Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts with label geowisata. Show all posts
Showing posts with label geowisata. Show all posts

Friday, April 17, 2015

Buku Wisata Tambang Jawa Barat

Buku ini disusun pada akhir tahun 2013 yang lalu, terlaksana atas dana hibah penelitian LPPM ITB, yang disusun oleh Dr Syafrizal, Dr Ginting Jalu, dan saya. Pada saat itu, motivasi untuk merangkum lokasi wisata tambang dalam sebuah buku, adalah untuk mengenalkan kepada pembaca tentang kondisi geologi dan tambang Jawa Barat, dimana masyarakat selain berwisata, juga dapat mengetahui potensi tambang yang ada di daerah yang dituju.

Dengan berjalannya waktu, saya merasa masih banyak kekurangan, karena tidak semua lokasi wisata dan lokasi geologi dapat dikupas secara mendalam. Lokasi Geopark di Ciletuh, Gunung Padang di Cianjur, dan beberapa lokasi lain belum dapat diulas pada buku ini.  Banyak lokasi lain yang kelak harus bisa masuk ke dalam destinasi wisata tambang di Jawa Barat, karena tatar Sunda ini sangat kaya nya potensi wisata, serta potensi untuk mempelajari secara geologi dan potensi tambangnya. Besar harapan, akan muncul pemahaman di berbagai kalangan, bahwa aspek geologi, aspek pertambangan dan aspek pariwisata dapat berdampingan dengan baik, karena semuanya disinergikan dengan ilmu. Good Mining Practice (kaidah penambangan yang baik dan berwawasan lingkungan) adalah tujuan besar yang harus kita capai, yang harus dimulai sejak sekarang. 

Silahkan download buku ini di link ini, dan lokasi wisata tambang Jawa Barat, sudah pernah saya tulis sebelumnya di blog saya yang berjudul Potensi Wisata Tambang Seputaran Jawa Barat

Selamat bermain body rafting di Cukang Taneuh, Green Canyon, menikmati damainya Situ Cisanti di Pengalengan, sambil menjajal peuyeum atau colenak khas dari Bandung.  








Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain







Share:

Tuesday, April 7, 2015

Galeri Nusantara



Foto ini saya kumpulkan dari perjalanan saya berkeliling di 21 dari total 34 Provinsi yang ada di Indonesia selama 2010-2015. Berbekal kamera Sony TX-10 (sudah rusak) dan Nikon AW-100 (hingga sekarang), saya bagikan beberapa gambaran lokasi-lokasi yang menarik di penjuru Nusantara. Editting foto sebatas brightness dan contrast.

1. Nangroe Aceh Darussalam
Singkapan magnetit skarn- Lhoong, Geunteut

2. Sumatera Utara
Bandara Binaka, Kepulauan Nias
 Danau Toba, Parapat

3. Sumatera Barat
Lubang Batubara Mbah Suro, Sawahlunto
Museum Kereta Api Sawah Lunto

4. Riau
Istana Rokan, Rokan Hulu

Jus Pinang saya yang pertama, dan.... saya ketagihan, Pekanbaru


5. Jambi 
Araucarioxylon, fosil konifer di Geopark Merangin, Kabupaten Tebo


Angkutan kelapa sawit di Sungai Lalang

6. Kepulauan Riau (belum didatangi)
7. Kepulauan Bangka Belitung (belum didatangi)
8. Sumatera Selatan
Bucket Wheel Excavator (BWE), PT Bukit Asam, Tanjung Enim


9. Bengkulu (belum didatangi)
10. Lampung
Lokomotif pengangkut batuan dari tambang bawah tanah, PT Natarang Mining

11. Banten
Menara Suar, Cikoneng, Anyer

12. DKI Jakarta
(paling susah cari gambar, yang ada foto makan gule kambing di warung. Maafkan saya Jakarta)

13. Jawa Barat
Silahkan berkunjung untuk membaca dan mengunduh  Buku Wisata Tambang Jawa Barat (LPPM ITB, 2013) di link ini
Mentari menyeruak di Ranca Upas, Kabupaten Bandung
Bulu Babi, Santolo, Garut
 Situ Cisanti, Bandung
Kebun Teh Pengalengan, Bandung Selatan

14. Jawa Tengah
Tanah kahyangan, Candi Dieng, Wonosobo

15. Jawa Timur
Menuju Cemoro Kandang, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

 
Lautan Pasir, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

 Kawah Ijen, Banyuwangi

16. DI Yogyakarta
Renovasi Prambanan

17. Bali
Gatotkaca gugur oleh Adipati Karna, Badung, Bandara Ngurah Rai

18. Nusa Tenggara Barat
Bongkar muatan, Gili Air
Pantai Kuta, Lombok Selatan

19. Nusa Tenggara Timur (belum pernah dikunjungi)
20. Kalimantan Barat (belum pernah dikunjungi)
21. Kalimantan Timur
Menjelang sore hari di Batu Dinding, Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu
Melawan arus di Riam Udang, Mahakam Ulu

22. Kalimantan Tengah (belum pernah dikunjungi)
23. Kalimantan Selatan
Batubara, abu, debu - Sungai Danau

24. Kalimantan Utara (belum pernah dikunjungi)
25. Sulawesi Utara (belum pernah dikunjungi)
26. Gorontalo (belum pernah dikunjungi)
27. Sulawesi Barat (belum pernah dikunjungi)
28. Sulawesi Tengah (belum pernah dikunjungi)
29. Sulawesi Tenggara (belum pernah dikunjungi)
30. Sulawesi Selatan
Leang-leang, Karst Maros-Bantimurung
31. Maluku Utara
Hijau sedikit biru, Pantai Sulamadaha, Ternate
Danau Tolire dan Gunung Gamalama, Ternate

32. Maluku (belum pernah dikunjungi)
33. Papua
Menembus kabut Hidden Valley, Tembagapura

34. Papua Barat (belum pernah dikunjungi)

Kapan giliranmu?


Klik Gambar di bawah untuk Melihat Artikel Lain



Share:

Friday, January 30, 2015

Lukisan Manusia Purba di Maros

Sering sekali kita jumpai batugamping di dekat kita, yang rata-rata lokasinya akan berdekatan dengan laut, seperti di Gunung Kidul (Yogyakarta), Palimanan (Cirebon), Padalarang (Bandung), Trenggalek dan Tulungagung (Jawa Timur) ataupun yang sangat eksotis di kepulauan Rajaampat (Papua Barat). Nah, tahukah teman-teman, di Sulawesi Selatan kita mempunyai sebuah Taman Nasional yang menyajikan hamparan karst terluas di Indonesia? Itulah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang terletak di Kab Maros dan Kab Pangkep, karst terluas di dunia kedua setelah karst yang terletak di Guilin, China.

Masih asing dengan kedua nama daerah tersebut? Saya berikan gambaran. Maros, merupakan lokasi dari Bandara Hasanuddin, jadi bandara bukan berada di Makassar, namun di Kab Maros. Di Kab Maros, terdapat juga pabrik semen Bosowa dan semen Tonasa, yang nantinya dikapalkan melalui pelabuhan di Pangkep. Nah, karena Kab Pangkep mempunyai pelabuhan, otomatis di daerah itu, masakan lautnya sangat nikmat, sehingga, sering kita jumpai ikan bakar Pangkep. Nah, sesuai judul, kita akan ulas perbukitan karst yang ada di Maros-Pangkep, yaitu Karst Bantimurung Bulusaraung.


Dari contekan jaman kuliah dulu ketika saya mengambil kuliah Geomorfologi dan Geologi Foto yang diajarkan Dosen saya, Pak Budi Brahmantyo, "karst dari bahasa Slavia krs: daerah gersang berbatu-batu di pegunungan Kaukasus, sebelah timur dari Laut Adriatik. Oleh Cvijic dipelajari dan makalahnya ditulis dalam bahasa Jerman, dengan istilah karst". 


Bentukan karst umumnya sangat indah, karena air akan melarutkan batugamping, sehingga muncuk bentukan-bentukan unik, seperti gua, sungai bawah laut, karena menyuguhkan bentukan seperti gunung-gunung yang berundulasi, kadang dijumpai gua, yang dapat terisi air maupun yang kering. Sering kali muncul speleotem yang indah (hiasan dalam gua).


Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung juga menjadi tempat wisata taman kupu-kupu. Yang saya sayangkan ketika berkunjung di kawasan wisata bantimurung, adalah mahalnya tiket untuk wisatawan asing, tidak dibarengi dengan perbaikan kualitas dari pelayanan tempat wisata. Bayangkan saja, untuk wisatawan lokal, kita dikenai tiket Rp 25.000,- sedangkan untuk wisatawan asing, 10x lipat, Rp 255.000,-. Jika di dalam kualitas tempat wisatanya bagus, tidak ada masalah. Namun di dalam, banyak sekali jebmen (jebakan betmen), seperti untuk duduk di tikar, ternyata kita harus membayar, masuk ke dalam goa, harus memakai senter yang disewakan. Ckckck, sangat tidak sebanding untuk harga semahal itu. Dan hal lain yang sangat disayangkan, menjual kupu-kupu sebagai oleh-oleh itu tidak benar, karena di sekitar lokasi wisata, banyak anak-anak maupun remaja yang memburu kupu-kupu dengan penangkap kupu-kupu. Sangat disayangkan memang..





Di dalam Taman Nasional Bantimurung, kita dapat menjumpai air terjun bantimurung, yang sangat deras, yang mengalir melewati basement batugamping dengan beda tinggi 15 meter, dengan lebar mencapai 20 meter. Di sisi samping dari air terjun, air juga dialirkan melalui pipa, mungkin untuk pembangkit listrik saya rasa. Di dalam lokasi air terjun, pengunjung bisa berenang di sisi sungai yang lebih tenang, dan anak-anak bisa bermain di lokasi yang lebih aman. Tidak jauh dari air terjun, jika kita masuk ke lebih dalam, maka kita dapat menjumpai goa dengan mulut yang tidak terlalu besar, namun ketika kita masuk ke dalamnya, kita akan mendapati ruangan yang sangat besar, dengan adanya danau yang terbentuk akibat adanya rembesan dari stalaktit di dalam mulut goa. Namun, karena kamera saya habis, saya belum sempat mengabadikannya dalam gambar. Lain kali harus lebih "prepare" nih.


Di kawasan taman nasional Bantimurung, kita juga dapat menjumpai prasasti Leang-Leang. Saya sendiri belum mencari tahu arti dari leang-leang, namun saya menduga leang ada hubungannya dengan liang, kalau kita analogikan dengan karst Maros, maka yang dimaksud adalah goa yang ada di batugamping. Kalau benar, ya syukur, kalau salah, nanti saya ralat ya. Hehehe. Disana, kita bisa menjumpai bentukan batugamping yang sangat indah, yang membentang di sepanjang persawahan, yang terbentuk akibat pelarutan dari batugamping oleh air. Memang, goa dan lubang yang terbentuk di kawasan karst sangat dikontrol oleh interaksi antara air (H2O) dan kalsit (CaCO3). Kalau dihubungkan dengan wisata Leang-Leang, maka disinilah manusia purba dulu sempat tinggal dan menetap. Hal ini ditunjukkan oleh adanya lukisan-lukisan yang indah yang ada di dinding bagian atas dari goa. Cukup tinggi lo, lebih dari 5 meter. Sepanjang perjalanan, kita akan menjumpai Leang Burung, dan yang paling menakjubkan, Leang Pettakere.






Di Leang Burung, kita dapat melihat hanya beberapa lukisan tangan di bagian atas dari goa. Namun di Leang Pettakere, kita tidak hanya menjumpai satu lukisan tangan dari manusia purba, ada juga lukisan babi di dinding tersebut. Lukisan ini bisa juga kita jumpai di Karst Berau-Mangkalihat, yang berada di Kutai Timur. Untuk menggapainya, sepertinya mustahil, karena kita akan diingatkan oleh petugas keamanan dari situs wisata, untuk tidak naik ke batugamping yang lebih tinggi. Cukup bagus memang, daripada akhirnya lukisan tangan dan babi dari manusi prasejarah itu bisa rusak karena vandalisme.

Dan, kini waktunya berpisah... Saya pamit sekolah dulu di tempat kelahiran Adolf Hitler, Austria. Semoga saya masih bisa berkarya,,,



http://geowww.geo.tcu.edu/faculty/donovan/10113%20karst%20revision/photoalbum/pages/speleothem%20forms_jpg.htm


Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain







Share:

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *