Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Sunday, April 5, 2020

Syukur mumpung masih bisa

Sabtu pagi kemarin saya dan anak saya beli gorengan di dekat rumah, si penjual menanyakan ke saya.
"Aa' minggu ini diminta kartu keluarganya sama Pak RT?" tanya penjual gorengan.
"Engga Bu, memang ada apa?"
"Katanya mau ada pembagian dari pemerintah, Rp 400rb tiap keluarga. Rumahnya si itu sudah diminta dan dikasih uang, saya ga diminta kartu keluarga tuh sama Pak RT. Pilih-pilih euy Pak RT-nya. Uang saya udah mulai habis diminta anak saya terus buat sekolah, pake internet terus sekarang" lanjut penjual sambil cemberut.

Saya termenung, seingat yang pernah saya baca, Pemprov memerintahkan untuk mendata terlebih dahulu warga yang terdampak yang berhak untuk mendapatkannya, untuk ditindaklanjuti Pemda
Provinsi Jabar untuk menyalurkan dana tersebut (baca: Jabar Siapkan Rp16,2 Triliun Atasi Dampak Sosial COVID-19 tanggal 3 April 2020). Jumlah yang diakan diberikan adalah Rp 500rb, dimana 1/3 dalam bentuk tunai dan 2/3 dalam bentuk sembako. Memang agak beda jumlahnya dengan yang di lapangan, saya ga paham jadi saya manggut-manggut saja.

Tetangga saya juga menginginkan hal yang sama. Saat saya menulis tulisan ini, dia baru saja selesai merenovasi rumahnya supaya jadi dua lantai. Saya sendiri bingung, sudah punya mobil, rumah, renovasi sudah, ternyata mengharapkan dana kucuran pemerintah karena merasa terdampak. Keluarga mereka mempunyai bisnis biro wisata, saat ini sepi, pemasukan hampir tidak ada.
"Enak ya kayak Mas, di rumah aja tapi tiap bulan dapat gaji" begitu dia bilang ke saya.

Saya sendiri merasa belum perlu didata karena masih banyak yang lebih membutuhkan. Malah yang saya lihat lebih berkecukupan dibanding saya, ternyata ikut mengharapkan uang bantuan cair juga. Wis, wis...

Malam harinya, Pak Satpam di tempat saya tinggal meminta izin untuk meminjam uang dari kas tempat saya tinggal. Istrinya dirumahkan, si Bapak tidak bisa ojek dan mengantar penumpang lagi ke pasar karena pasarnya sepi.
"Alhamdulillah masih ada pegangan pekerjaan disini. Kalau boleh, saya bayar pinjamannya 10 kali ya Pak, nanti saya angsur 50rb per bulan", kata si Bapak.

Berbagai sektor merasakan perubahan drastis semenjak wabah ini. Semuanya mendapat ujian, yang biasanya longgar rezeki, sekarang menjadi agak seret. Di saat-saat seperti ini, kita semua diuji, ada yang melewatinya dengan mudah, ada yang tidak.

Saya bisa melihat, ada yang menyikapinya dengan bijak, ada yang tidak. Ada yang bersyukur masih bisa bekerja walaupun dengan kesulitan yang ada, ada yang akhirnya kebawa nyeletuk hal-hal yang kurang bermakna. Saya tahu kesulitan si Pak Satpam, dengan penghasilan yang pas-pasan, tapi menyikapinya dengan positif dengan tidak mengeluh. Prinsip saya, daripada mengatakan sesuatu yang tidak berfaedah, lebih baik diam saja. Daripada harus mengeluarkan energi untuk berkata hal yang negatif, lebih baik disimpan untuk hal positif lain.

Di saat-saat seperti ini, kita cuma bisa berikhtiar dan berdoa saja supaya wabah ini segera hilang. Perbanyak bersyukur karena ga akan habis hal yang bisa kita syukuri. Bersyukur masih bekerja, karena banyak yang akhirnya dirumahkan dan belum tahu harus mendapatkan penghasilan dari mana. Bersyukur dirumahkan, karena akhirnya ada waktu dengan keluarga (jika sudah berkeluarga), atau bisa menekuni kegiatan lain selama di rumah. Yang merasakan pelajaran on-line, harus bersyukur karena banyak yang tidak mengenyam pendidikan yang memadai. Yang masih bisa membeli masker, bisa mencuci tangan, harus banyak bersyukur karena banyak yang tidak bisa membeli masker karena harganya yang mahal dan akses air yang susah.

Tidak akan habis rasa syukur kalau kita mau sejenak diam dan berpikir.
Cobaan ini membuat saya ingat tentang QS Al Ibrahim ayat 7-8, yang artinya seperti ini:
"Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Sabar, sabar, dan bersyukur atas apa yang sudah kita rasakan saat ini. Kita bersyukur karena masih sehat dan dikaruniai banyak nikmat. Seperti janji-Nya, Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar kemampuannya. Semuanya akan diuji, hanya tarafnya berbeda. Berjenjang memang, karena saat kita melewati satu anak tangga, kita akan menjumpai anak tangga yang lain. Saya cuma bisa berdoa, semoga kita termasuk orang yang pandai bersyukur, supaya setelah melewati satu tanjakan ini, kita kuat untuk melewati tanjakan berikutnya. Syukuri saja, mumpung masih bisa, dimanapun kita berada. Entah sedang di bawah, atau sedang di atas. Masih ada yang bisa dimakan besok pagi, masih punya teman, masih ada keluarga. Toh, waktu baca tulisan ini masih diberi nikmat hidup dan masih bernafas, ya kan?


Share:

Thursday, April 2, 2020

Mineralogi Bijih - Analisa Mineral Butir - BAGIAN 1 [Minggu-3]

Mineragrafi [TA4213] - Teknik Pertambangan ITB

Subbab
  • Identifikasi mineral butir - BAGIAN 1
Outcomes
  • pengenalan metode analisa butir dengan menggunakan mikroskop binokuler dan optik refleksi
Link materi


Durasi
  • +- 20 menit, interaktif dengan video dari beberapa kanal terbuka serta contoh penerapan kasus

Share:

Wednesday, March 25, 2020

Mikroskopi bijih - Sifat fisik dan optik, skema identifikasi mineral [Minggu-2]

Mineragrafi [TA4213] - Teknik Pertambangan ITB

Subbab
  • Sifat fisik dan sifat optik dari mineral bijih, skema identifikasi mineral bijih  

Outcomes
  • pengenalan sifat fisik dan sifat optik dari mineral bijih, sebagai dasar untuk mengidentifikasi berbagai macam mineral bijih.
  • pengetahuan tentang bentuk, morfologi dan habit mineral, belahan, parting, kembar, 
  • pengetahuan sifat optik mineral meliputi pengamatan tanpa analisator (nikol sejajar) meliputi: warna, reflektivitas, bireflektans dan pleokroisme; serta pengamatan mikroskopi dengan analisator meliputi sifat anisotropik, internal refleksi  
Link materi
  • Materi bisa diunduh di link ini , narasi dan presentasi tersedia di youtube.
Durasi
  • +- 30 menit, interaktif dengan video dari beberapa kanal terbuka serta contoh penerapan kasus


Share:

Wednesday, March 18, 2020

Mikroskopi Bijih - Metode preparasi, cahaya polarisasi dan preparasi sampel [Minggu 1]

Mineragrafi [TA4213] - Teknik Pertambangan ITB

Subbab
  • Pengenalan mikroskopi bijih dan preparasi sampel 

Outcomes
  • review tentang komponen mikroskop dan prinsip cahaya polarisasi yang digunakan pada mikroskop
  • mengetahui cara melakukan preparasi sampel dan membedakan kualitas sayatan poles 
Durasi
  • 30 menit, interaktif dengan video dari beberapa kanal terbuka serta contoh penerapan kasus
Link materi
  • Materi bisa diunduh di link ini , narasi dan presentasi tersedia di youtube.

Tugas
Share:

Wednesday, February 5, 2020

Kawan Baik yang Kaya Hati

Siang ini saya mendapat banyak pengalaman berharga dari dua orang: Pak Daud adalah sopir dan Pak Dhe Frans adalah petugas bengkel di tambang emas di Katingan, Kalteng. Pak Daud dan Pak Dhe Frans sudah jadwal cuti dan pulang ke Tator, Tana Toraja. Kami bertiga naik mobil yang sama dari pedalaman Kalimantan Tengah menuju bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya. Perjalanan dari site sekitar 4 jam, di salah satu segmen masih harus menyeberang sungai Katingan dengan kapal Ferry karena jembatan belum diresmikan. 
Sesampai di dermaga Ferry, Pak Dhe Frans menraktir saya bakso yang digoreng dengan tepung. Belum cukup bakso, sesampai di Palangkaraya, semua penumpang di mobil, termasuk saya dan Pak Daud berhenti makan siang di Warung makan mba Sum (Cabang Sampit). Menunya enak, prasmanan.
Ketika aku ingin membayar, ternyata semua sudah dibayar Bapak yang kerja di workshop itu. Belum cuma itu, di sepanjang jalan menuju Bandara, mereka banyak tertawa senang di mobil karena akhirnya ketemu istri mereka lagi. Sama- sama tahulah, apa yang dirasakan laki-laki yang sudah menikah dan pulang setelah beberapa bulan.

Saya diberi Pak Daud beberapa potong kayu. Yang awalnya saya pikir kayu ternyata adalah akar Bajakah (awalnya saya dengarnya akar perjaka). Karena namanya seperti itu, saya pikir ini obat untuk pria, maklum obrolan mereka di mobil ga jauh-jauh dari topik 18++. 
Pak Daud berkata seperti ini, "siapa tahu ada keluarga atau orang yang membutuhkan obat kanker payudara, tolong dikasihya Pak. Obatnya suku Dayak, kalau di hutan seperti rotan dan berongga. Titip ya Pak" Saya mengangguk mengiyakan.

Saya, yang datang ke lapangan untuk mengantar  mahasiswa penelitian di riset yang didanai perusahaan, banyak dibantu dan dibaikin sang orang yang baru kenal tidak lebih dari 5 Jam. sewaktu saya sampai di Bandara, saya coba tanyakan berapa harga akar Bajakah ini, ternyata cukup mahal buat ukuran saya. 
There are many good people out there in the world. Pak Daud dan Pak Dhe Frans adalah dua orang yang kaya hatinya, mereka berbuat baik dan tidak menganggap saya orang baru buat mereka. Buat beberapa orang cerita remeh remeh ini terkesan biasa, buat saya benih kebaikan harus dikenang dan disebar luaskan, supaya tumbuh dengan subur. 

Tjilik Riwut,
5-2-2020
Share:

Tuesday, January 28, 2020

Membaca untuk bisa menulis

Pagi tadi saya menonton berita dari TVRI. Ada liputan sebuah kegiatan di Nusa Tenggara Timur yang mengulas tentang minat baca dan literasi di sana. Satu kalimat yang membuat saya akhirnya menulis blog ini: "bagaimana bisa anak-anak kita suruh untuk menulis, kalau mereka tidak pernah membaca."

Saya jadi mikir, apa yang dikatakan Bapak di TV tadi itu benar. Bagaimana mau membaca kalau tidak ada bukunya? Kalau sudah ada bukunya, apa sudah ada semangatnya?

Kemarin lusa saya membaca tulisan founder Bukalapak, Achmad Zaky.

Berkunjung ke perpustakaan jadi salah satu favorit warga Paman Sam di waktu senggangnya. 

Saya tahu stigma orang tentang membaca, CAPEK, BOSAN. Membaca buku, jurnal buat mahasiswa, atau koran, membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Banyak orang yang udah penat dengan pekerjaan atau tugas sehari-harinya, ga mungkin lagi mengambil sisa waktunya untuk membaca. 

Banyak orang yang juga lebih suka untuk skimming bacaan, yaitu membaca cepat dan mencari kata-kata kunci dalam suatu bacaan. Sayangnya, disaat itu pula banyak informasi penting ga sempat ikut terbaca. Banyak juga yang karena skimming (bahkan beberapa hanya melihat judul besar saja), akhirnya banyak mendapatkan informasi yang salah, apalagi kalau yang dibaca adalah tulisan media yang click bait, dimana judul dan konten bisa berbeda jauh.

Bisa karena biasa
Membaca kan susah banget? Baru baca 10 menit, langsung ngantuk, atau terdistraksi dengan kondisi sekitar. Inget Bapak Ibu Saudara Saudara sekalian, semua yang bermanfaat itu pasti berat dijalani. Memulai jogging supaya sehat, buat sebagian orang itu berat. Memulai bersepeda supaya tubuh berkeringat, udah dikompor-komporin banyak asap. Apalagi mengurangi makanan rendang, sate kambing, bakso, opor ayam, yang semuanya kalo ga dikontrol tentu ga baik buat kesehatan. 

Kalau buat saya, mulai membaca itu sama seperti mulai bersepeda atau mendaki gunung. Pesepeda atau pendaki pasti bakal menemukan tanjakan. Saya sering kok, waktu nyepeda udah maleeees banget pengen balik kanan putar balik. Tanjakannya tinggi beneeer? Nyampe ga ya??? Ini bukunya tebel amat, bahasanya dewa bangeet? Paham ga ya? 

Alhamdulillah, berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, saya mulai belajar sabar, ngayuh sepeda pelan-pelan, ntar juga lama-lama juga sampe di tempat yang dituju. Sama seperti membaca, dibiasakan saja dulu membaca yang ringan-ringan, lama-lama juga kita bakal bisa fokus ketika dihadapkan dengan tulisan yang menuntut konsentrasi tinggi.
Naik dulu, turun kemudian. Grossglockner (2016)

Bagaimana bisa memulai? Ya awalnya memang harus dipaksa dulu. Sulitnya membaca sama dengan sulitnya menulis. Ada yang pernah bilang ke saya kalau si Fulan pengen menulis tentang A, pengen nyepi di tempat B supaya tenang dan seterusnya. Si Fulan ini ga bakal dapat itu semua kalau kalimat pertama dalam tulisannya belum dimulai. Kata Aa' Gym, mulailah yang kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari sekarang. Kalau pengen bisa menulis, ya hayuk ditulis kalimat pertama. 

Lah, bagaimana bisa menulis, kalau tidak ada ilmunya? Ya jangan males dong. Sekolah yang bener, trus resapi judul tulisan di atas: membaca dulu, baru bisa menulis!

Buku itu old style? 
"Om Om, kalau misalkan baca bukunya dari handphone, boleh ga? Bawa buku males, berat"

Jadi begini Kakak-kakak, membaca itu baik, asal niatnya juga lurus. Awalnya pengen praktis, baca buku dari handphone, tablet, eh belum lama baca, jempol udah gatel ngebuka aplikasi lain lagi, ngecek Whatsap lah, notif ini itu lah, akhirnya batal sudah membacanya.

Kalau memang suka membaca eBook, saran saya membaca lah dari kindle, paperwhite dan sejenisnya. Beberapa cuma dilengkapi WiFi, beberapa lain sudah dilengkapi SIM Card. Kindle berbeda dengan tablet, karena Kindle didesain supaya pembaca bisa nyaman membaca dalam kondisi terang maupun gelap, karena memang teknologi LED yang digunakan oleh tablet vs. kindle memang berbeda. 

Aqila, bolpen dan kertas
Kalau suatu saat mampir ke rumah saya, di kamar Aqila banyak sekali tempelan gambar dan tulisan hasil coret-coretan dia. Coret-coretan itu jarang dibuang, biasanya kami simpan di map, beberapa kami tempel di tembok. Saya dan Vidya memang membiasakan Aqila buat rajin coret-coret kertas (selama bukan coret-coret tembok), bisa gambar, bisa tulisan. 

Karena menulis dan menggambar, Aqila jadi lebih mudah diarahkan, bisa berkonsentrasi, lebih fokus dan ga gampang bosen. Sejak Aqila berumur 2 tahun, saya mulai bawai dia kertas dan bolpoin, saya biarkan dia mencorat coret buku sketch book saya, terserah dia, buat mengalihkan dia dari hp dan youtube. Alhamdulillah kebiasaan itu terbawa sampai sekarang (umur dia sekarang 5,5 tahun). Kalau kita menghabiskan waktu di luar rumah, di kereta, pas mampir di ruangan saya di kampus, atau nganggur di rumah, cukup dibawain bolpoin, spidol dan kertas, dia sudah senang.
Aqila coret-coret sewaktu hiking di Polster-Eisenerz (2017)
Aqila mewarnai di Situ Sangkuriang (2019)

Dengan membaca, kita bisa jadi lebih fokus, dan suatu saat nanti ketika kita menulis, kita jadi paham apa yang ingin ditulis. Dengan membaca, kita bisa tahu cara pikir orang lain, dan dengan menulis, kita bisa menuangkan apa yang ada di pikiran kita sehingga orang lain bisa memahami jalan pikir kita. Tulis aja dulu, draft pertama, kedua pasti kualitasnya jelek. Ntar ketika udah komplit semuanya, pasti kita bakal puas sama usaha kita. 

Membaca dan menulis itu perlu pembiasaan, semuanya berat kalau tidak dimulai. Penulis favorit saya (Mbah Pram) bilang gini: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"

Bicara tanpa ilmu adalah membual. Dan ilmu yang paling jujur serta apa adanya hanyalah BUKU. Yuk, membaca buku! Kalau sudah membaca, yuk menulis juga!

Share:

Monday, December 16, 2019

Curve fitting dengan freeware Fityk

Data yang didapat dari analisa difraksi sinar-X, Raman spektroskopi atau data lain dapat dimodifikasi dengan menggunakan freeware Fityk. Berikut langkah-langkahnya

1. Download aplikasi Fityk pada https://fityk.nieto.pl/ . Versi yang saya download dan install adalah versi Fityk 1.3.1.
2. Saya berikan 2 contoh data set:

3. Untuk memunculkan garis pada data, klik "line" di bagian samping kanan Fityk
4. Pertama, kita potong "background" data dengan menggunakan fitur:
  •  baseline mode (F3) > pilih linear di bagian tengah > tentukan 3 titik untuk memotong background

5. Klik strip background
6. Tentukan peak utama dengan menu add-peak mode [F4] , saya menggunakan opsi PseudoVoigt. Setelah opsi dipilih, uat peak dengan menekan tombol klik kiri pada mouse dan mengikuti lebar dari peak yang akan diidentifikasi. 

7. Peak dapat juga ditambahkan secara otomatis dengan auto-add yang berada di sebelah menu PseudoVoigt
8. Lakukan start fitting untuk mendapatkan kurva terbaik.
9. Jika akan mengambil data dalam format .xyz, klik Data > Export Point
10. Aplikasi fitting ini salah satunya untuk mendapatkan kurva baru. Contoh sebagai berikut.
Aplikasi curve fitting pada Raman spektroskopi dan inklusi fluida pada artikel saya

Aplikasi curve fitting pada data Raman spektroskopi dan mineral pada artikel saya tentang aplikasi Raman dan eksplorasi mineral


Selamat mencoba!

Share:

Thursday, December 5, 2019

Jatuh, bangkit dan berlari

Sudah dua hari ini saya sempatkan tidur siang di kampus, walau cuma 10 hingga 20 menit. Dengan beralaskan plastik bubble sisa bungkus buku saya dulu, saya jadi lebih fresh dan bisa bekerja lebih fokus. Pelan-pelan saya mulai kenal diri saya, kalau capek, istirahat dulu sebentar, jangan terlalu diforsir.

Proses mengenali diri sendiri itu cukup lama. Setelah mengenal diri sendiri, kita bisa lebih tahu, apa kekurangan kita dan apa kelebihan kita. Kita bukan superhero yang bisa terus menerus berjuang membela kebenaran tanpa kenal lelah. Kadang kita ada di bawah, terjatuh, dan beberapa orang mungkin perlu menghilang untuk menghilangkan kejenuhan. Sangat sangat wajar.

Yang tidak wajar adalah orang yang selalu gas pol tanpa kenal lelah, meraih kesuksesan tanpa pernah jatuh terlebih dahulu, ibarat kalau judi, menang lotere terus.

Alhamdulillah saya masih normal.

Tahun 2018 dulu, setelah saya lulus saya mendapat kesempatan untuk bisa melanjutkan postdoc di Austria, tidak saya ambil karena ada lowongan pegawai di Indonesia. Setelah menunggu 1,5 tahun, ternyata lowongan itu baru ada di 2019. Di masa penantian itu, saya coba kesana-sini apply postdoc di Australia dan Finlandia, tapi belum rejeki. Saya juga apply proposal riset di Austria, sama juga belum berhasil. Mirip sama cerita saya mencari sekolah untuk S3. Hampir 2 tahun saya habiskan. Saya apply ke Kanada, Jepang, Australia, ternyata rejeki nya di Austria. Screenshoot di bawah cuma beberapa email yang saya terima ketika saya gagal, masih banyak lagi aplikasi yang ditolak.

Apa saya sedih? Alhamdulillah saya masih normal, sedih beberapa saat, tapi saya sudah tahu caranya buat bangkit lagi. Saya sudah mulai mengenali diri saya: jatuh itu sudah biasa, bangkit dan melanjutkan berlari itu WAJIB bisa. Kita perlu bersyukur, ujian itu tanda cintanya Allah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu ber husnudzon (berbaik sangka), dan yakin kalau seberat-berat ujian pasti ada jalan keluarnya.

Hari ini, 2 tahun yang lalu di Leoben, Austria, saya menelepon Abah dan Umi saya di Malang. 30 detik setelah telepon sudah terhubung, saya hanya bisa diam sambil menangis, setelah menenangkan diri saya baru bisa bilang "Alhamdulillah, saya lulus." Saya menangis karena ingat berapa puluh kali saya jatuh, orang tua saya lah yang membuat saya harus bangkit dan melanjutkan perjuangan saya. Semangat untuk bisa membahagiakan orang tua lah yang membuat saya bisa bangkit ketika jatuh dan melanjutkan untuk berlari lagi.

Belum lagi istri dan anak saya, Vidya dan Aqila yang menemani saya ketika sekolah, kepada mereka berdua lah saya harus banyak berterima kasih. Di saat saya sekolah dulu, orang tua kami berdua di Wonosobo mendapat musibah, dan saya tidak bisa memulangkan Vidya karena saya tidak mempunyai uang di rekening saya. Untuk pulang dari Austria pun, saya harus meminjam uang ke teman saya di Wina, karena memang tidak ada dana untuk kami bisa membeli tiket pulang ke Indonesia. Saya lupakan cita-cita membawa pulang sepeda, tas gunung, mainan anak dan beberapa barang pribadi yang sebenarnya sudah saya tunggu-tunggu untuk bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Saya jatuh, saya bangkit, saya lanjutkan berlari.

2019 ini agak berbeda. Pertama kali saya mendapat mahasiswa bimbingan yang spesial. Ketika saya share cerita saya di twitter, saya kaget dengan respons yang didapat. Belum pernah twitter saya dibanjiri retweet atau likes dari orang lain

Mahasiswa saya, yang bekerja sambilan sebagai tukang cat rumah, akhirnya bisa lulus dari ITB. Alhamdulillah 2 minggu lalu dia datang ke saya dan bilang kalau sudah diterima kerja di Lahat, Sumatera Selatan. Banyak kisah yang membuat motivasi itu muncul, ada di sekitar kita, kita cuma bisa harus lebih peka dan banyak mendengarkannya.

 2 minggu yang lalu juga, saya dapat notifikasi, penelitian saya yang saya ajukan akhirnya didanai oleh ITB. Hal lain, kemarin saya dapat kabar kalau saya dapat full support untuk datang konferensi di India bulan Maret tahun depan. Banyak kejutan yang kita tidak pernah tahu, dan swing mood itu memang ada. Buat saya, biarkan saja, roda itu berputar. Ga selamanya kita di bawah, ga selamanya juga kita di atas. Kita cuma perlu berusaha, apa pun hasilnya nanti.

Semua tergantung bagaimana caranya kita tahu, dimana kelemahan kita, dan apa kelebihan kita. Saya, Mas-Mbak yang lagi baca tulisan ini, semuanya bakal diuji, dengan kesenangan maupun kesusahan. Bersabar lah ketika diuji, dan jangan besar kepala ketika mendapat kesenangan.

Jatuh satu kali, dua kali, sepuluh kali, seribu kali, itu sudah biasa. Istirahat dulu, ambil nafas, setelah cukup, lakukan hal yang luar biasa. Bangkit, bangkit dan bangkit, untuk kemudian melanjutkan berlari lagi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Seperti anak saya yang paling kecil, Kamila, yang lagi belajar berjalan. Dia jatuh, menangis, tertawa, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Pesan saya:
Jutaan orang bahkan tidak menyadari,
seberat-beratnya ujian,
masih lebih berat ujian untuk Dobleh, Jamal, Taufik, dan kabur.
Harap bersabar, ini ujian.

AYAH

Share:

Tuesday, July 30, 2019

Menambahkan skala gambar dengan ImageJ

Tutorial ini bertujuan untuk membubuhi skala pada gambar. 
1. Install software ImageJ yang dapat di download secara gratis di laman ini 
2. Buka gambar yang akan diberikan skala dengan menggunakan menu File > open.



3. Kita harus mendefinsikan skala terlebih dahulu untuk gambar akan kita proses. Pada gambar di bawah, saya membuat garis lurus yang dari angka 0 hingga 1 cm pada penggaris, dengan cara mengklik gambar garis (straight line). Setelah garis lurus selesai dibuat, klik ""Analyze > measure

4. Akan keluar menu box yang menunjukkan nilai mean, median, max, angle dan length. Kita hanya akan fokus pada Panjang garis, sehingga hanya akan menggunakan menu "length." Jika tampilan dalam tutorial ini, maka pembaca dapat mengeluarkan opsi lain pada "analyze > set measurements." Saya biasanya menggunakan opsi perimeter untuk mengukur keliling dari suatu obyek (biasanya bermanfaat untuk studi saya pada inklusi fluida --> detail ada link laman ini  )

5. Setelah mengetahui Panjang dalam satuan pixels, kita konversi Panjang 1 cm pada penggaris tersebut ke dalam pixel. Kita gunakan menu "analyze > set scale"

6. Kita tahu bahwa 1 cm = 1020 pixel, sehingga kita masukkan data pengukuran tersebut ke dalam kolom. Jika kita ingin menunjukkan satuan panjang dalam ukuran centimeter, kita cukup tulis cm. Jika akan menampilkan skala dalam meter, cukup tulis m pada kolom unit of length. 

7. Langkah sudah hampir selesai, kita munculkan skala dengan menggunakan opsi "analyze > tools > scale bar"

8. Atur posisi skala, angka yang akan ditunjukkan, ukuran huruf, tebal atau tipis skala.

9. Jika kita akan menggunakan satuan micrometer pada skala gambar, cukup tuliskan micron pada unit of length.

10. Jika ingin mengkonversi perbesaran mikroskop menjadi skala, mula-mula foto obyek yang kita ketahui panjangnya (misalkan penggaris, kotak milimeter block, dll), kemudian konversi panjang x lebar foto atau gambar mikroskop dengan langkah-langkah di atas. Saya ambil contoh konversi lensa obyektif mikroskop yang pernah saya pakai (Olympus BX40) yang menggunakan kamera Canon EOS450D. Selamat mencoba!



Share:

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *