Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Thursday, July 17, 2014

Useful Links


Gallery


Three men walking into a river, and found a fish which was trapped in a fish trap. After they released the fish, suddenly the fish changing into Aquarius, the God(des) of Rain. He gave three wishes to each men and they had to choose: GOLD for a short time, SILVER for a few years, or IRON forever. In short, the last people choose the iron. When Aquarius pointing his finger to the mountain, yet, it became the Erzberg, mean the iron mountain, which had been mine since Celtic and Roman history, and became the biggest iron ore deposit in Austria (the Eisenerz is behind me). This became a history of my university. Just say it's a geological field trip, although it wasn't. Kalau di versi Indonesia kan, si Jin punya 3 permintaan buat dikabulkan.. Monggo....

Melawan arus di sungai Mahakam menuju Long Pahangai dan Long Apari, Kaltim

Ekskursi Genesa Bahan Galian Teknik Pertambangan ITB 2014 ke Purwakarta

Kawah Kereta Api, Kamojang

Mikrofold Bantarujeg


Share:

Siapa sih di balik blog ini?


"Nama saya Andy Yahya Al Hakim, panggil saja saya Mas Andy atau Mas Yahya kalau anda lebih muda" 

Cita-cita awal dari blog ini adalah memberikan gambaran tentang ilmu geologi, terutama bagi orang-orang yang memang "awam" dengan geologi. Saya coba menulis dalam bahasa yang sederhana supaya bisa dicerna oleh berbagai kalangan. Beberapa bagian dari blog ini menceritakan kehidupan sehari-hari saya tentang pengalaman bersepeda, tulisan untuk memotivasi (minimal buat diri sendiri, syukur-syukur bisa untuk orang lain), serta beberapa koleksi foto.

Museum batubara, Fukuoka (2013)

Saya lahir di sebuah desa kecil di kaki Gunung Kelud seperempat abad yang lalu, besar di kota bunga, Malang, dan akhirnya pindah dan menetap di Bandung. Saya menamatkan program sarjana di Tambang Eksplorasi ITB, melanjutkan di tempat yang sama untuk program magisterSejak lulus magister tahun 2013, saya bekerja menjadi Asisten Akademik di Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumberdaya Bumi, Teknik Pertambangan ITB.

Sejak awal tahun 2015, saya menempuh program Doktor di bidang economic geology di sebuah sekolah tambang bernama Montanuniversität Leoben, Austria di kaki Alpen untuk mendalami ilmu mineralogi bijih. Mimpi besar saya adalah menjadi seorang mineralogis Indonesia yang handal, yang kelak bukan hanya berkarya di bidang kebumian, tapi mengintegrasikan dengan ilmu yang lain. Mengapa? Karena mineral dan batuan tidak hanya selalu berkaitan dengan geologi tentang dongeng pengantar tidur, namun sebagai media untuk memahami aspek lingkungan, kebencanaan, material, rekayasa sipil dan lain-lain. Saya merampungkan studi doktorat saya pada Desember 2017.
Saya diberi kesempatan memberikan kuliah lapangan saat ekskursi di Genesa Bahan Galian oleh Teknik Pertambangan ITB di Tasikmalaya (2013)

Hobi saya adalah membaca, menulis, dan menghabiskan waktu di alam dengan bersepeda atau dengan hiking. Saya sangat menyukai karya Pramoedya Ananta Toer, dan terinspirasi oleh orang-orang hebat yang tumbuh dekat dengan alam, seperti Soe Hok Gie, Norman Edwin dan legenda pesepeda jarak jauh Indonesia yang masih aktif hingga saat ini, Bambang "Paimo" Hertadi Mas. Baru-baru ini, saya menambah lagi tokoh favorit saya karena kejujurannya, tokoh Max Havelaar-karya Douwess Dekker, dan  juga Pak Hoegeng Imam Santoso, Kapolri tahun 1970an, polisi jujur yang semoga bisa ber-reinkarnasi menjadi polisi-polisi jaman sekarang.
Situ Cisanti, Bandung (2014)

Apoteker dan istri hebat saya, Vidyasari dan ketiga anak saya adalah semangat hidup saya. Adik saya, Achmad Rofi Irsyad baru saja mendapatkan gelar magisternya dari Tokyo Institute of Technology, Jepang. 
Umi Anis, Vidya dan Aqila (2014)
Motivasi hidup? Saya ingin membagi sebanyak-banyaknya apa yang saya punya, karena kelak saya ingin bermakna bukan hanya untuk generasi ini, namun juga untuk generasi berikutnya. Guru bukanlah dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau. Saya bukan guru yang tahu semuanya, karena anda mungkin jauh lebih paham dan kelak bisa jadi guru saya.
Satu lagi, bekerja lah untuk dunia seakan-akan kita hidup seribu tahun lagi, dan beribadah lah untuk Tuhanmu seakan-akan kita akan mati besok.
Grossglockner Highway, Alpen, Austria (2015)
 “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" - Pramoedya Ananta Toer
Mineralogy and Petrology Conference, Leoben, Austria (2015)
Tambang besi "siderit" Erzberg (SEG field trip, 2016)
Drei Zinnen, Alpen di sisi Italia (2016)
Eisenerz, Alpen sisi Austria (July 2017)
Levi, Finlandia (Sept 2017)
Left to right: Frank Melcher, me, Werner Paar, Reinhard Sachsenhoffer (Dec 2017)
Pulau Obi, Halmahera Selatan (2018) 
Kyoto (2018)
Penangkaran burung Maleo di Taman Nasional Tangkoko, Sulawesi Utara (2019)
Gunung Jayagiri (2020)
Bersama keluarga di Wonosobo (2021)
Kebun teh di sisi Barat lapangan panas bumi Patuha (2022)
Field work di Bizhe, Almaty, Kazakhstan (2023)
Trainer di workshop penulisan karya ilmiah ABM-Cipta Kridatama (2024)
Share:

Friday, July 11, 2014

Geowisata di Sekitar Ternate

Early geologic map of Halmahera- Bacan (Verbeek 1908) - dikutip dari http://www.vangorselslist.com/north_moluccas.html , di update 22 Oktober 2014


Pulau Maitara dan Pulau Tidore, Gunung Kiamatubu nampak menjulang tinggi di belakang

Awal Juli ini, yang bersamaan dengan bulan Ramadhan pada kalender Hijriyah, saya menghabiskan waktu bersama rekan-rekan dari Kyushu University, ke tempat yang belum pernah saya datangi juga sebelumnya, yaitu ke Maluku Utara. Lokasi yang kami tuju adalah Gosowong, yang terletak di Pulau Halmahera. Sebagai informasi, ibukota Provinsi Maluku Utara adalah Sofifi di Pulau Halmahera, sejak Agustus 2010 yang lalu. Penerbangan saya dimulai dari Jakarta dengan maskapai lokal burung berwarna biru menuju Ternate tanpa harus transit di kota lain. Saat mendarat di Bandara Sultan Baabullah, Ternate, hal yang pertama saya lihat adalah laut, gunung, serta satu gunung menunjam tinggi di belakang bandara. Yap, itu adalah Gunung Gamalama. Gunung ini merupakan tipe gunung stratovolkano, dengan tinggi mencapai 1.715 meter, yang terakhir kali mengeluarkan erupsi pada September 2012 yang lalu. Di luar bandara, kita akan melihat bekas dari lelehan gunung api, yang merupakan lava andesit-basalt yang membeku, dan sekarang tepat berada di depan bandara.
Lava andesitik-basalt di depan Bandara Sultan Baabullah

 Perjalanan dilanjutkan kembali dengan menggunakan pesawat Twin Otter, yang telah di charter oleh Airfast Indonesia untuk Nusa Halmahera Mineral untuk pegawai dan tamu perusahaan. Jumlah penumpang hanya 15 orang, membawa penumpang untuk menikmati panorama pulau-pulau volkanik seperti Ternate, Tidore, serta kita bisa melihat pulau kecil yang berada di antara Ternate dan Tidore, yaitu Pulau Maitara. Pulau yang diabadikan dalam uang seribu rupiah ini, merupakan pulau-pulau yang terbentuk pada Era Kuarter-Holosen. Tipe gunung api seperti saya tulis sebelumnya merupakan stratovolkano yang berbentuk kerucut, yang tersusun oleh batuan andesitik, lava andesitik-basalt dan tuf.

Ilustrasi Ternate (sumber: wikipedia.org)
Ternate tahun 1880-an (http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Uitzicht_op_Ternate_TMnr_3728-865.jpg)

Pesawat membawa kita menyeberangi Selat antara Ternate dan Halmahera, dan membawa kita melihat lebih jelas Teluk Kao, yaitu sebuah teluk kecil yang berada di bagian Timur Laut dari Sofifi. Dari atas Teluk Kao, saya melihat hal yang unik, dimana beberapa nelayan yang memasang keramba di pantai, membuat jembatan dan keramba mereka berbentuk menyerupai panah, yang jika dilihat dari atas, akan terlihat seperti panah yang menunjuk ke arah keramba. Unik ya. :D
keramba yang ditunjuk oleh panah
Jailolo (gunung tinggi), Sindangoligam (menjorok), dan Sofifi (Selatan Teluk)
Twin otter tiba di Kobok

Sesampai di Kobok, bandara yang dioperasikan oleh Nusa Halmahera Mineral, kami masuk ke dalam area kegiatan penambangan PT Nusa Halmahera Mineral, dengan tujuan untuk mengumpulkan sampel-sampel urat kuarsa, baik dari permukaan maupun dari muka tambang bawah tanah (underground face), untuk dianalisa oleh salah satu mahasiswa dari Kyushu University untuk keperluan riset Master-nya. Kami diterima sangat baik oleh Departemen Eksplorasi Mineral, dimana saya banyak menjumpai geologis-geologis senior, yang mengeksplorasi lokasi dari Newcrest, Australia, sejak awal tahun 1990-an hingga sekarang. Banyak informasi baru yang saya dapat di tambang ini, dimana kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh perusahaan ini tergolong sangat rapi, sistematik, dengan dokumentasi dan penyajian data yang cukup baik. Saya ditunjukkan kolom stratigrafi dan berbagai macam tekstur batuan yang teramati di lokasi penambangan mereka, yang membuat orang awam bisa lebih mudah untuk membayangkan, yang mana sih tesktur batuan colloform, vuggy quartz, breccia, vein, stockwork dan sebagainya. Hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan perusahaan ini, pada beberapa lokasi, kadar emasnya sangat tinggi, mencapai puluhan, bahkan pernah beberapa kali menjumpai urat kuarsa yang mempunyai kadar hingga 8.000 ppm. Apa yang dimaksud dengan kadar itu? Mengapa dinyatakan dalam ppm? Mari kita sama-sama belajar.
 Visible gold, katanya kadarnya lebih dari 6.000 ppm
Visible gold dari dekat

Kadar suatu batuan umumnya dinyatakan dalam satuan volume, kadang dalam persen, ppm, atau pun dalam ppb. Seperti kita ketahui, persen adalah per seratus, ppm adalah part per million atau sepersejuta, dan ppb adalah part per billion atau seper satu milyar. Sebagai ilustrasi, jika kita mempunyai satu masa batuan dengan ukuran 1x1x1 meter dengan specific gravity (SG) 1 ton/m3, maka berat batuan tersebut adalah 1 ton. Dari 1 ton batuan tersebut, terdapat logam yang ekonomis untuk di ekstrak, katakana saja emas, dengan kadar 20 ppm. Artinya, dalam masa batuan seberat 1 ton tersebut, hanya 20 gram dari masa batuan yang ekonomis untuk di ekstrak, sedangkan 999,98 nya akan dibuang sebagai tailing. Namun ingat, specific gravity dari batuan bervariasi untuk masing-masing jenis, sehingga kita harus memperhitungkan ulang berapa berat batuan sebenarnya.

 Breccia
 Breccia type
 Colloform texture
Banding dari kuarsa-magnetit-adularia


Breccia kuarsa-klorit pada sampel bor , kalau seperti ini katanya kadarnya biasanya tinggi

Dari massa batuan tersebut, tidak hanya emas yang akan diekstrak, namun logam berharga lain seperti perak, tembaga, dan logam lain akan diekstrak. Nusa Halmahera Mineral, yang merupakan joint venture dengan Aneka Tambang, sudah melakukan proses peningkatan nilai tambah, dengan hasil akhir berupa bullion yang akan dimurnikan lagi oleh Aneka Tambang, sebelum dijual sebagai emas murni. Mengenai kadar ekonomis yang ditambang, umumnya perusahaan mensyaratkan kadar rata-rata berkisar 5-8 ppm, artinya di bawah itu, umumnya aktivitas penambangannya tidak ekonomis. Hal ini berkaitan dengan berbagai aspek, seperti biaya eksplorasi, biaya penambangan, biaya pengangkutan, biaya reklamasi, dan sebagainya.
Discovery vein dari Gosowong

Terdapat tiga prospek utama di Nusa Halmahera Mineral, yaitu Gosowong, Toguraci dan Kencana. Penambangan di Gosowong sudah lama selesai dengan metode penambangan terbuka dengan metode open pit, penambangan di Toguraci dulunya menggunakan open pit, namun saat ini sudah beralih menjadi tambang bawah tanah, sedangkan Kencana memang telah didesain untuk tambang bawah tanah. Masing-masing prospek mempunyai cerita yang unik dibalik penemuannya, dan karakteristiknya.
 Reklamasi tambang Gosowong
Sketsa Gosowong

Gosowong ditemukan dari urat-urat kuarsa yang mempunyai kadar rendah di permukaan, namun ketika dilakukan pemboran, didapatkan nilai assay yang menarik, yang ternyata merupakan satu sistem epithermal sulfidasi rendah yang cukup besar dan ekonomis. Dan tidak lama ini, para geologis menemukan, bahwa tipe endapan di lokasi ini merupakan satu sistem yang kompleks, karena terdapat juga sistem epithermal sulfidasi tinggi yang ditunjukkan oleh alterasi lempung yang cukup kuat.

 Panasnya di dalam Toguraci
 Urat kuarsa di Toguraci
 Veinlet kuarsa-klorit

Toguraci mempunyai keistimewaan, selain ditemukan endapan epithermal sulfidasi rendah, ditemukan juga tipe endapan porfiri yang umurnya jauh lebih tua dibanding endapan emas yang memotongnya kemudian hari. Selain itu, Toguraci juga mempunyai keunikan, karena tambang bawah tanahnya yang sangat panas. Dari wall rock nya, muncul air panas yang masuk ke dalam front tambang, dengan suhu 80 derajat celcius. Cukup untuk membuat kulit kepanasan ketika kita menyentuhnya, bahkan membuat penyangga di dinding menjadi terkorosi. Tidak asin memang, perkiraan saya adalah air meteorik atau air permukaan yang terpanaskan oleh suatu sistem geothermal yang berada dekat dengan permukaan. Saya sendiri tidak kuat berlama-lama di Toguraci, karena seperti berada dalam kuali. Beeuhhh…. Prospek Kencana merupakan tambang yang unik, karena ditemukan tanpa adanya indikasi di permukaan. Para geologis menyatakan hal tersebut sebagai blind deposit, yang muncul tepat ketika prospek yang lain sudah hampir habis. Dan blind deposit seperti ini yang masih dicari oleh tim eksplorasi NHM, karena tidak lama lagi cadangan dari beberapa prospek akan habis. Disana, saya menemukan mineral amethyst, atau yang sering disebut sebagai kecubung, sebagai alterasi dari silika, dan nampak berwarna keunguan. 
Amethyst atau kecubung
Farewell alias pamitan dengan tim eksplorasi mineral (atas dari kiri : Pak Mukhlis, Mas Daud, Kuroda, Thomas Tindell, Hase, Pak Dadan, Ibu Fintje, Pak Rob Taube, Pak Iskandar, Pak Hendry, Saya. bawah dari kiri: Pak Joko, Pak Saman, Mas Dedi, Mas Arif - foto diambil dari kamera Mas Zulkifli)

Setelah kegiatan kami berakhir di Halmahera, kami pergi ke Ternate untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya ke Jakarta. Di Ternate, saya berterima kasih kepada Mas Wawan, teman seperjuangan semasa kuliah S2 di ITB, yang mendampingi saya berkeliling ke beberapa lokasi yang sangat menarik di Ternate. Saya berkunjung melihat “Batu Angus”, yang merupakan endapan yang terbentuk akibat adanya letusan Gunung Gamalama, menurut info sekitar tahun 1800-an. Batuan yang ada disini merupakan lava andesitik-basalt dengan menunjukkan tekstur vesikuler, dan terakumulasi di jalur lahar dari Gunung yang terbentuk pada zaman Holosen tersebut. Dari Batu Angus, kami melanjutkan perjalanan ke Utara, dan mampir ke Pantai Taduma. Di pantai itu, kita bisa melihat lava andesitik yang umurnya diperkirakan lebih tua dibanding di Batu Angus, dan berada tepat di sisi Timur dari pantai. Di tepi pantai itu, kita menghadap ke Pulau Hiri yang berada di sebelah Utara Ternate, dan di belakangnya nampak Gunung yang menjulang dari Pulau Halmahera, yaitu Jailolo. Jika kita ingin melihat indahnya laut jernih dengan gradasi warna cerah-hijau muda-hijau tua-biru, maka jangan malas untuk masuk ke jalan setapak untuk mencapai Telaga Nita. Indah sekali dan menyegarkan mata. Saya ingin sekali berlama-lama disini, namun sayangnya saya harus mampir ke lokasi lain lagi, yaitu kaldera di sisi Barat Pulau Ternate, yaitu Danau Tolire.
 
Benteng Toluko
 Batu Angus 
Nampak batuan asal berwarna keabuan, tipikal andesitik lava, nampak adanya vesikuler



Danau Tolire berwarna hijau tua, yang mungkin disebabkan oleh adanya alga yang berkembang baik di dasar danau. Yang unik dari tempat ini, kami ditawari oleh anak-anak kecil yang membawa kresek berisi batu, yang katanya kalau kita melempar dari sisi kawah, lemparan kita tidak akan pernah masuk ke dalam kawah. Nyatanya? Coba saja sendiri, hihihi…. Dari Danau Tolire, kami mampir menuju Rumah Makan Florida, yang tepat berada di depan Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Masih nampak asing dengan kedua pulau tersebut, coba lihat uang pecahan Rp 1.000,-. Dan hari ini, ditutup dengan berbuka puasa dengan ikan bakar Colo-Colo yang lezat, dan saya semoga, kelak saya bisa mencicipi makanan yang belum saya cicipi hingga saat ini, papeda. Dan malam hari saya tutup dengan berjalan di sebuah gang yang berisi orang yang berjualan batu mulia yang berasal dari Pulau Bacan, Pulau Obi, Pulau Haltim, dan beberapa lokasi di Maluku. Selain itu, terdapat juga kerajinan besi putih, yang memikat hati, namun apa daya, tong kosong nyaring bunyinya. Artinya,,, boleh kitong mampir Ternate lagi lain hari ya...


 Pantai Sulamadaha
 Telaga Nita, indah ya...
 Saya di Telaga Nita
Danau Tolire
 Sunset di depan Pulau Maitara dan Pulau Tidore
Uang Rp 1.000,- pinjeman.. :D
 Kartun unik dari salah satu ruangan di Dept. Eksplorasi Mineral di NHM
Indahnya langit di pagi hari (foto diambil dari Bandara Sultan Baabullah)

Klik Gambar di bawah untuk melihat artikel lain




Share:

Blog Archive

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *