Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Wednesday, July 26, 2017

Hiking with Kid, why not?


July 17th, 2017. We packed our lunch, children carrier, water and took a bus at about 8.40 from Leoben Annaberg. The bus costs 4 Euro/ person, because we have zwei und mehr discount card (Steirische Familienpass), which allow reduced price (38%). Unfortunately, the OeBB Vorteilscard Family cannot be used oin Postbus. It tooks for about 40 minutes from Leoben to Praebichl. 
At around 9.30, we arrived at Praebichl bus stop. Although it is a summer time, the wind blows mildly. It was too cold for Vidya, so she tooks her jacket, but Aqila insisted that it was not cold. From the bus stop, we searched for the hiking route and Aqila, our 3 years old toddler was very excited. We followed the hiking signature "Erzwanderweg."
 
From there, the hiking trails was surrounded by high trees (pine?) and moss. Aqila can still manage and did not want to sit in the bike carrier. After 1 hours walked, she was tired and wants to sit in the bag. I was surprised that she could managed to hiked by herself. We took the shortest way to reach Polster from Praebichl, which means, the steepest route. After high trees, the scenery is more opened and we can saw the Polsterschutz huette. From that point, the route split into two. To the left is Polster and the other side is the "knappensteig" to Leobnerhuette. We took the left and no more high trees surrounding us. 
 It was 11.00, and Vidya got tired and was hungry. We decided to stop in a beton under the "sessellift", where scenery to Reichenstein, Erzberg and Kaiserschild are clearly be seen. Aqila was excited and I offered her pen and paper to draw. It was one hour break. Some other hiker was behind us, some brought their "flying bags" (i do not know how to say). 
It was 12.00, we continued until Polsterschutz huette. It tooks less than 1 hour and we met Ludwig, the owner of those huette. We ordered a cup of coffee and black tea. It was only 6 people on that huette. We were three, Ludwig and another couples above. Ludwig said, that the polster lift will be renovated soon. He seemed happy, because more people will come on winter, but he said, he cannot depending only from those huette. It was a hobby for pensionist, he said.
 
From huette, we continued our steps to Polster. In half an hour, we arrived at the top of Polster. Hurraaay, I celebrated my 29th birthday in Polster....
We stayed for about 20 minutes and enjoyed the scenery, and follow the routes into the Leobner huette, and tooked the zigzag trails until back to Praebichl. It was longer than I expected, and we arrived back at bus halte at 16.25. In totals, it tooks 6 hours of walked (1 hour Aqila walked by herself) and 5 hours in my bag. My shoulder was getting red, because then I realized that the bag was a little bit inclined. Anyway, I am pleased that Vidya, Aqila enjoyed this trip, and asked me "where will we hike after this?".  I just smiled to her. 
 




Video 3 - Hiking bersama buah hati 


Share:

Saturday, August 13, 2016

Hidup ibarat kacang panjang

Update: 24-10-2017
Pesan Bapak (saya panggil mbah saya Bapak), 24-10-2017


Saya dulu lahir dibantu bidan di desa kecil, desa Kepung, Pare, Kediri. Masa kecil saya habiskan di desa di kaki gunung Kelud ini. Sekarang Pare terkenal dengan kampung Inggris, saya yang lahir disana pun belum pernah mampir. Mbah lanang saya dulunya petani, jadi khotib tak tergantikan di "langgar" (surau; bahasa Jawa) pribadi di depan rumah, sedangkan mbah putri dulu dagang di pasar, tiap sore hari menjadi guru ngaji di langgar buat anak kecil dan remaja.

Minggu lalu saya sempat telepon mbah, tombo kangen, sekalian buat obat kangen buyut dengan cicit nya. Saya memanggil mbah putri "emak", mbah lanang saya panggil "bapak." Pesan emak buat cucu tertuanya,saya:
"Le, Aqila diwarai ngaji, iqro'. Arek umur sakmono gampang banget eling e. (Thole-panggilan emak saya ke saya-, Aqila diajari mengaji. Anak umur segitu gampang banget ingatnya)."
"Inggih, Mak'e, niki pun sinau alif ba' ta kaliyan pun tumut sholat bareng (iya Emak, ini sudah belajar alif ba' ta dan ikut sholat).
"Mben sholat tak dungakno Le, Le, ben keluargamu sukses dunyo akhirat (setiap habis sholat tak doakan thole supaya sukses dunia akhirat)."

Gara-gara pesan sederhana sebenarnya, banyak memori masa kecil saya rasanya terulang buat Aqila. Saya yang dibesarkan di lingkungan adat jawa yang kental dan pondok NU (Nahdlatul Ulama- Kediri salah satu basis kuat NU) yang sangat familiar dengan tembang-tembang Jawa. Tembang ini salah satunya diajarkan oleh Sunan Kalijaga untuk mengakulturasi agama dengan lagu-lagu dan adat Jawa.

Secara tidak sadar, pas Aqila nangis karena saya dan istri saya memulai untuk menyapih Aqila yang sudah hampir umur 2 tahun, saya langsung ingat lagu-lagu yang dinyanyikan Emak sebelum saya tidur, ilir ilir dan tombo ati (versi asli yg saya apal panjang banget dibanding versi nya Cak Nun dan Kyai Kanjeng). 

Saya minta istri bersenandung ke Aqila yg merengek. Setengah jam berlalu dan merengeknya mulai kurang, Aqila mulai nyaman dengan sholawat nabi, baru saya gantian nyanyi lagu dari emak saya.


Lir-ilir, lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wis sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten
anyar (Demikian menghijau bagaikan pengantin baru)

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi (Anak gembala, anak gembala panjatlah
pohon belimbing itu)

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu)

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir (Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping)
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore (jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore)


Mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane (Mumpung bulan bersinar terang,mumpung banyak waktu luang)
Yo surako… surak iyo… (Ayo bersoraklah dengan sorakan iya)


Makna singkat lagu ini. Lagu ini mengajak seorang muslim untuk bangun dari sifat malas dan menjaga keimanan kita (diibaratkan petani yang mendapati tanaman yang mulai menghijau). Iman itu naik turun, dan untuk menjaganya sulit (diibaratkan memanjat belimbing yang licin. Ada yang bilang belimbing itu simbol solat 5 waktu, karena ada 5 sudut di buah belimbing). . Iman itu ibarat pakaian, bisa terkoyak. Jika pakaian itu rusak, maka harus segera dijahit, selagi kita masih memiliki waktu luang. Oh ya, tadi tentang belimbing, belimbing wuluh yang rasanya asem, jaman dulu dipakai oleh orang-orang untuk mencuci dan menghapus noda di baju

Mengapa tiba-tiba menulis tentang ini? Emak dan Bapak ga bisa saya lupakan perjalanan hidup saya. Beliau salah satu yang menanamkan fondasi agama dari hal paling kecil. Apa yang sudah saya dapat selama hidup ini tidak semata-mata karena kemampuan saya sendiri. Saya yakin, kesuksesan seseorang tidak lepas dari doa orang-orang di sekitarnya, salah satunya orang tua. 

Sudahkah kita menyapa dan berterima kasih kepada orang berjasa disekitar kita? Distance does not separate people, silence does. Ibarat peribahasa, Kacang ora ninggal lanjaranne (kacang panjang tidak pernah meninggalkan akarnya). 
Umi (Ibu) saya sungkem dengan emak bapak
Bapak lagi ceramah 
Foto lebaran tahun 90an



Share:

Monday, September 15, 2014

And So The Story Begins.. Let Me Introduce, Aqila Vanda Nusantara

Ketika saya dikabari oleh istri saya bahwa dia hamil, saat itu saya berada di kota Jambi, sedang ada tugas negara untuk survey potensi batubara di provinsi yang terkenal dengan sungai Batanghari-nya. Pagi-pagi ketika saya diberi tahu oleh istri melalui sms, senang tak terduga mendapat amanah dari Allah, setelah 2 bulan sebelumnya saya menunggu-menunggu, ternyata masih kosong. Dihitung mundur, ternyata "calon" bayi nya sepertinya jadi pas sebelum saya ke Fukuoka. Alhamdulillah, tokcer juga ternyata saya. Ga terbukti mitos banyak bersepeda bikin mandul. Hehehe

Setelah usia kehamilan mulai beranjak, saya rutin mendampingi istri saya untuk cek up. Memang bukan hal yang mudah masuk ke rumah sakit ibu anak. Saya masih belum biasa dengan teriakan bayi-bayi kecil hampir di semua ruangan, dan akhirnya saya membayangkan bagaimana rasanya ketika harus mendampingi ketika akan melahirkan. 
Ketika beranjak usia kehamilan 40 minggu, akhirnya waktu itu tiba. Saya menemani istri ketika dia harus meronta kesakitan karena induksi obat yang diberikan untuk merangsang pembukaan, kemudian betapa istri menahan hingga waktu yang ditentukan oleh dokter kandungan untuk menahan "ngeden" alias "mengejan", dan betapa saya dibuat lemas ketika melihat sendiri proses kelahiran secara normal. Huah, saya bisa merasakan bagaimana beratnya melahirkan anak.
Sejak kelahiran si jabang bayi, muncullah rasa hormat yang teramat sangat untuk kaum wanita, terutama untuk seorang Ibu, yang bersusah payah mengandung dan melahirkan sang bayi. Saya langsung teringat ketika saya masih belajar di bangku Madrasah, tentang ayat di Al Quran mengenai Ibu di QS Al Ahqaaf dan QS Luqman, yang setelah saya telusuri bunyinya sebagai berikut,

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al Ahqaaf : 15).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14).

Tak kuasa saya mengucurkan air mata ketika saya melantukan adzan dan iqomah di telinga si mungil. Teriring doa yang indah untuknya, . 

"Asyhadu Anlaa Ilaa Ha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Dar Rasulullah.. AlhamdulillahI Rabbil Alamin telah lahir putri pertama kamI pukul 10 pagi ini, yang kami beri nama Aqila Vanda Nusantara, teriring doa di balik namanya, kelak menjadi Putri Vidya Sari dan Andy Yahya (VANDA) yang cerdas (AQILA) dan cantik seperti anggrek Vanda dari tanah Jawa, yang akan menyinari negara yang disebutkan oleh Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, Ki Hajar Dewantara, dan Pramoedya Ananta Toer, NUSANTARA"
Tepat ketika lahir, anak harus dihangatkan karena BBLR (Berat Badan Lahir Rendah, seharusnya 2,5kg, Aqila hanya 2,4kg )

Aqila umur 2,5 minggu, cantik ya..
Aqila umur 3 minggu, the smiling baby :D

update Agustus 2017





Share:

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *