Conversations with the Earth

Endapan mineral di Finlandia dan Swedia

Perjalanan saya ke lingkaran kutub utara

Atlas of ore minerals: my collection

Basic information of ore mineralogy from different location in Indonesia

Sketch

I always try to draw a sketch during hiking

Apa itu inklusi fluida?

Inklusi fluida adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya fluida yang terperangkap selama kristal tumbuh. Gas dan solid juga bisa terperangkap di dalam mineral.

Situ Cisanti di Pengalengan, Bandung

50 km dari Bandung, Situ Cisanti terkenal karena menjadi sumber mata air sungai Citarum

Monday, August 28, 2017

Video 5 - Menikmati Indahnya Sungai Mosel dari Kastil Kerajaan Romawi



Berada di puncak tebing sungai Mosel, Kota Bernkastel Kues, Jerman, Kastil Landshut yang merupakan peninggalan kerajaan Romawi ini berdiri tegak dan menjadi destinasi wisata. Hebatnya, kastil berumur 740 tahun dan sempat terbakar ini tetap utuh dan kokoh. Walau restoran dan kafe kastil belum bisa didatangi karena masih dalam tahap renovasi, wisatawan tetap ramai datang untuk melihat pemadangan sungai Mosel.
Share:

Sunday, August 20, 2017

Hidup ini keras, Bung

Sarah-Kirk bla bla.. saya lupa nama lengkapnya. Afro, sepertinya dia yang memimpin kru swiss air di airport Zürich saat itu. Saya hanya transit sebentar untuk penerbangan berikutnya. Ketika saya datang untuk cek paspor dan tiket, dia meminta saya mengambil semua barang saya, mengambil tiket, dan saya diminta mengantri di sebuah kubikel berwarna hitam, "Please follow me."

Apes, cuma itu pikiran saya. Saya datang ke profesor saya, 
M:"I have to leave you for a moment, the woman right there asked me to go with her." 
P:"Why?" 
M:"I don't know yet."

Saya masuk ke kubikel berwarna gelap tidak jauh dari lokasi boarding, ruangannya terbuka, hanya tertutup saja dari luar. Sarah meminta saya duduk, di dalam seorang wanita sudah menunggu (berlogat India) meminta saya untuk menunggu petugas lain.

Datang laki-laki, berbaju security,  meminta saya melepas sepatu dan mengecek lengan, kantong celana sampai kaki. Nihil. Sarah-kirk juga tidak menemukan sesuatu yg aneh di tas dan kantong basoka berisi poster itu. Tapi saya tahu, mbak acha acha nehi-nehi mengambil sidik jari di alat elektronik saya, untuk dia cek di scanner di komputernya. Sepertinya nihil, Sarah-Kirk seperti memberi kode ke wanita India itu.

Saya diminta ke loket passport control, untuk ditanya apa tujuan saya, dimana menginap, kapan kembali ke Austria dsb, oleh petugas lainnya. Saya jawab apa adanya dan jujur, saya tanya balik dalam Jerman ke wanita itu mengapa saya diperiksa. Ketika saya tanya balik, kenapa saya di cek di kubikel itu, tidak ada jawaban, seperti pura-pura tidak mendengar. Saya ulang pertanyaan ke Sarah-Kirk. Nihil.

Profesor saya cuma bisa melihat dari jauh dan menanyakan "everythings fine?". Lewat kode tangan, saya cuma bisa menjawab geleng kepala dan angkat tangan tidak tahu.
Sarah-Kirk memberikan kembali tiket saya yang sebelumnya ditahan olehnya, dan di tiket sudah ada cap "security guard" berwarna kuning dan tulisan "HS" atau "4S", tulisannya besar tapi tak terbaca. Dia mencoret nama saya dari daftarnya, "Have a nice flight."
Bujubuset. Gitu doang.

P:"What happened?" 

M: "No explanation." Profesor saya mencoba mencairkan suasana, 
P:"Maybe you should buy a new family name, Schmidt, Meyer or anything you like. They randomly checked only from your family name."

Siiit...

Saya ambil positifnya. 3 dari ratusan penumpang menuju Montreal mendapat perlakuan ekstra, termasuk saya. Di kubikel yang sama, puluhan orang mengantri untuk keberangkatan ke Las Vegas, dan ketika saya tanya, mereka ga tahu untuk apa di cek disana. Mereka berpaspor Swiss, Jerman, dan beberapa dari Eropa Timur. nyway. Kalau memang itu gara-gara embel2 nama saya, ya sudah lah, "that's a life as a foreigner, as a minority." Suka ga suka, adil ga adil, seperti itu realitanya. 


Saya cuma bisa berdoa supaya diberi keselamatan dari Allah. Life is tough. 
At least masih dapat nasi goreng 5 langkah dari penginapan.
QC, CA
Share:

Wednesday, August 16, 2017

Video 4 - Lake Leopoldsteiner, North Alpen

 
Keluarga Ini Ajak Anaknya Trekking ke Kaki Gunung Alpen
Ingin kenalkan buah hati dengan alam? Bisa lho dengan mengajak mereka trekking. Seperti yang dilakukan keluarga Andy Hakim yang mengajak buah hatinya ke Danau Leopoldsteinersee di Austria. Selain pemandangannya indah dan udaranya sejuk, anak-anak bisa mengikuti jalur trekking yang mudah sambil melihat aneka flora dan fauna di sepanjang jalan. Wah seru banget ya!


Share:

Wednesday, August 2, 2017

Iseng-iseng jadi jurnalis di TV Indonesia

Projek iseng-iseng Vidya (dan sedikit saya) buat mengisi waktu luang*. Bermodalkan kamera Nikon yang sudah cukup berumur dan diselotip sana-sini, alhamdulillah beberapa video kami di terima NET TV dan bisa tayang di NET Citizen Journalist. Lumayan, bisa buat nabung buat ganti kamera kalau nanti kamera Nikon ini sudah pensiun. Klik gambar untuk melihat videonya. Enjoy!

Video 1 - Ajak Anak Mengeksplorasi Air dan Alam di Pulau Buatan
Bisa menyusuri ilalang, bermain air di pancuran, hingga bermain pasir kerikil! Enggak cuma sebagai wahana bermain anak, arena publik ini juga bisa mengasah indera si kecil juga lho. Berbagai arena permainan air yang asyik ini terdapat di Wasserspielplatz di kota Wina, Austria. Kalau udah main di sini, anak-anak pasti dijamin betah deh!



Ingin melihat indahnya pegunungan Alpen, cobalah berkunjung ke sini. Yup! Inilah Dachstein, salah satu puncak tertinggi pegunungan Alpen di Austria. Untuk mencapai puncaknya, kamu bisa coba naik gondola. Di sini kamu bisa menikmati pemandangan salju abadi dari jembatan gantung yang panjang. Wooow!


Bingung mau ajak anak ke mana pas summer holiday kali ini? Ajak anak hiking bisa jadi pilihan. CJ Vidyasari merekomendasikan Pegunungan Alpen di kota Präbichl sebagai destinasinya. Lewat jalur yang paling pendek, bisa ajak si kecil nikmati pemandangan hutan pinus, menyusuri ilalang, dan melihat sapi yang sedang merumput. Pastinya perjalanan ini akan menjadi hiking ceria karena panorama Pegunungan Alpen luarr biasa indahnya apalagi ditempuh bersama keluarga!

Video 4 - Wisata alam bersama buah hati
Ingin kenalkan buah hati dengan alam? Bisa lho dengan mengajak mereka trekking. Seperti yang dilakukan keluarga Andy Hakim yang mengajak buah hatinya ke Danau Leopoldsteinersee di Austria. Selain pemandangannya indah dan udaranya sejuk, anak-anak bisa mengikuti jalur trekking yang mudah sambil melihat aneka flora dan fauna di sepanjang jalan. Wah seru banget ya!

 Video 5 - Menikmati Indahnya Sungai Mosel dari Kastil Kerajaan Romawi.

Berada di puncak tebing sungai Mosel, Kota Bernkastel Kues, Jerman, Kastil Landshut yang merupakan peninggalan kerajaan Romawi ini berdiri tegak dan menjadi destinasi wisata. Hebatnya, kastil berumur 740 tahun dan sempat terbakar ini tetap utuh dan kokoh. Walau restoran dan kafe kastil belum bisa didatangi karena masih dalam tahap renovasi, wisatawan tetap ramai datang untuk melihat pemadangan sungai Mosel.






Terletak di danau kota Neumagen Dhron, kapal Stella Noviomagi ini bukan kapal asli, melainkan replika dari kapal yang dibuat tahun 220 setelah masehi oleh bangsa Romawi. Replika dibuat karena kapal aslinya punya sejarah sebagai pengangkut produk anggur setempat. Apalagi, kota ini memang terkenal sebagai daerah penghasil anggur tertua di Jerman. Pengunjung boleh naik kapal saat hari libur, lho!



Kalo kamu ke Jerman, jangan lupa mampir ke Geopark yang berlokasi di Eifel ya! Danau hasil letusan gunung berapi ini jadi salah satu lokasi kunjungan dan riset untuk mahasiswa Geologi di Eropa lho! Kamu pun bisa menikmati keindahan danau ini sambil hiking dan melihat pemandangannya dari atas menara pantau. Gimana, tertarik belajar geologi sambil berwisata di sini?

 

Video 8 - Gruener See, Destinasi Wisata Paling Kece di Austria
Ini dia pesona Danau Gruener See, tempat wisata paling kece di Tragoess, Austria. Danaunya jernih dengan air yang kehijauan. Air danaunya berasal dari lelehan salju pegunungan Hochschwab, Alpen, jadi sebening kristal deh! Keindahan danau ini dijamin bikin kamu betah duduk atau bermain di tepi danau. Bisa juga lihat bebek atau angsa liar yang mencari makan di danau.


Video 9 - Memotret Château Frontenac di Kota Tua Quebec Kanada
Ini lho gedung hotel mewah yang paling banyak di foto di dunia, namanya Château Frontenac. Hotel ini dibangun sejak akhir abad ke-17 dan mempunyai 600 kamar dengan 18 lantai. Hotel ini berlokasi di tepi sungai St. Lawrence dan terletak di atas bukit di kota Quebec, Kanada. Di Quebec kita juga bisa melihat arsitektur Notre Dame Des Victoires yang merupakan sebuah gereja tua. Indah banget ya!


Video 10 - Gagahnya Benteng Porta Nigra, Warisan Dunia di Kota Tier
Tahu enggak masih ada peninggalan kerajaan romawi yang masih kokoh berdiri sejak tahun 50 SM? Ada di kota Trier, Jerman lhoo. Kamu bisa melihat megahnya benteng Porta Nigra, Basilika, rumah Karl Max, Sankt Peter Katedral atau Trier Dom dan Amphiteater Gladiator. Disini kamu dapat memegang pedang, memakai pelindung kepala dan badan, perisai dan bertarung layaknya prajurit romawi. Seru!!


Dan akhirnya, senjata kami untuk membuat video.... Nikon AW100! Walaupun bekas, alhamdulillah masih bermanfaat buat kami, maklum belum ada dana buat upgrade, hehe

Footnotes
*Vidya ga terima kalau NET CJ ini projek waktu luang, soalnya tiap dia ngerjakan video, selalu nunggu anak tidur atau waktu setelah solat subuh. hehe
Share:

Monday, July 31, 2017

Video 3 - Hiking with kids in Polster, North Alpen



Video 3 - Hiking bersama buah hati 
Bingung mau ajak anak ke mana pas summer holiday kali ini? Ajak anak hiking bisa jadi pilihan. CJ Vidyasari merekomendasikan Pegunungan Alpen di kota Präbichl sebagai destinasinya. Lewat jalur yang paling pendek, bisa ajak si kecil nikmati pemandangan hutan pinus, menyusuri ilalang, dan melihat sapi yang sedang merumput. Pastinya perjalanan ini akan menjadi hiking ceria karena panorama Pegunungan Alpen luarr biasa indahnya apalagi ditempuh bersama keluarga!
Share:

Wednesday, July 26, 2017

Hiking with Kid, why not?


July 17th, 2017. We packed our lunch, children carrier, water and took a bus at about 8.40 from Leoben Annaberg. The bus costs 4 Euro/ person, because we have zwei und mehr discount card (Steirische Familienpass), which allow reduced price (38%). Unfortunately, the OeBB Vorteilscard Family cannot be used oin Postbus. It tooks for about 40 minutes from Leoben to Praebichl. 
At around 9.30, we arrived at Praebichl bus stop. Although it is a summer time, the wind blows mildly. It was too cold for Vidya, so she tooks her jacket, but Aqila insisted that it was not cold. From the bus stop, we searched for the hiking route and Aqila, our 3 years old toddler was very excited. We followed the hiking signature "Erzwanderweg."
 
From there, the hiking trails was surrounded by high trees (pine?) and moss. Aqila can still manage and did not want to sit in the bike carrier. After 1 hours walked, she was tired and wants to sit in the bag. I was surprised that she could managed to hiked by herself. We took the shortest way to reach Polster from Praebichl, which means, the steepest route. After high trees, the scenery is more opened and we can saw the Polsterschutz huette. From that point, the route split into two. To the left is Polster and the other side is the "knappensteig" to Leobnerhuette. We took the left and no more high trees surrounding us. 
 It was 11.00, and Vidya got tired and was hungry. We decided to stop in a beton under the "sessellift", where scenery to Reichenstein, Erzberg and Kaiserschild are clearly be seen. Aqila was excited and I offered her pen and paper to draw. It was one hour break. Some other hiker was behind us, some brought their "flying bags" (i do not know how to say). 
It was 12.00, we continued until Polsterschutz huette. It tooks less than 1 hour and we met Ludwig, the owner of those huette. We ordered a cup of coffee and black tea. It was only 6 people on that huette. We were three, Ludwig and another couples above. Ludwig said, that the polster lift will be renovated soon. He seemed happy, because more people will come on winter, but he said, he cannot depending only from those huette. It was a hobby for pensionist, he said.
 
From huette, we continued our steps to Polster. In half an hour, we arrived at the top of Polster. Hurraaay, I celebrated my 29th birthday in Polster....
We stayed for about 20 minutes and enjoyed the scenery, and follow the routes into the Leobner huette, and tooked the zigzag trails until back to Praebichl. It was longer than I expected, and we arrived back at bus halte at 16.25. In totals, it tooks 6 hours of walked (1 hour Aqila walked by herself) and 5 hours in my bag. My shoulder was getting red, because then I realized that the bag was a little bit inclined. Anyway, I am pleased that Vidya, Aqila enjoyed this trip, and asked me "where will we hike after this?".  I just smiled to her. 
 




Video 3 - Hiking bersama buah hati 


Share:

Saturday, July 22, 2017

I found my stolen bike!

22.07.2017

13.30: Me, Vidya and Aqila went to buy some stuff in a store. We park our bike side by side and lock it together.



15.40: We finished shopping. Unfortunately, someone opened the lock. Vidya's bike was lost and another bike was not locked.

15.42: I decided to report this cases to the local police officer.

15.43: I MET THE THIEF ON MY WAY TO POLICE OFFICE! +-20-25 years old guy riding Vidya's bike. He was trying his new bike and did not recognize me. I try to hit the bike and he run. I cannot hit him, unfortunately I felt down. He drove away using Vidya's bike.


15.44: I drove back and try to chased at the back of him. Fortunately, I can still see him, going through the main square, and so on, and he went to his apartment.

15.48: I was too late, the door is locked, but I am 100% sure that the thief has entered the apartment with Vidya's bike. I made an emergency call: 122 (Remember this number!:EURO emergency call).

15.55: Officer came, 2 cars, 4 officer (2 men, 2 women). They opened the door. I was waiting outside.

15.58: Officer asked me to come in. I found my bikeeeeee.....

15.58 - 17.00: I was interrogated in Police office. They were very kind and professional. The report will be submitted to the Justizezentrum Leoben (court). I HOPE THEY FOUND THE THIEF.

Thank you for quick response and cooperation. The officer said, locks with number combination were easy to be opened (although I know that my current lock is perfect-number combination, but then, after today, I changed my mind). They suggest to change with a locks+key.

Congratulations AmazonPrime, you have new customer for bike accessories. Anyway, thank you officer for quick response. Vielen Dank LPD (Landes Polizei Direktion) Leoben!

To Joel and Anung, I am sorry for this matter. I will make sure your bike is saved with me. Thank you for your trust.

Alhamdulillah, masih diberi kepercayaan dari Allah buat menjaga amanah. Barang dikunci saja bisa hilang, apalagi ga dikunci. Abus juga buatan manusia. Waspadalah, waspadalah!


18.45: article started

19.13: article finished



Abus is still man made. Nothing is perfect.



Share:

Wednesday, July 19, 2017

Video 2 - Waterpark in Vienna





 Video 2 - Ajak Anak Mengeksplorasi Air dan Alam di Pulau Buatan
Bisa menyusuri ilalang, bermain air di pancuran, hingga bermain pasir kerikil! Enggak cuma sebagai wahana bermain anak, arena publik ini juga bisa mengasah indera si kecil juga lho. Berbagai arena permainan air yang asyik ini terdapat di Wasserspielplatz di kota Wina, Austria. Kalau udah main di sini, anak-anak pasti dijamin betah deh!

Share:

Wednesday, July 12, 2017

Menjadi Panutan

Seorang mahasiswa tingkat 3 jurusan Geologi di salah satu Universitas di Sulawesi mengirim pesan via facebook sejak akhir Juni 2017 yang lalu. Karena kami belum berteman, pesan itu baru saya baca di pertengahan Juli ini. Dia bercerita, jurusannya tempat dia belajar baru berdiri 3 tahun. Dia adalah angkatan pertama dan merasa apa yang dipelajarinya sangat kurang karena keterbatasan buku dan pengajar (hanya 2 orang pengajar yang berasal dari jurusan geologi). 

Singkat cerita, mahasiswa ini ingin membuat jurusan ini berwarna untuk adik-adiknya. Dia tidak ingin seperti mahasiswa angkatan pertama di kampus lain, yang dikenang karena mereka adalah angkatan pemberani, yang berani tawuran, membawa parang, air keras, dan 8 orang tak gentar melawan 1 Fakultas. 

Ketika saya membaca pesannya, tiba-tiba ada ide untuk mencari masukan dari teman-teman saya. Selama 2 hari, saya mendapat banyak sekali masukan. Dari semua masukan, ada poin-poin yang sama:

1. Sekarang bukan jamannya tawuran otot
Kampus adalah tempat untuk tawuran otak, bukan tawuran otot. Mahasiswa bukan lagi anak kecil yang harus dituntun seperti anak kecil. Mahsiswa adalah manusia dewasa yang berpendidikan dan berakal, yang nantinya akan menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. Ingat, pemimpin tidak hanya mengatur anak buah saja, tapi juga harus bisa memimpin diri sendiri. 

2. Tentukan arah: visi dan misi
Segala hal yang baru tentu harus memiliki tujuan, termasuk ketika program studi atau organisasi baru dibentuk. Dengan adanya tujuan, kita dapat mengetahui apa yang harus kita lakukan untuk mengejar ketertinggalan. Tanpa ada tujuan, program studi atau organisasi menjadi tidak jelas dan berjalan tanpa arah.

3. Studi banding
Studi banding sangat perlu dilakukan untuk membuat "benchmark", baik dari segi sistem, metode pengajaran dan sebagainya. Studi banding perlu dilakukan tidak hanya oleh pengajar, namun juga untuk mahasiswanya ketika akan membuat organisasi (misalnya himpunan atau badan eksekutif mahasiswa). Sebagai contoh, mahasiswa bisa mengunjungi kampus, kantor atau perusahaan terkait, sehingga akan terbentuk motivasi untuk berorganisasi dan berkumpul. Studi banding tidak harus mengeluarkan uang banyak. Kita bisa menggunakan media elektronik, misalkan dengan menggunakan fitur video call, sehingga yang jauh jadi dekat, yang sudah dekat jadi lebih rapat.

4. Tiap organisasi itu unik 
Setelah mengetahui arah dari organisasi, berbenah tapi jangan lupakan hal yang tidak kalah pentingnya. "Tiap organisasi itu mempunyai warna yang berbeda-beda." Organisasi harus mempunyai jati diri, tentunya identitas itu yang baik (ingat, kita membahas tentang dunia akademis)

Saya jadi ingat pengalaman 8 tahun lalu. Saya pernah didudukkan di kursi sidang, bukan untuk sidang kelulusan, tapi diinterogasi oleh dosen saya di Fakultas. Masalahnya: KADERISASI. 

Saat itu, saya menjabat menjadi ketua himpunan mahasiswa tambang dan harus melantik 80 orang mahasiswa. Semua rencana sudah dipersiapkan dengan matang. Panitia sudah mengikuti Training of Trainer (TOT) , dan saya sudah meminta izin dari Kaprodi dan pembina kemahasiswaan (saat itu Pak Ridho Wattimena dan alm. Pak Rudianto Ekawan). Kedua Bapak itu menyerahkan segala tanggung jawab kepada panitia, saat itu saya dan Kadiv Kaderisasi, Adho, yang bertanggung jawab. Alhamdulillah pelantikan berjalan lancar, tidak ada yang terluka. 

Apesnya, saya dilaporkan kepada Dekan oleh Dosen jurusan lain. Beritanya kurang lebih: ada mobilisasi mahasiswa baru di sepanjang jalan Cisitu (Bandung) pada malam hari menuju Curug Dago. Bapak Dosen yang melaporkan ini ("wadul" dalam bahasa Jawa) belum tahu kalau saya sudah membuat gentlement agreement dengan dosen di Teknik Pertambangan. Karena laporan ini, saya disidang dan mendapat surat keterangan "Sdr. Andy Yahya Al Hakim" diberikan sanksi dan diturunkan dari jabatan ketua himpunan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Hahaha...

Rencana yang sudah tersusun rapi saja bisa ada kekurangannya, apalagi jika tidak terkonsep. Memulai sesuatu yang baru itu susah, sama seperti membangun pondasi gedung yang tinggi. Seperti pepatah favorit saya:
Even the tallest building, starts from the ground

Caption: setelah saya diturunkan dari ketua himpunan, 4 tahun kemudian dia menjadi Prince alias ketua himpunan mahasiswa mesin (HMM). Saat dia wisuda, dia dilarang untuk naik di samping tiang bendera di depan gerbang ITB oleh petugas K3L. Akhirnya dia mengambil inisiatif. Dia meminta temannya bisa mengangkat dia sama tingginya dengan tiang bendera itu, dan dia memimpin mars HMM, dengan ketinggian yang sama dengan tiang bendera itu. Salut.
HMM dan HMT

Oh ya, ini beberapa masukan dari kawan-kawan saya tentang bagaimana membangun organisasi yang baik.

Prasetiyono Hari Mukti

kebiasaan tawurannya aja udh bukan merupakan budaya akademik yg patut diwariskan. Apalagi dg segala pernak-pernik perlengkapannya. Era saat ini udh bukan lagi era adu otot. Udh eranya adu otak. Kalaupun kosakata "tawuran" msh mau dipakai, maka saat ini bukan masanya tawuran fisik. Tapi "tawuran otak". Just my 2 Cents.

Setia Obi Pambudi

Menurutku Mas, angkatan-angkatan awal yang otaknya masih fresh ini diberikan suatu stimulus dengan mengadakan studi banding. 2-3 tahun pertama menurutku ini perlu buat membangun budaya akademis sekalian bisa belajar dari segi organisasi. Selain inisiasi dari mahasiswa, dari sisi pengajarnya pun perlu mencari referensi juga dari universitas yang sudah stabil mengajarkan materi mereka, baru setelah tahu mereka ingin cenderung ke arah mana, mereka bisa menekankan pada suatu konsentrasi keilmuan. Untuk budaya kekerasan, aku belum tahu solusinya mas. Tapi mumpung masih angkatan-angkatan awal, kalau bisa jangan sampai mereka ikut budaya yang tidak baik ini. Menurutku, budaya itu menular. Mana yang lebih kuat tendensinya bakal mendominasi. Jadi harus bisa dipotong mata rantai budaya yang tidak baik ini untuk menghentikan.

Muhammad Ikrar Lagowa 

Mas Andy Yahya Al Hakim, saya dulu juga "dibesarkan" di kondisi yang kurang lebih sama. Yang digadang gadangkan oleh senior-senior saya dulu ya yang seperti itu, dan dulu saya sempat bangga dengan itu. Tetapi ketika saya berkesempatan studi di pulau seberang, di kampusnya Mas, dan lalu ke negeri seberang, saya rasa semua hal itu konyol dan tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Saya setuju dengan komentarnya Mas Prasetiyono di atas. Sudah bukan jamannya tawuran otot. Lagipula memang sudah seharusnya dunia kampus berisikan tawuran otak, bukan tawuran otot. Senior lah yang biasanya berusaha mewariskan cara berpikir ini ke mahasiswa atau adik-adik tingkatnya, baik di kampus atau bahkan di dunia kerja. Alasan klasiknya adalah "kami dulu seperti itu". Alasan mereka adalah dunia kerja geologis dan insinyur tambang ini keras, jadi mahasiswa harus dididik keras. Yang banyak terjadi adalah tujuannya benar, tapi caranya salah. Selain itu, generasi mahasiswa sekarang sudah berbeda dengan yang dulu. Saya ingat sekali ketika mengospek mahasiswa angkatan 2008 dulu, bukannya mereka membalas dengan melawan balik, tapi mereka malah lapor polisi, Ringkas dan logis. Mereka juga harus dirangkul dengan cara yang lain, bukan dengan ditakut-takuti atau dikerasi. Jadi menurut saya Mas, yang bersangkutan dinasehati saja bahwa apa yang dia dengar itu sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang. Alangkah lebih baiknya dia dan teman-teman angkatan pionernya meningkatkan skill dan pengalaman mereka sehingga nanti mampu menjadi angkatan pioneer yang membanggakan. Layaknya anak pertama, mereka harus punya kecintaan yang tertinggi terhadap almamater, bahkan kalau perlu mereka sekolah lagi dan kembali sebagai pendidik di kampus, demi kondisi belajar mengajar yang lebih baik dari apa yang mereka dapat sebagai angkatan pioneer, dimana kondisi lab mungkin belum lengkap, atau kurikulum belum terlalu established. Dengan perkembangan teknologi dan globalisasi saat ini, sudah saatnya putra putri local Indonesia jadi global-minded dan berkaca pada prestasi teman-temannya di negara maju. Studi banding tidak harus berkunjung langsung. Tur kampus bisa lewat youtube, atau skype. Semoga saran saya membantu. Salam dari seorang calon dosen


Andre Ginting

Menurutku apa yang dia sampaikan udah pas untuk menjawab masalahnya sendiri bang. Organisasi baru butuh portofolio yang baik dan benar menurut tujuan awal mereka ada. Jika mereka sudah punya maksud dan tujuan organisasinya, tinggal dikembangkan ke arah prestasi baik dalam lomba skala kampus maupun lomba nasional. Kalau belum punya tujuan, mereka harus buat dulu. Mau kemana ini perkumpulan mereka. Kalau sudah punya tujuan, sudah sangat mudah mengarahkan kumpulan mereka. Dan turunannya bisa dikembangkan ke bentuk yang lebih riil seperti budaya, kegiatan dan lainnya. Silahkan kita berdiskusi bang.hehe

Hariono La Pili

kalau menurut saya, setiap prodi baru harus menetapkan "identitas" mereka yang unik dibandingkan dengan prodi yang sama dari universitas lain sehingga mereka akan keluar dengan sesuatu yang unik sebagai identitasnya. cara ini juga akan menambah pengkayaan keilmuan diprodi tersebut yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing alumninya. yang perlu dilakukan adalah: 1. Para dosen harus mau belajar dan mengajarkan "sesuatu yang baru" dari pada hanya sekedar "copy/paste" materi yang diajarkan dosen mereka saat kuliah di universitas asal masing-masing. 2). untuk dapat "membuat pembeda" tersebut, maka prodi baru harus tau apasaja yang dimiliki dan yang telah dilakukan oleh prodi yang sama di universitas yang lain melalui kemintraan strategis yang saling menguntungkan, lalu menetapkan visi/misinya secara jelas dan memenuhi kaidah2 manajemen yang mereka anut. 3) Sebagai mahasiswa angkatan pertama atau angkatan setelahnya (sampaikapanpun... :) harus lebih proaktif, energik, pantang menyerah. poin ke tiga inilah yang paling penting dalam kasus ini. contoh rilnya: asosiasi mahasiswa geologi angkatan pertama tersebut misalnya sebaiknya lebih aktif melakukan silaturahim dan berdiskusi dengan asosiasi geologist di daerahnya, dengan dinas pertambangan, badan penenggulangan bencana dan atau dengan komunitas2 terkait lainnya. membangun komunikasi/silaturahmi tersebut tidak selalu harus melalui jalur resmi dapat dimulai dengan diskusi2 warung kopi atau mengundang mereka untuk mengisi kelas-kelas seminar dikampus.. mahasiswa harus bisa datang kepada para pihak tersebut sebagai anak yang ingin belajar, mau membantu mereka dan akan menguntungkan para pihak tersebut bukan sebagai mahasiswa yang mengedepankan "kritik menankutkan" sehingga proses silaturahim akan dimulai dengan suasana positif. mahasiswa angkatan awal juga jangan terlalu "terlena" dengan aktifitas prodi yang sibuk sosialisasi ke sekolah2 (SMA) biarkan itu sebagai pekerjaan kaprodi, fakultas dan universitas. kami dulu menyaksikan banyak mahasiswa sibuk atau disibukkan ngurusin anak SMA (untuk tujuan sosialisasi prodi) dan lupa mengembangkan kemampuannya sendiri.

Ivan Kurnia

Kalau boleh nambah: tidak ada salahnya mereka berembuk dengan pihak pengelola institusi. Biar kesalahpahaman di masa yang akan datang bisa terhindarkan. Untuk soal keunikan identitas serta visi dan misi, fokus ke subjek-subjek ilmu di lingkungan terdekat bisa jadi salah satu titik awal. Soal kultur kekerasan tampak lebih rumit. Kalau orang Minang ada pepatah: lawan pantang dicari, bertemu pantang dielakkan. Tapi kalau sudah sibuk membangun diri sendiri, mungkin peluang "bertemu lawan" bisa diperkecil

Achmad Rofi Irsyad

Ini kenapa saya dimasukkan... 😂 Btw, jagoan itu orang yg curhat ke sampean mas, salut. Pola pikirnya udah maju, mau menginisiasi budaya yg nggak soal gengsi "sangar2an" himpunan. Boleh sangar, tapi sangar prestasi..
Share:

Video 1 - Dachstein, Alpen



Video 1 - Megahnya pegunungan Alpen bisa dinikmati dari sini
Ingin melihat indahnya pegunungan Alpen, cobalah berkunjung ke sini. Yup! Inilah Dachstein, salah satu puncak tertinggi pegunungan Alpen di Austria. Untuk mencapai puncaknya, kamu bisa coba naik gondola. Di sini kamu bisa menikmati pemandangan salju abadi dari jembatan gantung yang panjang. Wooow!

Share:

Kontak ke Penulis

Name

Email *

Message *