Conversations with the Earth

Sunday, August 20, 2017

Hidup ini keras, Bung

Sarah-Kirk bla bla.. saya lupa nama lengkapnya. Afro, sepertinya dia yang memimpin kru swiss air di airport Zürich saat itu. Saya hanya transit sebentar untuk penerbangan berikutnya. Ketika saya datang untuk cek paspor dan tiket, dia meminta saya mengambil semua barang saya, mengambil tiket, dan saya diminta mengantri di sebuah kubikel berwarna hitam, "Please follow me."

Apes, cuma itu pikiran saya. Saya datang ke profesor saya, 
M:"I have to leave you for a moment, the woman right there asked me to go with her." 
P:"Why?" 
M:"I don't know yet."

Saya masuk ke kubikel berwarna gelap tidak jauh dari lokasi boarding, ruangannya terbuka, hanya tertutup saja dari luar. Sarah meminta saya duduk, di dalam seorang wanita sudah menunggu (berlogat India) meminta saya untuk menunggu petugas lain.

Datang laki-laki, berbaju security,  meminta saya melepas sepatu dan mengecek lengan, kantong celana sampai kaki. Nihil. Sarah-kirk juga tidak menemukan sesuatu yg aneh di tas dan kantong basoka berisi poster itu. Tapi saya tahu, mbak acha acha nehi-nehi mengambil sidik jari di alat elektronik saya, untuk dia cek di scanner di komputernya. Sepertinya nihil, Sarah-Kirk seperti memberi kode ke wanita India itu.

Saya diminta ke loket passport control, untuk ditanya apa tujuan saya, dimana menginap, kapan kembali ke Austria dsb, oleh petugas lainnya. Saya jawab apa adanya dan jujur, saya tanya balik dalam Jerman ke wanita itu mengapa saya diperiksa. Ketika saya tanya balik, kenapa saya di cek di kubikel itu, tidak ada jawaban, seperti pura-pura tidak mendengar. Saya ulang pertanyaan ke Sarah-Kirk. Nihil.

Profesor saya cuma bisa melihat dari jauh dan menanyakan "everythings fine?". Lewat kode tangan, saya cuma bisa menjawab geleng kepala dan angkat tangan tidak tahu.
Sarah-Kirk memberikan kembali tiket saya yang sebelumnya ditahan olehnya, dan di tiket sudah ada cap "security guard" berwarna kuning dan tulisan "HS" atau "4S", tulisannya besar tapi tak terbaca. Dia mencoret nama saya dari daftarnya, "Have a nice flight."
Bujubuset. Gitu doang.

P:"What happened?" 

M: "No explanation." Profesor saya mencoba mencairkan suasana, 
P:"Maybe you should buy a new family name, Schmidt, Meyer or anything you like. They randomly checked only from your family name."

Siiit...

Saya ambil positifnya. 3 dari ratusan penumpang menuju Montreal mendapat perlakuan ekstra, termasuk saya. Di kubikel yang sama, puluhan orang mengantri untuk keberangkatan ke Las Vegas, dan ketika saya tanya, mereka ga tahu untuk apa di cek disana. Mereka berpaspor Swiss, Jerman, dan beberapa dari Eropa Timur. nyway. Kalau memang itu gara-gara embel2 nama saya, ya sudah lah, "that's a life as a foreigner, as a minority." Suka ga suka, adil ga adil, seperti itu realitanya. 


Saya cuma bisa berdoa supaya diberi keselamatan dari Allah. Life is tough. 
At least masih dapat nasi goreng 5 langkah dari penginapan.
QC, CA
Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *