Conversations with the Earth

Monday, July 1, 2013

Bikecamping di Situ Gunung, Sukabumi




Kamis malam itu, susah rasanya menutup mata untuk mempersiapkan camping besok pagi. Entah kenapa, tiap ingin menikmati indahnya alam dengan sepeda, saya selalu tidak bisa tertidur pulas, malah memikirkan bagaimana perjalanan besok. Saya berencana untuk mengayuh pedal saya ke arah Barat dari Bandung, menuju sebuah danau di Taman Nasional Gede Pangrango, yaitu Situ Gunung.

Pukul 8 pagi, saya bertiga dengan kedua teman saya memulai perjalanan dari Gerbang Ganesha, Institut Teknologi Bandung. Saya memakai sepeda tua yang sudah dipasang rak dan pannier untuk membawa peralatan makan dan tidur, sedangkan kedua teman saya memakai sepeda gunung. Bikecamping, begitu istilah yang sering dipakai oleh komunitas pencinta bersepeda sambil membawa barang-barang sambil camping di lokasi yang akan dituju. Dari hasil penelusuran saya, perjalanan dari Bandung akan menempuh sekitar 120 km, dan karena saya ingin menikmati perjalanan ini, kami tidak mempermasalahkan kapan kami akan tiba, yang penting kami bisa sampai di lokasi yang kami tuju.

Perjalanan kami mulai menelusuri ke arah Padalarang, yang  didominasi oleh truk yang mengangkut batu kapur. Perjalanan terasa cepat, karena jalur yang kami lalui merupakan jalan raya antar kota, dengan elevasi yang relatif datar dan banyak menurun.

Setelah mencapai jembatan panjang yang menjadi batas antara Rajamandala dengan Cianjur, saya menyempatkan diri mengambil foto di atas sungai Citarum. Setelah jembatan tersebut, di kanan kiri banyak penjual cincau menjajakan dagangannya, seperti menyambut pelancong dari arah Bandung untuk beristirahat sejenak   sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Cianjur.
Dari Cianjur, jalan raya yang ditempuh datar, dengan pemandangan sawah padi. Bus mulai tampak berseliweran menemani perjalanan kami. Disini kesabaran goweser mulai diuji, karena cuaca yang cukup panas (sekitar jam 10-11 siang), dengan rute yang datar, dan bus-bus besar yang mulai meng-klakson kami kalau jalan kami terlalu menutupi jalan yang akan mereka lewati. Yah, memang jika kita berjalan di jalan raya antar kota, kita harus banyak mengalah dengan pengendara lain dengan ukuran lebih besar, seperti bus dan truk.

Selepas dari Cianjur dan istirahat Sholat Jumat, saya melanjutkan perjalanan Cianjur-Warung Kondang. Dari Warung Kondang menuju perbatasan dengan Sukabumi, perjalanan mulai menanjak perlahan. Menurut saya, disini rute yang paling menguras tenaga, karena tanjakannya lumayan panjang, dimulai dari Warung Kondang hingga Gekbrong. Melahap tanjakan ini cukup lama, karena saya baru masuk ke perbatasan Sukabumi pada pukul 6 malam.


Setelah masuk kota Sukabumi, saya langsung melanjutkan perjalanan ke Cisaat, untuk melanjutkan perjalanan ke Situ Gunung. Perjalanan dari Cisaat menuju Kadudampit - Situ Gunung ternyata tidak kalah menantang. Perjalanan 9 km terakhir merupakan perjalanan paling indah saya. Jalanan benar-benar sepi (jam 9 malam start dari Polsek Cisaat), dan ketika itu di Kadudampit, sedang terjadi pemadaman lampu. Jalanan menanjak  dari ketinggian 600 meter di Polsek Cisaat, hingga Situ Gunung di ketinggian 1050 meter, kami bertiga lewati dalam 2 jam, hingga jam saya menunjukkan pukul 11 malam. Barulah saya mencapai gerbang Situ Gunung, Taman Nasional Gede Pangrango.


Dari pintu masuk, saya harus menuntun sepeda saya menuju pinggir danau, karena jalanan berbatu menyulitkan saya untuk menunggangi sepeda tua saya. Alhamdulillah, setelah menuntun sepeda sekitar 15 menit, saya mencapai tepi Situ Gunung, dan letih selama perjalanan Bandung-Situ Gunung, terbayarkan sudah. Keheningan, kesunyian, dan kedamaian, menikmati pantulan sinar bulan di danau nan asri. Terlebih ketika pagi hari datang, dingin menusuk, membuat saya enggan untuk bergegas pergi dari indahnya belaian kabut di Situ Gunung.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *