Conversations with the Earth

Sunday, August 2, 2015

Memilih Masa Depan



Seorang anak lahir di Batu, Malang, hidup di keluarga yang sangat kekurangan. Bapaknya sopir angkot, tidak lulus pendidikan SMP, dan Ibunya yang hanya berkutat di dapur dulunya juga tidak lulus SD. Si anak tinggal bertujuh dalam dua kamar di rumah yang berukuran 6x7 meter. Di balik rumah yang kecil itu, cita-cita kedua orang tuanya sangat besar, nasib anak tidak boleh sama seperti orangtuanya, harus lebih baik. Di rumah yang kecil itu, si anak rajin sekali belajar saat dini hari, karena sepanjang hari kondisi rumah sangat berisik membuat dia tidak bisa belajar.

Sampai akhirnya beranjak dewasa, si anak mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di jurusan statistika di IPB melalui jalur PMDK. Namun, si anak ini tidak mempunyai uang untuk berangkat ke Bogor. Dengan berat hati, orang tuanya merelakan untuk menjual angkot untuk membiayai kuliah anaknya. Singkat cerita, si anak akhirnya sukses untuk merampungkan kuliahnya, dan bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta selama 3 tahun, dan akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Amerika Serikat hingga 10 tahun.

Selang 10 tahun, si anak memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia supaya lebih dekat dengan keluarganya. Dia akhirnya bekerja sebagai motivator, menulis buku, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk memberikan semangat kepada anak-anak muda, bahwa kesuksesan bukan milik orang-orang berada, namun milik orang-orang yang bekerja keras, kehangatan keluarga, yang dibarengi oleh doa restu orang tua, terutama ibu. Anak tadi bernama Iwan Setyawan, penulis "9 Summers 10 Autumns, Dari Kota Apel Ke The Big Apple".

*) Tahun 2013, saya pergi untuk melakukan eksplorasi bijih besi di pedalaman Aceh dan bertemu kedua anak ini. Saya lupa namanya. Mereka bersekolah kelas 2 SD dan meminta saya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumahnya setelah saya pulang dari lapangan di sore hari. Saya baru tahu ternyata mereka mengalami kesulitan untuk membaca. Tidak banyak orang di kampung itu karena dulunya daerah itu adalah kantong separatis militer dan sebagian orang-orang tua di kampung itu yang sebagian besar meninggal karena tsunami. Kemauan kedua anak itu untuk belajar itu sangat besar, namun kondisi sekitar menghambat proses belajarnya. Semoga kamu mendapatkan guru yang sabar membimbing mu ya, Dik.

Sudahkah kita bersyukur dengan kondisi kita sekarang dan berbuat sesuatu untuk masa depan dan orang-orang sekitar kita? Masihkah kita mengeluh karena kesulitan yang sebenarnya tidak seberapa? Masihkah kita berleha-leha dan berharap kita bakal sukses padahal kita tidak melakukan apa-apa untuk mengejar kesuksesan itu?

Sudahkah kita berterima kasih kepada kedua orang tua kita? Jangan-jangan kesuksesan kita sekarang bukan semata-mata karena usaha kita sendiri, namun berkat kedua orang tua yang tidak berhenti mendoakan kita di heningnya malam.
"Kita tidak bisa memilih masa lalu kita, namun kita masih bisa melukiskan masa depan kita"


Leoben,
AYAH


Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain





Share:

1 comments:

  1. pendidikan memang sangat penting ....
    bisa memutus rantai kemiskinan dan menggerakkan kehidupan disekitarnya

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *