Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Showing posts sorted by relevance for query besi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query besi. Sort by date Show all posts

Monday, January 25, 2016

Aquarius, Gunung Besi dan Leoben



Tiga orang berjalan di pinggir sungai untuk menangkap ikan. Di tengah perjalanan, mereka menemukan ikan yang sedang terperangkap dalam jebakan ikan. Mereka melepaskannya, dan tiba-tiba ikan itu berubah menjadi Aquarius, Dewa(i) Hujan. Aquarius berjanji akan mengabulkan tiga permintaan untuk ketiga orang itu. Mereka harus memilih, emas untuk 10 tahun, perak untuk 100 tahun dan besi untuk selamanya. Aquarius pun mengarahkan telunjuknya ke sebuah gunung, dan seketika jadilah gunung itu menjadi gunung emas, gunung perak dan gunung besi.

Legenda Aquarius. Foto diambil di Prabichl, salah satu tempat terbaik untuk ski di Austria (foto koleksi pribadi) 
Aquarius dan kereta tambang. Lukisan Aquarius banyak dijumpai di antara kota Vordernberg dan kota Eisenerz (foto koleksi pribadi) 

Orang pertama memilih gunung emas, dan dalam waktu singkat dia menjadi orang kaya dan bergelimang harta dan anggur, akhirnya dia meninggal tidak lama setelah itu. Orang kedua mengalami nasib yang sama, bergelimang harta sehingga akhirnya dia harus kembali bekerja. Berbeda dengan orang ketiga, dimana dia yang memilih gunung besi memang harus berupaya berat di awal masa kerjanya, namun akhirnya dia dan keturunannya mendapatkan hasil yang banyak hingga saat ini. Dan, gunung besi itu bernama Erzberg (erz=bijih, dari bahasa Inggris "ore" , dan berg=gunung). Gunung itu terletak di kota Eisenerz (eisen=besi, erz=bijih), yang terletak 30 km di Utara di kota Leoben, tempat saya tinggal.
Erzberg saat winter (foto koleksi pribadi)

Erzberg merupakan tambang besi open pit terbesar di Eropa Tengah, dan sudah ditambang sejak jaman Romawi. Tambang ini juga merupakan asal mula berdirinya pabrik peleburan besi "voestalpine" (serupa dengan Krakatau Steel namun milik Austria), yang menjadi cikal bakal Montanuniversität Leoben yang dibangun pada tahun 1830. Pabrik pengolahannya berada di Donawitz, yang berjarak hanya 10 menit dari kampus Montan. Karena Erzberg inilah, kota Leoben menjadi cikal bakal kampus pertambangan dengan reputasi yang sangat baik.

Montan, merupakan kampus yang memiliki tradisi yang sangat kuat di bidang geologi, pertambangan dan perminyakan. Glück Auf adalah salam yang diucapkan hampir di semua negara berbahasa Jerman, ketika dua orang penambang bertemu, dengan harapan mereka akan mendapatkan hasil tambang yang banyak di hari itu. Glück Auf juga tertulis di bangunan utama kampus, dimana hingga saat ini, budaya Leder Sprung dan Philistrierung masih dijalankan.
Logo di gedung utama Montanuniversität Leoben ( oehontour.tumblr.com)

Leder Sprung adalah seremoni penambang jaman dahulu, dimana mereka harus melompati sebuah bendera kulit, sebagai tanda solidaritas sesama pekerja tambang ketika mereka direkrut dalam sebuah komunitas tambang. Mereka mengenakan Berg Kittel, sebuah setelan baju berwarna hitam, pakaian pekerja tambang abad 18 dulu. Di Leoben sendiri, mahasiswa masih menggunakannya untuk mengikuti beberapa ujian, terutama jika ujiannya lisan maupun ujian akhir kelulusan. Setelah kelulusan, mahasiswa Leoben melakukan seremoni menyanyikan lagu-lagu pekerja tambang jaman dulu, sambil mahasiswa yang lulus, diangkat oleh dua orang teman dekatnya, kemudian orang ketiga men-"jedug-jedug" kan punggung mahasiswa yang lulus tersebut ke sebuah papan besi di bawah tulisan Glück Auf. Setelah itu, mahasiswa diarak ke tengah kota dengan iring-iringan pemusik dan diarak di atas kuda sampai hauptplatz, kemudian si wisudawan harus berorasi sambil memeluk patung Bergmann, kemudian melompat dari patung itu ke kolam.

Budaya ini juga saya alami ketika saya lulus sarjana dari Bandung, istilahnya adalah penon-him-an.
Ledersprung lazim dilakukan di daerah yang memegang budaya tambang di negara berbahasa Jerman. Gambar di atas adalah ledersprung di Voitsberg saat perayaan Barbarafeier (www.kleinezeitung.at)
Philistrierung di gerbang depan gedung utama Montan (http://diepresse.com/)
Bergparade atau parade tambang, memperingati ulang tahun Montanuniversität Leoben pada Oktober 2015 lalu (http://175jahre.unileoben.ac.at/de/4914/)
Bergmannsbrunnen Leoben, sudah ada sejak tahun 1799 (sumber: http://www.meinbezirk.at/)
Hauptplatz Leoben menyambut perayaan Natal dan tahun baru

Kampus ini diinisasi oleh Kaisar Erzherzog-Johann, seorang Kaisar yang menjabat di Provinsi Styria. Kaisar ini sangat mencintai ilmu pengetahuan, sehingga disaat dia menjabat, dia membuat kampus Montan di Leoben dan TU Graz. Patung dari Kaisar ini bisa dilihat di Hauptplatz kota Graz, dimana patungnya diapit oleh empat patung lain. Empat patung tersebut menggambarkan empat sungai besar yang melintasi provinsi Styria, yaitu sungai Mur, sungai Drau, sungai Enns, dan sungai Sann.
Ptung Erzherzog-Johann dikelilingi 4 patung lain. Patung ini bisa dikunjungi di Hauptplatz (pusat kota) Graz (sumber: wikimedia.org)

Dan, untuk menutup sejarah Leoben ini, saya ucapkan 
Glück Auf

Andy Yahya Al Hakim
Penulis adalah mahasiswa Doktorat bidang Geologi di Montanuniversität Leoben sejak 2015 yang lalu. Penulis mempunyai hobi beraktivitas di alam dengan bersepeda dan aktif menulis di blog edukasi andyyahya.com dan anakbertanya.com
Share:

Thursday, October 10, 2013

Takhayul Ekonomi dan Takhayul Geologi



Tulisan ini saya kutip dari halaman ini , karena saya rasa isinya yang cukup bagus. Tulisan ini menceritakan tentang Pak Soekarno dan Pak Andang Bachtiar. Di benak saya, kedua tokoh tersebut sangat membiarkan pemikiran mereka lepas dan bebas, merdeka, walaupun kelak mungkin saya bisa salah, karena saya hanya membaca tulisan dari mereka, tanpa pernah bertemu dan berdiskusi tentang pola pikir mereka.

Namun ada hal yang saya kagumi dari mereka, bahwa mereka berdua, termasuk saya juga, yakin bahwa saat ini kita yang harus melek dan sadar terhadap apa yang kita punya dari bangsa kita. Soekarno sudah memulai tahun 1960, hampir 53 tahun yang lalu. Sekarang jaman siapa? Kita yang punya ini jaman, kita ini yang harus menjaga kemerdekaan ini. Tidak lain dan tidak bukan, pendidikan dan idealisme kita sendiri harus merdeka. Mengutip Tan Malaka,  "kalian jutaan orang Indonesia tidak akan mungkin merdeka dan maju, selama masih ada pikiran magic di pikiranmu yang tidak kamu buang". Buang takhayul Indonesia tidak bisa bergerak maju. Kita yang akan memulai. Kita yang akan memulai membangun bangsa ini. Kelak, saya akan menjadi lebih hebat dari mereka. (ilustrasi: Foto Ekskursi Karangsambung 2013 oleh Teknik Pertambangan ITB dengan tema "menjadi orang pintar")



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


TAKHAYUL GEOLOGI
Pada 11 Juli 1960 Soekarno pidato di depan pelajar-pelajar di Surakarta (Solo) yang menyinggung tentang takhayul ekonomi dan TAKHAYUL GEOLOGI (cuplikan lengkapnya saya lampirkan di bagian paling bawah tulisan ini).

Yang dimaksudkan Soekarno dengan takhayul geologi pada waktu itu adalah: persepsi umum di masyarakat tentang sumberdaya alam Indonesia yang dicekok-kan oleh Belanda ke bangsa Indonesia, bahwa:
- Indonesia tidak punya bijih tembaga
- Indonesia tidak punya arang batu yang kalorinya tinggi
- bijih emas hanya ada di Sumatra Selatan
Cara memberantas takhayul itu, kata Soekarno - dengan mencontoh RRT - ya dengan pendidikan (geologi; red.) yang benar.

Hari ini, 53 tahun setelah Soekarno pidato tentang hal itu, takhayul geologi itupun masih terus ter(di)sebar; bahwa:
- Intan di Martapura dan Kalimantan Barat itu nggak ada batuan sumbernya; meraka seolah disebar begitu saja dari “langit” masuk ke sungai-sungai purba (terus: siapa yang menguasai “kimberlite-pipe” atau “volcanic-plug” yang penuh intan primer itu ya?)

- Sumberdaya migas kita sudah habis menipis padahal sebenarnya pengetahuan dan keberanian kita untuk eksplorasi-lah yang nggak ada (karena sudah belasan tahun dikelirukan dengan konsep-konsep sesat tentang sumberdaya migas Indonesia dan dilatih hanya untuk eksploitasi tapi bukan eksplorasi)

- Cadangan emas raksasa hanya ada di papua dan sumbawa padahal masih ratusan lokasi di sepanjang jalur bukit barisan dan pegunungan selatan jawa yang masih potensial mengandung sumberdaya emas-perak-tembaga raksasa belum diteliti selayaknya (sekalian dihantam kasus tumpang tindih lahan konservasi kehutanan dan kasus lingkungan!).

- Hanya Cina yang kaya potensi dan menguasai mineral-mineral masa depan unsur tanah jarang (REE -rare earth element), di Indonesia entah ada atau tiada kita tidak pernah meyakininya, padahal sudah bertahun-tahun orang-orang luar menambangnya di perairan Riau dan juga di Kalimantan Barat sana, a/n galian C (dan kita tetap tidak mempedulikannya).

- Potensi geothermal kita luar biasa banyaknya tapi eksplorasinya sulit dan makan biaya dan komoditasnya tidak ekonomis, padahal kalau saja subsidi migas dialihkan sebagian saja ke energi hijau aman dan berlimpah itu maka kita semua dengan cepat akan terbebas dari jeratan mafia minyak yang selama ini mencekik negara dan menggantikannya menggunakan geotermal di seluruh jalur sumatra-jawa…

- Di Indonesia tidak ada cooking coal dan pemerintah tidak pernah mendata produksinya, padahal data-data eksplorasi yang bersliweran dan juga catatan-catatan jual beli di pasar Hongkong dan Singapur sana membukukan jutaan ton tiap tahun coking coal yang harganya 2x lipat harga coal biasa itu keluar dari Indonesia…

Selain butuh Soekarno 2013, kita juga butuh lebih dari seorang guru geologi yang berani melawan arus mengajarkan dan mendidik cara memberantas takhayul-takhayul itu semua.

Salam
Andang Bachtiar, Geologist Merdeka!

Memberantas Takhayul Versi Soekarno
(Cuplikan Ceramah/Pidato Soekarno di hadapan pelajar Surakarta, 11Juli 1960)

“….Di Tiongkok ada satu kampanye hebat, memberantas ketakhyulan. Ya memang, ketakhyulan harus diberantas; tetapi ketakhyulan yang diberantas di Tiongkok itu bukan ketakhyulan mengenai dhemit, memedi, jin, peri perayangan saja. Juga ketakhyulan ekonomi, ketakhyulan geologi diberantas sama sekali. Kita masih menderita penyakit ketakhyulan geologi, ketakhyulan ekonomi, karena dicekoki oleh Belanda. Misalnya berkata: Indonesia tidak mempunyai bijih tembaga. Kita percaya bahwa Indonesia itu tidak mempunyai arang batu, arang batu yang kalorinya tinggi, seperti arang batu di Inggris, di Cardiff, yang dia punya kalori 7.900 atau 8.000. Indonesia tidak punya. Ada yang berkata Indonesia itu tidak mempunyai bijih emas kecuali sedikit di Sumatera Selatan. Kita percaya. Nah, ini menjadi ketakhyulan Saudara-saudara. Takhyul ekonomis, takhyul geologi kepada kita, bahwa Indonesia hanya mempunyai bijih emas di situ, tidak mempunyai bijih tembaga. Diberantas RRT.


Cara memberantasnya bagaimana ? Pemuda-pemuda, pemudi-pemudi diberi sedikit pengetahuan hal geologi. Bijih besi itu, rupanya begini. Bijih emas, begini rupanya. Bijih tembaga, begini. Pemuda-pemuda mengerti lantas tahu: O, bijih ini begini, bijih itu begitu, dan lain-lain sebagainya; disebarkan di seluruh tanah air RRT, disuruh pemuda-pemudi itu mencari, mencari. Dan hasilnya apa ? Ternyata bahwa diseluruh RRT ada bijih besi. Dahulu orang berkata bahwa besi ada bijih besi. Dahulu orang berkata bahwa besi di RRT hanya terdapat di situ, di situ bagian sedikit daripada RRT utara. Sekarang tidak. Di mana-mana ternyata ada bijih besi. Oleh karena pemuda dan pemudinya menyelidiki - explore, katanya Inggris - explore di mana-mana, sehingga di tiap-tiap propinsi di RRT sekarang ada tanur. Tanur yaitu pembakaran bijih besi ini untuk dijadikan besi.


Nah, kita pun harus demikian. Berantas segala takhyul, bukan saja takhyul setan tetapi juga takhyul ekonomis dan geologis yang ada di dalam dada kita, tetapi agar supaya kita bisa memberantas takhyul itu, kita pertama harus mempunyai human skill. Kedua mentalitas kita harus investment yang sehebat-hebatnya; mental investment. Menjadi pemuda-pemudi yang dinamik, menjadi bangsa yang dinamik. Sebab kalau tidak demikian, kita tidak akan mengerti garisnya sejarah ini. Pak Leimena ini sudah takut saja; Wah, nanti Indonesia ini jikalau tidak progresif, verpletterd in het gedrang van mensen en volkeren die vecthen om het bestaan. Seluruh dunia sekarang ini mengejar kepada progresivitas.
(Ceramah kepada para pelajar di Surakarta, 11 Juli 1960)
Share:

Sunday, June 14, 2015

Mengenal Sumberdaya Alam di Indonesia dengan webGIS

Indonesia (update 15-2-2019):


Update 14 Juni 2017
peta geologi dan metalogenik Finlandia, Swedia, Norwegia
Update 5 Januari 2017
peta geologi dan metalogenik Austria

Teman-teman sebangsa dan seperjuangan, punya adik SD yang kebingungan mencari dimana saja sih gunung berapi di Indonesia? Atau dimana saja lokasi tambang yang ada di Indonesia? Pengalaman saya, ketika mata pelajaran IPS, saya ingat harus mengingat-ingat batubara ada di Ombilin, gas alam ada di Arun, aspal di Buton, dan sebagainya. Saya harus membuka peta, atau buku pintar bernama RPUL (belum ada google dan internet jaman dulu). :D
sumber: kaskus.us

Atau teman-teman yang lagi berjuang mengerjakan tugas Dosen untuk mencari tambang emas dan tembaga di di Indonesia? Panas bumi yang ada di Indonesia? Kita harus berterima kasih lah, karena kita kita punya sebuah lembaga hebat bernama Badan Geologi

Indonesia memiliki banyak geologis, eksplorer yang sudah menginventarisasi potensi sumber daya yang ada di Indonesia, serta mendigitalisi data tersebut sehingga bisa diakses oleh masyarakat awam. Data eksplorasi sejak jaman Belanda yang berjumlah ribuan hingga terbaru dikompilasi, dan bukan pekerjaan mudah untuk mengumpulkan, mendatanya dan menampilkan dalam web-gis. 

Peta ini berupa 
- peta dasar Indonesia
- batuan pembawa (formasi pembawa logam)
- energi fosil (batubara, gambut, bitumen padat)
- panas bumi (pendahuluan, rinci, siap dikembangkan, terpasang)
- logam dasar (air raksa, seng, tembaga, timah, timbal)
- logam mulia (emas primer, emas plaser, perak, platina)
- logam besi dan paduan besi (besi, besi laterit, kobal, kromit, kromit plaser, mangan, molibdenum, nikel, pasir besi)
- logam ringan dan langka (bauksit, monasit, titan laterit, titan plaser)
- mineral industri (barit, batugamping, belerang, bentonit, diatome, dolomit, fosfat, gypsum, kalit, oker (saya ga tahu ini apa), talk, yodium, zeolit
- bahan keramik (ball clay), felspar, kaolit, kuarsit, lempung, magnesit, pasir kuarsa, perlit, pirofilit, toseki)
- bahan bangunan (andesit, basal, batuapung, diorit, granit, marmer, obsidian, oniks, sirtu, tras)
- batu mulia dan batu hias (ametis, batu hias, batu sabak, dasit, gabro, intan, kalsedon, opal, rijang, serpentin, travertin, ultrabasa, granodiorit, jasper)
- WKP - wilayah kerja pertambangan (WKP ditetapkan 2011, WKP usulan 2011, WKP eksisting 2011)

web-GIS Sumber Daya Geologi bisa diakses di halaman ini . 

Sebagai contoh, saya ingin mencari lokasi logam dasar raksa, seng, tembaga, timah dan timbal yang ada di Indonesia. Saya tinggal men-centang logam yang ingin dicari, tunggu sebentar, dan taraaaa... peta nya sudah jadi. Teman-teman tinggal mengubah data yang diperlukan di toolbar di sebelah kanan. Tidak susah kan. 

Atau penasaran, berapa MW sih kapasitas panas bumi yang terpasang di Wayang Windu? Tinggal ubah peta nya menjadi Peta Panas Bumi, kemudian klik "identify" 


Untuk data tentang kegunung apian, silahkan akses di halaman yang lain dari badan geologi, yang bisa diakses disini.

Jadi, tidak ada alasan lagi tidak tahu potensi negara kita kan? Jadi, mari kita gunakan hasil karya dari anak negeri Selamat belajar.....


Tantangan ke depan?
Banyak sekali manfaat dari webGIS, karena kita dapat mendapatkan informasi dengan mudah dan terintegrasi satu sama lain. Sebagai contoh, ketika kita ingin mengoverlay peta dasar dengan kondisi iklim dan geologi, atau ingin melihat bukaan lahan, dan sebagainya.

Di Austria, webGIS sudah diintegrasikan per provinsi, yang juga memberikan informasi lain seperti keperluan wisata, air, iklim, perikanan, geologi, geoteknik, pekerjaan sipil dan sebagainya (akses disini). Sebagai contoh, saya mendapat tugas untuk membuat laporan dari pemetaan bawah tanah di tambang besi di provinsi Karintia. Saya akses halaman ini untuk mengetahui kondisi geologi regionalnya.  Kalau di bandingkan, pastinya perlu dana yang besar, kalau membandingkan Indonesia dengan Austria misalnya. Tidak ada yang mustahil kalau kita mau berusaha.




Kalau kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri dan tidak pernah melihat kemajuan teknologi dari tetangga, kapan kita sadar bahwa kita masih harus banyak berbenah?

INDONESIA BISA....


Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain




Share:

Tuesday, April 1, 2014

Eksotisme Bukit Barisan, Indahnya Taman Bumi-Geopark Merangin

Saya selalu menyukai hal yang baru. Untuk tulisan kali ini, saya coba menulis blog di dalam travel yang bergoyang-goyang, yang mengantar saya dari Bandara Cengkareng menuju Pasteur. Kali ini saya baru saja pulang dari Jambi, kota yang sangat ikonik dengan Candi Muaro Jambi nya. Sayangnya sudah hampir ketiga kalinya saya berkunjung ke Jambi, saya belum sempat untuk mampir melihat keindahan Candi tersebut, yang sebenarnya hanya berjarak 25 km dari kota Jambi. Sudahlah, mungkin lain kali saya berkunjung kesana. Saya ga bisa menahan untuk bisa menulis tentang eksotisme Bukit Barisan, dan berkesannya Taman Bumi Merangin, yang baru saja saya kunjungi sejak Jumat hingga Senin yang lalu.




Kali ini saya datang kembali ke Bukit Barisan, namun di daerah yang berbeda dengan kunjungan saya sebelumnya. Saya pernah berkunjung di Ujung Selatan Bukit Barisan untuk mengunjungi tambang emas yang digenangi air karena menambang di bawah sungai purba dengan debit air yang tinggi, yang memaksa perusahaan mengeluarkan airnya hingga menggunakan 14 pompa (saya lupa kapasitas nya berapa); saya juga pernah berkunjung ke Ujung Utara Bukit Barisan untuk melakukan pemetaan dan eksplorasi geofisika bersama eks- anggota separatis, yang alhamdulillah bisa mengantarkan saya ke Fukuoka, untuk mempresentasikan hasil karya saya di seminar internasional; dan kali ini saya kembali ke Bukit Barisan untuk 2 hal, eksplorasi bijih besi dan mengunjungi taman bumi. 

Setiap saya berkunjung ke Bukit Barisan, saya selalu dibuat terkagum-kagum dengan flora fauna nya. Di daerah yang berkontur ga sekolah ini, saya pernah lihat bekantan, kalajengking, bunga bangkai, jelatang, semut raksasa, burung yang berwarna biru, dan juga bekas dari cakaran beruang. Dan tiap kesini, selalu ada pacet yang menempel di badan saya, yang kali ini mampir ke perut saya. Untungnya saya belum pernah bertemu dengan jejak harimau. :D
kekejaman pacet yang menempel tepat di perut, di baju lapangan saya

Pada eksplorasi bijih besi kali ini, saya tidak akan membahas terlalu dalam tentang bijih besi, karena saya pun kurang begitu tertarik dengan mineral pembawa unsur besi seperti magnetit, hematit, limonit, dan goetit/lepidocrocit. Saya lebih tertarik dengan batuan dan mineral lain yang saya jumpai di lokasi tersebut, yaitu batuan granit dan mineral topaz. 

Ada apa dengan Granit? Batuan beku yang tergolong batuan beku asam ini berwarna cerah, di dominasi oleh mineral kuarsa, dan sangat lazim dijumpai di daerah yang mempunyai mendala metalogenik (metallogenic provine) dengan karakteristik yang relatif mencirikan endapan yang bertipe asam, seperti di Kepulauan Bangka Belitung yang kaya akan timah, yang mempunyai batu-batu yang berukuran sangat besar yang membentang di sepanjang pulau di daerah tersebut. Batuan  granitik merupakan batuan yang menjadi asal endapan timah, baik yang terbentuk secara primer maupun sekunder, serta menjadi sumber bagi munculnya kasiterit sebagai mineral pembawa timah, serta mineral-mineral logam tanah jarang seperti rutil, xenotime, monasit. Sudah berkali-kali saya mengamati mineral-mineral tersebut di bawah mikroskop, namun memang karena keterbatasan saya, sering saya lupa, mana mineral kasiterit, ilmenite, apalagi monasit dan xenotim, hehehe. Cukup untuk cerita granit, sekarang saya beralih ke topaz.

Topaz, merupakan mineral yang termasuk tipe mineral silikat, yang mempunyai rumus kimia Al2SiO4(F,OH)2. Mineral ini dicirikan oleh habitnya yang orthorhombic, yaitu salah satu kelas dari kristal yang menunjukkan bahwa panjang sumbu a,b dan c dari mineral ini saling tegak lurus, namun tidak sama panjang. Apa itu sumbu a,b, dan sumbu c? Sekarang kita coba  bayangkan ruang tiga dimensi,sebut saja balok. Nah, kalau di bagian sumbu tengah dari ruang tersebut kita buat garis yang tegak lurus ke depan, kanan, dan atas, itulah analogi dari sumbu a,b dan c pada kristal. Kembali ke topaz. Apa yang menarik dari topaz yang akan saya ceritakan?

Topaz merupakan mineral yang mempunyai kilap kaca, mempunyai kekerasan mohs 8, dengan warna gores di papan gores (papan gores adalah suatu papan yang terbuat dari porselen, umum digunakan untuk melihat warna mineral untuk menjelaskan sifat  fisiknya) berwarna putih. Dengan sifatnya yang cukup keras ini, maka mineral ini dapat dipergunakan sebagai batu mulia. Sebagai informasi, untuk menentukan kriteria sebagai batu mulia, kita cukup mengetahui yang disebut sebagai skala Mohs, atau skala kekerasan relatif dari mineral. Metode ini digunakan untuk mengetahui, seberapa keras mineral yang kita lihat dibanding dengan mineral atau benda lain. Secara berurutan, skala mohs dari 1-10 adalah sebagai berikut.
Skala mohs 1: talk
Skala mohs 2: gypsum
Skala mohs 3: kalsit
Skala mohs 4: fluorit
Skala mohs 5: apatit
Skala mohs 6: feldspar
Skala mohs 7: kuarsa
Skala mohs 8: topaz
Skala mohs 9: korundum
Skala mohs 10: intan
Skala Mohs Relatif:
Kuku: 2.5
Kaca: 5.5
Ujung pisau lipat atau paku besi:6.5

Dari kekerasan tersebut, kita bisa uji, dimana mineral keras pasti bisa menggores mineral dengan skala mohs lebih rendah, namun mineral dengan skala mohs rendah tidak akan bisa menggores mineral yang lebih keras. Hal ini yang bisa kita aplikasikan, untuk mengetahui batu mulia yang kita miliki asli atau tidak. Caranya? Ya tinggal goreskan saja ujung pisau atau paku besi ke mineral tersebut. Kalau tergores, ya berarti skala mohs nya lebih rendah dari 6.5. Begitu lah kalau teman-teman berniat beli intan, minta izin sama mas yang jual, terus gores aja sama pisau. Hal itu yang terjadi dengan layar hp dan gps saya, yang keduanya kegores ketika saya menyimpan keduanya bersama-sama dengan sampel kuarsa dan topaz yang saya ambil selama di lapangan. Jadiiiii, setelah membaca penjelasan di atas, saya berkesimpulan bahwa topaz cocok untuk dijadikan  batu mulia, karena tidak mudah tergores (udah dari dulu kali topaz dijadikan batu mulia, hehehe).

Nah, beralih ke cerita kedua tentang kunjungan saya di Jambi, yaitu tentang Geopark Merangin. Memang belum banyak orang yang tahu, apa sih sebetulnya Geopark itu sendiri. Saya pun sempat dibuat kebingungan, tiap kali saya tanya orang di Bangko (ibu kota Kabupaten Merangin) tentang lokasi Geopark tersebut. Penunjuk jalan menuju lokasi itu pun sangat minim. Walhasil saya pun tersasar di tempat wisata lain, yang sebetulnya termasuk bagian dari Geopark Merangin tersebut. Saya malah mengetahui lokasi itu karena saya melihat ada poster caleg yang mencantumkan Geopark di salah satu posternya. Ngglethek kalo kata orang Malang bilang.

Apa yang bisa dinikmati dari Geopark tersebut? Kalau harus dibuat prioritas, maka yang pertama adalah fosil, yang kedua adalah wisata air, dan yang ketiga adalah air terjunnya.Itu berdasarkan prioritas saya ya, karena tujuan saya adalah melihat fosil yang terawetkan bukan pada batugamping, tapi di batulumpur. Fosil kayu Araucaraxylon, yang saya pun baru tahu kalau itu tumbuhan yang masih tumbuh secara insitu sejak hampir 300juta tahun yang lalu hingga sekarang. 


Perbandingan (Araucaraxylon di Natur Historische Museum, Wina, Austria-Sept 2015)

===============================================================
Sedangkan fosil tumbuhan dan daun yang dijumpai adalah fosil dari Macralethopretis sp, Cordaites sp, Calamites sp, Pecopteris sp, Lepidodendron dan lain-lain. Saya memang bukan paleontolog, sehingga saya tidak terlalu paham tentang jenis-jenis fosil tersebut, namun saya sangat excited dan menikmati kebodohan saya ketika memegang fosil-fosil tersebut. 

Sangat disayangkan, ketika saya datang dan berkunjung di lokasi tersebut, ada sepasang remaja yang sedang mojok di air terjun, yang menurut saya bisa menjadi sampah masyarakat dan kalau dibiarkan bisa menggangu citra dari tempat wisata tersebut. 

Geopark yang terletak di Desa Air Batu saat ini sudah diresmikan secara nasional untuk menjadi Geopark nasional pada akhir tahun 2013 yang lalu, namun sekarang, daerah ini masih menunggu hasil kunjungan dari tim UNESCO, yang akan sedang merapatkan mengenai status geopark tersebut untuk dijadikan geopark yang terintegrasi dengan geopark lain di dunia.

Saya sendiri juga agak kecewa, karena pada saat saya datang untuk melihat fosil-fosil tersebut, air sungai Merangin sedang deras-derasnya, karena ternyata di hulu Sungai Merangin yang ada di Gunung Kerinci, ternyata sedang pasang karena hujan deras pada saat semalam sebelum saya datang. Sungai pun menjadi keruh, sehingga merendam fosil-fosil yang mayoritas berada di dekat air terjun. 

Fosil kerang dan fosil Brachipoda tidak bisa saya lihat di lokasi, menurut informasi memang tenggela, namun untuk Brachiopoda, mungkin sudah diamankan oleh Badan Geologi mengingat kalau tidak diamankan, fosil tersebut bisa kapan saja diambil dan dicongkel oleh orang-orang jahil. Tidak masalah saya tidak bisa melihatnya, namun saya sudah sangat puas karena pemandu arung jeram saya sudah membantu mengingatkan bahwa fosil itu boleh dilihat, boleh dipegang, namun tidak boleh diambil menggunakan palu dan yang lain. Papan informasi oleh Badan Geologi cukup komunikatif, menunjukkan informasi mengenai kondisi geologi di masing-masing lokasi, yang menunjukkan di daerah ini telah siap untuk dijadikan sebagai Taman Bumi.

Untuk melihat fosil tersebut, beberapa tempat memang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari Desa Air Batu, namun untuk melihat fosil secara keseluruhan, memang hanya bisa dijangkau dengan menggunakan perahu karet dengan sewa sekitar Rp 400.000,- Rp 500.000,- sekali jalan. Satu perahu umumnya bisa dinaiki oleh 4 orang tamu dengan 4-5 orang lain sebagai pendayung. Berbeda dengan arung jeram di Citarik,  maupun body rafting di Citumang maupun Green Canyon, yang bisa kita nikmati dengan panduan dari pemandu, di lokasi ini, tamu harus memegang erat-erat tali tambang berukuran besar yang ada di perahu, mengingat jeram di anak sungai dari Danau Kerinci ini sangat besar dan berbahaya.

Di akhir pengarungan, fosil kayu kersik (orang lain bilang sebagai Opal kayu), yang terbentuk akibat proses silisifikasi. Apa itu silisifikasi? Silisifikasi adalah proses presipitasi dari larutan kaya silika ke benda lain (dalam hal ini kayu), sehingga ketika larutan itu membeku, tekstur kayu masih terlihat jelas dan terawetkan. Umumnya, fosil kayu ini digunakan oleh orang-orang untuk dijadikan ornament di rumahnya, karena bentuknya yang indah. Namun hal yang sangat disayangkan,harga dari sungkai, sebutan dari fosil kayu di daerah ini sangat murah, hanya Rp 500,- untuk per kilonya. Gilaa… Padahal, konon katanya, Geopark yang berlokasi di Spanyol, yang mempunyai keunikan oleh fosil kayunya, ternyata sumbernya berasal dari Merangin. Hmmm, untuk hal yang ini, perlu ada klarifikasi lebih lanjut, karena saya hanya mendapat info dari penduduk lokal, yang mendapatkan arahan konservasi dari tim Badan Geologi yang berkunjung untuk membuka mata warga terhadap potensi konservasi kayu kersik yang bisa salah asuhan. Eksploitasi terhadap sumber daya alam harus mengenal kata bijaksana, karena sifatnya yang tidak terbarukan, sehingga kelak anak cucu kita tidak dapat menikmati apa yang kita lihat saat ini.



Dan cerita panjang saya dari Bukit Barisan dan Geopark Merangin saya tutup dengan kutipan dari lambung kapal karet yang saya naiki, Memuliakan Warisan Geologi Menyejahterakan Masyarakat. Mari kita tidak hanya menikmati indahnya alam, namun juga menjadi Sang Yudha Bumi, Si Penjaga Bumi.


Tulisan ditulis sejak KM 0 Tol dalam Kota Jakarta, baru selesai di KM135, persis di antrian tol keluar Pasteur, Bandung. Whooosaaah…..






katanya batu yang di sebelah kiri itu mirip kepala orang,,, iya ga sih?
Air terjun Muara Sungai Karing

Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain







Share:

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *