Conversations with the Earth

Sunday, August 16, 2015

Mencari Arti Merdeka



Saya tidak pernah membolos upacara bendera selama 12 tahun sejak SD hingga SMA. Tiap pemimpin upacara menginstruksikan untuk hormat kepada bendera, saya selalu melakukannya. Rutinitas ini saya lakukan tiap upacara. Simbol negara tidak pernah saya buat main-main. Selama masa itu pula, saya merasa status kewarganegaraan yang saya dapat hanya masalah ruang dan waktu, karena saya lahir di Indonesia, saya mendapat kewarganegaraan Indonesia. Tidak ada yang spesial. Justru dari situ muncul pertanyaan saya, "Apa sebenarnya arti merdeka?"

Tidak ada yang salah dengan proses upacara itu. Pembina upacara sudah dengan sering menyampaikan dalam pidato dan amanatnya. Saya mendengarkan, namun saya yang bawaannya memang agak "ndableg" masalah ideologi, harus mencari sendiri jawaban pertanyaan saya tadi. Dalam kasus saya, perlu lebih dari 12 tahun untuk benar-benar memaknai arti dari hormat kepada bendera dan memahami perjuangan para pendahulu. Beberapa mungkin lebih baik dari saya dengan bisa memaknai hal-hal tadi dengan cepat, tidak 12 tahun seperti saya. Namun sangat menyedihkan melihat beberapa orang bahkan tidak peduli lagi dengan arti dari simbol negara dan kemerdekaan. Anda boleh tidak suka dengan karakter seorang pemimpin, tapi bukan berarti anda selalu berperilaku negatif dengan menyampaikan opini-opini yang ga makin membawa ke perubahan positif, malah bikin pembacanya makin emosi dengan anda.

Sampai suatu ketika, saya memaknai sendiri apa arti "merdeka" dari guru-guru kehidupan.
1. Saya memaknai arti "merdeka" dari dua anak perempuan di Geunteut (Aceh) yang susah untuk membaca di umurnya yang 10 tahun karena kurang mendapat pendidikan yang baik. Semula 2000 orang kepala keluarga ada di kampung mereka, namun sekarang hanya tersisa 500 orang KK karena sebagian dari mereka meninggal dunia saat tsunami Aceh. Mereka bersemangat sekali untuk belajar, sayang mereka tidak berada di lingkungan yang baik untuk mendukung pendidikan yang berkualitas.

2. Saya memaknai arti "merdeka" dari orang-orang di Long Pahangai dan Long Apari (dua kecamatan terluar di perbatasan Kaltim, Malaysia), dimana saya harus membayar nasi dan telor dengan harga 30 ribu. Ongkos speed boat mencapai lokasi itu hampir 5 juta per orang dengan perjalanan hampir 2 hari tergantung deras tidaknya arus sungai. Transportasi darat belum sampai di daerah itu, semua harus ditempuh dengan sungai. Semua harga 4 hingga 5 kali dibandingkan harga di Jawa. Apa yang membuat saya trenyuh, ada beberapa riam (jeram) yang tidak bisa dilewati oleh kapal yang penuh dengan penumpang. Orang harus berjalan di sepanjang batuan di beberapa titik jeram untuk menghindari badan kapal terbentur dengan bebatuan.

3. Saya memaknai arti "merdeka" dari penambang rakyat yang masuk ke dalam terowongan lebih dari 100 meter sambil jongkok untuk mengambil batuan yang mengandung emas . Beberapa batu mulia yang menjadi bahan dari batu akik juga ditambang dengan metode seperti itu, dengan metode tambang bawah dengan oksigen terbatas, kondisi kerja yang basah karena air harus dipompa keluar, dan keamanan kerja yang sangat minim (tanpa helm, terowongan bahkan kadang tidak disangga).

4. Saya memaknai arti "merdeka" dari Pramoedya, yang tidak bisa datang ke pernikahan anaknya karena masih menjadi tahanan politik di Buru. Dia menulis surat sebagai hadiah selayaknya pesan ayah terhadap anaknya, walaupun akhirnya tidak sampai ke anaknya.

Hadiah-kawin untukmu hanya permenungan dan pengapungan ini. Itu pun belum tentu akan sampai kepadamu. Tak ada harganya memang dipandang dari nilai uang yang membikin banyak orang matanya jadi hijau. Nilainya terletak pada kesaksiaan dan pembuktian sekaligus betapa jelatanya jadi warga negara Indonesia angkatan pertama. Boleh jadi untuk jadi warganegara Amerika atau Brazilia tidak akan sesulit ini. Sedang kewarganegaranmu kau peroleh cuma-cuma. mungkin juga kau tidak peduli apa kewarganegaraanmu.
Nyaris empat tahun ditahan, memasuki tahun kelima justru berangkat ke pembuangan, tanpa tahu duduk perkara. Dan dibuang sebagai hadiah ulang tahun untuk segolong orang yang justru menghendaki kami qo-it! Mungkinkah sudah terjadi kekeliruan? Tidak, karena lebih seribu tahun lamanya wayang mengajarkan : bahkan para dewa pun bisa salah, bisa keliru, tidak kalis dari ketololan, dan : korup! (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu)

5. (Contoh lain silahkan ditambahkan dari pengalamannya sendiri-sendiri)

Akhirnya saya memaknai sendiri kemerdekaan itu lebih dari upacara bendera dan kemerdekaan. Betapa orang-orang zaman dulu merasakan hal yang lebih berat. Mereka berperang dan mengangkat senjata, bersimbah keringat karena romusha dan kerja paksa, makan thiwul atau gaplek. Dulu penjajahan bersifat fisik, , dan saya termasuk yang tidak setuju Indonesia dijajah 3,5 abad. Bukannya yang datang tahun 1602 itu VOC, sebut saja koperasi. Sudah adakah negara bernama Indonesia itu? Jangan minder diri terus-terusan, speak up,,,.

70 tahun berselang, ternyata sebagian orang masih belum merasakannya. Tidak perlu bertanya siapa yang salah, karena hanya akan muncul perdebatan yang hanya akan berakhir kalau perut ini sudah kembung karena kebanyakan kopi dan perut sudah mulai masuk angin karena angin malam. Sepertinya semua bisa sepakat, bahwa bentuk penjajahan sudah berubah, dalam bentuk neo-kolonialisme, pemerataan pembangunan, dan satu masalah sensitif yang muncul dalam beberapa waktu terakhir, toleransi antar golongan.

Sangat belum pantas untuk menanyakan, apa yang bisa kita dapat dari negara ini. Negara ini hanyalah benda mati, 230 hingga 250 juta orang inilah yang membuatnya menjadi hidup. 
Kita sendiri lah yang bisa menjawab pernyataan retoris ini "apakah Indonesia sudah merdeka? Kalau belum, apa kontribusi kita esok hari, minggu depan, tahun depan?"

NB: saya selalu tergetar ketika menyanyikan lagu ini. Betapa hidup yang sebentar ini ingin saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk bermanfaat untuk Indonesia. Oh Indonesia, betapa aku cinta kamu, apa kamu cinta aku juga? plissss....
--------------------------------------------------------
Tanah Airku
(oleh Ibu Sud)

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak 'kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang ku cintai

Engkau ku hargai

Walaupun banyak negeri ku jalani
Yang masyhur permai di kota orang

Tetapi kampung dan rumahku

Di sanalah ku rasa senang

Tanah ku tak ku lupakan

Engkau ku banggakan

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak 'kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang ku cintai

Engkau ku hargai

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tanah Airku
(by Mother Sud)

My homeland,i will never forget it
You will be remembered forever in my life

Even if i go far away

You will never disappear from my heart and mind

My homeland,my homeland i loved,

I appreciate you

Even though i visit many countries,
The countries that famous,scenic at other's land

But my hometown,and my home

There i will happy

My homeland,my homeland i won't forget

I'm proud of you

My homeland,i will never forget it
You will be remembered forever in my life

Even if i go far away

You will never disappear from my heart and mind

My homeland,my homeland i loved,

I appreciate you
(http://lyricstranslate.com/en/tanah-airku-tanah-airku.html)

Bendera merah putih berkibar di sepanjang 500 meter menuju titik akhir dari Grossglockner highway, yang merupakan jalan tol tertinggi di Austria

Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain





Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi oleh penulis sebelum tayang. Terima kasih

Tentang Penulis

My photo

Apa artinya hidup kalau tidak memberi manfaat untuk orang lain. Mari kita mulai dengan membagi ilmu yang kita ketahui dengan orang lain. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini, namun tidak dengan ilmu dan karya kita. Mari mulai berkarya, mari memberi semangat ke sekitar, mari menulis karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *