Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Wednesday, July 29, 2015

Alpen Dalam Bingkai Foto

Ibex - kambing gunung di pegunungan Alpen

Eisenerz Hochblaser - (Agustus, 2015)







Ramsau am Dachstein - Gütennberghaus (Juli, 2015)
Zigzag, 1.900 m asl 

Guttenberghaus in Ramsau am Dachstein (1914) at 2.164 m

His name is Mingmar, came from Nepal and work in this huts since 2 months a go. I hope someday I can visit Kathmandu and Khumbu

Can you see the goat? They lived in a hill of the Alps, I tooked this photo in around 2.250 m asl
Hölltallsee (Silberkar see) 


Rossing Silberkarklamm

Bunny in Lärchbodenalm 

Bee and flower 

Flag which guide you home



Bloom in summer 

Hill between Sinnabel and Essenstein, 2.200 m asl

Silberklamm


Großglöckner Alpen Highway (Juni, 2015)
Großglöckner Overview


Profil Großglöckner 

Füscher Torl


Indonesian Flag at Füscher Torl


Serpentine from Füscher Torl

Serpentine to Heiligenblut



Hochtor (7.9 degree C)


Grüner See (April, 2015)
Hochswab as a background


Me at Hochswab background


Grüner See

Camp stove


Bench before the water level increase


Grüner See

Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain





Share:

Wednesday, July 22, 2015

Aplikasi Identifikasi Kekerasan Batuan di Sekitar Kita

http://thoughtchalk.com/2011/06/29/hardness-scale/

Skala Mohs sempat beberapa kali saya ulas di beberapa artikel saya, tapi saya tidak pernah kehabisan materi untuk diceritakan dari si Bapak yang bernama lengkap Carl Friedrich Christian Mohs. Kali ini saya coba kupas aplikasi skala Mohs , yang kadang tidak kita sadari bahwa penemuan beliau ada di sekitar kita. Sekedar me-refresh, skala kutip tulisan saya dari tulisan saya yang lain.

"........... skala Mohs adalah skala kekerasan relatif dari mineral. Metode ini digunakan untuk mengetahui, seberapa keras mineral yang kita lihat dibanding dengan mineral atau benda lain. Secara berurutan, skala mohs dari 1-10 adalah sebagai berikut.
Skala mohs 1: talk
Skala mohs 2: gypsum
Skala mohs 3: kalsit
Skala mohs 4: fluorit
Skala mohs 5: apatit
Skala mohs 6: feldspar
Skala mohs 7: kuarsa
Skala mohs 8: topaz
Skala mohs 9: korundum
Skala mohs 10: intan

Skala Mohs Relatif:
Kuku: 2.5
Koin "penny" : 4,5
Kaca: 5.5
Ujung pisau lipat atau paku besi:6.5

https://www.indiegogo.com/projects/periodic-table-of-super-elements#/story

Dari kekerasan tersebut, kita bisa uji, dimana mineral keras pasti bisa menggores mineral dengan skala mohs lebih rendah, namun mineral dengan skala mohs rendah tidak akan bisa menggores mineral yang lebih keras. Hal ini yang bisa kita aplikasikan, untuk mengetahui batu mulia yang kita miliki asli atau tidak. Caranya? Ya tinggal goreskan saja ujung pisau atau paku besi ke mineral tersebut. Kalau tergores, ya berarti skala mohs nya lebih rendah dari 6.5. Begitu lah kalau teman-teman berniat beli intan, minta izin sama mas yang jual, terus gores aja sama pisau. :D ......................."

Sekarang, saya coba ulas asal usul tentang sifat fisik dari mineral, yaitu kekerasan.

1. Manusia purba dan alat berburu
Manusia purba jelas tidak mengenal Friedrich Mohs, tapi manusia purba secara tidak sadar belajar bahwa ada batuan yang lebih keras dibandingkan batuan yang lain. Batu yang lebih keras kemudian dipakai untuk mengasah batu yang lebih lunak, sehingga akhirnya manusia purba bisa membuat ujung tombak, yang terbuat dari flint (varian dari grup mineral silika) serta obsidian (silika yang tidak mempunyai sistem kristal atau sering disebut amorf). 

Aplikasi ini akhirnya mengubah pola berburu dari manusia purba yang semula berburu tanpa alat, kemudian menggunakan batu untuk menghantam target buruannya, menjadikan batu yang diikat dengan kayu seperti parang, dan akhirnya menjadikan batu sebagai ujung mata tombak. 



Hal ini berlangsung hingga akhirnya muncul seorang filsuf Yunani yang menjadi suksesor dari Aristoteles bernama Theophratus. Theophratus awalnya belajar kepada Plato sebelum akhirnya menjadi murid Aristoteles. Dia yang juga menekuni ilmu tentang batuan menulis tentang sifat dari beberapa gemstone jika dipanaskan serta bermacam-macam perbedaan batuan dalam hal kekerasan. Di tulisannya, ada mineral yang dapat digores dengan besi dan ada yang tidak bisa. Dia juga menuliskan kalau intan adalah mineral yang sangat keras dan bisa menggores mineral yang lain. Setelah itu, tidak ada penelitian lagi yang menyebutkan tentang sifat fisik mineral yang berhubungan dengan "kekerasan."


Friedrich Mohs, yang sempat bekerja sebagai foreman di sebuah tambang di Jerman, akhirnya memutuskan untuk bekerja pada seorang banker yang juga kolektor mineral, dan mulai mengidentifikasi mineral di Graz. Pada tahun 1812, Mohs membagi mineral ke dalam 10 kelompok, dimana talk merupakan mineral paling lunak, sedangkan intan merupakan mineral paling keras. Semasa hidupnya, dia sempat menjadi professor di bidang mineralogi di Graz, Freiberg, Wina, serta sempat menjadi konselor di Leoben yang akhirnya menjadi cikal bakal kampus saya di Leoben, sebelum akhirnya meninggal tahun 1839. Nama Mohs diabadikan sebagai nama sebuah jalan di kota WIna dan Graz, Austria, serta di jalan tersebut, terdapat sebuah plakat yang menunjukkan 10 skala dari mineral, dimulai dari talk yang berada di bawah, hingga intan yang berada di paling atas. Saya sempat mengunjungi jalan Mohsgasse dan berfoto bersama plakat itu di Wina.

2. Uji kekerasan material
Skala Mohs memang sangat aplikatif untuk diterapkan bagi geologis untuk mengidentifikasi mineral di lapangan, namun kurang baik untuk mengetahui kekerasan dari sebuah material, karena skala mohs hanya memberikan rentang kekerasan relatif terhadap material lain. 

Untuk mengetahui kekerasan suatu material secara presisi, dilakukan sebuah pengujian dengan cara menggores material yang sangat keras dengan intan atau material lain seperti tungsten karbisa. Metode ini umum digunakan oleh kawan-kawan teknik mesin dan teknik material, yang diaplikasikan sebagai metode vickers, knoop, rockwell. Intan yang dipasang di ujung dari "pin", kemudian di tekan dengan gaya yang sudah ditentukan sebelumnya. Luas dari area yang ditinggalkan dari intan yang ditekan diukur untuk di konversi menjadi kekerasan dari material yang diukur.


3. Ujung mata bor dan Tunnel Boring Machine 
Ujung mata bor (drill bit) yang digunakan untuk mengebor tanah maupun batuan selalu dilengkapi dengan intan atau material sintetis lain yang harus mempunyai kekerasan yang lebih tinggi daripada batuan yang akan di bor. Sudah jelas, kalau mata bor nya tidak lebih keras dan lebih tajam, analoginya seperti mengiris daging dengan pisau yang tumpul. Tunnel Boring Machine (TBM) yang umum digunakan untuk membuat terowongan untuk konstruksi sipil sudah dengan mata bor dari intan atau material sejenisnya. 



4. Eksplorasi mineral berharga
Gambar di samping adalah prinsip yang digunakan oleh seorang geologis maupun eksplorer dalam mencari mineral berharga (misalnya emas), dengan memanfaatkan sifat fisik dari batuan yang diamati di lapangan. Kita dapat menentukan jauh tidaknya material itu sudah tertansport dari sumbernya dengan melihat kebundaran dari mineral berharga yang kita temukan. Misalnya kita melakukan pendulangan emas/ intan dan mendapatkan mineral berharga di alat dulang kita. Jika mineral yang kita cari yang didapat masih kasar, runcing dan butirannya menyudut, maka sumbernya sudah tidak jauh dari lokasi kita. Begitu pula sebaliknya. Emas merupakan mineral yang sangat lunak dan sangat mudah tergores. Kadang sering kali kita susah membedakan antara emas dengan mineral lain seperti pirit dan kalkopirit dari hasil pendulangan di lapangan. Cara paling mudah yang biasa saya lakukan, adalah dengan menekan emas dengan kuku kita. Emas sangat mudah berubah bentuk, berbeda dengan pirit dan kalkopirit yang lebih keras.


Hal ini yang menjelaskan mengapa butiran pasir pantai umumnya membundar dan berukuran sangat halus, tidak seperti butiran pasir yang ada di dekat gunung. Pasir pantai sudah tertransport sangat jauh dari gunung, sehingga ukurannya sudah sangat halus.

Bagaimana, sudah dapat gambaran dari aplikasi identifikasi kekerasan batuan yang ada di sekitar kita? Semoga bermanfaat.

Artikel lain tentang aplikasi skala Mohs bisa juga dilihat di link di bawah.


Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain





Share:

Monday, July 20, 2015

Saya di Atas Sepeda

Klik Gambar untuk melihat sub-konten




Video
Bikecamping Kareumbi

Bikecamping Situ Sangkuriang

Bikecamping di Ranca Upas

Flashback
1992-1994 Saya menghabiskan masa TK saya tinggal di Singosari, Kabupaten Malang. Saya mendapat sebuah sepeda warisan, yang saya di cat oleh Abah supaya terlihat baru. Sepulang dari TK, saya selalu bersepeda sampai sore, hingga kulit saya bisa dibilang hitam, bukan lagi cokelat. Ketika saya mengendarai sepeda, saya berkali-kali jatuh, sehingga banyak bekas luka di kaki saya. Pengalaman yang paling saya ingat, banyak tetangga yang "wadul" ke orang tua saya "Mas Yayak kalau naik sepeda pas turunan kenceng banget, sering njlungup (jatuh tersungkur)". Hehehe.. Sayang, saya ga punya foto pas saya memakai sepeda.
Teman semasa kecil di Perum Alam Hijau, Singosari, Malang. ki-ka: Dani (kaos biru), Jimmy (kaos garis), Mariska (putih), saya (kuning) (Sadly, saya lupa nama semua teman kecil saya. Untung abah dan umi saya yang membantu mengingat nama teman-teman saya, hehe) 

1996 Saya mendapat hadiah sepeda karena saya rangking 1 sewaktu saya kelas 2 di Madrasah. Saya masih ingat, sepeda itu merk nya Subaru, seingat saya warnanya merah. Setelah saya mendapat hadiah, saya langsung keluyuran di sekitar Sukun (saya pindah rumah kontrakan di Singosari ke rumah sendiri di Sukun tahun 1994). Setelah beberapa tahun, sepeda itu sudah tidak muat lagi dengan saya, akhirnya diberikan kepada saudara di Surabaya.

2010-2015
Sejak 2010 sampai 2015, saya mulai rajin bersepeda. Langsung aja ditengok di bawah ya buat detail cerita saya dengan sepeda.



Ini logo dilarang bersepeda di MAUT (jalan tol). Pesepeda harus berjalan di sisi kanan jalan (ini niatnya cuma foto tulisan MAUT -nya)


Bikecamping di Kareumbi  





Bikecamping di Situ Sangkuriang
Pulang dari interview beasiswa Hitachi untuk kuliah S3 ke Jepang, 
hasilnya .... gagal,,, hehehe
Saya, Aqila dan Vidya di St Peter Freienstein, Austria

Share:

Sunday, July 5, 2015

Bersepeda Melewati Titik Tertinggi Austria





Sudah 5 bulan saya tinggal di kaki Pegunungan Alpen, di sebuah kota kecil bernama Leoben, di provinsi Styria, Austria. Austria merupakan negara dengan populasi sebesar 8,5 juta penduduk, yang jumlahnya hampir sama kalau kita bandingkan dengan penduduk 1 kota Jakarta. Penduduk satu provinsi Styria hanya 1,2 juta, jauh lebih sedikit dibandingkan penduduk kota Bandung sebesar 2,5 juta. Hal ini membuat jalanan sangat lengang dan membuat banyak orang tersenyum atau menyapa karena sangat jarang melihat orang bersepeda ke arah luar kota, seperti yang saya lakukan. 
Bersepeda di Bandung dan berkenalan dengan banyak komunitas pesepeda menempa diri saya, baik fisik maupun mental. Maklum, topografi di Austria sangat bergunung-gunung, menyerupai Bandung. Bermodalkan tekad dan uang beasiswa yang saya sisihkan, bulan kedua saya mencari sepeda bekas di toko jual beli online dan mendapatkan sebuah sepeda bekas yang sangat cukup untuk keperluan komuter menuju kampus, serta menunjang hobi yang saya bersepeda dengan beban.

 Saya mulai bersepeda dan beradaptasi dengan cuaca, karena ketika saya datang bulan Februari yang lalu, suhu terendah di kota saya mencapai -10 derajat dengan suhu rata-rata berkisar 0-2 derajat. Sepeda Wheeler 6600 mulai saya coba kayuh ke kota terdekat (Bruck a.d. Mur) yang berjarak 35 km pulang pergi untuk mulai membiasakan dengan suhu dan lalu lintas di Austria. 

Awal bulan Maret di Austria, saya mulai dibuat gatel oleh teman-teman penggemar bike camping yang sering melakukan acara kemping bersama-sama di sekitaran Bandung. Hal ini membuat saya bersepeda lebih jauh menuju kota Graz, yang berjarak 150 km pulang pergi dari Leoben. Walaupun tidak bisa kemping dan belum punya pannier sendiri, saya sudah cukup senang dengan tas ransel di belakang sepeda saya ketika pesepeda lain melenggang dengan sepeda road bike. 


Perjalanan dua hari menuju Graz memberikan semangat lebih, sehingga saya melanjutkan perjalanan ke kota lain bernama Klagenfurt yang berjarak 190 km dari Leoben. Perjalanan umumnya saya lakukan dalam 2 hari karena hanya mempunyai waktu untuk bersepeda pada hari libur. Kendala yang saya hadapi adalah angin gunung yang kencang, terutama ketika bersepeda dengan suhu rata-rata 8 derajat celcius, yang bertahan hingga bulan April. Bulan Mei, suhu sudah mulai agak menunjukkan rata-rata 12 derajat celcius dan hujan sering turun pada beberapa daerah. Pada bulan ini, saya melakukan perjalanan dari kota Salzburg, tempat kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart menuju kota saya. Di tengah perjalanan dari Salzburg menuju Leoben, saya dibuat kagum oleh banyaknya danau dan gunung-gunung gamping yang membentang dengan pemandangan yang indah. 


Alpen merupakan rangkaian pegunungan kapur yang terdeformasi (istilah geologi untuk menjelaskan kondisi batuan terubah karena tekanan) membentuk rangkaian pegunungan, membentang dari Perancis, Italia, Swiss, Jerman dan Austria. Danau terisi gleiser (lelehan es dari gunung) sehingga jumlah air menyusut pada musim dingin dan melimpah di musim panas. Termasuk sebuah danau yang berjarak 35 kilometer dari Leoben yang bernama Grunner See (dalam bahasa Indonesia berarti danau yang berwarna kehijauan), yang merupakan destinasi wisata alam terfavorit yang di seluruh penjuru Austria. Sepanjang jalan dihiasi pepohonan pinus yang mengingatkan saya akan Lembang atau perjalanan ke Kawah Putih bersama-sama teman-teman Federalis Bandung Indonesia. Suasana ini yang membuat saya kangen dengan Bandung, walaupun bukan merupakan kota kelahiran saya, tapi suasana keakraban ngliwet dan bersenda gurau membuat saya kangen Bandung.


Bulan Juni yang lalu sebelum berpuasa, ketika teman-teman di Bandung kemping sebelum puasa, membuat saya ingin melakukan hal yang sama. Namun karena membuka tenda di sembarang tempat di Austria dilarang (dan saya sendiri tidak punya tenda), saya selalu memilih untuk mencari losmen murah di pinggiran kota. Kali ini saya melakukan perjalanan menuju Grossglockner Hochalpenstrasse, yang merupakan jalan tol tertinggi di Austria. Grossglockner sendiri adalah gunung tertinggi di Austria dengan ketinggian 3.798 m. 


Jalan tol ini dibangun tahun 1930 dan hanya dibuka pada bulan Mei hingga September. Salju menutupi jalan dan harus selalu dibersihkan dengan mesin pengeruk salju, jika tidak sangat membahayakan pengendara. Sepanjang jalan, hampir ribuan mobil dan pesepeda motor besar memacu jalan tol sepanjang 48 km ini. Jalan tol ini dimulai dari ketinggian 757 m di kota bernama Bruck a.d. Grossglockner, dengan titik tertingginya Fuscher Torl dengan tinggi 2.428 m dan Hoch Tor dengan ketinggian 2.504 m dari kota awal. Rata-rata kemiringan jalan sebesar 9-12 derajat, yang membuat jalan ini berkelok-kelok. Hochtor juga merupakan titik tertinggi dari sebuah kompetisi balapan sepeda bernama Race Around Austria yang menempuh jarak 2.200 km yang ditempuh dalam 3-5 hari. 

Latihan fisik yang saya persiapkan selama ini ternyata masih kurang, karena ketika melewati ketinggian 2.000 m, kepala terasa pusing dan nafas juga menjadi tidak teratur. Saya baru ingat betapa pentingnya adaptasi bukan hanya dengan cuaca namun juga dengan ketinggian, karena kelembapan udara menjadi lebih rendah. Saya harus menghentikan kayuhan sepeda di Fuscher Torl di hari pertama, dan menikmati malam di kamar yang terletak di gudang sebuah restoran di puncak gunung karena semua kamar sudah penuh. Keesokan paginya saya lanjutkan perjalanan menuju Hoch Tor, dan mengabadikan gunung-gunung yang masih diselimuti salju walaupun suhu rata-rata sudah berkisar 15 derajat. 


Kenangan terindah saya bersepeda di Austria, di titik tertinggi Fuscher Torl berkibar bendera merah putih. Walaupun sebenarnya itu adalah bendera dari kota Wina dan bukan bendera negara tercinta kita, namun ketika jarak 10.000 km memisahkan Austria dan Indonesia, kangen mendalam terhadap ibu pertiwi membuat saya harus bisa menyelesaikan tujuan saya berada di Austria, menyelesaikan studi dan harus kembali untuk berbakti untuk ibu pertiwi. Aku cinta bersepeda, tapi lebih cinta lagi dengan Indonesia.


Share:

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *