Conversations with the Earth

Wednesday, October 30, 2013

Jasper, Bongkah Merah Delima dari Pedalaman Tasikmalaya

Untuk menuju kesana,diperlukan waktu 4-6 jam,tergantung dari kondisi jalanan,dan cuacanya. Lokasi calon geopark ini bisa dibilang sangat terpencil,dan secara geografis,sudah hampir mendekati Kabupaten Ciamis. Sungai Cimedang, Desa Buniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya merupakan lokasi terdapatnya taman batu permata, taman Jasper. Bongkah Jasper, atau disebut juga Jaspis,atau batu merah hati,tersebar di persawahan,dan juga di sepanjang sungai Medang. Jasper merupakan varian dari kalsedon, opak, kaya akan silika, dan dapat berwarna merah, cokelat, kuning bahkan hijau, tergantung pengotor yang menyusun mineral tersebut. Jasper termasuk batu mulia, karena kekerasannya yang lebih dari 7. Ada berbagai jenis batu mulia yang bisa kita jumpai, yang saya halaman blog saya yang lain tentang jenis-jenis batu mulia, dan cara membedakan marmer dengan batu mulia.



Sama seperti silika, jasper mempunyai specific gravity 2.5-2.9 dan sangat umum digunakan sebagai perhiasan. Istilah jasper umumnya digunakan pada batuan yang kaya akan silika, yang telah mengalami proses metasomatik atau metamorfisme. Nama Jasper berasal dari bahasa Yunani  - ϊασπις (entah apa bacanya ya), dan bahasa Latin - iaspis , yang berarti menyerupai api. Jikalau orang awam melihat sekilas,mungkin mengira batu berwarna merah ini hanyalah batu bata biasa,atau yg mengenyam ilmu geologi pun bisa mengatakan batu merah ini adalah rijang (chert). Lalu apa yang membedakannya dengan rijang?

Rijang, atau chert merupakan silica dalam ukuran butir yang sangat halus, mikro-kristalin atau kripto-kristalin, dan merupakan varian dari batuan sedimen, yang dapat mengandung fosil di dalamnya. Rijang sendiri dapat berwarna-warni, bisa merah, hitam, abu, cokelat, dan sebagainya. Rijang umumnya terbentuk pada pengendapan laut dalam, sehingga jika kita menemukan adanya rijang, maka bisa jadi kita sedang berada di lingkungan pengendapan yang dulunya adalah laut dalam. Seperti di Karangsambung, terlihat adanya perselingan antara lempung merah-rijang-lava bantal. (Ilustrasi: rijang di Kali Muncar, Kampus Karangsambung).

Gambar perselingan antara batu lempung merah dan jasper, pada bagian atas nampak lava bantal

Jasper ini sudah banyak diangkut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan melarikan batu yang langka ini keluar negeri. Memang, secara dimensi jasper ini sangatlah besar, dan untuk menuju ke tempat ini, diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Namun sempat tersiar kabar, bahwa investor siap mendatangkan gergaji intan, yang dapat memotong jasper dalam ukuran yang lebih kecil, sehingga lebih mudah untuk dipindahkan. Hmmm, alangkah naifnya orang yang sudah terlupakan dengan harta, sehingga keserakahan sampai membuat dia ingin mengambil sangat banyak dari dunia ini.



Daya tarik ini yang membuat banyak peneliti yang menyayangkan eksploitasi dari situs geologi yang sangat langka, yang bahkan tidak akan dijumpai di tempat lain. Sehingga muncul usulan untuk membuat lokasi ini sebagai geopark, atau taman wisata geologi. Namun untuk menjadikan daerah ini menjadi geopark tentu tidaklah mudah.  Akses yang sangat terpencil menuju lokasi ini, jalan yang berbatu, dan tidak adanya dukungan dari pemerintah, membuat banyak yang akhirnya meragukan rencana geopark ini. Memang, dengan mengeluh seperti ini, tentu tidak akan membawa dampak yang signifikan, namun yang ingin saya angkat disini, bahwa untuk menjadikan suatu hal yang tidak mungkin menjadi hal yang besar, perlu adanya bantuan dari berbagai pihak. Perjuangan dari kalangan pemerhati jasper ini tidak lah cukup, kalau tidak dibantu dengan dukungan dari Pemerintah, seperti dengan membuatkan akses, sehingga wisatawan yang ingin berkunjung untuk melihat taman jasper ini, dapat melihat keindahan batu 


Keelokan dari Jasper ini sudah memikat banyak peneliti, sebut saja Pak Sujatmiko dan Pak Eko Yulianto, yang sampai menerbitkan buku berjudul "Merahnya Batu Merah - Taman Jasper Tasikmalaya". Saya kutip dari http://cekunganbandung.blogspot.com/2012/02/mimpi-taman-jasper-di-tasikmalaya.html 


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Batu-batu ini bahkan tersebar hingga persawahan dan halaman-halaman rumah penduduk yang bermukim di Kampung Pasirgintung, Desa Buniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya. Awalnya jumlahnya lebih banyak, namun kini menyusut secara dramatis. Berton-ton lainnya kini sudah hijrah ke negeri sakura. Lagi-lagi, bangsa ini kecolongan.


Menurut Sujatmiko, seorang geologis yang juga pengusaha batu mulia, fenomena Ci Medang ini sangat langka. “Di 20 negara yang pernah kami kunjungi, kami belum pernah menemukan yang seperti ini,” ujarnya. Jika dipetakan, serakan batuan merah ini tak hanya terdapat di Kecamatan Pancatengah saja, melainkan juga di wilayah-wilayah tetangganya seperti Karangnunggal, Cipatujah, hingga Cisasah.



Mengapa batuan merah ini demikian menarik perhatian, bahkan Jepang begitu meminatinya? Batuan merah yang terserak di Ci Medang adalah salah satu jenis batu mulia yang dikenal dengan nama jasper. Batu mulia dari keluarga mineral kuarsa (SiO2) ini tak hanya berwarna merah, melainkan ada juga coklat, kuning, dan hijau. Sejarah terbentuknya batuan jasper terkait dengan aktivitas kegunungapian.



Diketahui bahwa pada 25-30 juta tahun lalu, di sekitar wilayah Kampung Pasirgintung terdapat komplek gunung api bawah laut. Komplek gunung api ini dengan indahnya mengitari laut dangkal di wilayah ini.



Singkat cerita, gunung-gunung bawah laut ini meletus. Dia mengeluarkan material vulkanisnya, antara lain lava pijar. Karena bersentuhan langsung dengan air laut, maka material vulkanis yang dikeluarkan gunung api ini mengalami proses hidrotermal, suatu tahap awal pembentukan—salah satunya—batuan jasper.



Sebelum pihak Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan aturan menghentikan penambangan jasper di kawasan ini, penduduk setempat yang tanahnya diseraki batuan jasper sudah sempat menyewakan lahan-lahannya ke para penambang yang antara lain “berbendera” selain Jepang juga Korea Selatan. Salah satu kasus penyewaan lahan mengungkapkan bahwa untuk sewa satu tahun, pemilik lahan mendapat imbalan hingga Rp 60 juta. Jumlah yang menggiurkan, apalagi untuk warga desa yang hidup jauh dari perkotaan, tanpa harus kehilangan tanahnya. Namun jumlah tersebut sebenarnya menjadi tidak sebanding dengan nilai batuan yang ditambang, belum lagi kemungkinan kerusakan ekosistem akibat penambangan.

Sayangnya, warga setempat tampaknya kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungannya sendiri. Padahal jika saja mereka masih memegang teguh kearifan lokal warisan nenek moyangnya, tentunya menyerahkan lahan untuk ditambang habis-habisan adalah keputusan yang bertentangan dengan keseimbangan lingkungan yang biasanya secara tradisional diwariskan temurun oleh penduduk asli setempat. Namun apa daya, kapitalisme tampaknya sudah teramat jauh menggerogoti pola hidup warga yang hidup nun di Kampung Pasirgintung, pun. (disarikan dari buku “Merahnya Batu Merah”) "

------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Setelah melihat keindahan jasper, banyak akhirnya yang terkagum-kagum dan akhirnya menulis tentang taman jasper ini, termasuk saya. Memang, yang bisa kita lakukan sekarang adalah menyebarluaskan tentang apa yang kita ketahui kepada orang-orang awam di luar kita, sehingga nantinya, mereka pun  akan mengerti jalan pemikiran kita yang umunya berkutat dengan batu dan batu, dan semoga mereka akan ikut menjaga keindahan alam yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.




Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain






Referensi:

1. Review Of The Mineralogical Systematics Of Jasper And Related Rocks, Ruslan I. Kostov, University of Mining and Geology “St. Ivan Rilski”, Sofia 1700, Bulgaria


Bacaan lain:



Share:

4 comments:

  1. wawww ..... batu jasper segede2 gini dan banyak ...
    apakah sekarang sudah pada diangkutin jadi batu akik ????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Om @bersapedahan . Wah, saya pun kurang tahu nasibnya sekarang,, semoga anak cucu kita masih bisa mampir ya..

      Delete
  2. 'ϊασπις' dibaca 'ïaspis' -- courtesy of google translate

    ReplyDelete
  3. 'ϊασπις' dibaca 'ïaspis' -- courtesy google translate

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *