Conversations with the Earth

Thursday, April 19, 2018

Saya senang, saya tidak sendiri

Hari Kamis jam 9 pagi. Saya pergi menuju ke salah satu agen penukaran uang asing di Jalan Dago. Kebetulan saya masih simpan beberapa lembar dollar Kanada dan satu lembar Euro. Itu uang asing yang tersisa.

"Di atas dua puluh juta atau di bawah, Pak?" tanya petugas keamanan.

Saya menuju ke loket yang antriannya tidak panjang tanpa perlu mengambil antrian. Sesampainya saya di depan loket, saya melihat 2 teman. 1 orang sedang studi doktorat di ITB, beliau adalah dosen di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Beliau sudah selesai mengambil magister di ITB, sekarang beliau melanjutkan lagi studi doktorat. Kawan kedua sedang duduk, dia masih mengingat-ingat karena agak lupa dengan saya. Setelah menyerahkan uang ke loket, saya salami teman saya yang pertama.

"Dari mana dan mau kemana, Pak?" tanya saya.
"Saya dari kampus, long weekend ini saya ke Shanghai, bersama dosen lain dan tata usaha."
"Wah, mantap. Enjoy, Pak." Komunikasi saya dengan beliau tidak lama karena beliau sepertinya terburu-buru.

Saya menghampiri teman saya yang kedua. Dia sudah menempuh studi Magister dan Doktorat nya di Jerman. Saya kenal dengan dia karena dia datang ke Austria untuk mencari kesempatan post-doc. Hampir setengah tahun dia tinggal di Austria.

"Ketemu disini kita, Kang! Sudah berapa lama di Bandung?" saya menyapa beliau. Beliau adalah lulusan dari TU Berlin, Jerman di bidang ekonomi. Beliau sempat mengisi materi pengajian , karena ilmu agamanya lebih dalam dibanding saya dan teman-teman lainnya.  
"Baru seminggu disini. Ini lagi nukarkan sisa Euro, buat ditukar ke Dollar Australia" jawab dia ramah
"Sama, saya juga nukar. Sekarang jaman susah. Lho, mau ke Australia?"
"Iya, saya dapat penawaran post-doc di Adelaide. Sedih memang ninggalkan Eropa. Saya dapat tawaran di Swiss, pajaknya tinggi banget. Aplikasi saya di Austria, Jerman, Belanda, Perancis, UK, semuanya gagal."

Saya berpikir, perjuangan dia mendapatkan post-doc panjang sekali. Seingat saya, dia sudah tinggal lebih dari 5 tahun di Jerman, sehingga dia sudah ditawari untuk mempunyai visa khusus.

"Kapan berangkat ke Adelaide? Baru aja Senin kemarin saya video conference juga dengan Professor di Adelaide!"ujar saya.
"Serius? Hahaha, bisa gini ya. Saya cari post-doc di Eropa ga dapat-dapat. Di Adelaide, kurang dari 2 minggu saya langsung dapat posisi itu disana. Terus sekarang Andy kerja dimana?"tanya dia.
"Saya masih di kampus, Kang, lagi nulis paper sisa penelitian yang lalu. Karena sekarang belum ada lowongan PNS buka, ya sementara nebeng bantu-bantu di lab. Lumayan banyak waktu luangnya."
"Oh gitu ya. Mantap lah kalau sudah ada cantolannya. Saya ditawarin di Unpad, tapi belum saya ambil. InsyaAllah bulan Juli ini saya lanjut post-doc di Adelaide."
"Mantap, Kang. Kalau di kampus saya juga belum ngajar. Karena belum banyak yang dikerjakan, saya kepikiran buat nyopir on-line, " saya nyeletuk.
"Lah, mau nyopir juga? Saya habis pulang minggu kemarin dari Wina, ini juga bawa mobil, ngejalanin Uber."
"Hahaha, kalau saya belum punya mobil, adanya cuma motor. Tapi belum sempat daftar juga, mau nulis buku aja lah sambil nunggu hasil wawancara dan bukaan PNS."

Kami berdua sama-sama ketawa ngakak di tempat penukaran uang. Ternyata pikiran kami berdua sama. Apapun pekerjaannya dan selama itu halal, kenapa harus malu? 

"Semoga sukses di Adelaide, Kang. Kalau saya kontak, berarti seleksi saya lolos" sambil saya bersalaman dengan dia.
"Tschuss, Viel SpaƟ!"
  
Saya senang, saya tidak sendiri. 
Acara perpisahan di apartemen saya di Leoben ketika saya akan pulang ke Indonesia, akhir Januari 2018. Kawan yang saya ceritakan disini, Doktor yang menjadi sopir ojek online, ada di foto tersebut.

Disclaimer:
Alhamdulillah kemarin, saya mendapatkan beberapa kerjaan berbeda dalam satu hari, cukup lah untuk hidup sederhana di Bandung, sambil istri menunggu panggilan untuk bekerja lagi. Saya sempat terkejut, gaji pertama yang saya terima selepas saya pulang dari Austria, ternyata masih di bawah UMR kota Bandung. Saya harus bersyukur, ternyata banyak lulusan doktor di jurusan lain (di ITB juga) yang tidak mendapatkan gaji setelah dia lulus, selama dia menunggu menjadi pegawai ITB. Dan uang yang saya terima pagi ini dari kasir penukaran uang pagi ini, itulah celengan yang tersisa selama 3 tahun di LN. Saya masih bersyukur, banyak teman saya yang lebih minus sekembali dari berkuliah di LN. InsyaAllah uang ini masih cukup untuk saya sekeluarga hingga menunggu gaji (dan semoga ada penghasilan di luar gaji, amiiiin) bulan depan.

Saya sadar, kuliah tinggi-tinggi bukanlah untuk menjadi kaya, dan ijazah hanyalah tanda sudah pernah sekolah. Kita hanyalah makhluk Allah, yang harus memberi manfaat untuk sesama. Urusan rezeki, itu rahasia Allah. Selama kita berusaha di jalan yang halal, akan selalu ada jalan.
Share:

2 comments:

  1. Mantap kang.. salam kenal. mudah2an dapat PNS ITB nya. Info nya ada bukaan tahun ini, kalau ga sih kayak akang mah lulus lah kalau masukin berkas dosen Non PNS (biasanya di Oktober - November). saya nyerah menunggu dan akhirnya bertarung di jakarta demi keluarga.. sukses terus kang.. salam kenaal,

    WD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mas. Makasih sudah baca sampe selesai. InsyaAllah pilihan ke Jakarta itu yg terbaik buat mas dan keluarga. Saya masih tetap bertahan di Bandung sambil berharap lowongan itu memang ada. Akhirnya setelah bulan kedua, ada juga tambahan dr kerjaan lapangan, buat nyambung beberapa bulan ke depan. Semoga sukses juga buat mas Wahyu

      Delete

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *