Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Tuesday, January 7, 2014

Lombok Selatan: Sade, Pantai Kuta, dan Gunung Api Bawah Laut Tanjung Aan


Keanekaragaman budaya di Indonesia sangat beragam, mulai dari suku bangsa, adat, makanan, bahasa, dan sebagainya. Sebut saja Pulau Lombok, yang didiami oleh suku asli yaitu Suku Sasak. Memang tidak hanya suku Sasak yang mendiami pulau yang berluas sekitar 4.725 km persegi, dimana juga didiami oleh Suku Bugis yang umumnya datang di pesisir Utara dari Lombok dan menghuni "The Three Hot Spot", yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan, suku Bali yang berada di daerah Cakranegara, suku Jawa, suku Bima dan suku lainnya.

Kali ini, saya coba bercerita sedikit yang saya ketahui tentang Suku Sasak yang mendiami perkampungan adat di Sade, di bagian Tenggara dari Bandara Internasional Lombok di Praya yang mulai beroperasi sejak 2011.

Perkampungan Sade, didiami sekitar 750 kepala keluarga, yang sudah menghuni di daerah tersebut lebih dari 15 generasi. Di daerah tersebut, penduduknya menggunakan bahasa Sasak, dan hanya anak muda yang sudah mulai bisa berbahasa Indonesia. Mayoritas penduduk yang tinggal di daerah tersebut beragama Islam, dimana agama yang diyakini sebelumnya adalah Waktu Telu, yaitu praktek beragama dari masyarakat Sasak yang merupakan akulturasi dari animisme, dinamisme, Hindu, yang baru di akhir masa masuk agama Islam.

Hal ini menyangkut tata cara peribadatan, dimana hanya pemangku adat dan raja yang beribadah. Simbol Waktu Telu juga nampak pada bentuk bagian dalam rumah, yang mempunyai tiga buah tangga di dalamnya. Namun semenjak Islam masuk ke Lombok oleh para wali dan Sunan, kebudayaan Waktu Telu sudah mulai hilang, dan berubah menjadi agama Islam. Simbol tiga buah tangga di rumah ditambah dengan dua buah tangga lagi di bagian depan, yang menandakan solat 5 waktu.


Kalau kita masuk ke dalam perkampungan tersebut, hampir semua rumah adat masih di pel menggunakan kotoran sapi dan kotoran kerbau, yang bisa dengan cepat kering karena alas tanahnya merupakan tanah liat. Sehingga ketika masyarakat tersebut akan melakukan solat, mereka harus melaksanakan solat di masjid di perkampungan tersebut. Umumnya, bentuk rumah adat beratapkan alang-alang, yang diatur rapi sehingga dapat bertahan lama. Ketika sudah nampak adanya kebocoran, baru alang-alang tersebut diganti dengan yang baru. Karena sebagian dari warganya mempunyai pekerjaan utama berdagang, maka di dekat rumah umumnya terdapat rumah adat Suku Sasak, bertingkat, dan digunakan sebagai tempat penyimpanan beras. Konon katanya, hanya laki-laki yang boleh masuk ke dalam lumbung tersebut, karena menurut kepecayaan Sasak, jika wanita masuk, maka dapat mandul.


Tradisi lain yang masih berlangsung adalah kawin lari, dimana ketika seorang laki-laki ingin meminang wanita dari suku Sasak, maka mereka harus menyiapkan mahar sekitar 4-5 ekor kerbau (namun tidak di Sade, yang hanya cukup dengan mahar seperangkat alat solat dan uang), dimana laki-laki harus bisa mencuri wanita yang akan dinikahinya dan dibawa lari ke kampung kerabatnya. Si wanita harus terlebih dahulu bisa menenun sebagai syarat wajib sebelum menikah. Kemudian setelah wanita dicuri, harus ada perwakilan dari laki-laki yang datang ke keluarga istri dan menyampaikan bahwa wanita sudah diamankan di kampung yang lain, dengan istilah "nyelabar". Hanya sebagian dari Suku Sasak yang masih menjalankan ritual tersebut, terutama yang masih menganut kepercayaan adat yang masih kuat.

Masuk ke Selatan dari perkampungan adat Sade, maka kita akan menjumpai pantai berpasir putih yang indah, yaitu Pantai Kuta. Memang, namanya sama dengan pantai Kuta yang ada di Bali, namun yang membedakan, pantai di Lombok Selatan ini jauh lebih tenang dibandingkan Kuta Bali. Yang disayangkan, modernisasi Barat sudah mulai masuk ke daerah tersebut, seperti adanya bar, kafe, minuman beralkohol, yang datang mengingat jumlah wisatawan asing yang datang ke daerah tersebut untuk berlibur cukup banyak. Di sebelah Timur dari Pantai Kuta,kita akan menjumpai Pantai Seger,dan juga pantai di Tanjung Aan. Menurut logat suku Sasak,Tanjung Aan dibaca tidak seperti mengucap "A'an",namun dibaca panjang,sehingga dituliskan sebagai "Aan". Di daerah ini,terkenal mitos akan Dewi Mandalika,yang saya juga kurang "copy" sejarahnya seperti apa,namun diyakini,ketika Dewi Mandalika muncul 1x dalam setahun,akan muncul cacing dalam jumlah yang sangat melimpah yang dapat dimakan langsung. Sejenak saya teringat pelajaran biologi jaman SMP ato SMA,tentang cacing wawo dan cacing palolo yang dapat dimakan karena berprotein tinggi.

Ada fenomena menarik di daerah tersebut, yaitu adanya gunung-gunung purba, yang merupakan komplek "old andesite" yang akan saya jelaskan nanti, serta ada fenomena batu payung, yang merupakan sisa-sisa peninggalan endapan piroklastik atau letusan gunung api, yang diyakini merupakan gunung api bawah laut, yang tersisa hingga saat ini. Saat ini, fenomena sisa-sisa gunung, dan batu payung dapat kita lihat di sepanjang Pantai Kuta, Pantai Seger, dan Tanjung Aan, Lombok Selatan.

Kalau kita lihat peta geologi Lombok (Andi Mangga dkk, 1994) daerah Pantai Kuta tersebut merupakan bertanda Tomp, yaitu Formasi Penggulung yang terdiri dari breksi lava, tuf, dengan lensa batugamping yang mengandung mineral sulfida dan urat kuarsa dan endapan yang lebih muda bertanda Qa yang merupakan endapan aluvium. Di sebelah Timur dari pantai tersebut, terdapat kenampakan batuan-batuan intrusif (Tmi), serta para geolog meyakini bahwa di daerah tersebut merupakan komplek gunung api bawah laut.







Saya coba mengutip pernyataan dari Pak Budi Brahmantyo, dosen mata kuliah geomorfologi saya pada tahun 2007 mengenai Tanjung Aan di Lombok Selatan 



"Endapan piroklastik gunung api bawah laut Oligosen di Tanjung Aan, Lombok selatan, memang menarik setelah diukir gelombang Samudera Hindia.  (foto Pak Budi saat Ekspedisi Geografi Indonesia Bakosurtanal 2010)."










Jika menurut Pak Awang H Satyana yang saya kutip dari http://geologi.iagi.or.id/2011/07/26/kompleks-gunungapi-bawahlaut-old-andesites-tanjung-aan-lombok/, bahwa Tanjung Aan merupakan komplek "Old Andesite" yang melingkari sisi Barat Daya-Selatan-Tenggara Sunda Land pada Kala Oligo-Miosen. Mengutip dari beliau, 

Old Andesites” pertama kali digagas oleh Verbeek dan Fennema (1896) sebagai ‘Oud Andesiets‘ dalam sebuah buku magnum opus “Geologische Beschrijving van Java en Madoera“. Tetapi adalah van Bemmelen dalam buku magnum opus-nya, “The Geology of Indonesia” (1949) yang memopulerkan dan menganalisis Old Andesites dengan detail dalam analisis-analisisnya meskipun masih dikemas dalam teori geosinklin atau undasi yang dikembangkannya."


Dengan keterbatasan saya sebagai Oemar Bakrie di Teknik Eksplorasi Tambang ITB, yang mengetahui sekelumit dari ilmu geologi, berbeda dengan kedua ilmuwan di atas, saya ingin menunjukkan, betapa indahnya ketika kita bisa menggabungkan antara sisi keilmuan dengan sisi pariwisata. Adanya papan penunjuk yang menceritakan geologi di daerah tersebut pada masa lampau dalam bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh orang awam, maka potensi wisata di Indonesia, terutama di Lombok Selatan, dapat meningkat menjadi taman-taman geologi di Indonesia. Akses yang bagus menuju lokasi, bisa memberi nilai positif ketika ingin mengembangkan menjadi daerah geowisata di Pulau Lombok. 
Berwisata? Semua orang bisa, cukup dengan meluangkan waktu dan menyisihkan dana. Cita-cita saya suatu hari nanti, saya bisa mengajak anak cucu saya (semoga punya banyak) ke tempat ini, atau ke tempat wisata lain, dimana mereka bisa langsung membaca plang-plang yang bertuliskan penjelasan dari aspek keilmuan geologi, sehingga nantinya bukan hanya sekelumit orang yang mengerti tentang ilmu geologi, namun semua orang mengerti geologi, supaya nantinya makin banyak orang yang ikut menjaga alam ini, terutama keindahan alam dan budaya di Lombok Selatan. 
Share:

Tuesday, December 10, 2013

Sekelumit Bersepeda di Fukuoka


Saya sengaja mengambil judul yang sederhana saja, supaya bisa lebih mudah ditangkap oleh orang-orang lain, yang mungkin jarang, atau kurang tertarik dengan bersepeda. Sepertinya di pending dulu tulisan ilmiahnya, untuk bahan berikutnya (sejauh ini, saya baru kepikiran untuk menulis museum tambang bawah laut di Fukuoka, namun sementara di tunda dulu karena belum dapat inspirasinya, hehehe). Yang ingin saya bagi disini, adalah suasana bersepeda di Jepang, yang sangat berbeda dengan bersepeda di Indonesia. Rasanya tidak perlu ber-cingcong ria, langsung aja share gambar aja ya
Umumnya, pesepeda mempunyai jalur sendiri (bike lane), kadang menyatu dengan jalur pejalan kaki, kadang dipisah, namun tidak jarang berada di sisi jalan raya.
Bike lane yang dipisahkan trotoar

Ukuran bike lane cukup besar, dan tidak terhalang oleh pedagang kaki lima seperti di Indonesia


Sepeda pun punya rambu lalu lintas, ketika merah sepeda harus berhenti, 
dan ketika hijau baru boleh berjalan. Jika ketika lampu hijau berpapasan dengan mobil atau kendaraan lain, sepeda tetap diutamakan

Bike lane di pinggir pantai

Karena sedang pergantian ke musim dingin, bersepeda nya pake jaket lapis 2+baju 1 lapis, dan sarung tangan, hehehe

Sangat banyak tempat parkir sepeda disediakan, sebagai contoh parkir sepeda di sebuah pabrik.... lalu....

tempat parkir sepeda di area pusat perbelanjaan (mall) di daerah Marinoa,,,, lalu,,,,,

tempat parkir sepeda di kampus Ito, Kyushu University,,,,, dan....

tempat penyimpanan sepeda di depan stasiun (hampir di tiap stasiun ada, sebagai contoh di Stasiun Muromi).

Hal lain yang membuat saya kagum, adalah populasi sepeda yang banyak, sehingga membuat sepeda pun harus didaftarkan kepada polisi. Sebagai contoh, sepeda yang saya pinjam ternyata tidak terdaftar ke kantor polisi setempat, sehingga sepeda tersebut ditandai oleh polisi dengan kode "not registered". (maaf, saya lupa memfoto tulisannya di sepeda pinjaman saya).

Hal ini memudahkan polisi untuk melacak keberadaan sepeda, dimana teman saya yang sudah menetap hampir 6.5 tahun di Fukuoka mengatakan, bahwa dia pernah kehilangan sepeda, dan ketika dia melapor ke kantor polisi, sepedanya ditemukan kembali oleh Polisi, namun harus mengganti sekitar 2000 yen (setara dengan Rp 200.000,-).

Yah, begitu ulasan singkat tentang bersepeda di Fukuoka, saya tambahkan beberapa gambar saya selama berkeliling dari Itoshima-Ito Campuss-Meinohama-Muromi.

Di salah satu kuil di Itoshima

Hakata bay

Toko senang-senang, sepertinya yang punya orang Indonesia ya

Maksud hati mau cari jalan nanjak ke air terjun Shiraito , akhirnya terpaksa saya urungkan karena menjelang waktu sholat Jumat

Dan saya akhiri cuplikan singkat mengenai sepeda di Fukuoka dengan sepeda buatan anak bangsa, yang dipasarkan di Jepang, namun tidak di Indonesia. Araya Federal dengan bahan Cr-Mo 4130, membuat saya sangat ingin mencobanya suatu saat nanti (semoga bisa cepat kuliah di Fukuoka, amiiiin)

Full bike dari Araya Federal

Tulisan Federal. yang menjelaskan bahwa ini adalah varian sepeda touring 

Ditambah dengan tulisan di fork berbahan High Ten, yang menguatkan bahwa varian sepeda touring

Bahan dasar dari frame adalah Cr-Mo atau kromoli

Dan,,,, saya bangga sepeda ini dibuat di Indonesia


Kontributor tulisan ini, tentunya harus narsis, di Shimoyamato

Sebuah kutipan menarik: bukan tentang sepedanya, namun tentang ber-sepedanya. Apapun sepedanya, yang penting tetap nyepedah... Hidup nyepedah....

Klik Gambar untuk melihat sub-konten




Share:

Wednesday, November 27, 2013

Mengeplot Titik Bor ke Menggunakan RockWorks15

Sering kali kita mendapatkan data sebaran lubang bor dalam excel, yang harus kita plotkan ke dalam sebuah peta. Banyak piranti yang bisa digunakan untuk membuat peta sebaran bor tersebut, seperti dengan Surfer, AutoCAD, RockWork atau biasa disebut Rockware, atau dengan menggunakan piranti lunak yang lebih baru seperti Surpac maupun Minex.


Kali ini, saya coba membuat tutorial cara membuat peta sebaran lubang bor dengan RockWork15, dilanjutkan dengan merapikannya menggunakan AutoCAD 2009. Tidak susah, asalkan mau mencoba. Untuk resolusi yang lebih baik, silahkan coba akses disini youtube saya. Selamat mencoba






Klik gambar di bawah untuk melihat tutorial software yang lain. 

Share:

Wednesday, October 30, 2013

Jasper, Bongkah Merah Delima dari Pedalaman Tasikmalaya

Untuk menuju kesana,diperlukan waktu 4-6 jam,tergantung dari kondisi jalanan,dan cuacanya. Lokasi calon geopark ini bisa dibilang sangat terpencil,dan secara geografis,sudah hampir mendekati Kabupaten Ciamis. Sungai Cimedang, Desa Buniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya merupakan lokasi terdapatnya taman batu permata, taman Jasper. Bongkah Jasper, atau disebut juga Jaspis,atau batu merah hati,tersebar di persawahan,dan juga di sepanjang sungai Medang. Jasper merupakan varian dari kalsedon, opak, kaya akan silika, dan dapat berwarna merah, cokelat, kuning bahkan hijau, tergantung pengotor yang menyusun mineral tersebut. Jasper termasuk batu mulia, karena kekerasannya yang lebih dari 7. Ada berbagai jenis batu mulia yang bisa kita jumpai, yang saya halaman blog saya yang lain tentang jenis-jenis batu mulia, dan cara membedakan marmer dengan batu mulia.



Sama seperti silika, jasper mempunyai specific gravity 2.5-2.9 dan sangat umum digunakan sebagai perhiasan. Istilah jasper umumnya digunakan pada batuan yang kaya akan silika, yang telah mengalami proses metasomatik atau metamorfisme. Nama Jasper berasal dari bahasa Yunani  - ϊασπις (entah apa bacanya ya), dan bahasa Latin - iaspis , yang berarti menyerupai api. Jikalau orang awam melihat sekilas,mungkin mengira batu berwarna merah ini hanyalah batu bata biasa,atau yg mengenyam ilmu geologi pun bisa mengatakan batu merah ini adalah rijang (chert). Lalu apa yang membedakannya dengan rijang?

Rijang, atau chert merupakan silica dalam ukuran butir yang sangat halus, mikro-kristalin atau kripto-kristalin, dan merupakan varian dari batuan sedimen, yang dapat mengandung fosil di dalamnya. Rijang sendiri dapat berwarna-warni, bisa merah, hitam, abu, cokelat, dan sebagainya. Rijang umumnya terbentuk pada pengendapan laut dalam, sehingga jika kita menemukan adanya rijang, maka bisa jadi kita sedang berada di lingkungan pengendapan yang dulunya adalah laut dalam. Seperti di Karangsambung, terlihat adanya perselingan antara lempung merah-rijang-lava bantal. (Ilustrasi: rijang di Kali Muncar, Kampus Karangsambung).

Gambar perselingan antara batu lempung merah dan jasper, pada bagian atas nampak lava bantal

Jasper ini sudah banyak diangkut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan melarikan batu yang langka ini keluar negeri. Memang, secara dimensi jasper ini sangatlah besar, dan untuk menuju ke tempat ini, diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Namun sempat tersiar kabar, bahwa investor siap mendatangkan gergaji intan, yang dapat memotong jasper dalam ukuran yang lebih kecil, sehingga lebih mudah untuk dipindahkan. Hmmm, alangkah naifnya orang yang sudah terlupakan dengan harta, sehingga keserakahan sampai membuat dia ingin mengambil sangat banyak dari dunia ini.



Daya tarik ini yang membuat banyak peneliti yang menyayangkan eksploitasi dari situs geologi yang sangat langka, yang bahkan tidak akan dijumpai di tempat lain. Sehingga muncul usulan untuk membuat lokasi ini sebagai geopark, atau taman wisata geologi. Namun untuk menjadikan daerah ini menjadi geopark tentu tidaklah mudah.  Akses yang sangat terpencil menuju lokasi ini, jalan yang berbatu, dan tidak adanya dukungan dari pemerintah, membuat banyak yang akhirnya meragukan rencana geopark ini. Memang, dengan mengeluh seperti ini, tentu tidak akan membawa dampak yang signifikan, namun yang ingin saya angkat disini, bahwa untuk menjadikan suatu hal yang tidak mungkin menjadi hal yang besar, perlu adanya bantuan dari berbagai pihak. Perjuangan dari kalangan pemerhati jasper ini tidak lah cukup, kalau tidak dibantu dengan dukungan dari Pemerintah, seperti dengan membuatkan akses, sehingga wisatawan yang ingin berkunjung untuk melihat taman jasper ini, dapat melihat keindahan batu 


Keelokan dari Jasper ini sudah memikat banyak peneliti, sebut saja Pak Sujatmiko dan Pak Eko Yulianto, yang sampai menerbitkan buku berjudul "Merahnya Batu Merah - Taman Jasper Tasikmalaya". Saya kutip dari http://cekunganbandung.blogspot.com/2012/02/mimpi-taman-jasper-di-tasikmalaya.html 


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Batu-batu ini bahkan tersebar hingga persawahan dan halaman-halaman rumah penduduk yang bermukim di Kampung Pasirgintung, Desa Buniasih, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya. Awalnya jumlahnya lebih banyak, namun kini menyusut secara dramatis. Berton-ton lainnya kini sudah hijrah ke negeri sakura. Lagi-lagi, bangsa ini kecolongan.


Menurut Sujatmiko, seorang geologis yang juga pengusaha batu mulia, fenomena Ci Medang ini sangat langka. “Di 20 negara yang pernah kami kunjungi, kami belum pernah menemukan yang seperti ini,” ujarnya. Jika dipetakan, serakan batuan merah ini tak hanya terdapat di Kecamatan Pancatengah saja, melainkan juga di wilayah-wilayah tetangganya seperti Karangnunggal, Cipatujah, hingga Cisasah.



Mengapa batuan merah ini demikian menarik perhatian, bahkan Jepang begitu meminatinya? Batuan merah yang terserak di Ci Medang adalah salah satu jenis batu mulia yang dikenal dengan nama jasper. Batu mulia dari keluarga mineral kuarsa (SiO2) ini tak hanya berwarna merah, melainkan ada juga coklat, kuning, dan hijau. Sejarah terbentuknya batuan jasper terkait dengan aktivitas kegunungapian.



Diketahui bahwa pada 25-30 juta tahun lalu, di sekitar wilayah Kampung Pasirgintung terdapat komplek gunung api bawah laut. Komplek gunung api ini dengan indahnya mengitari laut dangkal di wilayah ini.



Singkat cerita, gunung-gunung bawah laut ini meletus. Dia mengeluarkan material vulkanisnya, antara lain lava pijar. Karena bersentuhan langsung dengan air laut, maka material vulkanis yang dikeluarkan gunung api ini mengalami proses hidrotermal, suatu tahap awal pembentukan—salah satunya—batuan jasper.



Sebelum pihak Kabupaten Tasikmalaya mengeluarkan aturan menghentikan penambangan jasper di kawasan ini, penduduk setempat yang tanahnya diseraki batuan jasper sudah sempat menyewakan lahan-lahannya ke para penambang yang antara lain “berbendera” selain Jepang juga Korea Selatan. Salah satu kasus penyewaan lahan mengungkapkan bahwa untuk sewa satu tahun, pemilik lahan mendapat imbalan hingga Rp 60 juta. Jumlah yang menggiurkan, apalagi untuk warga desa yang hidup jauh dari perkotaan, tanpa harus kehilangan tanahnya. Namun jumlah tersebut sebenarnya menjadi tidak sebanding dengan nilai batuan yang ditambang, belum lagi kemungkinan kerusakan ekosistem akibat penambangan.

Sayangnya, warga setempat tampaknya kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungannya sendiri. Padahal jika saja mereka masih memegang teguh kearifan lokal warisan nenek moyangnya, tentunya menyerahkan lahan untuk ditambang habis-habisan adalah keputusan yang bertentangan dengan keseimbangan lingkungan yang biasanya secara tradisional diwariskan temurun oleh penduduk asli setempat. Namun apa daya, kapitalisme tampaknya sudah teramat jauh menggerogoti pola hidup warga yang hidup nun di Kampung Pasirgintung, pun. (disarikan dari buku “Merahnya Batu Merah”) "

------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Setelah melihat keindahan jasper, banyak akhirnya yang terkagum-kagum dan akhirnya menulis tentang taman jasper ini, termasuk saya. Memang, yang bisa kita lakukan sekarang adalah menyebarluaskan tentang apa yang kita ketahui kepada orang-orang awam di luar kita, sehingga nantinya, mereka pun  akan mengerti jalan pemikiran kita yang umunya berkutat dengan batu dan batu, dan semoga mereka akan ikut menjaga keindahan alam yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.




Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain






Referensi:

1. Review Of The Mineralogical Systematics Of Jasper And Related Rocks, Ruslan I. Kostov, University of Mining and Geology “St. Ivan Rilski”, Sofia 1700, Bulgaria


Bacaan lain:



Share:

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *