Conversations with the Earth

Wednesday, December 7, 2016

Devide et impera

6 Desember. Semalam saya diundang untuk menghadiri acara Barbara feier yang diadakan di jurusan saya. Acara ini setahun sekali dan masih diterapkan di kampus saya, karena Santa Barbara adalah pelindung untuk orang-orang yang bekerja di tambang, begitu menurut kepercayaan Katolik. Lebih dari 50 orang datang, termasuk mahasiswa dan dosen. Makanan gratis, minuman bayar sendiri, kelipatan 5€. Saya beli kupon paling murah dan mengambil jus jeruk 0.5L seharga 1.5€. Sepertinya, hanya saya saja yang ambil non-alkohol di malam itu.Sisa 3.5€ karena ga bisa ditukar uang lagi, ya sudah saya bawa pulang saja daripada saya kasihkan ke teman malah dibuat beli bir. 

Selama acara, saya berbincang dengan kawan Erasmus dari Yunani dan mahasiswa lain dari Jerman. Mbak dari Yunani mengagum-ngagumkan tempat asal dia dan mengajak kami mampir. Pulau yang indah, dihuni hanya 300 penghuni saja dan dihiasi oleh pemandangan laut Aegea. Teman saya berasal dari Jerman Barat, sebuah desa kecil, hanya 800 orang saja. Giliran saya, saya cerita di kota saya bekerja ada sekitar 3juta orang. Mereka berdua kaget. Akhirnya mereka membuka google maps, dan terkejut kalau di Indonesia ada sekitar 13-17ribu pulau, yang kalau dibentangkan mulai dari London sampai Istanbul.

Si kawan dari Jerman menanyakan, berapa lama kalau pulang sampai bertemu orang tua? Saya bilang, minimal 1,5 hari saya baru bisa bertemu, karena orang tua saya ada di Malang. Perjalanan dari Leoben-Wina-Jakarta-Surabaya-Malang sudah cukup membuat mereka "nggumun", jauh juga ternyata. Saya bercerita, Indonesia itu heterogen. Hampir 700 suku bangsa, 300 bahasa, tapi minimal, semua bisa berbahasa Indonesia. 

Si mbak dari Yunani itu merespon, walah, negara saya ga ada apa-apanya dibanding Indonesia. Dia juga bercerita, ada kawannya yang bikin pengumuman untuk bisa menikah dengan orang US atau Eropa, supaya bisa dapat US citizenship ataupun mobility ke berbagai negara seperti Jerman. Memang berkewarganegaraan Jerman itu enak, konon katanya paspor Jerman adalah paspor paling hebat di dunia yang punya bebas akses ke 177 negara. 

Saya, masih bersyukur dengan kewarganegaraan Indonesia. Ada yang pernah menanyakan, "ISIS itu menurutmu seperti apa?" Saya jawab, "ISIS itu bukan Islam. Islam itu dari kata "Salama" yang artinya "selamat, damai", selama dia tidak bisa menyebarkan kedamaian, dia bukan Islam. Di Al Qur'an, kami tidak pernah diajarkan untuk membuat kerusakan di muka bumi ini, malahan harus menyebarkan kedamaian."

Saya paham mengapa dia menanyakan itu kepada saya. Di Eropa, beberapa kawan yang saya jumpai tidak memeluk agama. Hidup mereka bebas, namun  kadang-kadang mereka menanyakan kepada saya tentang Islam, atau menanyakan kawan Erasmus lain dari Finlandia yang Kristen Ortodok, karena keinginan tahu yang cukup besar. Orang-orang terdidik lebih paham bagaimana harus bersikap terhadap perbedaan itu, itu keyakinanmu, silahkan laksanakan dan tidak akan saya ganggu. Teman saya dari Jerman yang besar di perkebunan anggur dan kuat minum birnya tidak berminat untuk men-cekok-i saya dengan bir, sekali saya bilang tidak, dia paham, itu keyakinanmu.

Saya jadi garuk-garuk sendiri dengan pemberitaan akhir-akhir ini. Sedih rasanya ibu pertiwi jadi runyam seperti ini. Kalau kita menempatkan permasalah pada porsinya, jika permasalahan itu disebabkan oleh 'oknum', ya oknum itu lah yang selayaknya di periksa secara hukum, tidak perlu menyangkut-nyangkutkan dengan agama dari oknum tersebut. 

Sama seperti pertanyaan yang diajukan ke saya tentang ISIS, apakah ISIS itu Islam? Bukan, dia bukan Islam. Apakah Islam mengajarkan untuk mengganggu agama lain? Tentu tidak, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Jadi apakah layak menempatkan segelintir orang yang 'memancing di air keruh' dan menganalogikan menjadi keseluruhan. Nein, ini bukan seperti peribahasa 'gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.' Ini masalah oknum dengan aparat berwenang, yang semoga aparat bisa menyelesaikannya dengan tepat. Jika ingin menginterogasi tentu tidak susah. Foto orang-orangnya sudah ada, ditanya dan kalau memang bersalah ya di proses. As simple as it seems.

Saya ga mau kejadian jaman dulu terjadi lagi. Politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia. Belanda tahu kondisi saat itu yang heterogen, dimana jika menyerang secara fisik, bisa jadi strateginya terhadap negara jajahannya tidak akan berhasil. Tidak perlu tidak menyerang frontal secara langsung, keberagamannya lah yang diserang. Sekarang sudah berapa puluh tahun dari kejadian devide et impera dari Belanda, masak harus kita ceritakan kepada anak cucu kita, bahwa kita pun sempat merasakan hidup di jaman adu domba seperti ini. 

Saya merasa, di antara kita, ada orang yang sengaja memecah belah keberagaman itu. Siapa yang menjajah? Ya anak bangsa kita sendiri. Saya punya ide untuk menangkalnya. Mas, mbak, semua yang membaca pasti sudah dewasa dan bisa menyikapi, apakah berita ini sudah benar, mana kantor berita yang busuk, apakah agama ini seperti itu, silahkan dinilai sendiri. Kita sendiri lah yang menciptakan jarak, bukan kantor berita. Semua kontrol ada di tangan kita, kita bisa membuat orang menjauh dari kita, namun kita juga bisa merangkul mereka untuk lebih dekat.

Kalau versinya band jadul dari  Jerman seperti ini:
Do you ever ask yourself
Is there a Heaven in the sky
Why can't we stop the fight

Cause we all live under the same sun
We all walk under the same moon
Then why, why can't we live as one 

(dipopulerkan oleh Scorpion - Under the same sun)

7 Desember 2009 dulu saya pernah menulis di laman facebook saya. 
Perbedaan akan menjadikan kita sadar, dan akhirnya mengetahui bahwa dengan saling menghargai dan menghormati, kita bisa menjadi manusia yang dewasa.

Kalau kata om Armand Maulana, 
"Perdamaian, perdamaian, 
banyak yang cinta damai, 
tapi perang semakin ramai"

Mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif itu sama beratnya dengan meraih kemerdekaan itu dari penjajah. Indonesia itu indah karena beragam. Sekarang sudah 2016, jadi, maju dong, masak mundur lagi. 

Salam damai,
AYAH










Share:

2 comments:

  1. seru ya mas punya teman dr beragam negara. beda budaya, beda cara pandang, kita yang satu negara beda suku beda agama aja sering beda cara mikirnya, apalagi kalo beda bangsa yah..
    ya nih mas, di Indonesia lagi banyak yg pengen pecah belah, agamalah, suku lah....
    btw, itu kalajengkingnya mati mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, bisa buat kontrol dan pengingat kita juga, bahwa keberagaman itu ada dan harus saling tenggang rasa. semoga badai ini segera berlalu ya

      yap, kalajengkingnya udah mati dan sisa kulitnya aja :D

      Delete

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *