Conversations with the Earth

Monday, June 9, 2014

Gemludug Gelundung Pengolah Emas di Bunikasih, Pengalengan



Hari Jumat lalu, baru saja saya mengunjungi salah satu perkebunan teh di Selatan Bandung, bukan untuk survey teh atau berencana survei lahan untuk diakusisi oleh pemilik baru. Tahun ini, saya dan Dosen saya, mendapatkan dana hibah untuk melakukan penelitian emas di lokasi tambang rakyat, yang berlokasi di Bunikasih, Desa Sukaluyu, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung. Hampir 3 jam kami mencapai lokasi tersebut, mengingat lokasi nya yang sangat jauh dan terpencil. Saya memang belum pernah kesana, namun adik-adik saya di Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB, dan Himpunan Mahasiswa Biologi (Nymphaea) ITB memang sudah pernah mampir ke lokasi tersebut untuk melakukan pengabdian masyarakat (Community Development) ke masyarakat yang berada di sekitar tambang tersebut.Misi penelitian kali ini, adalah memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitar tambang rakyat, supaya lebih berhati-hati dalam penggunaan merkuri atau air raksa. Video aktivitas mereka bisa dilihat disini.
Dibalik hijaunya perkebunan teh yang saya jumpai di Bunikasih, ternyata sekelebat saya lihat tenda-tenda berwarna biru berada di lembah. Kalau kita berada di lokasi tambang rakyat, tenda-tenda itu menunjukkan lokasi keterdapatan tambang rakyat. Dan memang benar, di bawah tenda tersebut, banyak penambang rakyat yang sedang menggelundung batuan yang didapat dari urat kuarsa yang diambil dari dalam lubang. 



Kalau dilihat secara lebih cermat, secara mineralisasi dan alterasi, tampak komoditi tambang yang ditambang  di Bunikasih, merupakan emas, dengan tipe endapan berupa urat (vein). Urat kuarsa nampak teramati bersama-sama sedikit mineral sulfida berupa pirit dan kalkopirit. Sedangkan alterasi yang teramati adalah argillik yang didominasi oleh mineral lempung, serta alterasi propilitik yang didominasi oleh kemunculan klorit, albit dan epidot. Jika kita akan mengklasifikasikan secara lebih mendalam, tipe endapan nya merupakan endapan sulfidasi rendah. Bentuk endapan yang menyerupai urat ini mengharuskan penambang harus menambang dengan metode tambang bawah tanah. Hal ini lebih menguntungkan, karena volume tanah yang dikupas akan jauh lebih sedikit, dibandingkan dengan tambang terbuka. 



Lubang-lubang yang ada umumnya mempunyai kedalaman mencapai 40 meter, bahkan ada yang lebih. Diameter lubang pun hanya muat untuk 1 orang, sambil merayap keluar masuk dari lubang tersebut. Di dalam lubang, mereka mengikuti arah dari urat kuarsa yang berwarna putih, tanpa memberikan penyanggaan di sekitar lubang bukaan tersebut. Mengerikan, sudah banyak penambang yang akhirnya tertimbun akibat tidak adanya penyanggaan di dalam lubang. Kegiatan penambangan bawah tanah dengan metode gophering ,yaitu membuat lubang untuk mengejar bijih berharga (ore). 



Tipe endapan epitermal banyak dijumpai di Jawa Barat bagian Selatan, dan memang banyak penambang bawah tanah yang berkeliling di Indonesia berasal dari Jawa Barat, seperti dari Tasikmalaya, Sukabumi dan Garut. Saya pernah mengulas kehebatan mereka di tulisan sebelumnya, sebagai contoh kegiatan penambangan emas di Purwakarta  , penambangan di Garut , dan kehebatan penambang dari Sukabumi .



Di atas, sudah ada rekan yang siap menggerus batuan tersebut menjadi lebih kecil dengan meremukkan batuan dengan bantuan palu dan semacam alat yang digunakan untuk menggengam batuan yang dibuat dari potongan ban. Batuan yang sudah halus, kemudian dikumpulkan, untuk kemudian digelundung dalam tabung yang terbuat dari besi, untuk diputar dengan bantuan mesin atau bantuan air, yang di bagian dalamnya sudah diberi bola-bola besi. Fungsi bola besi ini adalah meremukkan batuan yang ada di dalamnya, sehingga mineral akan terliberasi dengan sempurna, sehingga emas yang semula terinklusi dalam batuan akan menjadi butiran bebas. Dalam metalurgi, istilah gelundung kita kenal dengan metode ball mill, yang ilustrasinya bisa dilihat di bawah ini.





Untuk memudahkan kerja penambang, kadang kala mereka menambahkan air raksa, yang sering disebut sebagai Kuik, yang berfungsi mengikat emas yang sudah terliberasi sehingga menjadi amalgam, yaitu emas murni yang diselimuti raksa. Amalgam yang ada, kemudian dibakar, dan ulasannya sudah pernah saya bahas di tulisan sebelumnya, tentang betapa bahayanya pengolahan tambang dengan membakar amalgam, atau istilah umumnya gebos atau menge-joss-kan emas, berdasarkan kunjungan saya ke Pongkor, Bogor.


Saya pun kebingungan bagaimana akan menutup tulisan ini, karena realita yang ada, sangat banyak penambang yang sukses berkat lubang-lubang emas tersebut, namun lebih banyak juga orang yang meninggal, bukan hanya tertimbun dalam lubang galian mereka, terutama keluarga yang dapat saja terkena dampak akibat air yang tercemar oleh merkuri. Jadi, mari kita berhati-hati dengan penggunaan merkuri.


Sumber:
http://projects.inweh.unu.edu/inweh/inweh/content/1223/IWLEARN/Outreach%20Materials/issue-1-august-2006-englishs.html



Share:

14 comments:

  1. ngeri banget ya ...
    lebih banyak yang jadi tumbalnya ....
    yang menikmatinya paling hanya segelintir orang saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitu lah Mas, tambang emas memang harusnya dikelola oleh orang yang paham, bukan hanya dari bisnis tapi dari sisi lainnya (teknis penambangan, pengolahan, K3-Kesehatan dan Keselamatan Kerja, dsb)

      Delete
  2. mas boleh izin minta gambar2 lokasi disana ? kebetulan saya sedang membuat paper tentang HSE Fieldguide di pertambangan rakyat tersebut. skitar 2 tahun lalu saya kesana ke tempat lokasi2 nya pak Ano yg kebetulan menguasai daerah pertambangan sana, saya kesana untuk belajar mengenai kajian bidang geologi Epithermal low Sulfide, namun foto2 risk2 assessment nya kurang, jadi klo mas berkenan boleh ga berbagi foto2 yg ada disana?

    saya Ali dari Fakultas Teknik Geologi Unpad

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Ali, silahkan saja. Foto yang saya publish disini sepertinya foto terbaik yang saya punya, tapi saya bisa lihat lagi file2 yang lama untuk keperluan mas. Kirimkan saja email mas ke saya, nanti saya reply

      Delete
  3. tanks untuk infonya,salam kenal."karbon aktif"

    ReplyDelete
  4. Maaf mas boleh tanya2 soal aktivitas tambang di bunikasih? Mungkin lewat email. Boleh kah minta email mas atau yg bisa dihubungi?

    ReplyDelete
  5. Mas kalo boleh tau sampai sekarang masih ada penambangannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sekarang saya tidak tahu update nya apa masih beroperasi atau tidak. Yang saya tahu kurang dari 3 tahun lalu, masih ada kegiatan mahasiswa ITB untuk pengabdian masyarakat di tambang rakyat Bunikasih

      Delete
  6. Sbg informasi, sy buka pertambangan spt cerita diatas. Wilayahnya di lebak larang (pasir kuray) Kab. Banten. Banyak pertambangan rakyat disana.

    ReplyDelete
  7. Apakah ada yg jual air raksa d tempat bang andy yahya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya biasanya ambil raksa yg dari termometer, belum pernah beli untuk mengolah emas

      Delete
  8. Selamat malam pak, saya Ajeng dari ITB 2017. Mohon ijin untuk mengambil foto² yg bapak publish untuk keperluan pembuatan makalah, apakah diperbolehkan pak???

    ReplyDelete
  9. Silahkan asal tetal menyertakan sumbernya. Trims

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *