya lihat hütte semi permanen sudah ada sejak tahun 1883.  Wow...

Apa isi hütte?
Selain pendaki bisa menginap, umumnya kita bisa memesan makanan atau minuman untuk dimakan, sehingga sangat jarang pendaki membawa peralatan masak sendiri. Umumnya, beberapa gunung di Alpen melarang untuk menyalakan api untuk menghindari kebakaran. Untuk masak, umumnya alpinist menggunakan fasilitas hütte, sehingga tas yang mereka bawa akan jauh lebih ringan.  Hal ini baru saya pahami setelah mendaki beberapa gunung di Alpen. Trangia yang saya punya akhirnya lebih banyak mangkrak, sehingga ketika sudah sampai mendekati puncak atau sampai di puncak dan lapar, biasanya sudah ada hütte, sehingga tinggal memesan telor goreng dan kentang rebus, plus cokelat panas.

Drei Zinnen Hütte ini adalah hütte paling ramai yang saya datangi. Hütte ini hanya dibuka pada saat musim panas dan tutup saat musim panas. Di dalam hütte ini, terdapat 40 kasur dan hampir 100 matras, sehingga pendaki hanya perlu membawa sleeping bag saja. Untuk anggota komunitas Alpen Verein, akan disediakan diskon 50%. Keunggulan menjadi anggota komunitas Alpen Verein adalah asuransi ketika terjadi kecelakaan. Penting kah? Menurut saya, kalau kita banyak beraktivitas di gunung, maka menjadi member sangat dianjurkan, karena selain diskon, ada fasilitas helikopter darurat jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagai gambaran, jika kita terjebak dalam kondisi kritis dan terpaksa harus dievakuasi dengan helikopter, padahal kita tidak menjadi member Alpen Verein, maka kita harus membayar helikopter tersebut.

Pendakian menuju Drei Zinnen bisa dilakukan dalam beberapa trek. Saya mengambil trek perjalanan 3,5 jam dengan kenaikan elevasi sekitar 1000 meter. Jika tidak terbiasa dengan berjalan jauh, ada trek lain menuju Drei Zinnen dengan kenaikan elevasi hanya 240 meter. Bagaimana cara memilihnya? Disediakan web untuk semua lokasi alpen di bergfex.at . Saya personal sangat terbantu dengan web ini, karena selain bisa mendownload trek untuk gps, saya juga bisa melihat cuaca via webcam secara live.

Mendaki bersama anak 
Alhamdulillah, ketika umur saya bertambah (sebenarnya berkurang) tanggal 17 Juli lalu, saya, Vidya dan Aqila bisa mencapai Drei Zinnen dalam 5 jam. Sampai disana, saya langsung memesan nudelsuppe (sup mie, padahal isinya seperti makaroni) dan sphagetti. Saya bukan satu-satunya orang tua yang membawa anak kecil. Selama pendakian, saya menjumpai 4 orang membawa baby carrier (2 Osprey, 1 Vaude dan 1 Phil & Teds) dan Aqila bukan yang termuda. Anak termuda berumur 1 tahun dan yang paling tua berumur 3 tahun. 

Anak-anak umur di bawah 10 tahun sangat banyak yang diajak oleh orang tuanya mendaki gunung, umumnya mereka sudah bisa memilih jalan sendiri namun tetap dalam pengarahan orang tuanya. Terlepas diskusi panjang baik tidaknya mengajak anak ke gunung, saya hanya memberikan pengalaman mendaki Alpen di bagian Austria dan Italia saja, karena ini yang saya tahu. Saya dan istri berlatih bersama Aqila secara bertahap, karena mendaki bersama anak diperlukan latihan. 10 bulan Aqila bersama saya di sini, lama-kelamaan, anak bisa berkata dan mengungkapkan apa yang dirasakan (lapar, capek, ngantuk, nenen), barulah disitu saya memilih jalur yang pas untuk istri dan anak saya.

Dan tulisan ini saya tutup dengan beberapa foto dari pegunungan dolomit, tetap sehat, tetap semangat, stay save.







 






Wednesday, July 13, 2016

3 minggu lalu, saya terburu-buru mengejar kereta dari kota sebelah ke kota saya. Perjalanannya tidak jauh, cuma 7 menit dengan kereta. Harga tiketnya juga tidak mahal, 2,80€/orang. Cuma karena saya terburu-terburu karena 1 menit lagi kereta berangkat, saya salah pencet di mesin tiket. Saya beli 3 tiket untuk 2 orang. Di pikiran, saya+istri+anak, total 3 orang, padahal anak di bawah 6 tahun gratis. Saya memencet tombol diskon 50%, karena kami bepergian bersama keluarga.

Sebenarnya diskonnya ga masalah,  karena istri mempunyai kartu diskon tersebut. Yang jadi masalah, ternyata kartu diskon saya ternyata sudah kadaluwarsa, dan baru ingat ketika pak petugas tiket mengecek tiket kami. Sangat jarang petugas tiket melakukan pengecekan, karena naik angkutan transportasi di Austria dan Jerman sifatnya "kejujuran". Ada yang bilang "bisa saja tidak beli tiket, jarang di cek kok." 

Walaupun tiket ada 3 buah, pak petugas tidak mau tahu, padahal kalau dihitung, sebenarnya jumlah yang saya bayar sudah impas. 
yang saya bayar: 3 x 2,80€ x 50% = 4,20 € (kartu diskon keluarga 50%, asalkan bepergian dengan anak, orang tua masing-masing bawa 1 kartu)
seharusnya: 1 x 2,80€ + 1 x 2,80 x 50% = 4,20 € (kartu diskon istri 50%, saya bayar normal)

Walaupun nominalnya sama, ternyata si bapak punya pemikiran lain. Apa yang terjadi? Saya harus membayar denda. Awalnya, saya pikir, saya bayar kekurangannya di tempat. Karena pernah saya jumpai bepergian dengan Railjet (kereta supercepat) beberapa orang yang malah tidak membeli tiket, mereka hanya diturunkan di stasiun berikutnya. Saya jelaskan semua dengan jujur sambil minta maaf karena saya khilaf. Walhasil, si bapak ini ga berubah pikiran sama sekali. Priiiiit.... kamu kena tilang

Dalam kasus saya, saya diberi 2 pilihan, membayar denda di tempat atau membayar denda di bank. Karena memang uang di bank tidak cukup, saya pilih membayar di bank. Dan ternyata itu pilihan yang lebih berat. 

Peraturan dari kereta api seperti ini:
Sollten Sie in Zügen des Nahverkźehrs ohne gültiges Ticket angetroffen werden, fällt eine Kontrollgebühr von 70,- Euro (bei sofortiger Barzahlung) an. Sie erhalten eine Bestätigu- 2€ng mit einer Fahrgeldnachforderungsnummer und auf Wunsch Ihren Daten ausgestellt.
Zahlen Sie nicht umgehend, erhöht sich der Betrag um eine Bearbeitungsgebühr (30,- Euro). In einem solchen Fall werden Ihre Daten erfasst und eine Fahrgeldnachforderung zur späteren Bezahlung ausgestellt. Sie erhalt0@ 576^#!!4n eine Bestätigung mit allen zur Einzahlung notwendigen Angaben (Fahrgeldnachforderungsnummer, Bankdaten, …).
Artinya kurang lebih begini: 
bayar di tempat= 70€, 
bayar di bank setelah turun dari kereta= 70€ + ongkos proses 30€ = 100

Apes bener. Saya baru tahu ketika kereta sudah sampai di tujuan dan tiket denda nya sudah selesai di cetak dari mesin printer yang dibawa di tasnya. Saya diberi waktu 14 hari untuk menyelesaikan pembayaran. Pesan terakhir pak tukang tiket, jangan coba-coba ga bayar, dendanya lebih mahal.

Sesudah saya sampai di stasiun di kota saya, saya langsung ke kantor kereta api dan menanyakan hal ini. Ternyata, kebijakan tukang cek tiket itu berbeda dengan penanggung jawab stasiun. Dia menyarankan untuk membayarnya, kemudian menjelaskan bahwa terjadi kesalahan beli tiket dan bla bla. 

Saya ikuti saran si bapak ini, dengan mencantumkan scan tiket, scan bukti bayar dan kartu diskon saya yang sudah lewat kadaluarsanya. Di email, saya meminta maaf secara tertulis kalau itu bukan karena kesengajaan dan menyesalinya. Waktu sempat punya pikiran jelek, jangan2 yang menilang saya ini rombongan anti orang asing, maklum, partai komunis di sini baru aja kalah pemilu, dengan selisih kurang dari 0,50%. Pikiran jelek saat itu, walaupun partai si kawan itu kalah, tapi kan pendukungnya sebagian dari penduduk Austria. Akhirnya mau ga mau, saya coba lupakan, daripada hidup saya ga tenang karena dihantui pikiran jelek.

Saya bayar denda dan berharap laporan pengaduannya dibalas. Denda itu nominalnya besar sekali buat saya, tapi ga ada pilihan. 3x saya kirim email yang sama, berharap ada balasan. Dan 2 minggu berselang, saya dapat email balasan. Intinya, mereka tetap memberlakukan  praduga tak bersalah dan menerima alasan karena ketidaksengajaan. Alhamdulillah, uang yang sudah saya bayarkan dulu dikembalikan utuh hari ini.

Pesan moral: 
Sistem tiket di Austria dan Jerman memberlakukan kejujuran dari penumpang, pengecekan hanya dilakukan sekali-kali. Ini cukup menjadi pelajaran berharga buat saya sendiri, syukur-syukur buat yang membaca tulisan ini sampai tuntas. Silahkan belajar dari kekhilafan saya, jangan coba-coba cari masalah dengan berlaku tidak jujur. Mending beli tiket dan minta maaf kalau salah, daripada kucing-kucingan sama petugas, hidup jadi lebih ga tenang. 

Pertanyaan iseng:
Tanya: Kalau uang 100 ga dikembalikan sama pihak kereta api (OeBB = Österreichische Bundesbahnen) apa tulisan ini tetap dibuat? 
Jawab: krononlogi ini udah pernah ditulis di tulisan bulan lalu. Ini buat refleksi saya sendiri, syukur-syukur buat yang baca tulisan ini sampai selesai.

Kesimpulan
Ayas ojo mbok seneni maneh, wis kapok iki (saya jangan dimarahi lagi, ini sudah insyaf) 

Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain:
 Sepatu Bally milik kami








Tuesday, June 21, 2016

Kami selalu berupaya, jangan sampai ada harta yang bukan hak kami, kami makan dan menjadi darah daging di kemudian hari. Saya dan istri sudah sepaham tentang hal tersebut, apa yang saya nafkahkan untuk keluarga, sedikit banyak, harus jelas asalnya dari mana, cara mendapatkannya benar serta halal.

Tahun 2015 lalu, kami mengajukan aplikasi tunjangan untuk keluarga, alhamduillah, disetujui. Vidya mendapat bantuan, karena ibu yang tidak bekerja karena mengurus anak berhak mendapatkan bantuan tersebut. Aqila pun mendapat bantuan tiap bulan, seperti semua anak pada umumnya. Karena bantuan tersebut sangat cukup untuk keluarga kami,  kami keluarkan terlebih dahulu kepada yang berhak supaya barokah. Sisanya baru kami pakai untuk keperluan pendidikan dan keperluan lain. Nawaitu 'Alallah.

Setelah beberapa bulan kami pertimbangkan, tunjangan kami pergunakan untuk menyekolahkan Aqila ke taman kanak-kanak. Karena teman bermain seumuran sebaya Aqila tidak banyak, kami berharap Aqila bisa belajar dan bermain dengan kawan barunya. Alhamdulillah, hasilnya kami rasa positif. Aqila jadi lebih mandiri, makannya menjadi lebih banyak, dan banyak belajar dari pedagogin dan teman sebayanya.

Beberapa bulan berselang, ternyata banyak hal baru dan agak mengagetkan kami jumpai. 
1. Asuransi Vidya dan Aqila tiba-tiba berhenti dan tidak diperpanjang sejak Februari hingga saat ini (sekarang pertengahan Juni). Saya cek ke kantor asuransi, saya diminta ke kantor Pajak. Saya minta penjelasan, aplikasi perpanjangan yang sudah saya isi sejak Februari "digantung" sampai bulan Juni. Karena saya rasa ada yang tidak benar, saya konsultasikan ke Profesor saya, dan kami menghadap bersama-sama ke kantor Pajak.

Singkat cerita, kontrak beasiswa saya yang 3 tahun belum bisa membuat mereka yakin bahwa saya berhak mendapat bantuan (kesehatan, tunjangan keluarga). Profesor saya pun juga heran, mengapa prosesnya begitu lama dan berbelit-belit. Otomatis, jika asuransi tidak diperpanjang, maka tunjangan keluarga untuk istri dan anak tidak ada lagi. Hari ini, 27 Juni saya datang lagi berkunjung ke dokter anak untuk mendaftarkan anak saya untuk pemeriksaaan 2 tahun, dan hingga sekarang, belum ada kemajuan proses dari asuransi kami.

2. Kami ketiban sampur, musim dingin yang lalu, rumah yang kami tempati cukup dingin, karena tiap malam, pemanas ruangan dimatikan oleh pemilik rumah. Praktis, kami menggunakan pemanas portable sepanjang malam. Karena sistem isolasi rumah yang tidak baik, rumah mengembun dan akhirnya muncul jamur di sisi dalam rumah, dan saya harus mengecatnya. Padahal, si empunya rumah sempat berkata, bahwa rumah bakal dicat selama kami tinggal, nyatanya, 3 hari saya luangkan di bulan Mei untuk mengecat rumah 30 m2. Astaghfirullah hal 'adzim, sabar.

3. Saya akui, saya salah paham ketika saya harus melaporkan tagihan pajak saya selama di Indonesia. Ternyata ada pemasukan 2 tahun lalu yang belum dilaporkan beberapa tahun lalu ke kantor pajak, yang saya kira sudah dilaporkan oleh tempat saya bekerja. Walhasil, saya mendapat surat untuk mengkonfirmasi hal tersebut, dan ya saya sudah mengoreksi laporan pajak tersebut dan menunggu untuk menyetorkan kekurangan pembayarannya. 

4. Kali ini, ini kekhilafan saya. Kereta yang akan saya tumpangi akan jalan 3 menit lagi, namun saya belum selesai membeli tiket. Saya salah memencet tombol, seharusnya saya memilih tiket reguler untuk perjalanan kereta 7 menit, saya malah membeli tiket 3 dewasa untuk saya dan istri, dan saya memilih tiket diskon untuk keluarga. Dengan tiket diskon, harga menjadi 50%, asal membawa kartu berlangganan. Saya khilaf, kartu saya expired, hanya istri yang membawa kartu tersebut. Sebenarnya saya mempunyai kartu lain yang bisa digunakan, namun karena kartu tersebut tidak ditanyakan oleh pemeriksa tiket, saya kena "penalti". Walhasil, ketika pengecekan tiket, saya harus membayar 25x lipat dari harga yang seharusnya saya bayar dengan tiket reguler. Saya sudah meminta keringanan, namun hingga kini tidak ada jawaban. 

5. Balik lagi ke urusan rumah. Per tengah Juni ini, saya diminta si empunya rumah untuk pindah dengan batas akhir Juli 2016, dengan alasan di dapur, piring basah bakal membuat jamur muncul lagi di rumah ini. Hal lain, konsumsi listrik menjadi meningkat dibanding tahun sebelumnya, dan kami diminta membayar kekurangannya. Sebenarnya ini tidak masalah, karena memang kami berencana pindah di akhir Juli ini. Jadi, kami belum sempat pamitan, sudah diminta untuk pindah.

Rezeki yang tidak diduga datang dari salah satu dosen saya, yang mengirimkan dana SHU untuk pekerjaan yang saya kerjakan, hampir 2 tahun yang lalu. Saya tidak menyangka, rezeki datang dari tempat yang tidak bisa diduga.

Dari cerita di atas, kami pun mengoreksi diri, apa ada kewajiban yang belum kami tunaikan? Itu yang selalu menjadi pertanyaan kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk menitipkan rezeki kami ke Ibu di Wonosobo, semoga ke depannya, jalan kami menjadi lebih lapang.

Istri sempat bercerita. Selama tinggal di Jerman, kehidupan Pak Habibie dan Ibu Ainun juga tidak semudah kebanyakan orang, misalnya untuk membeli sepatu layak saja tidak mampu. Bung Hatta juga hanya menyimpan kenangan sepatu Bally yang tidak bisa terbeli hingga beliau wafat. Mereka berdua mengajarkan kesederhanaan, yang akhirnya dikenang banyak orang hingga kini.

Sekarang, kami lah yang harus belajar kepada dua orang besar tersebut. Kami harus berbesar diri dengan cobaan yang kami jalani. Ini hanya sekelumit  cerita saya dan istri menjalani hidup di negeri orang. Apa yang banyak dilihat orang, hanya gunung es yang kecil. Kami belajar, Allah lah yang memberikan kami kelapangan, kesusahan, nikmat serta cobaan. Kami hanya bisa berdoa, supaya kami sekeluarga selalu sehat, dicukupkan rezeki, serta tetap berada di jalan yang lurus. Innallaha ma'as shobirin.

Leoben, 
Imsak bulan Ramadan malam ke-15


La Tahzan, Yayak dan Vidya

Tuesday, May 31, 2016

UPDATE: 15 Juni (perhitungan dan pemodelan online)

Temperatur homogenisasi, densitas dan perhitungan isokorik H2O-NaCl 
(Homogenization Pressure, Density and Isochore Calculations) H2O-NaCl

Pemodelan Inklusi Fluida
Sistem inklusi fluida

UPDATE: 6 Juni 2016 (lihat referensi)


Di laman ini, saya coba kumpulkan beberapa referensi bermanfaat bagi teman-teman yang ingin belajar tentang inklusi fluida. Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Fluida yang terperangkap bisa berupa fluida, gas (vapor) atau fluida superkritikal, dimana masing-masing akan mempunyai salinitas: bisa berupa air murni (pure water), fluida dengan salinitas tinggi, misal air laut (brine), gas atau gas-fluida, silikat, sulfida maupun karbonat. 
Inklusi fluida di kuarsa dan mineral opak, pirit

Inklusi fluida adalah salah satu analisis yang dilakukan oleh "economic geologist" maupun "petroleum geologist" karena dapat menjelaskan kondisi batuan ketika fluida itu terperangkap.  Dari satu sampel (misal kuarsa, karbonat, feldspar), kita bisa menjumpai ribuan inklusi fluida. Dari ribuan itu, kita harus mencari mana inklusi yang pas untuk dianalisa. Untuk menemukan inklusi, kita menggunakan mikroskop refraksi dan sampel yang digunakan berbeda dengan sampel sayatan tipis. Umumnya, sayatan tipis mempunyai tebal 25-30 mikron, sedangkan sampel inklusi fluida mempunya tebal 100 mikron. Di gambar di atas, saya menggunakan dua buah sumber cahaya, yaitu sinar dari bawah untuk mengamati inklusi fluida dan sinar dari atas untuk mengamati opak. Tidak harus, cuma karena nganggur aja.

Di kampus tempat saya belajar di Leoben, saya bersyukur dibimbing salah satu inklusionis yang terkenal, Ronald Bakker dan juga pembimbing saya, Walter Prochaska. Saya menemukan banyak referensi yang bermanfaat untuk studi inklusi fluida, dan rasanya sayang kalau disimpan sendiri, saya coba tulis biar ga gampang lupa. 

INFORMASI APA YANG DIDAPAT DARI INKLUSI FLUIDA
(1) Komposisi Fluida
• Disajikan dalam hal elemen terlarut spesies (mis aqueous ions, molekul), isotop stabil dan isotop radiogenik
• unit konvensional (fraksi mol): xi

(2) Densitas Fluida
• Inklusi fluida menyediakan satu-satunya densitas paleo-fluid
• unit konvensional: ρ α (1 / V)

(3) kondisi P-T dari fluida saat terperangkap dalam mineral
• Pengukuran temperatur homogenisasi memberikan informasi tentang suhu temperatur formasi batuan
 • Dalam keadaan normal ( "homogenous entrapment"), kondisi dibatasi dengan garis dalam P-T (Isochore), yang berasal dari suhu minimum dan tekanan.
• Dalam keadaan khusus ( "heterogenous entrapment jebakan"), misalnya cairan immiscibility,  formasi batuan dapat ditentukan dari P dan T .
(4) evolusi Temporal
• Perbandingan beberapa generasi inklusi fluida memungkinkan evolusi komposisi fluida, densitas fluida dan kondisi fluida saat terjebak
• Interpretasi tekstur memberikan informasi tentang sejarah deformasi dan P-T-t

Tampak puluhan inklusi di kuarsa. Menentukan inklusi yang sesuai untuk analisis mikrotermometri adalah satu dari beberapa bagian paling melelahkan dari studi inklusi fluida

Inklusi fluida H2O-NaCl dari salah satu sampel disertasi saya

APLIKASI
1. Ore deposit: memahami pembentukan endapan dari segi fisika (temperatur, tekanan) dan kimia (salinitas)
2. Gemologi: membedakan batuan yang terbentuk di alam dengan sintetis. Batuan umumnya mempunyai defek yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop. Inklusi fluida dapat digunakan untuk melacak asal dari batuan tersebut (fingerprinting), sehingga ketika terjadi konflik, maka dapat dengan mudah ditelusuri asal batuannya. 
3. Karakteristik meteorit dan sampel ekstra terestrial
4. Pada stratigrafi dan sedimentasi
5. dan aplikasi lainnya
Perhatikan saat gelembung itu hilang, itu yang ditunggu-tunggu oleh inklusionis. Duduk berjam-jam di depan mikroskop untuk satu sampel bukan hal baru bagi inklusionis

Suhu -56.5 derajat celcius adalah titik leleh dari CO2 padat menjadi CO2 cair

  
Pada sistem inklusi fluida CO2-H2O, akan terbentuk gas hidrat yang disebut "chlathrate", yang akan ikut mencair pada suhu antara 8-15 derajat

REFERENSI
- Buku: 
Fluid Inclusions Analysis and Interpretation (2003) (kumpulan resume dari para inklusionis): 
R Burrus - Petroleum Fluid Inclusions: An Introduction (not available)
R Bakker and P Brown - Modelling in fluid inclusion research
S Salvi and A E Williams-Jones - Bulk analysis in fluid inclusions
R Burrus - Raman spectroscopy of fluid inclusions (not available)

6 Juni 2016
University Jena - Course Resume Fluid Inclusions
LA-ICP MS of single fluid inclusions in quartz

Sepengetahuan saya, hanya beberapa instansi di Indonesia yang memiliki "cooling-heating" stage untuk keperluan studi ini, sehingga belum banyak yang melakukannya secara personal. Apa itu artinya studi inklusi tidak tidak penting? Nein..... riset itu penting. Kalau semua ditakar dengan keuntungan dalam materi, maka kita sendiri yang mengantarkan diri kita ke bangsa yang hanya bisa memakai, namun tidak bisa menciptakan. Tinggal nanti kita berdoa saja, semoga alat ini bisa dimiliki banyak universitas maupun lembaga riset di Indonesia, biar kita makin paham tentang dongeng geologi tentang terbentuknya endapan di Indonesia ini.

Salam dari Alpen yang puuuanas dan tiba-tiba bisa ada petir di atas gunung "jegeeeerrrr"
Kelak saya bakal kangen coretan-coretan seperti ini. Kalau sekarang? Sing sabaaaar.......


Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain




Wednesday, April 6, 2016

Rare Earth Element, yang diterjemahkan menjadi unsur tanah jarang adalah 17 unsur yang menyusun sistem periodik. Unsur ini tersusun atas Scandium (Sc)-Yttrrium (Y) dan 15 unsur lain dari grup lantanida, secara berturut-turut: Lanthanum (La)-Cerium (Ce)-Praseodymium (Pr)-Neodymium (Nd)-Promethium (Pm)-Samarium (Sm)-Europium (Eu)-Gadolinium (Gd)-Terbium (Tb)-Dysprosium (Dy)-Holmium (Ho)-Erbium (Er)-Thulium (Tm)-Ytterbium (Yb)-Lutetium (Lu). Pada tahun 1869, Mendeleev sudah berhasil menghitung masa atom dari unsur La-Ce, yang sebelumnya sudah diklasifikan sebagai logam tanah jarang.

La, Ce, Pr, Nd, Sm dan Eu umum disebut sebagai light REE (LREE), sedangkan sisanya disebut sebagai heavy REE (HREE), berdasarkan kenaikan massa atom pada tabel periodik dari kiri ke kanan. REE mempunyai karakteristik yang spesial karena kesemuanya memiliki kemiripan sifat, dimana seluruh konfigurasi elektron terluarnya sama. Prometium tidak ditemukan dalam batuan karena tidak stabil.

------------------------------------------------------------------------------------------------ (on process)

REE occur as 3-valent ions (REE3+) with the exception of Ce which occurs as Ce4+ and Ce3+ and Eu as Eu2+ and Eu3+. While the 3-valent ions (such as Eu3+) are in general more difficult to incorporate into minerals, Eu2+ can be easily incorporated into plagioclase substituting Ca2+ of the same valence. Eu2+ occurs preferentially in magmas under reducing conditions. The ionic radii of the three-valent REE slightly decrease from Ce3+ (LREE) of ca. 1.02 Å to Lu3+ (HREE) of 0.80 Å. Thus, depending on the available space within a crystal structure, some minerals prefer incorporation of LREE whereas others are also able to build in HREE. 

REE concentrations in rocks are compared to values characteristic of meteorites (values measured are multiplied by factor), which are called chondrite-normalized REE values. If the concentrations of REE in minerals and rocks are measured and chondrite normalized, occasionally a so-called Eu anomaly can be detected. It means that the Eu concentration is much different to the trend displayed by the other REE’s. Eu anomaly is called “negative” if Eu is depleted relative to the other REE’s. Depletion is generally attributed to Eu’s tendency to be incorporated preferably into plagioclase over other minerals. If a magma crystallizes plagioclase, most of the Eu will be incorporated into this mineral. If the rest of the magma gets separated from its plagioclase crystals and subsequently solidifies, the chemical composition of the final rock will display a negative Eu anomaly. 

Eu anomalies can also be modified by fluid-rock interactions due to changes in oxidation state (such as oxygen fugacity of the present fluids) and change in formation conditions (such as increasing temperature) where trivalent Eu3+ is reduced to Eu2+.

SIMPLIFIED MODEL FOR THE EXPLANATION OF EU-ANOMALIES IN THE CONTINENTAL CRUST

1. REE-bearing rock forms magma (no Eu anomaly)
2. Accumulation of plagioclase and formation of anorthosite (positive Eu anomaly in rock)
3 Removal of remaining magma to higher levels of the Earth’s crust. Pegmatite derived from anorthosite is depleted in plagioclase (negative Eu anomaly)
4 Further recrystallization of minerals in the pegmatite distributes the remaining REE preferable into some minerals containing Ca2+.


sumber: http://www.gemresearch.ch/journal/No5/page34.htm



Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain





Wednesday, March 30, 2016

30 Maret, 2012

4 tahun lalu, saya terkagum-kagum dengan sebuah kotak amal (kencleng) yang diedarkan ketika sholat Jumat. Saat itu saya berada di Bangkinang, Riau, untuk survey potensi tambang di beberapa kabupaten disana. 


Kotak amal, yang umumnya terkunci oleh gembok dan mempunyai 1 lubang kecil, tempat uang di lipat sampai kecil, di sini bentuknya jauh berbeda. Di masjid Bangkinang (saya lupa namanya),ibukota Kabupaten Kampar, terdapat 3 buah lubang untuk memasukkan uang, dan kotak dibiarkan tidak terkunci. Kotak itu bertuliskan "yatim,fakir miskin,keperluan masjid". Tiap orang bebas memasukkan uang bagian mana dia ingin memasukkan uang,bisa mengambil kembalian uang,jika dirasa tidak ada uang receh atau perlu kembalian. 



Hal yang masih membuat kagum,betapa kejujuran dijunjung oleh warga disini. Kejujuran bukan tanggung jawab takmir lagi, namun antara kita dan Sang Maha Pencipta. Seseorang bisa saja menukar uang dengan uang,atau bahkan mengambil uang tersebut karena tidak terkunci. Hal yang sulit lo, karena dalam laut bisa diukur, dalam hati siapa yang tahu. Memang benar,di tengah kejujuran yang makin mahal harganya,pelajaran itu sangat berharga,di tengah krisis moral pemimpin. 



Semua orang mendemo kebijakan BBM saat ini dan memasang posisi saling curiga, rakyat tidak percaya dengan pemerintah. (tahun 2012 dulu sedang ramai kenaikan BBM, banyak demo dan akhirnya kenaikan BBM dibatalkan melalui rapat pleno di DPR pada 1 April 2012). Kita sebagai rakyat, berkewajiban untuk memilih pemimpin yang amanah,dan mengawal kepemimpinannya itu, dan selebihnya, kita hanya bisa berikhtiar dengan berdoa. Alangkah indahnya saat kejujuran itu benar-benar di per-tuankan oleh pemimpin-pemimpin kita,tanpa perlu memasang kecurigaan antara suku, agama, organisasi dan semua hal yang kontraproduktif.  


Daripada energi kita habis untuk memikirkan hal yang negatif, mendingan kita perbaiki diri dan menyebarkan pesan yang baik untuk lingkungan kita. Kalau pun orang tidak melakukan suatu dengan jujur, tidak perlu khawatir, gusti Pangeran ora sare, selalu ada reward dan punishment. 

Kejujuran itu mata uang yang berlaku di seluruh dunia dan bukan muncul dengan sendirinya. Semua menjadi mudah kalau dibiasakan. Kalau kita ingin membuat negara kita besar, bebas korupsi, semua urusan lancar tanpa suap, ya mari kita lakukan hal terbaik di bidang kita masing-masing dengan penuh kejujuran. Kalau semua cuma bermimpi, siapa yang bakal merealisasikan. Ya dimulai dari diri sendiri dulu dong, betul?


Bangkinang, Riau, 2012
ditulis dan disunting ulang di Leoben, 2016

Tuesday, March 22, 2016


Freiberg, Jerman. Di kota ini, berdiri sekolah tambang tertua di dunia. Tahun 2015 lalu, TU Freiberg (Technische Universitaet Freiberg) baru saja berulang tahun ke-250. Di kampus ini, cikal bakal salah satu cabang ilmu geologi berawal. Georgius Agricola, bapak geologi ekonomi, menuliskan sebuah buku, De Re Metallica. Buku berisi tentang dasar-dasar ilmu geologi, penambangan dan metalurgi. Di kampus ini, mineralogis yang saya kagumi, Freidrich Mohs juga pernah menimba ilmu. Ini menjadi alasan mengapa undangan untuk menghadiri sebuah konferensi di bidang geologi ekonomi tidak boleh dilewatkan.  Sebagai perbandingan, tahun 2015 yang lalu, sekolah tambang tempat saya belajar sekarang di Austria berumur 175 tahun, dan jurusan Teknik Pertambangan tempat saya belajar di Indonesia tahun lalu berumur berumur 60 tahun. 






Transisi dari Tambang Logam Dasar menjadi Logam Kritikal 
Kota ini bisa berkembang menjadi sekolah tambang karena tidak jauh dari kota ini, terdapat tambang bawah tanah logam dasar (base metal) seperi timbal dan seng, bernama Reiche Zeche. Awal mulanya, mereka menambang bijih galena. Namun, lama kelamaan, mereka mendapatkan galena (PbS) dan seng yang diekstrak dari sfalerit (ZnS), serta mineral ikutan perak seperti freibergit. 
Saat ini, tambang hanya dijalankan di beberapa shaft (sebutan untuk terowongan) saja, tidak lebih dari 5 orang yang menambang disana. Di dalam tambang ini, semua mahasiswa teknik pertambangan wajib melakukan praktikum pengeboran menggunakan jackhammer di salah satu dinding terowongannya. Sama seperti yang dilakukan oleh teman-teman yang mendalami opsi Tambang Umum di ITB, bedanya di Indonesia mengebor batu marmer, sedangkan di Freiberg mereka mengebor batuan yang lebih keras, gneiss.  

Gneiss merupakan salah satu batuan yang sangat keras. Di era 1800-an, penambang menggunakan palu dan pasak (bukan beliung) untuk melubangi tambang. Karena batuan disini sangat keras dan mempunyai kemampuan untuk menyangka kestabilan ketika dilakukan ekskavasi, hampir semua lubang tidak perlu diperkuat dan diberikan penyanggaan. Hanya beberapa bagian yang menjadi jalur akses utama diberi penyanggaan dengan jaring-jaring maupun shotcrete. Hal ini menjadi satu alasan, di jaman dulu, di beberapa segmen terowongan dengan batuan samping yang sangat keras, penambang hanya bisa melanjutkan kemajuan tambang dalam 40 cm per bulan. Dan, disinilah tambang bawah tanah tersempit yang pernah saya masuki, dibandingkan beberapa tambang bawah emas bawah tanah di Indonesia. Sekitar 50cm x 75 cm. Beruntunglah, walaupun tinggi badan saya (170cm) masih lebih pendek dibanding rata-rata bule, saya bersyukur masih bisa "mberosot" di dalam Reiche Zeche.

Tambang sudah tidak dioperasikan, namun dijadikan sebagai riset untuk studi logam kritis (critical metal), seperti galium, germanium, indium. Sebagai informasi, EU (Uni Eropa - Europe Union), mengklasifikan logam-logam ini sebagai logam kritis, antara lain: 
Indium (In), Germanium (Ge), Tantalum (Ta), PGM (platinum group metals seperti Ruthenium (Ru), Platinum (Pt) and Palladium (Pd)), Tellurium (Te), Cobalt (Co), Lithium (Li), Gallium (Ga) dan REE (rare earths element). Logam ini disebut kritis karena saat ini hanya beberapa negara memiliki sumberdaya tersebut. Sebagai contoh:
- 92% produksi konsentrar tanah jarang (rare earth concentrate) dimonopoli oleh Cina
- 80% produksi palladium hanya berasal dari Rusia dan Afrika Selatan
- 72% produksi platinum berasal dari Afrika Selatan

Apa arti angka-angka itu? Jika terjadi monopoli suatu komoditi tambang dari logam kritis, maka harga dari komoditas bisa melambung tinggi. Efeknya berbeda dengan logam berharga lain, seperti emas, perak dan tembaga, yang kelimpahannya di alam masih lebih banyak dan banyak negara yang memproduksinya. Di Freiberg, riset terkini yang sedang digarap adalah studi mengenai geologi, mineralogi, ekstraksi logam kritikal (galium, germanium, indium) dari sfalerit. Salah satu ekstraksi yang akan diterapkan adalah bio-leaching, dimana logam diekstraksi dengan bantuan bakteri yang secara endemik tinggal di daerah tersebut.

Koleksi Mineral Terlengkap di Dunia
Freiberg sangat spesial di mata mineral kolektor. Koleksi semua mineral di dunia tersusun rapi di kastil tua bernama Schloss Freudenstein, dan dipamerkan dalam museum yang bernama Terra Mineralia. Koleksi dipamerkan dalam 5 lantai, disusun per masing-masing benua. Koleksi yang membuat saya kagum adalah koleksi mineral yang memendarkan sinar fluoresens. Sebagai informasi, beberapa mineral seperti scheelite, fluorit berpendar karena disinari sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet terdiri dari dua panjang gelombang, gelombang pendek (panjang gelombang 100-280 nm) dan gelombang panjang (315-400 nm). Ada referensi yang menuliskan gelombang tengah, yaitu sinar UV dengan panjang gelombang di antara gelombang pendek dan panjang.

Prinsipnya, foton yang dilepaskan oleh sumber cahaya (misalkan senter UV) akan membuat elektron yang ada di mineral secara temporer ter-eksitasi dari kulit mineral ke kulit orbital yang lebih dalam. Setelah itu, elektron yang ter-eksitasi akan kembali ke posisi kulit semula dan akan memancarkan foton dengan panjang gelombang yang lebih panjang dan ditangkap oleh mata kita. 
sumber: geology.com


Unknown Judges in Conference
Hal yang harus saya apresiasi dari konferensi ini, adalah adanya penilaian dari sesama partisipan, bukan dari juri atau moderator. Mereka menilai tentang kemampuan kita berkomunikasi di depan umum, materi yang kita presentasikan, dan hal-hal lain yang bermanfaat untuk "menambah jam terbang" berbicara di depan umum. Hal ini tidak disampaikan di muka umum, namun lebih dalam suatu lembar kertas, yang akan dimasukkan ke dalam amplop dan diberikan kepada presenter ketika acara sudah berakhir. 

Apa manfaatnya? Presenter tidak akan dipermalukan ketika dia tidak dapat mempresentasikan topiknya dengan tidak maksimal, dan akan mendapat apresiasi dari pendengar jika memang hasil penelitiannya baik. Di akhir sesi konferensi, peserta mendapatkan 1 vote untuk memilih presenter terbaik. Saya rasa, hal ini bisa juga diterapkan di proses belajar mengajar maupun presentasi mahasiswa, untuk mendapatkan feedback yang obyektif, bukan subyektif.

Cerita pendek dari guru saya di Tambang Eksplorasi ITB. Di akhir perkuliahan, mahasiswa memang harus mengisi kuesioner tentang perkuliahan selama satu semester. Namun, beliau meminta mahasiswa juga menuliskan kesan dan saran selama mengajar. Setelah 5-10 menit, semua saran dikumpulkan dan dibaca di kelas, dan beliau menanggapi saran tersebut. Setelah semua selesai dibaca, kertas dirobek dan dibuang ke tempat sampah. Beliau menerima semua saran, melakukan introspeksi untuk perkuliahan tahun depannya, dan yang paling penting, no hurt feeling.

Sistem evaluasi personal itu belum pernah saya dapat di konferensi yang saya datangi selama ini. Saya rasa pesan ini baik dan tidak ada salahnya diaplikasikan. Hal seru yang saya dapat disini, "setelan peserta" konferensi sangat rileks. Saya pernah mendatangi seminar, pembicaranya memakai celana pendek. Disini memang tidak ada yang memakai celana pendek (karena sedang winter), namun beberapa memakai sweater atau jaket dan kaos oblong ketika membawakan presentasi. Saya sendiri memilih memakai jas (sayang sudah dibawa dari Indonesia kalau engga dipakai) dipadukan dengan sepatu lari hitam bermotif hijau.

1000 kawan itu kurang, 1 musuh itu kebanyakan
Saya bersyukur, saya pergi menggunakan mobil bersama kawan saya, Sabrina dan Sonja ke kota ini. Jaraknya cukup jauh, 700 km dan ditempuh dalam 7 jam, full di jalan tol. Menyenangkan? Iya karena cepat, tapi bosan karena pemandangannya hampir sama selama itu. Berkat pergi bersama mereka, biaya transportasi bolak balik jauh lebih murah dibandingkan harus berangkat sendiri dengan menggunakan bus, kereta maupun pesawat. Seperti peribahasa, you never get lunch for free, sama seperti ketika saya di Indonesia, tidak semua konferensi bisa didatangi dengan gratis. Saya sendiri tidak masalah, karena saya anggap ini sebagai investasi saya. Istri juga tidak berkeberatan, jadi lanjut saja.
Foto di depan KTB Windischenbach dengan Sabrina dan Sonja. Bor sedalam 9 km ini untuk diperuntukkan untuk studi kontinen di Eropa Tengah, dilakukan oleh GFZ. Foto milik Sonja Schwabl

Di Freiberg, saya juga menumpang di apartemen kawan saya di Bandung, Pherto Rimos. Dia sedang menempuh studi magister di Freiberg. Dia sangat baik, ketika pertama kali saya menginjak kaki di kota saya di Leoben yang sedang badai salju dengan suhu -10 derajat, saya dijemput dan diantarkan sampai apartemen saya. Saya masih ingat, ketika saya pertama kali datang ke Austria, saya membawa sampel penelitian dan barang pribadi hampir seberat 50 kg. Entah gimana rasanya kalau tidak ada teman ketika itu. Saya doakan dia segera selesai menulis tesisnya tahun ini. Amin..



Cerita tentang  overbagasi hampir 15 kg juga unik. Di Soekarno Hatta, saya sempat was-was karena tas jinjing saya (maaf, saya anti bawa koper) sangat berat, karena berisi batu. Saya jelaskan kelebihan bagasi itu untuk penelitian saya  dan alhamdulillah bisa diberikan penambahan bagasi karena status mahasiswa saya. Saat itu saya membawa surat dari kampus tentang sampel yang saya bawa, dan saya berdiskusi dengan koordinator dari check in counter di bandara (bukan dengan bagian kounter). Setelah berdiskusi tidak lama, paspor saya difoto kopi dan saya diberikan ekstra bagasi oleh maskapai Garuda. Alhamdulillah...

Sepertinya sudah menjadi rahasia umum, kalau kemudahan bisa berasal dari jalan yang tidak pernah kita duga sebelumya. 

Kalau bisa dipermudah, kenapa dibuat susah? 
Kalau bisa membantu, kenapa tidak dilakukan? 
Kalau bisa sekarang, kenapa menunggu besok?
1000 kawan itu kurang, 1 musuh itu kebanyakan.

Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain