Conversations with the Earth

Saturday, April 11, 2015

Kamu-kah Havelaar, Pak Hoegeng yang Ditunggu Bangsa ini?

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Tulisan ini saya buat karena saya terinspirasi oleh dua tokoh lama, yang akhirnya saya bisa berkenalan lebih dekat karena saya membaca autobiografi nya. Max Havelaar dan Pak Hoegeng Imam Santoso. Nama pertama pasti lebih familiar bagi banyak orang, karena nama itu masuk ke dalam kurikulum pendidikan (dulu saya mendapatkannya ketika SMP dan SMA pada pelajaran Sejarah), sedangkan nama kedua agak telat saya kenal, persisnya ketika saya sudah di akhir-akhir menjelang lulus sarjana.

Max Havelaar diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, pertama kali oleh HB Jassin


Max Havelaar, adalah judul sebuah novel yang ditulis oleh Multatuli, nama samaran dari E.F.E. Douwess Dekker. Roman ini ditulis pada tahun 1850-an, mengkisahkan tentang seorang Asisten Residen Lebak, yang bernama Max Havelaar, yang ditugaskan untuk menjadi asisten residen di daerah Banten, dan mendapati banyak sekali kecurangan, kebobrokan mental pejabat pemerintahan pribumi oleh Bupati dan Demang (sekelas Lurah/Camat), serta korupsi dari Residen Banten, yang dijabat oleh Belanda. Hanya sebatas itu cerita yang saya dapat ketika saya sekolah. Filmnya bisa dibuat tahun 1976, dan bisa ditonton disini.

Ketika kita membaca lebih detail tentang Max Havelaar, kita akan mendapati sosok berdarah Belanda yang jujur, adil dan berperilaku tegas, baik terhadap pribumi maupun terhadap sesama warga berkulit putih. Di Manado, di tempat lamanya dia bertugas, dia pernah menempeleng petugas keamanan (Letnan) karena ada mandor yang mempermainkan wanita pribumi, namun petugas tersebut bukannya menolong, malah menertawakannya. Karena letnan tersebut tidak terima karena dianggap melecehkannya di depan "jongos" pengangkut kopi, permasalahan diselesaikan dengan "cara Eropa", yaitu dengan beradu pedang 1 vs 1. Max Havelaar menang karena berhasil melukai dahi si Letnan.
Dari Manado, oleh Gubernur Jenderal Belanda, dia dipindahkan ke Lebak untuk menjadi asisten Residen di Lebak. Kira-kira asisten Residen itu sekelas Wakil Bupati. Lebak adalah daerah yang miskin, banyak warganya yang pindah ke kota, padahal disana daerahnya subur, dan banyak sawah membentang luas. Penyebab kemiskinannya adalah budaya untuk bekerja tanpa di bayar di rumah Bupati (mencabuti rumput, memperbaiki rumah), sehingga banyak sawah yang ditelantarkan oleh warganya. Ketika dia menjadi Asisten Residen Lebak, dia melarang praktek korupsi, tanam paksa, dan meminta untuk tuan tanah, Demang dan Bupati untuk membayar upah rakyat dengan adil. Namun yang terjadi, kerbau warga diambil secara paksa, yang digunakan Bupati untuk menyambut kerabat-kerabatnya dari Cianjur dan Bandung, serta banyak warga yang disiksa ketika menuntut upah dari bekerja, dan menuntut kerbau-kerbau yang diambil secara paksa oleh Demang, sebagai pajak untuk Bupati dan Belanda. Di Roman tersebut, diceritakan juga tokoh Saidjah dan Adinda, tokoh pribumi yang melaporkan perampasan kerbau dan kerja paksa kepada Havelaar di Lebak, akhirnya harus meninggal di akhir hayatnya di tangan Belanda.

Di akhir cerita, dia ingin membongkar rusaknya sistem pemerintahan di Lebak, namun malahan dia diteror, dengan meletakkan tas berisi puluhan ular di dekat rumah dinasnya oleh orang-orang yang tidak suka dengan cara memimpinnya yang tegas. Dia akhirnya dimutasi menjadi Asisten Residen di Ngawi oleh atasannya saat itu, karena ternyata atasannya juga terlibat korupsi, dan tidak suka dengan keberadaan Havelaar. Havelaar memilih memutuskan untuk mundur dari jabatan, dan kembali ke Belanda. Dia berkata pada istrinya, Tine, bahwa lebih baik dia mundur dan tetap memegang kejujuran daripada harus mengikuti rusaknya pemerintahan saat itu.

Tokoh kedua yang saya kupas adalah Pak Hoegeng, seorang Jenderal Polisi, namun juga pernah menjabat menjadi Menteri di periode Bung Karno. Beliau mendapat julukan "Polisi Jujur". Kata Presiden Gus Dur, beliau termasuk satu dari 3 polisi yang tidak bisa disogok, karena yang kedua adalah Patung Polisi dan yang ketiga adalah polisi tidur. Beliau pernah menjabat di Medan, Sumatera Utara, dan ketika menjabat disana, beliau heran karena rumah dinas yang seharusnya ditempati, tiba-tiba sudah lengkap dengan perabotan rumah beserta mobil. Padahal, beliau belum mengenal rekan di Medan. Ternyata, seorang pengusaha lah yang mengirimkan itu semua. Pak Hoegeng memilih untuk tinggal di Hotel, dan hanya mau menempati rumah jika barang-barang itu dikeluarkan. Akhirnya, bersama ajudan, dia keluarkan semua barang-barang, dan meletakkannya di depan rumah. 


Hal lain yang patut kita contoh dari Pak Hoegeng, adalah kejujurannya. Beliau diturunkan secara tiba-tiba oleh Presiden Soeharto di umurnya yang masih 49. Kala itu, dia berupaya untuk membongkar sindikat mobil-mobil mewah yang didatangkan oleh salah satu pengusaha. Namun ketika dia membongkar pejabat itu, yang ternyata masih berhubungan dengan bisnis keluarga Cendana. Ketika dia mengetahui informasi tersebut dan menceritakannya kepada Ibunya, Ibunya berpesan, "Ibunda rela makan nasi dan garam asalkan Jenderal Hoegeng jujur". Dan di akhir masa jabatannya, dia tidak mempunyai rumah dan mobil, yang akhirnya Kapolri setelahnya memberikannya dia rumah, dan rekan sejawat patungan untuk membelikannya dia mobil Kingswood. Di masa tua nya, Pak Hoegeng menggeluti hobinya di bidang musik, beraliran Hawaii, dan juga menjual lukisan untuk sekedar menyambung hidup, karena pensiunan nya hanya Rp 10.000,- dipotong Rp 2.500,-, yang akhirnya diubah tahun 2001 menjadi Rp 1.170.000,-. Hmm, dua tokoh yang berbeda zaman, namun keduanya sama-sama mempunyai hal yang sama, yaitu sifat jujur.

Eksplorasi batubara di Mamahak, Mahakam Ulu

Hal yang sama akan kita jumpai, ketika kita akan masuk ke dalam dunia kerja, sebut saja dalam dunia yang digeluti di bidang eksplorasi dan pertambangan. Sebagai contoh, anda melakukan eksplorasi di daerah terpencil, dan tidak ada yang tahu aktivitas anda di lapangan, selain anda sendiri, helper (tenaga harian lokal), dan tentunya Tuhan anda. Anda bisa saja bersantai-santai selama di lapangan dengan harapan mendapatkan upah harian lebih, karena bisa saja, semakin lama anda di lapangan, maka upah anda akan bertambah. 

Core shed, tempat menyimpan hasil pemboran

Atau misalkan ketika dituntut untuk membuat Laporan Eksplorasi, Laporan Studi Kelayakan dari sebuah perusahaan. Dengan data yang didapat, tentunya kita akan mengetahui, sejauh mana perusahaan itu telah melakukan eksplorasi maupun kegiatan pembuatan infrastruktur tentang operasional tambang. Sangat mudah sekali untuk mengubah laporan eksplorasi, misalkan dengan membuat suatu "project" yang tidak layak jual menjadi layak jual, seperti dengan manipulasi data dari data yang didapat dari pemboran, analisa kualitas, dan pelaporan dalam hal sumberdaya dan cadangan.

PLTU di Pelabuhan Ratu

Pernah suatu waktu ketika saya survey sebuah lokasi rencana pemasok PLTU di Sumatera Selatan, saya meminta perusahaan untuk menunjukkan lokasi singkapan batubara, pemboran yang sudah dilakukan, beserta tempat menyimpan hasil pemborannya. Perusahaan sepertinya kebingungan, dan akhirnya mengambilkan saya sebongkah batubara, yang katanya didapat di tepi sungai, namun karena sungai nya sedang pasang, sehingga batubara tidak terlihat. Ketika saya minta untuk menunjukkan lokasi bor, ternyata orang tersebut lupa, dan hasil pemborannya pun tidak disimpan. Ketika anda sudah berbohong untuk pertama kali, maka akan muncul kebohongan kedua, ketiga dan seterusnya. Padahal, perusahaan sudah memasukkan dokumen lelang, yang juga sudah melengkapinya dengan Laporan Eksplorasi dan Laporan Studi Kelayakan. Lalu, data itu darimana ya? Hal ini bukan hanya sekali saya jumpai ketika saya bekerja di LAPI ITB maupun di proyek lain bersama Dosen saya, namun, apa mereka tidak malu ya melakukan itu semua?

Kejujuran dalam Islam
Menulis blog tentang kejujuran itu tidak susah, hanya tinggal menunggu inspirasi datang, kemudian kalimat demi kalimat akan tersusun dengan mudah. Namun hal yang ingin saya lakukan dengan tulisan ini, karena saya sudah menuliskannya dan membagikannya ke publik, artinya saya pun harus konsekuen dengan apa yang saya tuliskan. 
Mengingatkan orang untuk berkata jujur itu mudah, namun menjalaninya sulit, kalau tidak dibiasakan. Tidak ada yang sulit, asalkan ada kemauan

Penggembala sapi di Santolo, Garut

Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan jauh lebih banyak dari itu. Beliau mempunyai 4 sifat yang tidak dipunyai oleh orang lain: 
(1) Shiddiq (benar atau jujur), yaitu benar bukan hanya hanya dalam perkataan, namun dalam perbuatan. Semasa kecil, Nabi Muhammad SAW adalah penggembala kambing, pedagang yang jujur, sehingga beliau mendapat julukan Al Amin (yang dapat dipercaya). 
(2) Amanah (yang benar-benar dipercaya). Berkali-kali Nabi Muhammad SAW mendapatkan ancaman dari Suku Quraisy untuk berhenti menyebarkan Islam, namun karena kegigihan beliau karena Islam adalah amanah dari Allah SAW. 
(3) Tabligh (menyampaikan). Segala Firman dan Wahyu dari Allah disampaikan oleh Nabi, tanpa ada yang disembunyikan. Islam yang dulu hanya disebarkan dari kerabat, hingga akhirnya saat ini Islam tersebar di seluruh penjuru dunia. Islam disebarkan dengan kedamaian, sehingga ketika ada kekerasan maupun kejahatan yang mengatasnamakan Islam, maka sesungguhnya, itu bukanlah Islam.
(4) Fathonah (cerdas). Tidak mungkin Nabi Muhammad SAW, yang menjadi orang paling berpengaruh di dunia, menyampaikan Firman Allah, 6.236 ayat Al Quran dengan menjelaskan maknanya, kalau beliau tidak cerdas. Dan beliau pun selalu mengingatkan kepada Umat Islam, untuk terus dan terus belajar, seperti ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad "Iqra' Bismi Rabbikal Ladzi Kholaq", yang artinya "Bacalah dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan." Baca, baca dan baca, itu adalah pintu untuk mendapatkan ilmu.

Saya tidak perlu menanyakan ke orang lain tentang kejujuran itu. Saya hanya bisa bertanya kepada diri sendiri sambil mengajak, "Kamu-kah Havelaar, Pak Hoegeng di Jaman Edan ini?"

Semoga bermanfaat..


Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain







Sumber gambar:
1.http://media.kompasiana.com/buku/2013/10/31/max-havelaar-karya-multatuli-a-fenomenal-indisch-literature-penerbit-padasan-10-november-2013-606417.html
2.http://www.readingmultatuli.com/2014/09/ilustrasi-buku-saijah-und-adinda.html
3.https://bangakrie.wordpress.com/page/5/

Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *